
Balas pesan pun berakhir di antara mereka berdua. Di sisi lain nasihat dari sang istri masih terngiang-ngiang di telinganya.
Memutar kepala melihat wanita itu yang sudah tertidur. Ilker pun turun dari sofa sambil memegang ponsel miliknya, meletakkan di atas tolet lalu menghampiri wanita yang paling di kasihinya. Bercampur rasa iba, dia pun menarik selimut menutupi tubuh wanita yang berbalut pakaian serba tertutup, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan selimut yang tebal, agar tubuhnya tidak kedinginan terkena AC.
"Tidurlah! Jangan pernah pikirkan yang bukan menjadi bagianmu," katanya pelan, menatap lirih sang istri. Seketika dia bersedih, dia tidak ingin kalau wanita itu mengetahui isi surat yang telah di sobeknya. Menatap nanar wanita yang malang itu. Seorang wanita yang dinikahinya hanya sebatas kasihan demi memenuhi permintaan sang ibu. Memutar langkahnya kembali melirik ponsel yang terletak di atas ***** lalu menatap sekilas kaca yang retak akibat ulahnya. Melanjutkan langkahnya berjalan membuka lemari. Mengambil baju untuk hari indahnya besok.
Di kediaman yang lain, Ziya Yilzid hingga kini masih merasa senang saat mendengar ajakan sang kekasih sehingga sampai kini dia belum memejamkan mata. Dia terlihat bahagia sampai terlihat senyum-senyum sendiri sebab tidak ada angin dan tidak ada hujan, pria itu tiba-tiba mengajaknya berlibur.
Ilker yang sudah mengeluarkan pakaian, megambil koper dari dalam lemari tempat bersebelahan dengan lemari penyimpan pakaian yang bisa memuat banyak pakaian. Meletakkan koper di atas tempat tidur dengan pelan-pelan, agar tidak mengganggu sang istri yang sedang tidur. Menyusun semua pakaian yang telah dipilih yang ingin dia bawa. Mengingat-ingat kembali barang-barang yang mungkin terlupakan olehnya.
Berjalan memeriksa segala sudut kamar yang sering dia lalui dan membuat hatinya lega. Tidak ada, pikirnya, menutup koper dengan kencang lalu menyandarkannya di balik pintu kamar. Menghembuskan napas lega karena dia telah selesai berkemas, melirik kembali sang istri yang masih pulas tertidur.
Selepas itu dia pun kembali melanjutkan langkahnya ke sofa, merebahkan tubuhnya ingin beristirahat dan memejamkan mata dengan lelap.
Mereka berdua pun telah berlayar dengan mimpinya masing-masing di tempat yang berbeda pula.
Sementara Ziya Yilzid terlihat sangat sibuk menyusun barang-barangnya hingga dia sampai bergadang. Menyembunyikan dari semua mata yang ada di dalam rumah itu adalah salah satu kelihaiannya, terutama berjaga dari sang ayah dan si Burcu.
Membawa baju yang dibelinya tadi di mall ke dalam tas kecil yang sering dia gunakan tempat peralatan make up, apabila dia ingin bertolak ke lokasi syuting. Menyusun semuanya dengan rapi hingga satu pun tidak ada yang tertinggal.
"Semua sudah kelar. Pasti tidak akan ada yang curiga?!" katanya, melihat packingan yang begitu rapi yang sudah terletak di atas tolet.
Di lantai bawah Gohan Hakan masih tampak duduk di ruangan kerja. Menatap foto lelaki yang sudah dia ketahui dan yang akan dia hancurkan.
__ADS_1
Tersenyum miring seakan dia senang telah berhasil menghancurkannya sama, seperti yang dibuatnya kepada lelaki yang bernama, Ajnur Barlian Carya. Melihat foto yang berbentuk close up itu di dalam layar laptop miliknya yang dikawal ketat oleh pengawal bayarannya.
"Ronald bagaimana?" tanyanya, setelah pengawal itu datang memenuhi panggilannya.
"Bos! Tadi Nona tidak ada membahas sesuatu yang mencurigakan," jawabnya. "Tapi Boss! Dari tadi sewaktu saya mengikuti mereka. Mereka hanya singgah di mall yang saya kirimkan kepada Anda lokasinya," lanjut sang pengawal berterus terang.
"Ikuti saja mereka terus!" kata Gohan Hakan, Menatap lurus ke depan. Seakan dia ingin mengetahui, siapa teman sang anak yang membuatnya penasaran.
'Siap, Bos! Saya akan menjalankan perintah Bos," katanya dari balik punggung mafia itu.
"Awasi terus ke mana pun mereka pergi! Jangan sampai ada yang terlewatkan sedikit pun! Karena aku tidak mau! Kalau putri semata wayangku. Tertipu oleh orang yang tidak kukenal," lanjutnya. Memutar kursi dengan miring, sekilas melirik ke depan layar.
Sang bodyguard pun langsung mengangguk. "Baik, Bos!" katanya. Berdiri tegak menunggu perintah.
"Saya permisi, Bos!" jawabnya langsung, memutar badan kembali ke tempatnya.
Di ruangan kerja, Gohan Hakan terus mencari seluk beluk dari pemuda yang telah ditemukan olehnya yang berasal dari pemberian seseorang, yaitu yang bernama Yuzer.
Yuzer yang tidak lain adalah sahabat dari pemuda itu sendiri. "Hahaha!" Gohan Hakan pun tertawa puas sebab kehancuran dari keturunan Carya akan segera di mulai. Dia sudah tidak sabaran menantikan hal itu.
"Ajnur! Ajnur! Kau terlalu naif! Hahaha!" katanya tertawa terbahak-bahak. "Ha? Apa kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Dan menghentikannya? Tidak! Ini justru membuatku semakin bernafsu untuk mewujudkan impianku yang mungkin jauh ke baik." Tersenyum sambil mengepal jemarinya. "Setelah kau beri semua kepada 'ku demi keselamatan anakmu. Apa kau pikir? Aku akan berhenti?" lanjutnya. Tertawa miring dengan wajah sinis.
Akhirnya, Dhyia pun terbangun dari lelapnya. Mencari sesuatu yang hilang darinya. Menyandarkan tubuh yang hampir membaik ke head board. Lalu melirik ke arah sebelah kanan melihat sang suami yang sudah tertidur pulas tanpa selimut yang menutupi tubuh.
__ADS_1
Sontak Dhyia pun mengambil selimut yang tadi menutupi tubuhnya kemudian menutupi tubuh itu dan mengecilkan suhu AC.
"Mas! Aku siap kok, menjadi teman cerita mu!" Menatap wajah lelaki itu. "Meski kau tidak menganggap 'ku. Karena untuk itu tidak butuh pengakuan, Mas."
Mengambil wudhu lalu mengerjakan, seperti yang dulu pernah dia lakukan di tengah malam yang hening. Berdialog dengan Sang Khaliq atas apa yang di rasakannya saat ini. Melihat sosok lelaki yang selama ini selalu menjaga dan melindunginya.
Dia sangat enggan mengatakan, kepada Sang Khaliq kalau pria itu tidak baik. Karena baginya selama ini, dia telah mengenal lebih dalam tentang pria itu. Pria yang dulunya sangat baik dan membela dirinya di saat sang majikan memarahinya.
Air mata pun menetes kembali membasahi kedua pipi. Air mata yang turun itu belum bisa terjawab dengan jelas kalau itu air mata bahagia haru atau air mata kepahitan untuk ke depannya.
Gohan Hakan yang tadinya mengetahui melalui sebuah nama. Namun, sekarang tidak lagi. Dia sudah mendapatkan foto sosok lelaki yang akan menjadi incaran keserakahannya.
"Besok, bawa saya menemuinya kembali!" katanya, kepada pengawal yang masih berdiri di belakang.
"Baik, Bos!" jawab mereka dengan patuh.
Kedua pengawal setianya pun kembali mengatur strategi untuk besok sebab mereka akan mengawal kembali sang bos besar ke tempat rekan kerjasamanya. Pergi menghilang setelah bos besar menyuruh mereka untuk meninggalkannya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...