
"Iya, Tuan saya tahu," jawab pak Balin mematuhinya. Menatap lurus dan menyelip dari para pengendara yang bersiliweran baik di pinggir jalan mau pun di tengah jalan.
Menunduk kembali melihat ponselnya dan menelepon Cecar untuk menanyakan ke adaan yang terkait dengan berita yang berembus ke telinganya.
"Cecar! Segera masuk nanti ke ruangan saya!" katanya dengan tegas dari dalam telepon genggam.
"Baik, Pak." Balasan itu pun sampai ke telinganya.
Mobil terus melaju memecah jalanan dengan cepat. "Oh, ya! Pak, di garasi yang satu lagi ada mobil yang tertutup. Saya mau mobil itu kamu bawa ke bengkel dan sebelum dibawa lepas dulu plat nomor nya," katanya dengan tegas, melihat ponsel kembali mencari kabar penting tentang perusahaan miliknya.
"Baik, Tuan," jawabnya, melintasi gerbang kantor yang lebar dan memarkirkan mobil di tempat VVIP, khusus mobil pemilik perusahaan.
Balin bergegas keluar, membuka pintu mobil sebelah kiri dan mempersilakan lelaki itu keluar . Berdiri mengikuti sang pria yang berdiri yang melihat kantor yang sudah dua hari tidak di kunjungi olehnya.
"Tuan, apa saya antar masuk?" Balin melihat punggung yang berdiri sedikit miring dari nya.
"Tidak usah! Pergilah pulang!"
"Tapi, Tuan! Tuan tidak membawa mobil," katanya, sedikit terheran setelah mendengar perintah sang tuan.
"Saya bisa pulang naik mobil siapa saja," jawabnya langsung.
"Baik, Tuan! Kalau ada apa-apa! Segera hubungi saya saja, Tuan," katanya melihat tuan mudanya yang sudah memutar langkah meninggalkannya. "Tuan, ada-ada saja. Sudah tau sakit. Eh! Malah masuk kantor. Melihat tangan tuan mudanya dari jauh. "Tapi kasihan melihatnya, pikirnya. Melirik kembali tangan yang hampir menghilang dari balik pintu.
"Selamat siang, Pak!" sapa karyawan.
"Derya! Di mana Cecar?" tanyanya menghentikan langkah.
"Cecar, tadi ada syuting, Pak di luar. Tapi katanya, "Dia sebentar lagi akan kembali." Melihat pria yang bertubuh tinggi besar itu.
"Kalau nanti dia sudah kembali. Suruh dia menemui saya di ruangan," pintanya meninggalkan sang karyawan.
Baik, Pak," jawab Derya yang menunggu Cecar sedari tadi. "Apa dia tahu, ya?" gumamnya bertanya tentang berita yang tersebar. Di saat melihat pria itu meninggalkannya. Membalik ke belakang langsung menepis apa yang di di pikirkannya.
__ADS_1
Dia kemudian masuk ke dalam ruangan kerja yang telah lama kosong. Menjatuhkan tubuh, menghembuskan napas kasar mengingat dirinya yang tersandung begitu banyak masalah.
Menatap laptop dan menelpon karyawan yang sering dia andalkan. "Alen, segera masuk ke ruangan saya!" panggilnya dengan tegas.
Alen langsung beranjak meninggalkan rekannya yang masih menunggu konfirmasi selanjutnya. Menyeret kedua kaki dengan tergesa-gesa setelah dia mendengar suara sang atasan agak sedikit panik dari balik telepon.
Dia pun mengetuk pintu. "Iya, Pak," jawabnya masuk. "Apa ada yang bisa saya bantu?" Alen langsung memberi tawaran setelah melihat kening sang atasan mengerut di depan layar laptop yang menyala.
"Kenapa ini bisa terjadi? Apa ada sesuatu yang tidak saya ketahui?" tanyanya. "Selama saya tidak masuk. Saya lihat semua kacau balau," cetusnya. Mempersilakan Alen duduk dengan mengayunkan tangan sebelah kanan.
Alen mengangguk dan menarik kursi. Duduk sambil memberitahu lelaki yang sudah berkepala tiga itu sesuai yang dia ketahui.
"Pak, ini bermula semenjak kabar yang berembus tentang orang itu. Semenjak itu kita sangat kesulitan untuk bergerak, Pak. Seperti ada yang mengawasi kita." Semenjak itulah kita kesulitan mencari seorang model. Bahkan dari berita yang saya dengar! Ada sebuah perusahaan yang merekrut model terkenal dan bertalenta untuk bekerja sama dengan mereka."
Ilker hanya diam sekan dia mendengarkan apa yang di ucapkan oleh wanita itu. "Apa kau mengetahui tentang perusahaan itu?" tanyanya semakin mengeratkan kening seolah dia ingin mengetahui lebih lanjut. Apalagi berita yang ter-update saat ini semua mengenai hal itu.
"Maaf, Pak! Kami belum tau dan kami belum mencari tahu tentang itu, Pak. Lagi pula! Kita tidak tidak mempunyai orang kepercayaan di luar untuk mengawasinya, Pak. Jadi, kemungkinan kita akan kesulitan untuk mencari tahunya. Sebab yang mempunyai sebuah perusahaan itu adalah kalangan baru di dunia bisnis. Jadi, mereka sangat pandai menutupinya."
"Setahu saya, Pak. Orang itu bernama Gohan Hakan."
Deg!
Ilker langsung terdiam seolah dia tidak asing dengan nama itu, pikirnya. "Aku tidak mengenal orang itu," kata Ilker langsung menepisnya.
Sementara Cecar berlari tergesa-gesa, ingin menjumpai pemilik stasiun TV yang tadi memanggilnya. Berjalan terburu-buru agak sedikit terlihat, seperti orang berlari di antara karyawan yang lalu-lalang dengan gurat wajah yang beragam bentuk.
Tok ! Tok ! Tok !
"Masuk," teriak Ilker dari dalam.
Sontak Alen terkejut seketika menoleh ke arah sebelah kanan. Cecar ngapain ke sini, pikirnya mengikuti langkah pria tadi yang mengetuk pintu.
"Bagaimana keadaan syuting di luar?" tanya Ilker.
__ADS_1
"Untuk saat ini masih baik-baik saja, Pak. Meski ada sedikit kendala tadi. Tapi kami sudah menyelesaikannya."
"Saya mau kau dan Alen mencari tahu tentang masalah ini!" ucap Ilker dengan tegas, menatap kedua karyawannya.
Alen dan Cecar pun melongo bersitatap. "Baik, Pak," jawab mereka berdua dengan perasaan berbeda yang begitu berat bagi Cecar dan sangat enjoy bagi Alen sebab Cecar pasti akan kewalahan untuk bermain game.
"Kalau begitu kembali lah! Ke ruangan kalian. Saat ini stasiun TV ini tidak sedang baik. Ada masalah yang datang mengancam dari luar. Saya ingin kalian menyelidiki masalah ini. Jangan sampai kita kehilangan semuanya."
"Iya, Pak! Kami akan menyelidikinya. Siapa yang bernama Gohan Hakan itu." kata Alen.
"Oh, ya! Satu lagi! Apa kalian sudah menemukan? Yang saya minta," singgungnya menatap layar laptop kembali.
"Pak! Kami sedang berusaha," jawab Alen setengah frustrasi gara-gara pencarian ajang seorang model. Melirik cecar yang bergeming menatap nanar.
"Hm! Ilker langsung mengangguk senang setelah mendengarnya. Dia pun kembali bersikap netral seolah dia sudah menyelesaikan satu masalah. Lalu menyuruh kedua karyawannya untuk keluar.
Di sisi lain Dhyia masih terlihat bermanja-manja dengan permintaannya kepada Sang Khaliq. Di ujung do'anya dia selalu mengharapkan keridhaan Sang Khaliq terhadap ujian yang dia jalani. Air mata pun kembali menetes membasahi kedua pipinya tatkala dia terkenang dengan almarhumah sang ibu yang sangat menyayanginya dan tidak ingin kalau dia menjauh darinya.
Saat semua telah datang yang lama pun berlalu dengan cepat. Tidak ada jeda untuk kita saling berkasih. Aku ingin tangan lembut nan suci itu tetap ada meski dia hanya menjadi sebuah bayangan yang mendekap dalam angan dengan cinta yang tidak pernah usang hingga air mata berhenti.
Senyum adalah sebuah gambaran keikhlasan dari semua yang menyapa dari segala sudut penjuru. Tiada berkata jujur kepada hati. Semua hanya bersandar akan kebesaran-Mu ya Rabb.
Dhyia Kharya pun terus bermunajat mengadukan segala keperihan yang membelenggu. Putus sudah semua harapan yang dia impikan di saat terjerat oleh ikatan suci.
Menengadahkan kedua tangan dengan siraman air mata yang mengalir. Teringat akan ibu dan nasibnya ke depan.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1