
Sejatinya setelah kejadian itu Dhyia masih beramah tamah. Dia tidak sungkan untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu meski hatinya sudah terluka. Terpaut usia yang berjarak tiga tahun lebih tua dari Rana tidak membuatnya sekali pun tersulut penuh kebencian akan wanita yang berstatus sebagai adik suaminya.
"Rana! Mbak tidak pernah tidak suka kalau kau ada di sini," ucap Dhyia pilu. Mbak juga tidak pernah membencimu sama sekali, percayalah! Mbak, juga merasa senang kalau kau kembali lagi dan tinggal di sini!" tuturnya berkata dengan lembut bercampur air mata yang menganak di kelopak mata.
"Alah! Omong kosong!" balas Rana melemparkan sendoknya ke dalam piring. "Aku tau dari dulu! Mbak engga pernah menyukai 'ku! Iya, 'kan?" bentaknya kembali.
"Astaghfirullah, Rana! Istighfar Rana. Mbak sama sekali engga pernah berpikiran, seperti itu!" tuturnya, berdiri tegak lurus. "Mbak sudah menganggap mu sebagai adik Mbak sendiri. Jadi, mana mungkin, Mbak bisa setega itu pada mu." Dhyia menatap wanita itu dengan penuh kasih sayang dengan menahan tangis di tenggorokannya.
Rana langsung memalingkan mukanya menarik bibirnya miring. "Mbak, itu memang pandai bersilat lidah." Melayangkan telunjuk tepat ke muka sang kakak ipar. "Aku tidak pernah mempercayai, apa yang, Mbak katakan." Pergi meninggalkan wanita yang terluka atas sikapnya.
Dhyia seolah kini menelan pil pahit. Memegang harapan yang kelabu. Menatap punggung lelaki yang telah menjadi suaminya naik ke atas dengan kedua bola mata berkaca-kaca sambil berharap kalau Ilker mau melindunginya sedikit saja dari sang adik, tatapan itu begitu lirih mengiris hati sebab tak ada yang mau melihatnya. Sungguh dia tidak pernah menyangka kalau pria yang belakangan ini membuatnya terharu ternyata telah menunjukkan sikap buruknya kembali. Menahan tangis di dalam tenggorokan.
Butiran kristal terus berjatuhan membasahi kedua pipi, jilbab dan lantai pun ikut bersedih menatapnya. Tubuhnya yang masih lemah seakan terlempar ke dinding dengan kuat. Tungkai kaki semakin lemas saat suara-suara itu menyerangnya dengan sejadi-jadinya.
Dapur yang pada saat ini kebetulan sunyi membuatnya melepas semua yang di pendamnya selama ini. Memandangi ujung kaki yang terlalu bodoh masih tetap bertahan.
Pintu kamar pun terhempas dengan kuat menyentuh dinding. Dia langsung masuk dan menatap dirinya di depan cermin yang retak. Kekesalan semakin menyeruak saat dia menatap bayangannya di dalam cermin.
"Sial!" teriaknya kesal melihat pertengkaran tadi. Membalik ke meja mengambil resep obat yang terlihat tanpa sengaja tadi oleh nya ketika masuk. Sulit sekali bagi Ilker untuk membenci wanita yang berdiri tadi dengan sepenuhnya. Rasa iba dan kasihan masih tersimpan dalam di dalam hatinya yang membuat dia semakin membenci dirinya sendiri.
Mengambil resep obat dengan kasar lalu berjalan kencang menuruni anak tangga. Alih-alih, Dhyia ingin berharap lelaki yang sudah lama bersamanya tinggal menanyakan dirinya, apakah baik-baik saja atau tidak? Tidak sedikit pun terpikir olehnya lagi.
Di tempat yang sama, dia masih tetap berdiri mematung di tengah ruangan dapur yang dikelilingi oleh setiap sudutnya tersusun lemari-lemari tempat penyimpanan barang-barang dapur. Di tengah ruangan berdiri tegak sebuah meja makan yang sudah meninggalkan kenangan buruk baginya.
Menyeret kedua kaki yang telah dilempar oleh ombak, menyusun dan membersihkan meja yang terkena kotoran sambal dan juga piring bekas makan suaminya yang masih banyak terdapat sisa makanan sambil menahan segalanya dengan tabah. Menutupi semua derita dengan sabar dan menerimanya dengan ikhlas bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita, seperti dirinya. Berkali -kali dia selalu mencoba untuk kuat. Namun, atas kejadian ini dia sangat terpukul dengan perilaku sang suami yang sama sekali tidak mau membelanya sedikit pun di depan sang adik.
Perih sudah tentu dirasakan oleh nya. Berdiri kuat sambil mengelap meja dan menyusun piring ke westafel. Dia ingin sekali membela dirinya. Namun, berkali-kali pula dia gagal dan hanya mengembalikannya kepada Sang Khaliq bahwa Tuhan sedang menguji dirinya untuk melihat sebatas mana kemampuannya menerima segala hal yang menimpa.
Kali ini hanya air mata yang bisa dia keluarkan sebagai alat untuk meluaskan beban yang tersimpan penuh di dalam hati.
__ADS_1
Jika anda berada di puncak kesedihan atau kekecewaan. Maka jangan memendam keinginan untuk menangis. Menangislah karena hal itu bisa melegakan perasaan.
~• Psikologi •~
Dhyia tak henti-hentinya menangis sehingga air mata itu menetes mengenai tangannya yang sedang memegang gelas demi mengeluarkan semua beban yang selama ini dipendamnya mendalam.
Sementara Ilker tetap mengambil resep dan menebus obat yang telah di tuliskan oleh sang dokter. Mengambil kunci mobil kantornya dari atas meja yang terletak di sudut tempat tidur. Menuruni anak tangga dengan amarah yang masih menyelimuti dirinya.
"Pak Altan!" teriaknya di depan pintu yang belum terbuka berharap kalau lelaki itu mendengarnya.
Di dalam pondok kecil buatan mereka atas persetujuan dari tuan Ajnur Barlian Carya pak Altan sangat serius membuat daftar lowongan kerja buat penambahan Art di dalam kediaman Carya atas permintaan majikan laki-lakinya. Bergelut dengan lembaran-lembaran kertas putih yang berserakan di atas lantai berdekatan dengan pak Edis dan pak Balin yang baru saja duduk setelah menaruh semua perlengkapan yang dibelinya tadi di pasar, di dapur yang sudah terlihat kosong.
"Pak! Kenapa mendadak? Tuan mu meminta penambahan asisten?" tanya pak Edis mencandai pak Altan yang sudah kusut.
"Mana aku tau! Tiba-tiba saja! Tuan muda berteriak memanggilku dan menyuruhku untuk membuat ini!" jawab pak Altan yang berkecimpung dengan tulisannya.
"Benar, sudah ketuaan mungkin?!" tutur pak Edis memancing tawa dari kedua rekannya.
"Hahaha!" Pak Altan tertawa cekikikan sebab bi Benar meski sudah menua dia masih kuat untuk mengerjakan seorang diri. Di tambah lagi dia dan bi Benar adalah musuh dalam hal lelucon yang sering di sematkannya kepada wanita itu.
Di dalam mobil, tampak Pevin sedang panik seorang diri setelah memasuki jalan menuju tempat tinggal model papan atas itu. Mengemudikan mobil dengan berhati-hati dan pelan-pelan sambil menajamkan kedua bola mata melihat setiap ruas jalan, berjaga-jaga dari kejelian Gohan Hakan yang akan bisa menemukan mobilnya.
Di balik pohon bunga yang rimbun Yilzid pun melihat lampu mobil yang menyorot tepat ke arahnya. "Pevin," batinnya berlari keluar melihat mobil yang masuk sambil membawa tasnya.
"Yilzid," kata Pevin dari dalam mobil ketika lampu mobilnya mengenai ke arah wajah perempuan itu. Dia langsung buru-buru melajukan mobil secepat mungkin menghampiri wanita yang sudah lama berdiri menunggu.
Membunyikan klakson sebagai isyarat memanggil Yilzid yang tampak kebingungan. Sontak model papan atas tadi pun menghentikan langkah yang ingin bersembunyi kembali, menghindari sang ayah. Memutar badan perlahan, seperti orang yang sedang ketangkap basah.
"Ayo cepat naik!" ajak Pevin, melihat pintu pagar rumah yang tinggi masih tertutup dari balik kaca spion.
__ADS_1
"Buruan, Pev! Jalan! Tunggu apalagi!" desak Yilzid yang sedang ketakutan.
"Iya! Iya! Tunggu sebentar! Handphone aku bunyi, nih!" kata Pevin, mengambil ponselnya langsung, di ikuti tangan sebelah kanan memegang stir mobil yang berjalan agak sedikit pelan.
Sontak Pevin langsung terkejut. Kedua bola matanya pun membelalak. Mendengar perintah dari balik telepon.
📱"Berarti mulai malam ini semuanya akan dilaksanakan? Dan malam ini kami harus memulainya?" Bukannya menoleh ke arah teman yang duduk tepat di sampingnya, dia malah terheran dan bertanya dengan orang yang berbicara di balik telepon.
Perasaannya, sebenarnya sudah kacau balau, sampai dia harus berdiri seorang diri di luar akibat kesalahannya hingga takut diketahui oleh orang yang paling menyayanginya, kini malah di tambah lagi dengan kepanikan dari teman setianya yang terdengar oleh dirinya sendiri. Melirik ke arah Pevin.
📱"Baiklah! Kalau begitu kami akan segera ke sana," balas Pevin dengan sedikit berputus asa. Mematikan sambungan telepon.
"Ke mana, sih?" Yilzid bertanya terheran setelah temannya mematikan ponsel tanpa senang sama sekali.
"Malam ini kita ada pemotretan!"
"Apa?" Yilzid terheran. "Acara pemotretan?" Yilzid menganga.
"Ha!" Pevin mengangguk sebagai isyarat mengiyakan.
Wajah Yilzid seketika mengetat. "Kenapa mereka mengatur jadwal sesuka hati mereka! Apa mereka ingin membuat pemotretan ini sama, seperti sebuah perusahaan ? Yang tiba-tiba di beri kabar ada rapat mendadak? Gitu?" Menatap Pevin geram.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1