Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Ilker dan Yilzid asyik berbalas pesan


__ADS_3

Melanjutkan pijatannya hingga lelaki itu menyuruhnya berhenti. Menatap tengkuk lelaki yang sebenarnya sangat menyayanginya. Napasnya kembali berhembus dari dalam. Seolah dia bingung melihat takdir yang suka mempermainkannya.


Menggerakkan jemarinya menyentuh pundak itu. Sepatah kata pun tidak lagi keluar menimpali pijatannya. Lelaki itu kini seolah sedang berpikir keras menjalani semua seorang diri.


"Apa kau pernah merasa kesepian?" tanya lelaki itu yang membuat Dhyia sangat heran.


Dia langsung menjawabnya. "Aku pernah merasa sendiri dan tidak ada teman," katanya mengulangi kembali ingatan masa kecilnya. "Di saat itu! Ibuku baru tiada dan aku harus tinggal di panti. Semua terasa hampa. Semua terlihat begitu asing bahkan banyak anak-anak yang menjauhiku. karena mereka belum mengenalku dan baru pertama itu melihat 'ku. Aku ingin sekali berteman, tapi mereka malah menjauh semuanya dan bahkan ada yang berteriak menuduhku ingin memukulnya." Tersenyum tipis pilu bercampur geli.


"Lalu, apa mereka memukulmu?" tanya Ilker yang mulai terbawa suasana.


"Tidak, tapi mereka menarik 'ku dan mengurungku di kamar lalu menyuruhku menjauh dari mereka," jawabnya.


Ilker sama sekali belum berucap, dia masih terlihat diam saja. Seolah dia kasihan akan wanita itu. Pundaknya yang pegal dan terasa berat itu pun mulai membaik.


"Beristirahatlah!" katanya menatap lurus ke depan. "Sekarang bahuku sudah agak ringan," lanjutnya dengan wajah lega.


Dhyia pun menyeret kedua kakinya meminggir dari pria itu dengan berhati-hati karena dia belum tahu mengenai perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba membaik malam ini.


"Kalau begitu aku permisi dulu, Mas!" kata Dhyia memutar badan. Berjalan membelakangi pria yang telah mau berbicara saat ini dengan lembut kepada nya.


Dia serasa bingung menggambarkan perasaannya kini, terharu bahagia atau sedih. Meski sikap itu terpampang jelas di matanya. Bertanya kepada dirinya sendiri kebahagiaan itu bertahan atau berakhir. Si wanita itu pun tidak tahu sama sekali. Akan tetapi, dia tetap percaya kepada Sang Khaliq kalau setiap manusia akan ada kebahagiaan atau pun derita.


Berjalan terus menyeret tungkai kakinya yang sedang merasa sedikit lemah. Namun, demi sang suami agar tidak panik dan memarahi kedua asistennya dia memaksa tubuh itu untuk kuat.


"Tidurlah di sini! Ini sudah malam. Di bawah pasti sudah tidak ada Altan dan Benar?! Lagi pula, kamar ini, 'kan luas," ucapnya dari belakang, menghentikan tangan Dhyia yang memegang knof pintu.


Menoleh ke belakang. "Mas, tapi aku belum sholat," katanya. Menatap pria yang tidak mau lagi menatap Wajahnya.


"Kamu bisa suruh Benar mengantarkan mukena 'mu ke sini!" sarannya.


"Tapi, Mas... ," kata Dhyia yang Langsung terkejut melihat gurat wajah sang suami yang tiba-tiba berubah masam. Yang membuatnya menutup mulut.


Dia pun menghembuskan napas panjang. Melihat lelaki itu yang tidak suka di bantah dan mengingat Benar yang sudah beristirahat.


Diam berdiri seperti patung. Menunggu keputusan yang akan keluar dari pikirannya. Menatap sang suami yang mulai memberi perhatian . Beranjak dan menekan tombol perekam suara.

__ADS_1


"Bi, Benar tolong! Antarkan mukena ke kamar!" perintahnya dari dalam perekam.


Sontak Dhiya langsung menganga melihat perubahan sikap sang suami yang mendadak berubah malam ini. Dia semakin bingung dan bertanya-tanya yang tidak bisa dia jawab.


"Sebentar lagi! Benar akan naik." Beranjak dari tempat tidur dan kembali ke sofa, enyandarkan tubuhnya di sandaran tangan sambil meluruskan kedua kaki, menaikkan kaki kanan di atas kaki kirinya.


Memainkan ponsel, melihat chattingan kekasih idamannya.


Dhyia pun tidak ada pilihan dia terpaksa mengikuti permintaan lelaki yang meregangkan otot-otot kakinya di atas sofa. Duduk menunggu bi Benar di atas tempat tidur sambil menoleh ke arah tolet yang belum berganti kaca baru. Ternyata, retakan itu cukup besar, pikirnya, melirik secara diam-diam ke arah sofa tepat melihat ke arah tangan suaminya yang belum sembuh.


Tok ! Tok ! Tok!


Terdengar suara ketukan dari luar. Dhyia tersentak dan beranjak ingin membuka pintu. Namun, batal karena tangan sang suami yang menyuruhnya tetap diam di tempat tidur.


"Masuk!" teriak Ilker dari dalam.


Pintu kamar pun lekas terbuka. "Tuan! Ini mukenanya," kata Benar, berdiri di depan pintu.


"Taruhlah di tempatnya!" perintah Ilker terdengar sangat dingin. Memainkan terus ponsel pintarnya.


"Terima kasih, Bi," ucapnya dengan senyuman.


Sementara Ilker masih asyik terlihat berkirim pesan dengan pujaan hatinya dan sama sekali tidak menoleh ke arah Benar.


"Sama-sama! Permisi, Nya!" kata Benar memutar badan. Menutup pintu.


Dhyia semakin deg-degan tidak biasa mas Ilker, seperti ini, pikirnya menghilangkan semua keburukan yang terjadi tentang pria itu belakangan ini. Menatap mukena yang di antarkan oleh Benar tadi.


Di tempat lain Cecar sedang memikirkan prahara yang belakangan ini terjadi di kantor. Mulai dari pembatalan iklan, penghambatan seorang model untuk stasiun TV yang ditanganinya. Ada sedikit kejanggalan, pikirnya melihat semuanya secara bersamaan. Membuka ponsel dan mengabari kepada Alen dan karyawan yang lain, terkhusus Derya agar besok lebih cepat datang karena ada rapat penting, melalui group chat mereka.


Dhyia pun kemudian beranjak mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Berdiri tegak menghadap kiblat membelakangi sang suami yang masih enjoy menikmati selonjoran nya di atas sofa.


Yilzid yang sedang berbalas pesan dengan lelaki itu pun sampai saat ini belum rela melepaskannya. Dia terlihat sangat bahagia sehingga dia melupakan pesan dari Burcu, yaitu sang pengawal yang selalu ingin tahu urusannya untuk segera turun ke bawah jika sang ayah telah tiba.


"Oke, sayang, baiklah! Aku akan berdandan secantik mungkin buat kamu. Supaya kamu senang dan bahagia melihat kekasihmu yang cantik," balasnya dari dalam ponsel.

__ADS_1


Pesan pun masuk ke ponsel milik Ilker yang terlihat tenang di tengah-tengah kekhusyukan sang istri beribadah.


"Dudu! Aku ingin besok, kita berangkat berdua. Karena ini adalah liburan milik kita bersama. Dan aku harap jangan ada yang tau tentang ini. Hanya aku dan kau lah yang Boleh tau," ucapnya dari dalam pesan.


"Sayang, kamu tenang saja. Si pengawal aku itu tidak akan ikut," balasnya mengirim pesan.


Ilker pun langsung sumringah membacanya. Dia tidak henti-hentinya menandatangani foto kekasihnya yang belum pernah bertemu semenjak kejadian pertengkaran itu.


Dhyia yang sudah selesai dengan munajatnya kepada Sang Khaliq membuka mukena lalu menyimpan mukena yang telah terlipat dengan rapi. Menoleh ke arah suami yang masih asyik sendiri.


"Mas!" panggilnya berhati-hati.


Ilker langsung menjawab. "Tidurlah!" katanya dengan lembut.


Dhyia pun semakin tak terkendali, hatinya kini serasa berbunga -bunga melihat sikap suaminya saat ini. Seperti di alam mimpi, pikirnya melihat kejadian yang langka.


"Mas! Selama ini. Aku melihat, Mas terlalu sibuk," katanya, menatap lelaki yang berbaring di sofa yang masih lekat menatap ponsel. "Jadi, Mas sedikit ada yang kelupaan," lanjutnya, kembali menutup mulut.


"Katan saja!" balas lelaki itu acuh. "Aku tidak mengerti maksud perkataanmu, apa?"


"Aku cuma mau mengingatkan, Mas aja kalau membuang- buang waktu dengan sia-sia sangatlah merugi." Dhyia sama sekali tidak ingin kalau pria yang ada di hadapannya terlena dengan kesenangannya.


Pria itu langsung melepaskan ponselnya dan menaikkan kepala tegak melihat lurus ke depan. "Langsung saja ke intinya! apa yang ingin kau sampaikan," katanya dengan nada suara datar.


Dhyia langsung mengatakannya. "Mas! Daripada, Mas menghabiskan waktu melihat ponsel. Sebaiknya, Mas sholat! Mas, 'kan masih muda, masih bisa beribadah dengan baik. Agar, Mas terhindar dari hal -hal yang buruk." Menatap lelaki yang menatap ke arahnya juga.


"Sebaiknya, hentikan ocehanmu! sekarang tidurlah!" katanya.


Dhyia pun Merebahkan tubuhnya yang lemah yang sedikit pusing itu di atas tempat tidur. Memiringkan badan membelakangi sang suami.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2