
Malam semakin larut Ilker yang tadi menebus obat kini sudah sampai di depan pagar sedangkan Yilzid masih berperang dengan kecurigaannya yang masih bertahan berdiri di balik punggung Pevin dan lelaki misterius di balik kaca mata hitam.
"Aku belum pernah melihatnya selama ini bersama, Pevin. Sekian lama aku mengenal Pevin sampai sejauh ini, dia belum pernah bercerita mengenai seorang pria kepada ku," batin Yilzid terheran menatap lekat pria yang bertubuh tinggi itu dari lirikannya.
Pevin begitu gembira sekali karena pemotretan itu jadi, dilaksakan. Bersorak riang di dalam hati tiada henti karena semuanya berjalan dengan lancar. Melihat sebuah cek kosong yang diletakkan pria tersebut di atas meja tepat bersebelahan dengan lembaran perjanjian kontrak.
"Wah! Ini sangat menarik, cek kosong dengan harga yang sesuai," kata Pevin berbisik di dalam hati. Menatap cek dan ingin segera mengambilnya kalau dia tidak menjaga harga diri. Melirik sang model papan atas yang berlindung tepat di belakangnya. Wanita yang sedang mengerang dengan teriakkan penuh kebencian bergulat perang batin terhadap perempuan yang menjadi teman berlindungnya, dipikirnya akan setia dan menjaganya.
Ilker pun menaiki anak tangga ingin melihat kondisi sang istri. Meski begitu, dia tidak pernah bisa mengabaikan wanita yang telah dipersunting oleh nya, sekali pun kebencian masih menyelimuti atas pernikahan yang terjadi. Membuka pintu kamar yang tidak terkunci.
Meletakkan obat dan menuruni kembali anak tangga menuju dapur mengambil makanan untuk sang istri. Menaruhnya semua di dalam talam, lengkap dengan air minum dan lauk untuk makan. Setelah semua yang terjadi, pria itu tampak begitu peduli kali ini terhadap wanita yang berbaring tidak berdaya itu. Dia begitu dengan penuh kasih menyiapkan semuanya agar wanita yang lemah tadi kembali membaik.
Dia pun berbalik menuju kamar, menaiki anak tangga yang lebar dan panjang serta membawa nampan seorang diri. Sekarang dia sudah terlihat, seperti koki handal yang melayani pelanggan teristimewa.
Mendorong pelan bawah pintu dengan ujung kaki yang masih mengenakan sepatu santai dan pakaian ala rumahan yang keren. Menoleh ke arah wanita yang berbaring di ikuti oleh kedua tangan meletakkan talam di meja sudut tepat di sebelah sang istri berbaring.
"Dhyia!" Panggilnya dengan lembut melupakan sejenak masalah yang terjadi tadi. Duduk di samping sang istri. "Makanlah sedikit! Agar kau lekas sembuh," ucap Ilker, memegang piring yang berisi nasi dengan tangan sebelah kiri beserta dengan tatapannya yang lembut penuh dengan kasihan.
__ADS_1
Seketika Dhyia, seperti bermimpi mendengar suara yang membangunkannya. Membuka kedua mata perlahan di ikuti kepanikan sebab lelaki itu sekarang telah duduk di sebelahnya dengan jelas. Menarik tubuhnya langsung dan bersandar di heardboard saat itu juga. Pria yang melihatnya di tatapnya juga dengan sorot mata takut. Gemetar dan deg-degan dan juga seluruh telapak tangan dan kakinya dingin melihat lelaki itu telah teronggok di hadapannya.
"Isilah perutmu dulu dengan ini," ucap Ilker, melayangkan piring dengan lembut ke arah sang istri. "Kau pasti belum mengisi perutmu seharian, 'kan?!" Ilker bertanya lalu menunduk sekilas melihat nasi. "Ini masih hangat! Dan ini sangat cocok untuk di makan dengan kondisi, seperti dirimu," lanjutnya seolah menunjuk piring yang dipegang.
Entah apa yang membuat wanita yang duduk di hadapannya diam menutup mulut dengan kuat. Mendengarkan semuanya seolah, seperti orang yang dungu dan hanya memandangi nasi, seperti orang yang terheran.
Pria itu pun mengambil sendok setelah dia melihat reaksi sang istri yang tetap bergeming. Melayangkan sendok yang berisi nasi dan ikan tepat ke arah mulut wanita tersebut. Mulut pun masih enggan terbuka. Bagi dirinya perubahan sikap pria yang duduk di hadapannya saat ini, bagaikan pukulan yang keras yang sewaktu-waktu mungkin akan menghempaskannya kembali dengan mudah, sampai hancur berkeping-keping tiada guna, pikirnya menatap sendok yang mengayun di udara.
"Mas, aku bisa makan sendiri," ucapnya langsung. Mengambil piring dan sendok yang mengayun.
Sebenarnya Ilker ingin sekali bertanya tentang keadaan wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya. Namun, keinginan itu dia urungkan disebabkan dia tidak ingin menunjukkan rasa simpatinya yang berlebihan kepada si wanita. Karena baginya cuma Yilzid lah yang berhak satu-satunya wanita yang pantas mendapatkan rasa simpati itu.
Sontak sendok makan pun ingin terjatuh saat ucapan itu mengenai dirinya. Napasnya ingin terhenti dia sungguh tidak menyangka kalau pria yang sudah menikahi dirinya bisa berucap segampang itu. Kedua bola matanya kembali berkaca-kaca menahan semburan yang menerjang batin.
Pria itu seolah menyadari kalau perkataannya sudah sedikit menyinggung. "Lagi pula keadaan mu belum membaik," sambungnya memperbaiki kembali perkataan. "Aku tidak mau terjadi masalah yang konyol, seperti tadi." Menatap nanar keluar jendela melihat pohon yang sering disinggahi sang ibu dulu kala waktu pagi hari. "Untuk urusan rumah! Kau juga tidak perlu membantu benar!" katanya yang membuat Dhyia membelalak.
Deg!
__ADS_1
Gelas yang dipegangnya pun ingin terlepas dari tangan. Diam mematung di ikuti dengan sorot mata, seperti seorang yang sedang tercengang. Tangan yang ingin mengambil obat pun lekas terlepas dari tepi meja.
"Mas, Bi Benar tidak salah!" Dhyia langsung meluruskan kekeliruan. "Bi Benar sama sekali tidak salah, Mas!" Dhyia sama sekali merasa tidak enak hati saat mendengarnya seakan suaminya menuduh Benar lah yang telah meminta Dhyia untuk menolong pekerjaannya. "Tolong jangan libatkan Bi Benar, Mas." Dia memohon dengan suara getir. Meletakkan obat yang ingin diminum.
Dari depan pria yang masih menatap keluar jendela mendengar pembelaan yang dilakukan oleh seorang wanita yang menyandang status sebagai istrinya tersebut kepada asisten rumah tangga mereka dibelakangnya.
"Seumpamanya itu betul-betul terjadi. Maka habislah, Bi Benar," katanya di dalam hati panik setelah suaminya nanti mengetahui yang sebenarnya. Menelan obat yang tadi diletakkannya.
Ilker kini tidak lagi menyahut bukan karena dia senang. Akan tetapi, karena dia kesal disebabkan wanita yang sudah berulang kali di tegur ternyata mempunyai nyali juga menjawab dari belakang. Dia pun mengepal tangan yang ditaruhnya di atas jendela dengan sekuat-kuatnya sebagai isyarat kalau dia sangat membenci wanita yang telah mengulangi hal yang serupa lagi sambil mengigit kedua geraham.
"Pekerjaan pak Altan sebentar lagi akan usai." Pak Balin berbisik pelan ke telinga pak Edis, melirik ke arah pria yang sedang sibuk itu sambil memeriksa mobil. "Tampak dari jauh pak Altan begitu serius mengerjakannya! Sampai kita pancing dengan menyebut "catur" pun dia tidak tergoyahkan," ujar dari pak Edis kagum.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...