Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kemarahan Ilker


__ADS_3

Sepanjang hari Dhyia beberes kamar yang awalnya tadi tampak seperti gudang dan berantakan kini tidak lagi. Kini kamar itu telah bersih dan rapi walaupun kardus bekas yang berisi pakaian lama yang sudah tidak terpakai itu masih terlihat teronggok di tempat itu. Dia tidak kuasa untuk membersihkannya sebab kondisi tubuhnya yang mulai agak lemas akibat ia belum beristirahat, makanya kardus yang seharusnya ia rapikan dan ia buang jika tidak penting lagi kini malah gagal dan harus tetap berada di situ sehingga terlihat masih sama, seperti semula di saat ia memasuki kamar, sumpek dan sempit . Kardus yang menyempit di dalam ruangan kamar masih tetap terletak yang membuat ia tidak begitu nyaman ketika kedua boal matanya menatap ke arah sudut ruangan di saat ia ingin masuk.


"Mbak!" Panggil Rimak yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


Sontak Dhyia yang lagi serius mengepel tiba-tiba terkejut dan memutar badan menoleh ke arah belakang, menatap Rimak yang sudah keluar dari dalam kamar. "Mbak lagi bersih-bersih. Kamu ingin sesuatu?" tanyanya seketika, memegang kain pel dengan kedua tangan.


"Engga Mbak. Aku tidak melihat Ibu dari tadi. Semenjak aku bangun dan keluar kamar aku tidak mendengar suaranya. Padahal tadi 'kan Mbak dan Ibu baru saja berbicara," ucap Rimak.


"Bibi pergi keluar. Katanya, "Ada yang mau di bayar," lanjut Dhyia menerangkan.


"Tidak biasanya Ibu pergi panas-panasan, seperti ini," kata Rimak terheran memutar badan meninggalkan sepupunya.


"Bibi, pe... ." Dhyia pun menutup mulut ketika ia melihat Rimak telah pergi meninggalkannya. Menatap kembali ke bawah tepatnya melihat lantai yang setengah belum terkena kain pel. " Aku harus cepat selesai. Sebentar lagi akan sore," ucapnya pelan menyeret kembali kain pel.


Perdebatan antara kakak dan adik di meja makan pun berakhir karena Ilker memaksa dirinya untuk pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan wanita yang paling berharga baginya selain Ibunya.


"Kak! Apa Kakak akan pergi begitu saja tanpa menyelesaikannya dulu?" teriak Rana bertanya dari belakang, menatap punggung sang kakak yang tidak menoleh ke arahnya sedikit pun. Rana terus menatapnya hingga lelaki itu menghilang sambil menahan amarah di dalam hati dengan gurat wajah yang memerah, seperti api. Mengambil sendok garpu dan menancapkannya di atas piring dengan kasar sebagai bentuk kekesalannya atas sikap kakak lelakinya yang belakangan ini semakin berubah.


Ilker pun sebenarnya tak kuasa melihat kesedihan sang adik yang selama ini sangat di sayanginya, meski ia sebenarnya ingin merubah sikap adik perempuannya itu agar menjadi sosok wanita yang mandiri dan tidak manja. Mengambil ponsel yang tadi ia taruh di meja bar. Menyalakan layar dan menggeser slide ke samping kanan. "Ravza, keluarkan uang, seperti biasa dan transfer ke rekening Rana sekarang juga," katanya dari balik telepon kepada bagian keuangan yang selama ini dia lah yang mengatur seluruh pengeluaran di keluarga Carya dan mengurusi segala keperluan Rana dan seluruh kebutuhan yang lainnya.


"Baik Pak," balasnya dari balik telepon.


Ilker pun terus melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga setelah menutup telepon untuk memastikan kembali mengenai isi memo dan mencari tahu kembali penyebab kepergian Dhyia.

__ADS_1


Kreeek!


Pintu kamar pun ia buka dan kemudian ia tutup rapat kembali. Berjalan sedikit pelan menuju meja nakas yang terpampang jelas sebuah memo di atasnya. Membaca kembali isi memo itu dengan batin yang sedih dan gurat wajah yang bercampur rasa bersalah serta bingung.


Di dalam ruangan kamar yang pengap tanpa jendela tiba-tiba Dhyia teringat pesan sang Bibi kepada dirinya. "Dhyia nanti kalau Rimak sudah bangun. Tolong katakan ada lauk di atas meja."


Dhyia pun langsung berlari menemui sepupunya itu. "Rimak! Kata Bibi, "Di atas meja ada ikan," ucap Dhyia dari depan pintu kamar sambil memegang kain pel dengan tangan sebelah kanan, melihat Rimak yang berdiri di depan cermin.


"Iya Mbak. Aku tau." Rimak langsung membalasnya dan langsung menuju kamar mandi. Mencuci mukanya terlebih dahulu agar kembali segar setelah ia bangun.


Ilker pun mendadak berubah pikiran tidak ingin berlama-lama mengingat sang istri bahkan di dalam sebuah memo ia sama sekali tidak menemukan apa pun dari balik tulisan itu sehingga ia pun menyerah dan berputus asa sebab sedari tadi sampai saat ini ia belum juga mendengar kabar mengenai wanita tersebut. Dia kembali menuruni anak tangga menuju ruangan olah raga untuk menghilangkan stress nya dan melampiaskannya di ruangan olah raga.


Di sebuah ruangan kamar yang adem dan menenangkan telah terbaring seorang wanita paruh baya yang sedang bergulat bersama pikiran lelahnya. "Sebenarnya Nyonya pergi ke mana, sih? Kenapa Tuan terlihat panik begitu? Apa Nyonya sebenarnya tidak ada acara keluarga? Makanya Tuan bisa se- khawatir itu," gumamnya menatap langit-langit kamar. Duduk di atas lantai menyandarkan kepalanya ke atas tempat tidur. "Huh!" Menghembuskan napas memijat-mijat kening.


"Permintaan yang mana? Soalnya permintaan majikanmu itu banyak. Aku sempat pusing memikirkannya. Yang satu belum selesai sudah minta yang satu lagi," keluh pak Altan berbagi penderitaannya kepada pak Balin yang baru saja kembali dari luar.


"Ya kamu harus sabar. Cuma kamu yang bisa dan cuma kamu juga yang di sukai Tuanmu, hihihi," sambung pak Balin tertawa geli meledek pak Altan dan meninggalkan lelaki yang sedang mengambil kotoran di dalam kolam ikan itu.


"Kamu itu senangnya cuma bisa menertawai saja," ucap pak Altan melihat ke arah pak Balin yang sudah berlari meninggalkannya sambil mengayunkan durung setengah di udara sebagai isyarat kalau ia ingin melempar pak Balin dengan durung tersebut.


Pintu ruangan olahraga yang berdekatan dengan ruang tv yang arah hadapnya tepat mengarah ke arah taman yang berdekatan dengan kolam ikan pun ia buka dan ia tutup dengan kasar.


Braugh!

__ADS_1


Pintu pun terhempas dan tertutup rapat yang membuat getaran, seperti gempa. Berjalan sambil menaruh ponsel di atas meja.


Benar yang lagi terbawa arus mengingat tentang sang majikan dulu, sewaktu Dhyia pertama kali masuk dan bertemu dengan nya sontak terkejut dan ingin melompat keluar. "Itu suara apa, ya? Kok seperti gempa?" Bengong menatap setiap sudut ruangan. Berdiri membuka pintu mengeluarkan sedikit kepala melihat keluar mencoba mencari tahu.


Di dalam ruangan kamar yang sepi hanya ada ia seorang yang lagi menatap langit-langit kamar dengan termangu. "Dulu nyonya Afsheen pernah bilang, "Kalau Dhyia berasal dari panti." Dia terus bergumam sambil mengingat kembali sesuatu yang mungkin terlupa. Dia juga terus melamun sambil mengingat-ingat masalah sang nyonya. Tidak ada, pikirnya.


Pria yang berstatus sebagai suami dari Dhyia Kharya kini tampak kusut bercampur kecewa terhadap dirinya sendiri yang telah gagal dalam segala hal.


Puk !


Puk !


Puk !


Suara tinjuan pun terdengar keras dan memekik gendang telinga bagi yang mendengarnya. Benar kembali terperanjat saat kedua telinganya mendengar suara keras yang menggema.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2