
Menaiki anak tangga dengan perasaan yang terasa deg-degan. Akankah di bentak lagi? Atau tidak? Dhyia berusaha tenang dan rileks menarik napas sambil memegang nampan dengan kedua tangannya.
Sementara Ilker masih asyik dengan rendamannya di dalam bathtub yang sudah di campurnya dengan bath foam yang dapat mengurangi beban pikirannya. Ponsel yang berdering pun mati sudah dan sedikit lagi ingin terjatuh ke lantai.
"Mas! Mas! Mas!" Dhyia pun langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi setelah tidak melihat pria itu. Mungkin mas Ilker lagi mandi, pikirnya meletakkan makanan sambil merapikan tempat tidur.
Dhyia tidak berani mengetuk, apalagi memanggilnya dia hanya berani merapatkan telinganya bersandar di pintu, itu pun cuma sebentar. Mendengar suami yang tidak memberikan pertanda dari dalam.
Setelah itu dia lalu berinisiatif meninggalkan sebuah memo yang di letakkannya tepat di bawah jam tangan sang pria yang terletak di atas meja kecil tepat bersebelahan dengan tempat tidur.
Tak ada caption yang dia tinggalkan di memo karena dia tahu itu tidaklah penting saat ini. Baginya, melihat lelaki yang telah mempersuntingnya tidak menahan seleranya untuk makan dan mau meminum obat itu lebih dari cukup.
Memo pun dia selipkan di dekat jam tangan yang terletak itu. Memutar badan menjauh dan mendekatkan obat yang seharusnya mulai di minum dari semalam. Tanpa sengaja dia menoleh perban bekas pembalut luka sang suami yang terletak di atas meja tepat di sebelah kiri kemudian dia pun mengambilnya dan menggantinya dengan perban yang baru yang dia simpan di dalam kotak P3K yang tergantung di dinding tepatnya balik pintu kamar.
Dia ambil dan dia letakkan di atas meja yang berdekatan dengan jam tangan. Setelah semua beres, dia pun keluar dengan rasa kekecewaan yang membelenggu di saat menuruni anak tangga dan menoleh ke arah jam yang berbunyi yang menujukkan kalau sudah menunjukkan jam dua belas siang.
Pada siang ini seorang lelaki yang bertubuh kekar dan lembut itu masih senang membenamkan dirinya di dalam bathtub, terpaksa beranjak ketika dia teringat tentang kekasih hati. Memakai handuk dan membuka lemari memilih baju favoritnya bila ingin bertemu dengan sang model tercantik itu yang sudah membuatnya tergila-gila dengan cintanya.
Memutar badan yang membuatnya terkejut bercampur marah. "Altan!" teriaknya dari dalam perekam yang membuat seisi ruangan dapur kembali mencekam.
Dhiya yang sedang menuruni anak tangga tersentak mendengar suara keras yang nyaring itu dari dalam kamar. Bergegas dia kembali naik dan masuk ke dalam kamar.
"Mas, kamu kenapa? tanyanya melihat pria itu yang sudah memerah, seperti api. Berdiri dengan pakaian yang tidak asing bagi lelaki ketika menatap tubuh wanita yang bertanya kepada dirinya.
Sedih dan miris kalau wanita itu kembali, seperti yang dulu. "Siapa yang menaruh ini di sini?" tanyanya dengan tatapan yang dingin. Membuang muka langsung dari si istri.
Si istri yang merasa selalu saja salah setiap kali mengenai tentang pria itu menarik napas dalam. "A-aku Mas," jawabnya terbata dan menahan sedikit nada suaranya.
Dia hanya diam saja sambil menunggu wanita itu pergi dari depan pintu. Membelakangi sang istri memegang pakaian yang sudah berada di genggamannya.
__ADS_1
"Mas, dari semalam. Kamu belum makan dan juga tidak minum obat. Jadi, aku menyiapkan dan membawanya," katanya pelan berhati-hati bercampur takut. Namun, dia tetap diabaikan dan sesekali membuat dia harus menarik napas. Lalu menutup pintu setelah melihat suaminya membisu dan bergeming. Sebenarnya, pria itu sangat enek dengan nya sehingga dia sama sekali tidak mau mendengar ocehan sang istri yang terlalu bawel memaksakan kehendaknya.
"Apa dia tidak mengerti juga?" Melemparkan handuk ke atas tempat tidur. Lalu memakai pakaian yang telah diambilnya. Melihat ke sudut meja yang di mana terletak talam dan juga obat seketika dia tersentuh melihat jus wortel yang masih diingat oleh wanita itu.
Sudah lama aku tidak meminumnya, pikirnya teringat sewaktu sang ibu masih hidup. Lalu menatap lirih gelas yang berisi jus wortel hangat. Tersenyum kecil lalu mengabaikannya kembali, berjalan sedikit menggeser tubuh mengambil ponsel yang berubah posisi, menurutnya.
"Yilzid." Sontak dia terkejut melihat panggilan yang berpuluh kali memanggilnya tadi. "Astaga," sesalnya bersalah.
Lalu memanggil wanita itu kembali. Duduk sambil menekan tombol on kemudian menarik slide ke atas, mencari nama yang sudah membuatnya tadi menunggu lama.
Kring! Kring! Kring!
Panggilan terhubung ke nomor tujuan. Namun, naas dia menelan kekecewaan sebab sang kekasih melakukan, seperti apa yang dilakukannya terhadapnya.
Setelah menunggu lama tidak ada sahutan dia pun mulai bereaksi mengirimkan pesan singkat. "Sayang, jangan marah, ya! Maaf, 'kan aku. Karena aku tidak mendengar telepon dari Duduku, muach! I love you too." Lengkap dengan stiker caption menggoda sebagai ungkapan cintainya dengan kata-kata yang sama sekali tidak dibalasnya kemarin.
Namun, dia masih tetap saja mempertahankan egonya yang suka merajuk berkepanjangan sebelum sang pujaan hati datang menemuinya.
"Non, kalau begitu! Saya permisi ke bawah dulu!" kata Burcu yang sudah enek melihat sang model yang membuatnya gerah.
"Baiklah! Tapi nanti! Jika, Papa bertanya, jangan bilang! Kalau kita tadi pergi keluar!" ucapnya, menyandarkan pipinya di atas bantal yang dipeluknya dengan posisi tubuh miring sedikit telungkup.
Glek!
"Sial!" Dia pun mendengus sebal. Melihat kedua anak dan ayah yang lama -lama membuatnya semakin muak. Meninggalkan sang model dengan perasaan cemas karena terjerat di dua permintaan yang bertentangan.
"Dia belum juga membalasnya, pikir seorang Ilker, berjalan mondar mandir kebingungan, memikirkan antara ingin menemui atau tidak.
Menatap meja yang lain yang terletak di sudut. Spontan dia terkejut melihat selembar kertas kecil ketika tangannya ingin mengambil jam tangan.
__ADS_1
Perlahan dia mengambilnya dengan rasa ingin tahu. Apa yang tersurat di dalam memo itu? Dia melihatnya lalu membacanya .
🍁🍁🍁
Assalamualaikum
Mas, mungkin semalam aku ada salah sama kamu. Perubahan tidak lah mudah bagiku ada waktu di mana aku harus belajar. Keikhlasan juga tidak lah ringan untuk diucapkan tak semudah angan yang menembus mimpi. Semua butuh proses dan waktu. Bisa terkadang lama atau pun cepat. Maaf, untuk hati yang tersakiti dan sikap yang salah.
Pada pagi ini aku meminta maaf. Atas sikap yang semalam. Aku tahu! Aku bukanlah siapa-siap. Aku hanya seorang anak yang keras kepala dan sedikit tuli. Engga apa-apa kok. Kalau dengan kemarahan kamu membuat kamu senang, aku rela, Mas. Aku ikhlas asal kamu masih tetap bisa bahagia.
...----------------...
Dia pun merasa terenyuh ketika membaca isi memo yang tertulis di atas guntingan kertas itu. Seluruh tubuhnya tidak bisa berbohong kalau dia ingin terhempas seketika membaca isinya. Seluruh tubuhnya langsung gemetar menahan rasa bersalah.
Air mata kesedihan tercurah di dalam hatinya melihat tulisan sang istri yang sangat menyayat hati. Perlahan dia memutar tubuhnya kembali ke arah meja tempat di mana talam itu terletak.
Mengambil piring yang berisi nasi goreng berserta telur dadar kesukaannya dengan sedikit sukar akibat tangan yang masih nyeri. "Augh!" teriaknya ketika tangan itu tersentuh pinggiran meja di saat ingin menyantap hidangan itu. Meski hati begitu penuh dengan kebencian rasa kasihan terhadap wanita itu masih tetap ada.
Jus wortel hangat itu pun dia minum hingga habis. Tidak lupa dia meraih obat yang terletak di dekat talam.
Sementara wanita yang tidak di hargai tadi oleh pria itu pun menambah kesabaran yang besar di dalam dirinya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1