Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kejahilan Balin dan kekesalan Altan


__ADS_3

"Itulah enaknya jadi atasan. Mau kiler juga gak jadi masalah. Apalagi ngomong suka-sukanya. Gak pernah mikirin perasaan orang lain," keluh Cecar juga, masuk dan menutup pintu mobil. Kalau dia kena masalah, pasti kita bawahannya yang dipaksa untuk memutar otak mencari jalan keluar." Memasukkan kunci mobil. Di ikuti kaki yang menginjak rem mobil. "Kamu tau gak? Siapa yang menyerang, Pak Ilker?" Melirik Alen dan di ikuti tangan sebelah kirinya memasukkan gigi.


"Mana aku tau, siapa orang itu? Tapi kalau menurut isu-isunya, katanya, itu ada hubungannya dengan pemilik pertama stasiun TV yang sekarang," ucap Alen, menyandarkan tubuhnya untuk meregangkan otot -ototnya yang lelah.


"Apa benar itu?" tanya Cecar, melirik Alen yang diam membisu dari kaca spion yang duduk menenangkan diri kemudian menatap jalan lurus dengan kebisuan masing-masing.


Ruang kerja yang besar dan sunyi, terlihat sosok seorang Ilker yang duduk diam berhubung tangannya terluka akibat kebodohannya, menahan rasa sakit seorang diri. "Dasar tangan! Baru ninju kaca aja sudah luka, pakai berdarah lagi," umpatnya, menatap tangan yang terluka terkena belingan kaca dan meletakkannya di atas meja. Teringat pilihan hidup yang menghantui.


Di sudut mata, air mata masih menganak di pelupuk mata seorang Dhyia Kharya yang berdiri menatap lurus ke depan seolah dia telah melihat jalan hidup setelah berpisah dari sang suami. "Aku tidak tau sebenarnya harus pergi ke mana." Berdiri seorang diri melihat jalan dari luar. Orang-orang yang berseliweran seakan mengguncang jiwanya sehingga rasa takut yang begitu besar pun muncul di dalam sanubarinya, berbisik.


"Nya," panggil Benar dari belakang.


"Iya, Bi," jawab Dhyia mengusap air mata dengan buru-buru secara diam-diam.


"Nyonya, ngapain berdiri di sini? E-e, ini, 'kan sudah malam, Nya." Berdiri di belakang nyonya besarnya yang baik hati.


Dhyia pun tersenyum. "Saya hanya melihat lampu hias itu saja," jawabnya memutar badan. "Lampunya bagus, Bi. Ada gambar sepasang kekasih, sepertinya." Menatap Benar, menutupi rasa perih di hati.


"Ooh, itu, Nya. Itu adalah kenang-kenangan untuk, Tuan dan Nyonya dulu. Sewaktu di hari ulang tahun pernikahan," terang Benar . "Itu adalah kado yang terindah dari, Tuan Ilker buat, Nyonya dan Tuan Ajnur dulu. Sebelum akhirnya, Tuan meninggal," lanjutnya dengan gurat wajah yang sedih, menunduk melihat lantai.


"Bi, kenapa Bibi, sedih?" tanya Dhyia. Menghampiri bi Benar, lalu kemudian mengelus pundaknya. "Emang Bibi, ada kenangan indah antara Bibi dan Nyonya ?" tanya Dhyia dengan gurat wajah sedih juga.

__ADS_1


"Huhuhu! Bibi tidak menyangka kalau, Tuan Ilker yang baik dulu bisa, seperti ini. Saya sedih melihatnya. Semenjak kedua orang tuanya sudah tiada hidupnya semakin tidak karuan. Itu yang membuat Bibi sedih. Tuan muda dulu adalah anak yang lemah lembut, penyang dan penyabar. Dia tidak pernah marah, apalagi membentak dengan suaranya yang kasar. Huhuhu ! Itu yang membuat Bibi sedih," jawab Benar menunduk melihat lantai.


"Bi, terkadang yang baik bisa berubah karena orang -orang di sekelilingnya. Dan orang yang jahat juga bisa berubah dengan orang -orang di sekelilingnya juga, seperti itulah hidup, Bi. Hidup bagaikan roda yang berputar kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu juga dengan sikap maupun perilaku. Dia bisa berubah seiring zaman. Di tambah lagi dengan keinginan yang tidak dia inginkan tapi, dia di paksa untuk itu," kata Dhyia teringat hal yang paling membuat sang suami menjadi bengis. "Tapi, tidak lagi, Mas. Aku akan mengembalikan dirimu, seperti yang dulu. Seperti yang di katakan oleh, Bi Benar dan orang yang menyayangimu dulu," katanya, kembali di dalam hati. "Bi, jangan menangis! Nanti kalau ada yang melihat di kirain aku lagi yang buat, Bibi nangis," ucapnya, melirik wanita separuh baya. Memeluknya dengan cinta dan penuh kasih sayang, sebagai seorang anak terhadap ibunya.


Pak Altan yang tadi ikut mendengarkan pertikaian pemilik kediaman yang besar. "Benar! Kamu di mana?" teriak pak Altan histeris. "Ya, jangan tinggalin aku. Piye toh, katanya, mau sama nemenin, Tuan sama Nyonya." Mengusap air matanya dengan berlagak sok akting orang sedih. Berdiri di depan pintu dapur tepat ke arah lapangan tempat permainan anak panah dengan nada suara sumbang dan logat jenakanya itu.


Puk!


"Kena, kamu, 'kan mati, sudah. Biar tau rasa kamu," kata Balin yang suka nimbrung kalau pak Altan lagi memainkan dramanya.


Puk ! Pak Altan pun membalas pukulan Balin. "Rasain kamu. Gimana, ha? Kagetkan," sentil pak Altan dengan geram.


"Kamu itu yang duluan, pakek bilang-bilang saya mati. Emang kamu itu siopo? Do'a in orang mati, ha?" sentil pak Altan hingga membuat Balin terjepit di tembok.


"Bukan aku yang do'a in kamu mati. Perasaan kamu. Aku tadi cuma ingin mukul nyamuk gede di pundakmu," bantah Balin tidak terima dan sedikit merasa ketakutan melihat bola mata pak Altan. "Matamu itu, ngeri-ngeri sedap, pakek acara keluar masuk lagi ngeliat 'ku," ledek Balin yang sangat sebal. Akal bulus Balin selalu jadi, kalau dia sudah bertemu mata dengan pak Altan.


"Tadi apa? Barusan yang aku dengar? Giliran ditanya in, ngeles. Berpura-pura. Itu, 'kan ilmumu. Dasar, ke." Menatap Balin dengan kesal. "Bilang ada nyamuk segala lagi," gerutu pak Altan yang merasa di bohongi, menatap Balin semakin tajam sambil menunduk mengambil sandal.


"Hihihi!" Balin langsung cekikikan dengan lucu di dalam hati, teringat kalau pak Altan mempunyai tahi lalat besar di pundaknya.


"Ditanya -i, taunya diem. Awas kamu! Kalau sampai ngaduh sama, Tuan muda. Tak bilangin istrimu, kalau uang gajimu, kau sembunyikan separuh untuk buat beli rokok," ancam pak Altan, menunduk melihat sandal yang tidak ketemu sebelah lagi.

__ADS_1


Balin yang sudah ketakutan ketika melihat sandal. "Ampun Pak Altan! Maafkan saya. Saya cuma ingin mengerjai kamu saja," harap pak Balin dengan kejujuran. Menjatuhkan tubuhnya berjalan jongkok memohon belas kasihan dan mengatupkan kedua tangannya ke udara dengan suara getir, melihat pak Altan yang berdiri di hadapannya.


"Eh, apa lagi ini? Kamu itu... ." Pak Altan langsung diam dan mengerti langsung. Kenapa reaksi Balin seperti itu. Dia pun refleks melihat ke arah sandal jepit yang menggantung setengah di udara. "Hm!" Menghela napas panjang menjatuhkan sandal ke lantai.


Balin langsung mengerutkan mukanya menghindar dari debu yang berterbangan akibat hempasan sandal yang kuat dari pak Altan sebagai rasa pembalasan dendamnya terhadap Balin.


"Besok, besok! Kalau kamu mau pukul nyamuk gede, sono! Pergi ke kebun. Biar puas kamu membunuh!" suruh pak Altan sebal.


Benar dan Dhyia tiba-tiba terkejut mendengarnya omongan pak Altan dari dapur. "Bi, siapa yang membunuh?" tanya Dhyia terheran, melepaskan tangannya dari pundak bi Benar.


Benar pun, menaikkan kepala menggeleng sambil menyatukan kedua alisnya. "Saya engga tau, Nya." Memutar badan mengikuti majikannya berjalan dari belakang.


"Membunuh siapa?" tanya Dhyia terheran, di ikuti oleh Benar yang berdiri di belakang nyonya besarnya, tercengang dan menganga dengan bola mata melebar.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2