
"Tapi sayang, kalau kamu mau kita bisa menikah di tempat lain saja. Dan kita tinggal di sana berdua," rengek sang pujaan hati dengan suaranya yang manja.
"Iya, kita akan melakukannya," jawab Ilker spontan begitu saja sambil melihat ke arah dinding dengan terpelongo.
Deg!
Glek!
Tangga yang dinaikinya menunjukkan foto yang sudah membuat pikirannya kacau. "Jadi... ," kata Ilker terkejut di dalam hati. Diam dan menutup mulutnya dengan serapat mungkin. "... dia orangnya." Tercengang, di ikuti tangan sebelah kanan masih memeluk wanita yang paling disayanginya.
Seketika dia terhenyak dan terdiam dan berjalan, seperti orang bodoh. Sekali lagi dia menatap lirih sang kekasih yang berada di dalam pelukannya dengan rasa iba atau penuh dengan kebencian semakin membuatnya pusing tidak kepalang . Ini semakin membuatnya frustrasi. Saat ini Ilker seakan belum bisa mempercayainya. Seolah dia masih menganggap semua itu palsu dan hanya omong kosong.
Sementara Gohan Hakan, mafia yang terkenal kejam itu sudah memasuki kawasan rumahnya.
"Misi kalai ini harus berhasil," katanya dengan menggebu-gebu kepada sang pengawal yang duduk di belakangnya. "Jangan sampai ada yang gagal dan juga jangan pernah sampai mengulangi masa lalu," lanjutnya, menatap nanar lurus dengan wajah angkuh dan dendam yang membara.
"Tenang saja bos. Serahkan semuanya pada kami. Mulai hari ini stasiun TV miliknya akan kesulitan untuk tayang. Kami telah membayar beberapa lembaga penting untuk menolak semua siaran yang diajukan oleh staf-stafnya," sambut sang pengawal dengan hati yang senang.
"Hm!" Mengangguk kagum. "Kerja kalian sangat bagus. Aku akan lihat sejauh mana dia mampu melawanku, hahaha!" Tertawa dengan sombong. " Dan aku tidak salah memilih kalian untuk bergabung dengan 'ku." Menatap sang bodyguard dari kaca spion yang tergantung di atas langit-langit mobil.
"Jadi, tidak ada yang akan menerima tayangan mereka." Tersenyum jahat. "Termasuk juga untuk merekrut model papan atas mereka tidak akan bisa mendapatkannya, bos," lanjut sang pengawal yang satunya lagi.
"Hahaha !" Tuan Gohan Hakan pun tertawa dengan lebar seakan mengganggu konsentrasi supir yang di tepat di sebelahnya sampai dia meliriknya dari ekor mata. Suara tawanya yang nyaring dan keras itu seakan membuat semua orang juga yang ada di dalam mobil menutup mata dan telinga dengan kuat. "Pasti wajahnya, seperti orang hilang akal. Hahaha!" Tawanya kembali pecah membayangkan betapa paniknya seorang Ilker Can Carya.
Braugh!
__ADS_1
"Apa-apaan ini! Kau mau buat saya mati, ya," pekiknya marah pada sang supir. "Maaf, pak saya tidak sengaja," ucap supir merasa bersalah dan ketakutan.
"Kalau sampai Bos kami kenapa-kenapa! Kau akan kami bawa ke kantor polisi," tandasnya memberi peringatan.
"Cepat. Jalan!" seru Gohan Hakan memotong pembicaraan sang pengawal.
"Ba-baik, Tuan," kata supir yang duduk membawa mobil dengan terbata.
Tidak terasa mobil yang membawa tuan Gohan Hakan dan beserta para pengawal sedikit lagi akan memasuk garasi mobil yang besar.
Sementara Yilzid dan Ilker yang berada di dalam kamar semakin mengetat. Di mana Yilzid terus mendesak Ilker untuk menikahnya sedangkan Ilker masih terikat pernikahan dengan Dhyia Kharya.
"Itu tidak mudah," kata Ilker dengan berat hati menerima permintaan wanita yang selama ini sudah mengisi kekosongan hatinya.
"Cuma itu satu-satunya cara, agar kita bisa menikah," saran Yilzid berlagak bodoh. Berdiri di dekat meja riasnya.
Yilzid semakin panas setelah mendengar secara langsung kata-kata itu dari mulut seorang pria yang dicintainya selama ini.
"Jadi, kamu sekarang ingin meninggalkan aku?" Menunjuk dirinya sendiri. "Kamu lebih menginginkan dia bahagia dari pada aku," kata Yilzid menatap sosok seorang pria yang sudah membuat hidupnya berbunga-bunga dengan ketat. "Kalau begitu kamu pergi saja dengan nya!" Menganyunkan sebelah tangan ke udara sebagai isyarat menunjuk Dhyia. "Dan tinggalkan aku sendiri." Membuang mukanya dari sang kekasih. "Lagi pula, aku sudah cukup dewasa dan aku sudah bisa menjaga diriku sendiri." Menatap lurus ke samping kiri.
Ilker semakin pusing dan sesekali dia memijat keningnya. Sementara di luar rumah, mobil tuan Gohan Hakan telah berhenti di sebuah garasi.
"Silakan, Tuan." Pak supir membuka pintu mobil, mengayunkan sebelah tangan ke udara.
Di dalam kamar semakin mencekam. Sepasang kekasih terlihat dilema dalam cinta yang mereka rasakan masing-masing.
__ADS_1
"Kamu sekarang lebih memilih dia dari pada aku," kata Yilzid berputus asa. "Kamu sudah mengkhianati cintaku," teriaknya histeris memukul dada sang kekasih.
"Tidak ada yang ingin mengkhianatimu. Sungguh Yilzid. Sedetik pun aku tidak pernah mengkhianatimu." Menatap nanar wanita pujaannya. "Semua terjadi begitu saja dan di luar kendaliku," terangnya memutar badan dengan pikiran yang bercabang. Membuka pintu kamar.
"Jangan pernah menyalahkan keadaan." Menatap punggung kekasih hatinya yang melangkah menuruni tangga. "Aku gak akan tinggal diam. Aku akan merebutmu darinya dan kembali padaku," teriak Yilzid dari atas melihat kekasihnya pergi menuruni anak tangga, berderaian air mata membasahi kedua pipinya.
Di seberang halaman tampak tuan Gohan Hakan telah berjalan dengan lantang bersama lima sang bodyguard yang gagah dan perkasa. Memiliki bobot berat badan dan wajah bengis dan berewokan yang cukup membuat orang-orang ketakutan ketika melihatnya.
Berjalan melintasi koridor rumah yang dilalui untuk masuk ke dalam rumah apabila ingin terhindar dari hujan dan matahari. Jalan yang mereka tempuh berbeda arah sehingga membuat mereka tidak bertemu. Tuan Gohan Hakan berjalan di jalur tempat penyimpanan mobil tepatnya di sebelah kiri sedangkan Ilker di jalur sebelah kanan tempat yang sering dilalui tatkala keluar rumah.
Puk!
Suara hempasan pintu mobil mewah Ilker yang sudah memasuki kediamannya terdengar dengan keras sehingga membuat pak Altan yang membersihkan kebun terkejut.
"Eeeh, eeh, copot! Itu siapa?" tanya pak Altan menghentikan guntingannya. "Jadi, penasaran siapa sore-sore begini yang marah-marah?" Melihat ke arah sumber suara.
.Balin pun ikut juga terperanjat. "Siapa yang marah-marah sekeras itu? Berani-beraninya dia sudah mengganggu tidurku. Bangun dan menghampiri sumber suara. "Ternyata, Tuan yang membuatku kaget sehingga membuatku terbangun dari lelapku." Intipnya dari balik tembok penyangga tempat dia beristirahat.
"Ih, Tuan muda. Kenapa pulang-pulang dia jadi, emosi kayak gitu?" tanya pak Altan terheran. Berdiri di balik pohon-pohon bunga, menatap wajah tuan mudanya yang memerah, seperti api yang berjalan dengan kencang bercampur amarah yang meluap-luap.
"Dhyia!" teriaknya dengan keras dari bawah memanggil sang istri.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...