Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Keputusan Dhyia yang disambut Ilker


__ADS_3

Ilker yang sendiri di kamar menjatuhkan tubuhnya langsung ke tempat tidur tanpa membersihkan dirinya setelah memakai setelan baju tidur, celana panjang dan tangan pendek itu menutupi tubuhnya yang atletis. Baju sering dia pakai untuk tidur semenjak menikah dengan Dhyia. Semenjak menikah dia tidak lagi memakai pakaian yang tidak sopan karena dia tahu perbedaan dia dan istrinya. Istri yang dinikahinya itu sangat berbanding terbalik darinya pemalu dan solehah. Hal inilah yang membuat Ilker menjaga diri dari pandangan sang istri. Memejamkan mata untuk menghilangkan beban pikiran.


Di dapur!


"Makanannya sudah selesai," gumam Dhiya dengan hati yang senang berlari menaiki anak tangga memanggil Ilker. Sudah sampai di lantai atas Dhyia yang tadi senang mendadak gugup dan kembali mengingat perlakuan Ilker. "Aku gak yakin, kalau Mas Ilker mau memakan masakkanku," gumamnya sedih teringat tentang Yilzid. Membuka pintu perlahan dengan pelan-pelan.


Dhyia kembali lagi sedih. "Kamu sudah tidur, Mas," gumamnya lirih melihat suami yang belum pernah memberinya perhatian. Masuk dan duduk di atas tempat tidur tepat di dekat kaki sang suami. Air mata kembali jatuh. "Sebesar inikah ujian hidupku harus menerima semua dengan lapang dada," bisiknya di dalam hati menahan isak tangis.


Ilker yang berpura tidur ketika melihat pintu dibuka. Membuka mata dan mendengar dengan samar meski tampak jelas olehnya. Dhyia, seperti sedang menangis dari suara hidung yang beringus.


"Ehem!" Ilker langsung mendehem memberi isyarat kepada Dhyia. Mengambil ponsel yang terletak di atas meja yang berdekatan dengan tempat tidur.


Spontan Dhyia langsung meredakan tangis dan menetralkan suara. Duduk membelakangi Ilker dengan kedua kaki yang terjurai ke lantai.


"Mas, gak makan?" tanya Dhyia dengan suara sedikit serak yang berusaha dia netralkan. Duduk membelakangi Ilker dengan hijab yang selalu menutupi rambutnya. Memegang spring bed dengan kedua tangannya.


"Aku tidak lapar. Makan saja sendiri. jawab Ilker dengan nada suara dingin. Memainkan ponsel.


"Pasti Mas, belum makan, iya 'kan?" tanya Dhyia menghibur dirinya sendiri mengulangi kembali dengan lemah lembut melirik Ilker yang memainkan ponsel.


"Sudah berapa kali aku bilang. Kalau lapar makan saja sendiri," jawab Ilker dengan ketus. Duduk dan menyandarkan tubuhnya di head board beralaskan bantal dan meluruskan kedua kaki yang lelah akibat berlari melindungi diri dari wartawan.


"Mas, aku minta maaf. Kalau aku sudah merebutmu darinya," tutur Dhyia getir. Melihat lantai penuh sesal.

__ADS_1


Sedikit permintaan maaf itu membuat hati Ilker tersentuh yang berusaha dia lawan. Membaca pesan yang masuk dari sang kekasih.


"Kalau penyebab semua ini adalah aku. Aku siap menerima keputusanmu, Mas," lanjut Dhyia berputus asa yang masih belum mendengar respon dari Ilker.


Namun, apa yang dikatakan oleh Dhyia. Ilker dengan jelas mendengarnya dan langsung menusuk hati. "Kau mau apa?" tanya Ilker langsung setelah mendengar perkataan itu. Serasa hatinya senang bercampur aduk.


"Itu semua tergantung kamu, Mas. Apa pun keputusanmu aku siap," ujar Dhyia yang sudah menyerah.


Ponsel pun ingin terjatuh. "Apa kau sudah siap?" tanya Ilker enteng. Berbalas pesan dengan Yilzid.


Dhyia terdiam mendengar pertanyaan Ilker. Sungguh ceroboh kali ini dia, pikirnya . Mengatakan yang membuat dia semakin tersingkir.


"Kalau Mas bahagia. Kenapa tidak?" sambung Dhyia yang terus menatap pintu dengan hati yang hancur. Berpisah dari Ilker bagaikan terkena semburan api panas baginya.


Setelah sekian lama dia menutup hati terhadap pria mana pun, tapi terlihat ini akan kembali sama, seperti yang dulu yaitu, mengulangi masa lalunya yang kelam. Berharap cinta yang kelabu.


Kata-kata itu seakan menusuk hati Ilker lagi. Ponsel yang berdering pun langsung dia abaikan. Sudah puluhan kali Yilzid memanggil. Namun, dia hanya menatapnya sambil melihat Dhyia yang sudah pasrah.


Selama ini Ilker merasa kalau Dhyia lah yang sengaja ingin merebutnya dari Yilzid. Namun, prasangka itu langsung terjawab. Dia yang menyandarkan tubuh di tempat tidur terdiam dan bercampur hati senang ataukah sedih. Itulah yang dirasakan Ilker saat ini.


"Kalau memang ini yang terbaik bagi kita. Aku sedikit pun tidak akan sedih," ungkap Dhyia berusaha terlihat tegar di hadapan Ilker.


Ilker hanya diam dan berpikir itu keputusan yang tepat ataukah tidak. "Apa kau serius?" tanya Ilker. Menatap Dhyia yang menahan tangis.

__ADS_1


"Jika itu yang terbaik dan sudah takdir. Aku akan siap, Mas" jawab Dhyia pasrah. Memendam semuanya sendiri.


"Lalu setelah itu, kau mau ke mana?" tanya Ilker ingin tahu. Jika mengingat kebelakang kalau Dhyia adalah anak yatim piatu yang di besarkan di panti asuhan.


"Aku akan memikirkannya nanti. Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaanmu, Mas. Untuk apa ini di pertahankan jika salah satu di antara kita tersakiti," lanjutnya yang telah rela melepaskan pria yang dicintainya dalam diam. "Selama ini aku memang mencintaimu. Mungkin cinta itu salah. Kebahagiaanmu lebih penting bagiku dari pada hidupku," kata Dhyia di dalam hati. Menatap Ilker dalam dengan diam-diam.


Ilker semakin bingung. Dia langsung bangun dari tempat tidur. Membuka jendela dan menatap keluar. "Kalau itu memang mau mu. Akan kulakukan," ucap Ilker merasa sedih atau bahagia karena dia akan dapat ruang yang besar untuk bisa bersatu dengan Yilzid.


Menatap pohon yang gelap yang sering disinggahi oleh ibunya ketika berjalan ke luar bersama Dhyia. Sedih sudah pasti tersirat karena dia tidak bisa mengemban amanah sang ibu untuk menjaga Dhyia.


"Kalau itu keputusanmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa," ungkap Ilker berat. "Kau tau Dhyia, kita bisa sampai ke sini?" tanya Ilker yang tidak mau menatap sang istri. "Ibu adalah penyebabnya. Aku tidak tau, apa yang ada dipikiran Ibu. Sampai dia tidak mau lagi mendengarkan alasanku," sambung Ilker yang terheran, kenapa Dhyia tidak memberikan respon apa pun. Spontan dia menoleh ke belakang meski dengan berat hati. Ilker langsung terkejut melihat Dhyia sudah tertidur.


Perlahan dia berjalan menghampiri sang istri yang terdengar sedikit segugukan. Hati yang hancur membuatnya harus tetap kuat dan tegar dan sebisa mungkin harus tersenyum pada siapa pun, termasuk pada Benar dan pak Altan.


Ilker sudah lega karena Dhyia mau melepaskannya. Senyum pun langsung tertoreh mengingat Yilzid.


Sementara di lantai bawah tepatnya di dapur, Benar tidak sengaja melewati meja makan yang ingin mengambil minum. "Makanannya belum di makan?" tanya Benar di dalam hati. Berdiri memegang gelas. "Kasihan sekali, Nyonya gak pernah di anggap oleh, Tuan," lanjut Benar di dalam hati lirih. Menyimpan makanan ke dalam lemari.


Benar pun meletakkan gelas di atas dispenser. Melamunkan nyonyanya yang malang.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2