Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kebahagiaan Gohan Hakan


__ADS_3

Setelah menaiki taksi Yilzid pun turun dan membayar taksi tersebut. Berhenti di depan rumah dalam kondisi pagar yang masih tertutup. Terlihat gelisah sambil memutar otak untuk mencari alasan yang tepat agar dia bisa mengelabui lelaki yang bernama Gohan Hakan.


Sulit memang terlihat baginya untuk melakukan hal yang sudah tergambar di dalam pikirannya. Namun, dia harus tetap berani untuk melakukan itu agar dia bisa masuk ke dalam rumah. Berjalan dengan tas kecil yang dibawanya. Menatap lirih pagar rumah yang tinggi itu.


Asil pun berlalu dengan ke penasarannya mengenai wanita cantik yang menurutnya tidaklah asing baginya setelah wanita itu keluar dan menutup pintu kafe.


"Kalau begitu kami akan menata semuanya dengan rapi," kata Asil menaiki anak tangga membawa pelanggan kafe itu. Melihat ruangan yang telah di boking. "Ini adalah ruangan kami. Di sebelah sana ada infokus, apabila menginginkannya untuk rapat. Di sebelah situ ada musholanya untuk yang ingin sholat dan juga ada 4 AC. Jika kurang dingin. Oh, iya! AC kami ada dua yang PK nya lumayan tinggi." Melihat pelanggan wanita yang sedang mengikuti arah ucapannya sebagai pemilik kafe.


"Kalau kami membutuhkan sesuatu. Siapa yang bisa kami hubungi?" tanya wanita itu kembali. Mengikuti langkah kaki Asil berikutnya.


"Anda tidak perlu khawatir. Setiap ruangan yang di boking kami memberikan empat karyawan yang bertugas khusus untuk melayani para tamu." Asil langsung menjawab kecemasan dari pelanggan setianya itu.


"Sebelumnya saya belum pernah memboking tempat di sini." Wanita itu kembali berkata kepada si pemilik kafe. "Saya memang sering ke sini. Itu hanya sekedar nongkrong saja bersama teman dekat dan keluarga." Menatap wajah Asil yang mengerti tentang kekhawatirannya.


"Saya tau, Bu. Tapi, 'kan itu bukanlah masalah untuk Ibu tidak jadi memesan di sini," lanjutnya bercanda dengan senyuman mengembang.


Si wanita pelanggan itu pun refleks menarik bibir juga membalas senyuman Asil yang menunjukkan sebagai isyarat kalau dia tidak perlu meragukan tentang pelayanan dari kafe mereka.


Rana sudah berada di luar kafe tepatnya tidak jauh dari pintu. Bergeser setengah meter maju ke depan tiga langkah mencari sopir taksi yang tadi datang dengan nya dan telah mau menunggunya untuk rehat sejenak. Melangkah ke sana kemari sambil memutar badan. "Pak! Sudah selesai?" tanya Rana berdiri di samping meja yang bersebelahan dengan meja yang berisi dengan pelanggan.


"Sudah, Nona," jawab sopir itu meninggalkan meja mengikuti langkah wanita itu yang berhenti dan menghentikan pelayan dengan lambaian tangannya. "Mbak! Tolong hitung! Berapa pesanan Bapak ini? Biar saya bayar," ucap Rana menunduk membuka tas dan mengambil dompet.


"Sebentar, Mbak! Saya tanya ke kasir dulu." Pelayan wanita itu langsung masuk ke dalam menemui kasir.

__ADS_1


Sopir taksi yang bengong melihat penumpangnya itu kemudian melanjutkan langkahnya mengambil mobil di tempat parkiran. Berjalan dan sesekali memiringkan badan dan menoleh ke belakang melihat ke arah penumpang wanita tadi yang mengeluarkan selembar uang kepada pelayan tersebut membayar pesanan kopi hitam panas dan roti bakar keju cokelat miliknya.


"Terima kasih, Mbak," ucap Rana menarik kedua bibirnya, membalikkan tubuhnya ke belakang menemui sopir taksi yang sudah menunggu di depan kafe.


Gohan Hakan yang melanjutkan pertemuan dengan Yuzer dan beberapa rekan-rekannya yang lain sudah berkumpul di dalam sebuah ruangan tertutup bahkan pengawal pribadinya pun tidak di izinkan untuk ikut masuk kali ini.


Di dalam ruangan yang di jaga ketat oleh kedua bodyguard pilihannya, terlihat sangat serius membicarakan tentang ambisinya yang harus secepatnya berjalan. Tidak ketinggalan juga di dalam sudah ikut bergabung bersama dengan mereka salah seorang dari sebuah lembaga sensor film, drama web series atau acara yang lain tampak duduk merayakan kehancuran Ilker Can Carya.


"Hahaha!" Gemuruh suara tawa dari Gohan Hakan pun terdengar menggema dengan gembira yang dipandangi lekat oleh Yuzer. "Mungkin saat ini. Dia sudah kalang kabut, ha?" katanya dan bertanya menatap ke arah Yuzer lalu kemudian memalingkan mukanya ke arah salah seorang lembaga sensor itu yang duduk tepat di sebelah kirinya.


"Kenapa tidak semua saja siaran televisinya kita hancurkan, Bos?" Salah seorang dari rekannya langsung bertanya setelah melihat Gohan Hakan begitu senang hanya menghancurkan setengah dari perusahaan Carya.


"Aku masih ingin mengasihnya napas sedikit. Biar dia bisa melihat besok matahari pagi yang panas terik, he?" sambungnya mengembangkan senyuman kembali seolah bertanya balik kepada rekan-rekannya.


"Bos, kalau begitu. Bos, belum terbilang orang jahat," ucap Yuzer sambil memajukan tubuhnya bersandar di pinggiran meja. Di ikuti tangannya yang memegang botol minuman.


"Aku masih ingat sedikit kebaikan ayahnya padaku," ucap Gohan Hakan, menatap nanar lurus dengan sebuah penyesalan yang terlihat di kedua bola matanya. "Ajnur, dia adalah sahabatku yang senang menolong sesama." Meneguk minuman itu sedikit.


Kedua bodyguard kesayangannya masih senang menunggunya meski mereka menahan tenggorokan yang kering. Berdiri tegak lurus menjaga pintu dari serangan yang datang dari luar.


Yilzid sedikit kebingungan ingin mencari jalan keluar atas apa yang di hadapinya. Menempelkan tubuhnya mendekati pagar sambil mengintip dari luar ke dalam untuk melihat halaman rumahnya kosong atau tidak.


Kring! Kring ! Kring !

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering dan mengagetkannya. "Astaga! Siapa sih ini?" Dia langsung bergumam mengambil ponsel dari dalam tas.


"Pevin," katanya terkejut.


📱"Iya, ada apa?" Bisik Yilzid agak pelan dari balik telepon menjauh sedikit dari depan pagar.


📱"Kamu kenapa? Kok terdengar dari nada suaramu, seperti berbisik?" Pevin bertanya balik.


📱"Kamu itu ada apa sih? Pakai nelpon jam segini." Yilzid bukannya menjawab tapi malah memarahi Pevin, di ikuti oleh kedua bola matanya berjaga-jaga ke arah pagar dan jalan. "Dari tadi, aku sudah kesal tau? Engga?" Yilzid ingin mematikan teleponnya.


📱"Tunggu bentar! Dengarkan aku dulu ngomong. Kamu itu besok sudah ada acara pemotretan. Jadwalnya agak di percepat karena mereka butuh secepatnya agar produk mereka segera launching." Pevin mengatakannya langsung tanpa basa basi.


📱"Oh, ya Tuhan! Kenapa terburu-buru, sih? Emang engga bisa di undur tiga-tiga hari lagi. Aku belum ada persiapan." Yilzid agak membantahnya sedikit sambil memasang penglihatannya dengan tajam memperhatikan setiap sudut jalan dan pagar rumahnya. "Aku itu belum melakukan apapun, bahkan wajahku aja masih belepotan," lanjutnya yang masih sebal dengan keputusan sang kekasih.


📱"Yilzid, jangan kamu mentang model papan atas. Kamu bisa memutuskan seenaknya. Kamu ingat engga? Sewaktu kamu mengatakan, 'iya', pada saat itu ke aku. Aku langsung mengabari pihak manajemen dan mereka menyetujuinya. Sampai saat ini mereka menutup untuk siapa pun dari pihak yang lain yang mencoba menawarkan model lagi." Pevin langsung mengungkapkan semuanya dari balik telepon.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2