
Ilker hanya diam saja dan dia belum bisa memberikan jawaban. "Itu adalah mimpiku dari dulu untuk menikah dengan mu," jawab Ilker berterus terang. "Tapi, apa dayaku. Aku lemah dihadapan Ibuku. Keputusan seorang Anak bukanlah yang terpenting bagi orang tuanya." Menatap Yilzid dengan berputus asa. "Pernikahan ini bukanlah kemauanku. Percayalah, di hatiku masih ada kamu sampai saat ini." Memegang kedua bahu wanita yang sangat di cintainya.
"Terus kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak pergi saja? Kalau kamu bukan ingin menikahinya? Lalu kenapa disaat kepergian Ibumu? Kamu menikahinya? Apa kamu kasihan dengan wanita itu? Apa kamu sudah sayang dengan nya karena dia telah merawat Ibumu bertahun-tahun?" tanya Yilzid yang tidak suka mendengar bantahan, menatap pujaan hatinya dengan tatapan penuh kebencian bercampur amarah.
"Kamu tau, aku paling tidak bisa melihat wajah sedih Ibuku ketika dia memohon itu padaku. Dia seperti seorang wanita yang malang yang berharap belas kasihan dari anaknya sendiri," balasnya penuh sesal. Aku mohon mengertilah, sayang. Belum lagi saat ini stasiun TV milik aku, itu lagi ada masalah," katanya dengan lemah lembut dan berhati-hati tidak ingin melihat wanita pujaannya terpukul karena penolakannya.
"Mau sampai kapan harus menunggu? Belum lagi kamu menyuruhku untuk menunggu masalah siaran TV milikmu itu selesai ?" tanya Yilzid, menatap sorot mata kekasih hatinya itu dengan tajam bercampur sedih. "Kalau untuk itu kamu tidak perlu cemas. Ayahku punya segalanya. Dia pasti akan memberikan apapun miliknya hanya untuk 'ku?! Untuk kita berdua sayang," sambung kekasihnya dengan segala kerendahan hati, agar kekasih hatinya kembali ke pelukannya.
"Tidak! Aku tidak bisa menerima itu," tolak Ilker langsung . "Tidak layak bagi seorang pria menerima bantuan dari siapa pun, apalagi itu sebuah belas kasihan." Teringat masa lalu yang harus dia selesaikan saat ini.
Ilker semakin kacau. Tujuan utamanya ingin menyambangi kediaman Yilzid adalah ingin memastikan orang yang dilihatnya di tempat yang berbeda.
"Mulai sekarang aku tidak akan mendengarkan alasan apapun lagi. Lagi pula bukankah kamu tidak mencintai istrimu?" tanya Yilzid. "Kamu sudah lama, 'kan ingin berpisah darinya? Lalu, kenapa tiba-tiba kamu sekarang berubah ketika kuajak menikah?Apa kamu sudah mencintainya?" tanyanya sengaja memancing pria yang sudah lama menjalin hubungan dengan nya. "Sayang, aku gak bisa hidup tanpamu dan aku gak bisa jauh-jauh dari mu. Kamu tau itu, 'kan?" Diam sejenak menatap wajah sang kekasih yang sangat menggoda. "Setiap kali aku di kamar, aku selalu kesepian. Setiap hari aku merindukanmu. Dulu kamu sering datang ke sini, tapi sekarang kamu sudah berubah. Kamu sudah lupa, kalau kamu punya pacar di sini!" sentak Yilzid yang frustrasi dengan kedua orang yang ada di dalam kehidupannya.
"Memutuskan hubungan itu tidak semudah yang kamu pikirkan. Masih banyak yang harus dilalui dan dipertimbangkan sayang buat kita berdua. Aku tidak mau kau kecewa nantinya dan aku tidak mau, kalau hubungan kita akan mendapatkan masalah." Memegang sebelah kepala perempuan yang sangat disayanginya dengan lembut.
"Berapa banyak yang harus kita lalui. Semua terlihat sia-sia. Harapanku sudah putus sekarang tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk bersama mu. Sirna sudah dalam sekejap mata," rintihnya meneteskan air mata mengenangnya. "Kamu tau? Begitu aku mengetahui kalau kamu sudah menikah. Betapa hancur hatiku. Lelaki yang dulu kucintai dan lelaki yang mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan ingin membangun rumah tangga kecil bersama dengan 'ku. Ternyata, dia sudah mengingkarinya." Isak tangisnya semakin pecah di ruang tv.
Deg!
__ADS_1
Shock bercampur aduk melilit seorang Yilzid sekarang. Masalah yang masuk semakin bertubi-tubi. Kabar yang ingin menghancurkan karirnya telah mendatanginya.
"Berhentilah menangis. Air matamu tidak pantas untuk menangisi diriku, hm." Membujuk dengan belaian lembutnya yang masih mengelus kepala sang kekasih. "Sebaiknya, kita bicarakan di atas saja," bujuk Ilker menenangkan Yilzid.
"Sekarang aku sudah malas untuk berkarir. Aku tidak peduli karirku hancur atau tidak. Yang aku mau cuma satu, yaitu kamu, sayang. Kamu lebih dari segalanya. Kamu itu lebih dari karir yang kuimpikan," kata Yilzid dengan rintihannya yang selama ini bisa melunakkan hati sang kekasih.
Berjalan menaiki tangga sambil memeluk erat wanita yang tidak bisa dia lupakan dan berjaga dari sang pengawal serta melihat sekeliling tangga untuk menemui wajah yang mirip, seperti dilihatnya.
Glek!
Kedua bola matanya langsung membelalak. Tungkai kakinya terasa lemas. Sosok lelaki yang ingin menghancurkannya adalah, "Dia," gumam Ilker. Melihat tangga yang dia naiki sambil memapah tubuh kekasih hatinya dengan kuat.
"Ini begitu berat bagiku!" Melirik pujaan hati yang dia peluk dengan penuh kasih sayang. Mencium kepalanya bercampur dengan kesedihan atau kebencian. "Semoga saja semuanya salah," katanya di dalam hati, semakin merangkul kekasihnya dengan erat. Di ikuti oleh kedua kaki menaiki tangga dan juga bercampur dengan suara isak tangis Yilzid.
Deg!
Jantung Ilker rasanya ingin berhenti memompa. Dia seakan tidak lagi bisa bernapas. Seluruh jemarinya dingin dan membeku. Tubuhnya pun gemetar dan ingin terjatuh. Sepertinya, dia sedang tersambar petir yang mematikan.
"Apa!" Hatinya terkejut menaikkan kepala langsung dan melirik sang kekasih dengan terheran. "Bagaimana mungkin?" Pikirnya berkata di dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak suka kalau kita menikah?" tanya Yilzid melihat kebisuan kekasih hatinya. "Aku tau. Pasti kamu lagi memikirkan istrimu itu, 'kan?!" Menatap Ilker yang sedang berjalan menaiki anak tangga di samping bersama dengan nya.
"Itu adalah mimpiku. Dari dulu aku sudah berniat untuk menikah dengan mu," jawab Ilker berterus terang.
"Terus kenapa diam?" tanya Yilzid ingin tahu.
Lantai bawah tidak terdengar suara apa pun selama mereka berdua berada di atas tangga. Semua sunyi dan sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan terdengar.
"Saat ini stasiun TV milik aku itu lagi ada masalah," katanya dengan lembut dan berhati-hati menjaga hati sang kekasih agar tidak terpukul.
"Masalah siaran lagi," kata Yilzid di dalam hati sebal. "Karyawan kamu, 'kan banyak. Mereka pasti bisa menyelesaikannya?!" sambung Yilzid menutup langsung mulut Ilker. "Mau sampai kapan harus menunggu masalah itu selesai ?" tanya Yilzid kembali menatap sorot mata kekasih hatinya itu dengan tajam bercampur pilu.
"Belum tau kapan itu berakhir. Hari ini aku harus mengantisipasi stasiun TV milik keluarga kami, melihat kekasihnya membuka pintu kamar. "Makanya aku tidak bisa berlama-lama di sini!" katanya mendudukkan Yilzid di atas tempat tidur.
"Sayang!" panggil Yilzid menarik lengan kekasihnya. Spontan langkah lelaki itu berhenti.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...