Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Di dalam lemari


__ADS_3

Ilker pun sudah berdiri di depan pintu kamar. Dia langsung memegang knof pintu dan membukanya.


Jeglek!


Pintu terbuka seketika, lalu ia kemudian melangkah masuk, menoleh ke arah meja rias dan menaruh ponselnya tepat berdekatan dengan parfum favoritnya.


Tiba-tiba saja suara ponselnya berdering. Dia yang ingin masuk ke kamar mandi menghentikan langkah, refleks ia memutar badan dengan ringan menghampiri tolet.


"Asil," katanya pelan saat kedua bola matanya menatap layar ponsel yang menyala. Dia pun mengambilnya dan menempelkan di telinga sebelah kiri.


📱"Apa kabar kawan?" tanya Asil langsung dari balik telepon. "Sepertinya ada kabar gembira hari ini buat 'ku? Akhirnya aku bisa berbicara denganmu," kata Asil dari balik ponsel dengan nada suara lepas bercampur bahagia ketika ia mengetahui Ilker mengangkat teleponnya. "Besok tidak ada musim semi atau pun musim dingin," candanya selanjutnya, teringat tentang cerita mereka kala itu masih berada di London.


📱"Sepertinya, semua musim ada pada 'ku saat ini. Mereka datang silih berganti mendekatiku," sambung Ilker, diam menutup mulut. Dia tidak lagi melanjutkan omongannya. Dia hanya menatap lurus ke depan cermin. Melihat ke arah foto pengantin yang tergantung di dinding yang terpampang jelas di dalam cermin.


📱"Hahaha," Asil pun tertawa lepas dari balik telepon. "Apa malam ini kau ada waktu luang?" Asil melanjutkan pertanyaannya dari balik telepon.


📱"Hm! Malam ini aku ada kunjungan. Ada pengusaha sukses, dia lagi mengadakan acara yang besar. Jadi, malam ini! Pesta besar telah menunggu 'ku. Makanya, aku harus segera ke sana," lanjut Ilker sambil membuka perban penutup tangan dengan pelan dan berhati-hati.


📱"Baiklah! Aku tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang pergilah ke mana maumu dengan sepuasnya. Tapi jangan lupa! Besok kita berbincang-bincang. Kita sudah lama tidak mengadakan acara," ucap Asil dari balik telepon.


📱"Oke! Baiklah! Aku akan datang besok . Jika aku ada waktu luang. Aku akan menyempatkan diri untuk menemuimu di cafe," balas Ilker langsung, menatap wajahnya yang terlihat suntuk di dalam cermin.


📱"Hmm! Oke! Kalau begitu aku tidak akan memaksamu hari ini. Lagi pula kita sudah tidak, seperti dulu lagi," ucap Asil menerangkan. "Dulu kita sering berada di luar. Berfoya-foya menghabiskan uang. Mulai dari pagi sampai malam. Tak jarang kita sering diomelin oleh kedua orang tua kita," lanjutnya dari balik telepon.


📱"Hm! Itulah mengapa? Aku tidak lagi suka keluyuran. Setelah aku dewasa dan sudah berumur memasuki kepala tiga. Aku jadi, sadar. Kalau hidup yang kujalani, seperti dulu sangatlah buruk," sambung Ilker, memutar badan setengah miring melihat jam yang sudah berputar jauh.


Asil hanya diam saja. Sepatah kata pun tidak ada lagi terdengar. Telepon yang masih menyala kemudian dimatikan oleh Ilker sebab sang teman tidak lagi terdengar menyahut.


Dia langsung meletakkan ponsel ke tempatnya kembali. Memutar badan melanjutkan langkah untuk kembali masuk ke kamar mandi. Dia pun kini sudah tidak sabaran ingin segera hadir di dalam pesta. Di dalam kamar mandi ia melepas pakaiannya dengan terburu-buru dan menghidupkan shower.


Aliran air yang mengalir dari atas membasahi sekujur tubuhnya tampak merilekskan pikirannya yang penat akibat masalah yang menumpuk. Dia lalu menggosok-gosok kepala sehingga menetralkan urat syarafnya yang tegang. Mengusap-usap wajah dengan lembut, memakai sabun pencuci muka yang mengangkat kotoran dan sel kulit mati. Selanjutnya, ia menaruh sabun cair ke spons yang sudah basah lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh sehingga tubuh yang tadi berkeringat dan bau akibat permainan boxing kini telah harum dan segar.


Setelah sekian lama ia berada di dalam kamar mandi membasahi seluruh tubuhnya. Kini saatnya ia keluar dan membuka pintu. Mengambil handuk yang terlipat di dalam keranjang tepat tersusun rapi di sudut dinding yang berdekatan dengan westafel pencuci muka, memakainya dan lalu keluar berjalan menghampiri lemari dan membukanya seketika.

__ADS_1


Deg!


Sontak ia sedikit terkejut melihat pakaian yang terlipat di beberapa rak lemari sudah kosong. Ilker langsung memeriksa bagian dalam rak pakaian yang tertutup oleh pakaian yang terlipat. Namun, yang ia lihat tetap juga sama. Beberapa pakaian Dhyia yang lama tidak ada lagi terlihat di dalam lipatan.


"Benar! Tolong segera naik ke kamar saya!" titah Ilker dari dalam perekam suara. Memutar badan berjalan memasuki ruang ganti membawa setelan jas.


Benar yang sedang berbaring di atas tempat tidur langsung memiringkan kepala dan menoleh ke arah alat perekam yang terpasang di dinding kamar yang bersebelahan dengan lemari pakaian.


Dia langsung beranjak sambil mengambil jilbab yang terletak di sebelah bantal. "Baik Tuan," katanya, memakai jilbab dan membuka pintu.


Rana yang sudah lama memasuki kamar, sontak terheran ketika ia mendengar sang kakak memanggil asisten tersebut dari perekam suara yang menempel di dinding kamarnya. "Kenapa Kakak memanggil Benar? Apa Kakak membutuhkan sesuatu?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Bergegas membuka pintu dan melihat ke arah pintu kamar lelaki yang memanggil dari balik perekam. Memutar kedua bola mata panik melihat ke arah asisten yang terlihat menaiki tangga dengan langkah terburu-buru bercampur was-was.


Rana pun langsung mengikuti sang asisten dengan diam-diam bercampur khawatir dari belakang dengan jarak yang cukup jauh.


Benar kemudian berdiri di depan pintu kamar yang sudah terbuka. "Iya Tuan. Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Benar, menatap pria yang sudah keluar dari kamar ganti.


Ilker yang merapikan dasi, memutar badan langsung ke arah Benar. "Bi, semalam Bibi melihat Dhyia pergi, 'kan?" tanyanya memastikan.


"Apa Dhyia mengatakan sesuatu kepada Bibi?" tanya Ilker kembali.


"Tidak ada Tuan. Nyonya semalam hanya mengatakan kalau di rumah kerabatnya ada acara," jawab Benar kembali dengan nada suara pelan dan berhati-hati.


"Bukannya Bibi mengatakan, "Kalau dia berasal dari panti asuhan?" tanya Ilker sedikit terheran. Merapikan lengan tangan kemeja yang ia pakai.


"Iya Tuan. Nyonya memang berasal dari panti. Tapi Nyonya juga mempunyai kerabat dekat," jawab Benar dengan perasaan deg-degan bercampur gemetar setiap kali ia berhadapan dengan sang majikan pria itu.


Ilker lanjut memakai jas yang sudah ia persiapkan untuk menghadiri pesta malam ini. Dia menghela napas panjang ketika mendengar cerita dari asisten yang sudah mulai menua. "Sekarang pergilah turun ke bawah!" titah Ilker memutar kepala dan menatap Benar yang berdiri tegak lurus dengan menyilangkan kedua jemari di depan pintu.


"Baik Tuan. Saya permisi dulu," ucap Benar dengan hati yang lega, memutar badan membalik ke belakang.


Sontak Rana yang bersembunyi di balik tiang penyangga atap lantai dua pun sedikit bergeser menutupi dirinya agar tidak terlihat oleh wanita yang barusan saja keluar menuruni anak tangga.


"Kakak sedang memikirkan wanita itu?" Rana bertanya kepada dirinya sendiri saat kedua telinganya mendengarkan obrolan sang lelaki dan wanita yang separuh baya itu.

__ADS_1


Raut wajahnya seketika berubah ketika ia mendengar ucapan dari pria yang sedang bersiap-siap di dalam kamar yang tidak ia sukai. Dia spontan memutar badan dan gurat wajah penuh kebencian meninggalkan tempat persembunyiannya memasuki kamar.


"Ternyata, Kakak masih memikirkan perempuan itu! Dengan cara diam-diam dia ternyata mencarinya," ucap Rana sebal memegang knof pintu lalu menutupnya.


Pria yang tampak merapikan diri dengan balutan stelan jas pun mengambil ponsel dan kunci mobil yang terletak di atas nakas. Dia pun kini menutup pintu kamar dan turun dengan jenjang kakinya yang panjang.


"Pak Altan!" Panggilnya berteriak keras ketika ia sampai di lantai bawah tepatnya berdiri di dekat ujung tangga. Memutar miring setengah tubuhnya menatap ke arah ruang dapur yang terlihat dari pintu pembatas antara ruang tengah dan ruang dapur meski jaraknya cukup jauh.


Di meja makan, Pak Altan yang sedang menikmati makan malam sontak terkejut dan menaruh kembali nasi yang digenggamnya ke dalam piring.


"Iya Tuan!" sahut pak Altan sedikit keras, beranjak dari kursi lalu berlari menghampiri pria yang berteriak sambil bergumam di dalam hati. "Lagi-lagi aku engga sempat minum!" batinnya.


Deg!


Tiba-tiba kedua kaki yang berlari dengan semangat berhenti seketika, ketika kedua bola mata menatap ujung sepatu yang kilat di atas lantai.


"Iya Tuan. Ada apa?" Pak Balin kembali bertanya.


"Malam ini saya mau keluar," kata Ilker dengan kedua sorot mata tajam tanpa menjawab pertanyaan dari si tukang kebun.


Pak Altan yang bersitatap dengan lelaki yang sudah lama menunggu. "Baik Tuan," katanya langsung dengan tergesa-gesa memutar badan. Dia yang sudah memahami makna dari tatapan pria tersebut langsung berjalan kencang menghampiri pintu.


Pria yang sudah terburu-buru itu pun lalu keluar dengan kedua tangan memegang ponsel dan kunci mobil. Melewati si tukang kebun yang terbawa arus parfumnya yang wangi.


"Oh, iya Pak." Ilker kembali memutar badan dan mengayun kedua kakinya berdiri tegak lurus menatap ke arah lelaki setengah tua yang ingin menutup pintu. "Tolong sampaikan kepada Rana! Kalau malam ini saya ada urusan," pintanya dengan harapan penuh, meninggalkan lelaki yang membuka pintu seorang diri.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2