
Belum lagi dengan Ziya Yilzid, model papan atas yang ternama yang merindukan sang kekasih akibat kecerobohannya dan ambisinya. Dia harus merelakan kehilangan perhatian dari orang yang disayanginya.
Duduk merana di atas tempat tidur sambil memandangi foto pujaan hati yang tersimpan di dalam galeri ponsel. Membuka tombol on dan menggesernya ke atas, menemukan kontak lelaki yang sangat di cintainya.
Kring! Kring! Kring!
Sambungan pun masuk dan terhubung ke kontak yang diinginkannya yang dari tadi dihubunginya tidak ada jawaban sama sekali. Menunggu dengan sabar beberapa menit.
Suara bunyi dering itu pun terdengar samar-samar oleh Dhyia yang sedang khusyuk berdo'a. Buru-buru dia langsung menutup do'anya dan mencari suara itu.
Kring! Kring! Kring!
Suara itu masih saja terdengar dan terus berbunyi. Dia pun menajamkan pendengarannya dan terus berjalan mencari sumber suara yang nyaring itu.
Di dapur, pak Altan yang sedang membawa pakaian kotor berteriak mencari teman seperjuangannya.
"Benar! Benar! Benar!" teriaknya sampai tiga kali melihat sekeliling. Benar masih saja diam menikmati gorengan yang dimasaknya sendiri.
Ruangan kerja sang suami menjadi tujuan terakhirnya mencari sumber itu setelah dia tidak menemukan apa pun di dalam kamar.
Memegang knof pintu yang tidak terkunci, membuatnya penasaran dan ingin tahu. Mengikuti bunyi deringan yang didengarnya secara mengendap-endap, agar tidak terdengar oleh sang suami.
Dia pun terus mencari di mana letak suara ponsel yang berbunyi dengan keras itu. Mengelilingi setiap sudut dan lemari hanya untuk mendengarkan suara yang hilang- hilang timbul. Mendekati sebuah meja yang dicurigainya lalu melihat ponsel yang sudah mati. Dia pun langsung menoleh ke arah buku-buku yang belum rapi sebab ponsel itu sudah mati.
Deg!
Glek!
Ketika dia melihat lembaran kertas putih yang bertuliskan kata-kata sembilu yang menyayat hati setelah dia mencoba merapikan buku-buku yang berserakan tadi. "Mas," katanya dengan lirih melihat isi lembaran itu.
Lemas terasa sekujur tubuhnya melihat tanda perpisahan yang diucapkan oleh sang suami melalui perantara selembar kertas. Air matanya pun menetes membasahi kedua pipi.
Gemetar dan sesak rasanya dadanya kini. Tidak kuat rasanya bibir untuk berteriak. Isak tangis yang tertahan pun pecah, berteriak di dalam hati.
__ADS_1
Bukan penyesalan yang ditangisi akan tetapi, harap yang terlalu besar yang disesali. Menatap lekat kertas yang berada di dalam genggamannya.
Puing -puing semakin berserakan di dalam hati. Bagai bingkai yang pecah yang tiada bertempat.
Melihat panggilan yang masuk kembali ke dalam ponsel sang suami. Hatinya semakin teriris melihat nama yang terpampang jelas di dalam ponsel.
"Wanita itu memang seharusnya adalah tempat kebahagiaanmu, Mas." Menatap lirih lembaran putih dan juga ponsel yang bertuliskan nama, Dudu.
Semusim telah kulalui dan telah kulewati bersama dengan mu. Namun, kamu masih tetap ambigu. Kamu masih tetap menganggap diri yang tak bertuan ini orang asing. Tak banyak yang kuharapkan hanya setitik embun yang membawa kebahagiaan.
Dhyia terhempas ke dinding. Kedua tungkai kakinya sangat lemah. Air mata terus membasahi hijabnya.
Dia pun menangis di dalam ruangan yang kosong yang terkunci. Pada malam hari, setiap malam dia selalu berdo'a dan bersujud di tengah malam untuk mengadukan beban yang dia jalani bahkan meminta sedikit kebahagiaan kepada Sang Khaliq untuk pernikahannya, meski akhirnya dia harus menjauh. Hari sudah berlalu namun, ujian hidup masih terus menghampirinya silih berganti.
Ziya Yilzid kembali melemparkan ponselnya di atas kasur. Sesal bercampur kesal karena sang kekasih tidak mau mengangkat panggilannya. Padahal dia hanya sekedar rindu dan ingin mengobati rasa itu dengan mendengarkan suara lembut sang pujaan hati yang berbicara lembut kepada nya.
"Burcu! Burcu! Burcu!" Berteriak keras, seperti orang yang sedang depresi, melihat ke arah pintu.
Burcu yang berada jauh di lantai bawah mana mungkin bisa mendengar suaranya dari atas yang tertutup rapat oleh pintu dan dinding.
Kring! Kring! Kring!
Sambungan telepon genggam pun terhubung. Namun, sayang sang bodyguard sama sekali tidak mendengarnya karena dia sambil asyik memasang MP3 di kedua telinganya mendengar musik kesukaannya.
"Bodyguard ini! Di saat di butuhkan dia tidak ada," keluh Yilzid menggigit gerahamnya dengan kesal. Mengambil ponsel dan memencet nomornya berkali-kali. "Eeeeh! Ke mana sih dia? Baru bekerja beberapa hari. Dia sudah mulai berani," gumamnya yang tidak ingat sudah berapa hari sang pengawal bekerja.
Duduk menjatuhkan tubuhnya kembali di atas kasur . Mengingat-ingat sesuatu yang bisa membuatnya ada kesibukan. Memutar -mutar kedua bola matanya berpikir.
Seketika dia langsung teringat tentang surat yang di kirimkannya barusan ke kediaman Carya, tertawa sumringah dan langsung membuka ponsel menelepon kembali, yaitu teman yang sudah membantunya menjalankan rencana itu.
Sambungan pun masuk dan langsung diangkat oleh orang yang berada di balik telepon genggam.
📱"Halo Yilzid! Kamu ada apa lagi, nih? Nelpon aku?" tanya suara dari balik telepon itu.
__ADS_1
📱" Sob, aku lagi sedih dan bingung," jawabnya .
📱 "Kenapa?" tanyanya ingin tahu dari balik telepon.
📱"Kamu tau engga! Semenjak aku mengirimkan surat itu. Sampai saat ini dia engga ada kabar. Aku telpon! Dia sama sekali tidak mau menjawab," sesalnya bingung.
📱" Dia engga mau menjawabnya? Kok bisa ?" Bertanya heran dari balik telepon.
📱" Iya! Aku gak tau! Aku jadi, takut kalau dia marah dan meninggalkan 'ku," kata Yilzid berputus asa, menatap langit-langit kamarnya.
📱"Sob, tenang dulu! Jangan takut! Kalau dia memang mau meninggalkan kamu. Kurasa sudah dari dulu," balasnya dari balik telepon. "Tapi, 'kan ini tidak! Coba deh! Kamu lihat dan perhatikan. Dia sama kamu selama ini! Itu bagaimana?"
Yilzid seketika diam merenungi yang dikatakan oleh temannya, memutar-mutar pikirannya kembali.
📱"Yilzid! kamu itu adalah wanita yang paling di cintainya, bahkan dari SMA sewaktu kalian berteman dan belum jadian. Dia itu gak pernah mau dekat wanita manapun. Bahkan kalau ada wanita yang ingin mendekatinya atau pun menyapanya, dia hanya diam saja dan tidak menolehnya dan menganggapnya, seperti angin lalu. Kamu ingat, gak?"
Yilzid langsung tersenyum sedikit bahagia teringat masa lalunya kembali. Pada saat itu Ilker hanya melihat satu wanita saja di dalam hidupnya yaitu, wanita yang bernama Ziya Yilzid. Bangku SMA adalah bangku yang membuatnya bahagia dan penuh warna dengan seorang pria yang menaruh perhatian kepada nya. Sungguh itu membuatnya berbunga- bunga mengingat masa-masa indahnya dulu yang terulang oleh cerita sang teman.
📱"Jadi, untuk apa kamu mengkhawatirkannya dan takut, kalau dia akan menjauh darimu."
📱"Tapi, aku sudah membuat kesalahan. Aku sudah lancang mengirimkan surat itu kepada nya," sesalnya meratapi cintanya untuk ke depan. "Tadi juga, sewaktu dia datang ke sini, dia marah-marah padaku. Selama ini dia belum pernah, seperti itu. Tapi tadi, gara-gara surat itu dia membentakku." Meneteskan airmata. "Kau tahu, Sob? Dulu dia menatapku dengan lembut. Tapi semenjak kejadian itu! Dia menatapku dengan kasar." Bergulung dengan hati yang kusut.
📱"Lalu bagaimana? Apa kau ingin mengambil surat itu kembali dari rumahnya?" Bertanya setelah mendengar kesedihan dari sahabatnya itu.
Yilzid hanya termangu menekuk wajahnya, di ikuti oleh ponsel yang masih menempel di telinga, menatap nanar dengan pandangan kosong.
📱"Aku tidak tau," jawabnya bingung. Menatap pintu yang masih tertutup.
Seperti pungguk merindukan bulan, itulah yang tergambar pada dirinya saat ini. Menanti, menunggu dan terus berharap. Amarahnya pun kembali pecah karena teleponnya tidak kunjung diangkat.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...