Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Untuk pertama kalinya


__ADS_3

Sepanjang hari IIker hanya kebut-kebutan tidak jelas. Menghilangkan semua keluh kesah yang menganak di batinnya.


Tidak terasa Dhiya yang sudah lama menunggu Ilker, berdiri dan kadang duduk, lelah dan tertidur di ruang tv tepatnya di atas sofa.


"Nya!" panggil Benar dengan lembut. "Bangun, Nya. Sudah malam," bisik Benar menjentik pundak Dhiya.


Dhyia yang masih kepikiran dengan Ilker membuka mata dan terkejut. "Bibi," katanya duduk dengan linglung melihat sekeliling. "Apa Tuan sudah pulang?" tanya Dhyia penuh harap.


"Belum,Nya," jawab Benar menggeleng kecewa. Berdiri dan merasa kasihan pada Dhyia. "Sebaiknya Nyonya istirahat saja di kamar," saran Benar. Melihat hari yang sudah gelap.


"Baik, Bi," jawab Dhyia sedih bercampur kecewa. Bangun dan kembali ke dalam kamar berjalan perlahan menatap keluar dari kaca jendela, berharap Ilker telah tiba.


Semua itu hanyalah ilusi, pikir Dhyia. Harapan yang selama ini dia gantungkan pada Sang Khaliq masih penuh dengan misteri. Membuang angan yang terus bersemayam di benaknya dia pun kembali menaiki anak tangga yang tidak pernah melelahkan baginya, pikir Benar mengintip nyonya mudanya dari pintu tengah. "Aku kasihan sekali melihat, nyonya. Aku pikir semenjak dia menikah. Dia akan bahagia." Tatap Benar sedih melihat nasib Dhiya yang pernah menjadi teman kerjanya dulu.


"Kalau kamu sedih. Kamu saja yang gantikan nyonya, ptfff," celetuk Altan mengagetkan Benar, menahan tawa.


"Kamu itu ngomong, kalau udah datang," teriak Benar kesal bercampur terkejut meninggalkan nyonya mudanya.


Seperti biasa sebelum kepulangan suaminya Dhyia tetap menjalankan kewajibannya menghadap Sang Khalik. Semua telah terbentang dengan rapi. "Apa, Mas Ilker sudah sholat?" tanyanya dalam hati mencemaskan Ilker yang belum juga bisa menerimanya.


Di luar halaman suara mobil mewah Ilker yang sudah lecet itu terdengar membunyikan klakson.


Ton! Ton! Ton!


Para penjaga pun bergegas sibuk langsung membuka pagar. Sementara Dhyia masih khusuk dengan sholatnya.


"Iya, Tuan!" teriak penjaga sambil menarik pagar.


Mobil mewah itu melaju secepat kilat. Sontak membuat penjaga gerbang sangat terkejut. Mobil mewah yang tidak biasanya, seperti itu kini membuat mereka shock.


Mobil pun telah masuk ke dalam garasi. Ilker langsung turun dengan marah. "Hari ini semua mencari masalah!" umpatnya menutup pintu mobil keras.


Braugh ! Yang membuat penjaga pagar menganga dan terdengar sampai ke dalam rumah. "Altan, Tuan sudah pulang. Cepat buka pintu!" perintah Benar tergesa-gesa berlari menghampiri pak Altan yang sedang menikmati secangkir teh setelah tiba dari rumah kerabatnya.


"Ada apa? Jangan tarik-tarik, bajuku nanti koyak!" tegur Altan menepis bahunya kasar.

__ADS_1


Puk!


Benar memukul pundaknya keras. " Tuan muda sudah sampai," cetusnya mendelik.


Uhuk ! Uhuk! Uhuk!


Altan terkejut menyemburkan teh keluar. "Apa?" tanyanya membelalak menoleh Benar. Meninggalkan teh dan berlari membuka pintu.


Begitu pintu terbuka. "Silakan masuk, Tuan," sapa Altan menunduk melihat Ilker yang berjalan kencang tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun yang memegang pintu. "Huh, masuk langsung nerobos. Dasar semakin lama semakin nyebelin," umpat Altan di dalam hati menatap tuannya yang menaiki tangga. "Kalau saja Nyonya masih hidup, sudah pasti dia itu kena marah?!" gerutu pak Altan ketus meninggalkan pintu dan berjalan mengambil teh yang belum habis.


"Kamu itu kenapa ?" tanya Benar yang sibuk dengan pekerjaan dapurnya yang belum selesai.


"Tuanmu, di sapa tidak menjawab. Langsung masuk aja," gerutu Altan melampiaskan kemarahannya pada cangkir.


Di dalam kamar Dhyia yang lagi berdo'a mendengar ada suara langkah kaki mendekati pintu. "Mas Ilker," katanya di dalam hati dengan senang dan melepaskan mukena.


Altan yang sedang berkecamuk sudah sampai di depan kamar. Melayangkan tangannya memegang knof pintu.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Dhyia senang sambil mengulurkan tangan. Menyambut suaminya dengan bahagia.


"Mas, biar aku bantu!" pinta Dhyia dengan lembut.


"Biar aku saja," ucap Ilker kasar sambil menepis tangan Dhyia.


"Mas, kamu masih marah?" tanya Dhyia berdiri, seperti patung. Menatap wajah suaminya yang masam. "Mas, kalau aku salah aku minta maaf, ya Mas," kata Dhyia dengan lembut menatap sang suami yang membuka kancing baju.


"Kenapa tidak dari dulu?" tanya Ilker dengan penuh kebencian menatap baju dengan wajah yang masam.


Dhyia terdiam mendengar pertanyaan yang dilayangkan suaminya. Menatap lirih ke bawah dengan beban yang berat di pundak.


"Mas, aku sudah berusaha untuk menolaknya. Tapi mungkin jodoh yang menyatukan kita, Mas," jawab Dhyia yang sudah kehabisan akal.


"Heh!" Ilker menyeringai. Sekali pun dia tidak mau menatap Dhyia dan mempercayainya.


"Mas, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" tanya Dhyia pelan penuh hati-hati. Berdiri dan gemetar.

__ADS_1


"Kamu tau, apa yang harus kamu lakukan?" Meneruskan membuka kancing baju. "Kamu mau tahu?" tanya Ilker melepaskan kemejanya.


Dhyia langsung menunduk melihat lantai. "Apa Mas?" tanya Dhyia ingin tahu.


"Tinggalkan aku sendiri," pinta Ilker yang ingin melepas celananya.


"Tapi, Mas," kata Dhyia menolak. Melihat Ilker yang semakin pias. "Baik Mas." Memutar badan menutup pintu kamar.


Berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya yang cantik itu terlihat sangat kusut. Beban yang dipikulnya semakin hari semakin berat.


Ilker yang menyuruh Dhyia keluar memutar badan menatap pintu yang tertutup. Entah kenapa dia tiba-tiba terlihat tidak tega atas sikapnya tadi pada Dhyia. Ini semakin lama semakin membuatnya stres.


"Wanita itu selalu menjadi bumerang untuk ku. Setiap pulang ke rumah ini dan masuk ke dalam kamar ini. Entah kenapa aku marah? Tapi kemudian aku kembali kasihan," katanya di dalam hati bingung melihat perubahan sikapnya. "Aagh!" Melemparkan baju ke sofa dengan kasar.


Di bawah tangga Dhyia menatap ke atas. "Pintu kamar masih tertutup," gumamnya. Berlalu menyiapkan makan malam yang Dhyia sendiri tidak tahu pasti. Apakah Ilker mau memakan masakkanku ataukah tidak.


"Ini pertama kalinya, Mas Ilker ada di sini," gumam Dhyia senang. "Setelah sekian lama kami menikah, baru ini Mas Ilker ada di rumah." Menyiapkan bahan makanan.


Benar yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. "Nya, kenapa di dapur?" tanya Benar panik. Melihat nyonyanya mengeluarkan peralatan masak.


"Bi, aku mau memasak untuk suamiku," jawab Dhyia senang. "Karena selama kami menikah baru malam ini dia ada di rumah, Bi," ungkapnya dengan senang.


"Tapi, Nya. Ini adalah tugas kami," ucap Benar menghalangi Dhyia. "Nya, biar saya saja yang masak," tawar Benar mencoba membujuk Dhyia.


"Bi, engga apa-apa. Bair saya saja," kata Dhiya mengayunkan tangan memaksa Benar untuk pergi.


"Nya, Nya. Kalau sampai, Tuan tau. Aku pasti kena marah?!" jerit Benar di dalam hati meninggalkan Dhyia dengan berat.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2