
Malam yang gelap pun di tembus oleh Gohan Hakan demi mencari sang putri. Seluruh jalan yang hening dia telusuri termasuk rumah sahabat sang anak yang dia kenal.
"Sekarang kita pergi ke rumah, Pevin." Kecemasan pun terlihat di dalam dirinya terdengar dari suaranya yang getir. Dia sangat takut kalau nyawa sang anak sedang dalam bahaya sebab dia mengetahui kalau dirinya memiliki banyak musuh.
Pada malam yang semakin larut, Ilker dengan sabar menunggu pujaan hatinya keluar dari kamar. Dia terus berusaha merayu sang kekasih agar mau makan bersamanya. Akhirnya, kata-kata itu pun meluluhkan hatinya sedikit. Dia langsung bergegas keluar dengan pakaian yang belum berganti.
Ilker langsung menoleh setelah dia mendengar suara pintu terbuka . Senyumnya langsung memancarkan aura kebahagiaan saat dia melihat pujaan hatinya keluar.
Dhyia yang sudah menyelesaikan semuanya. Menyandarkan tubuhnya di head board. Meluruskan kedua kaki di atas tempat tidur untuk meregangkan otot-ototnya.
Alen pun sudah tidak sabar ingin memulai program barunya dalam beberapa hari lagi. Dia terus menyusun semua ide-ide baru yang berkualitas, seperti yang diharapkan oleh bos besarnya.
"Bagaimana? Apa Pevin tau Yilzid di mana?" tanya Gohan Hakan saat si Burcu menutup pintu mobil.
"Maaf, Bos!" kata Burcu bercampur rasa bersalah. Menunduk lesu setelah dia mengatakan sesuatu yang membuat pria itu berputus asa.
Kemurungan menyelimuti dirinya langsung, sesal bercampur kesal yang membuatnya semakin menjadi-jadi emosi di dalam mobil.
" Bodoh kalian semua! Menjaga satu perempuan saja kalian tidak becus!" ucapnya langsung mengaung di dalam mobil yang memekakkan telinga kedua asisten yang ikuti bersama dengan nya. Mobil pun tetap terus melaju melewati lampu-lampu jalan yang terang yang sedikit terlihat dari luar ke dalam mobil. Keduanya pun langsung menunduk diam.
"Sayang, kita akan makan di mana?" tanya Yilzid dengan suaranya yang manja, menempelkan tubuhnya kembali kepada pria itu yang berjalan bersama dengan nya.
"Makan di tempat yang membuat kamu senang," sambung Ilker, menatap sang kekasih dengan penuh cinta.
__ADS_1
Senyum sumringah pun langsung tertoreh memancarkan kebahagiaan di rona mukanya. Bahagia tiada tara saat ini dirasakan oleh Ilker sebenarnya. Berjalan berdua dengan kekasih hati yang sudah lama tidak pernah bermesraan lagi.
Pak Altan yang tadi berdalih menutupi rahasianya dari orang-orang yang ada di rumah. Berdiri menatap wanita yang menuruni anak tangga dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kaki.
Rasa bersalah terhadap wanita cantik yang baik itu terus merongrong jiwanya karena dia sudah tega membohongi wanita yang tidak tahu apa-apa. Berjongkok sedikit seolah berpura mengambil sesuatu dari lantai, melirik langkah sang nyonya yang terlihat polos.
"Kasihan, Nyonya," katanya di dalam hati.
Di dalam apartemen milik mereka sendiri. Rana telah bersiap-siap ingin bertolak ke bandara. Dia sudah menyusun semua dengan baik. Kota yang penuh dengan memori ini pun akan segera dia tinggalkan. Lima tahun sudah dia tinggal di kota itu. Saatnya dia harus pergi untuk kembali ke rumahnya yang sudah bertahun tidak pernah dilihatnya sama sekali.
Menatap seluruh sudut kamar, memeriksa kembali barang-barang bawaannya hingga betul-betul tidak ada yang kelupaan.
"Hari ini, aku akan balik!" gumamnya pelan, menutup pintu dan menguncinya. Apartemen itu pun kosong saat ini tanpa penghuni satu pun.
Di dalam lift yang ingin menuruni lantai satu, Yilzid tampak menempel terus kepada Ilker yang berdiri yang tegak di sampingnya. Ilker pun meliriknya dan di ikuti oleh memasukkan tangan sebelah kirinya ke dalam saku celana tanpa memeluk wanita itu.
Dhyia yang tubuhnya belakangan ini kurang fit menyeret kedua kaki dengan lunglai yang membuatnya hampir menabrak sudut counter table. Suhu tubuh yang mulai meriang dan ujung kaki yang kedinginan memaksanya harus tetap menginjak lantai demi mengambil gelas dan membawa teko untuk dibawa ke atas.
"Nya, mau ngambil apa?" tanya pak Balin melihat nyonya mudanya agak sedikit aneh.
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Dhyia. Mencoba menguatkan diri membawa gelas dan teko yang telah berisi air.
Pak Altan pun kembali berjalan ke dapur dan memutar kepala sekilas melirik wanita yang menaiki anak tangga itu lalu menghembuskan napas panjang bercampur rasa sedih lalu dia pun pergi meninggalkan sang nyonya.
__ADS_1
Di dalam restoran sepasang kekasih pun menikmati makanan yang telah dihidangkan oleh pelayan. Duduk menikmati makanan di dalam ruangan VVIP yang mengandung nuansa romantis yang di pesan langsung oleh Ilker.
"Sayang, aku mau kita besok pagi pergi berlibur ke pantai," ucap Ilker sambil memotong daging sapi bakar lada hitam. "Sebaiknya kamu jangan pakai pakaian ini lagi!" lanjutnya, menatap sekilas ke arah wanita yang duduk menikmati makanan tepat di hadapannya.
"Tapi, 'kan itu butuh waktu yang lama. Belum lagi pantainya terlalu jauh! Dan juga, aku belum ada persediaan baju. Kamu, 'kan lihat sendiri! Aku datang kemari tidak membawa koper. Aku cuma pakai baju yang di badan aku ini aja!" ucapnya, menyeruput red Velvet minuman kesukaannya. "Sebenarnya, ini baju untuk besok kita pergi ke pantai. Tapi karena aku tidak punya baju yang lebih bagus lagi! Ya! Terpaksa deh! Aku ambil lagi dari dalam tas."
Ilker spontan tertawa kecil melihat keluhan yang tidak masuk akal menurutnya. Dia pun meneguk air minum. "Itu tidak jadi, masalah! Ada banyak mall di sini! Banyak menjual pakaian yang modis sesuai keinginan kamu." Melirik jam tangan yang melingkar.
Yilzid langsung tersenyum lalu mengangguk pelan, bahwa yang dikatakan oleh pria yang duduk di depannya itu adalah benar. Dia kemudian meletakkan pisau dan garpu menghentikan selera makannya untuk menghabiskan beef steak premium black paper kesukaannya.
Menatap lekat lelaki yang tidak bisa dia lepaskan dari pandangannya. "Sayang, sebaiknya! Berewokan kamu itu di cukur, deh! Biar kelihatan tampan dan rapi. Setelah itu tangan kamu yang terluka itu! Kita obati supaya cepat sembuh." Melipat kedua tangan di atas meja.
Mendengar suruhan dari wanita yang duduk tepat di depannya pun, dia tersenyum. Sebenarnya apa yang dikatakannya tidak ada yang salah kalau sang model papan atas itu menaruh perhatian penuh kepadanya, pikirnya. Memandangi raut muka Yilzid di saat wanita itu menatapi terus jemari tangannya .
"Sayang, apa kamu sudah tenang?" Ilker kembali menyinggung kejadian itu. Menggeser sedikit gelas kopi miliknya ke sebelah pinggir.
Yilzid seketika menggeser kursi dan menggerakkan tubuhnya agar semakin nyaman. "Hm!" Dia hanya mendehem saja memberi jawaban kepada pria yang telah mau menanya keadaannya, pikirnya. Memutar kedua sorot mata ke arah yang lain.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...