Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Di atas kapal


__ADS_3

"Selamat malam sayang!" ucap Yilzid masuk terlebih dahulu ke dalam kamar.


Ilker memberi balasan senyuman kepada wanita yang selalu membuatnya tergila-gila.


Dia pun menutup pintu kamar setelah Yilzid menutup pintu. Menyeret kedua kaki yang lelah masuk langsung ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dengan mengalirkan shower hangat menggunakan shampo yang harumnya bisa menenangkan diri.


Lalu memakai handuk dan membuka pintu masuk ke kamar dan berganti pakaian yang diambilnya dari dalam lemari yang di keluarkannya dari koper. Menatap head board lalu menjatuhkan tubuhnya dengan rileks memejamkan kedua mata.


Pada pagi hari, di lantai bawah seorang kurir sedang memasuki pintu hotel, pagi-pagi buta untuk mengantarkan paket ke alamat yang ditulis oleh pak Altan di dalam bingkisan.


"Ada yang bisa saya bantu?"tanya security.


"Saya mau mengantarkan ini," jawab si pengantar paket.


"Mari ikuti saya, Pak!" Security itu pun berjalan memasuki tempat Bellboy hotel untuk menyerahkan barang milik si penerima yang tertera di atas.


"Terima kasih, Pak! Permisi!" Si kurir itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Berjalan keluar dan mengambil sepeda motor yang telah diparkirkannya tadi.


Pihak hotel pun langsung menghubungi nama yang tertulis di dalam paket.


Kring! Kring! Kring!


📱"Iya, halo! Kata Ilker dari balik telepon dengan suara seraknya.


📱"Pak, kami cuma mau mengatakan. Kiriman paket Bapak sudah sampai," kata pihak hotel dari balik telepon.


📱"Oh, iya, Pak! Sekarang sudah di antar oleh staf kami. Mungkin sebentar lagi akan sampai ke kamar, Bapak," kata pihak hotel dari balik telepon.


📱"Iya, baiklah!" Ilker pun beranjak bangun setelah sambungan ponsel itu dimatikan.


Keluar kamar membuka pintu. Mengambil barang kiriman yang di mintanya dari pak Altan. "Terima kasih," katanya, menutup pintu.


Meletakkan koper di atas tempat tidur lalu membukanya. Seluruh barang-barang permintaannya pun dia keluarkan dari dalam koper. Memperhatikannya satu per satu. Apakah sesuai dengan permintaannya atau tidak? Setelah dia melihat semuanya sesuai. Dia pun meninggalkannya lalu beranjak mandi.

__ADS_1


Dhyia yang tubuhnya, sebenarnya kurang fit setelah melaksanakan kewajibannya dan membersihkan diri, dia turun ingin membantu Benar yang sibuk di dapur.


"Pagi, Bi!" sapa Dhyia yang melihat bi Benar sibuk.


"Eh, Nyonya! Pagi, Nya!" Memutar kepala sedikit ke belakang melihat sang nyonya. Di ikuti kedua tangan mencuci piring bekas makannya semalam, memutar kembali kepala melihat air yang mengalir menyiram piring.


"Bi, engga ada telepon dari, Mas Ilker?" tanya Dhyia dengan suara agak serak menahan kondisi tubuh dengan kuat.


"Engga, Nya. Dari semalam, Tuan! Engga ada nelpon." Melihat nyonya mudanya duduk di kursi meja makan. Raut muka Benar seketika berubah menjadi sendu sebab dia kembali teringat dengan perkataan pak Altan tadi malam.


"Nya, kenapa mukanya di tekuk kayak gitu?"tanya Benar. "Masih pagi! Baru lagi embun pagi menghilang!" katanya, mengibaskan tangan setelah menyusun semua yang di cucunya tadi.


"Mungkin karena kurang tidur aja, Bi?!" Dhyia pun kembali menyahutnya sedikit menggigil karena udara dingin.


Benar lalu beranjak untuk memulai pekerjaan, seperti biasanya yang belakangan ini di bantu oleh Dhyia.


"Nya! Sebaiknya, Nyonya sarapan dulu! Nanti Nyonya sakit." Benar sangat khawatir jadinya setelah ucapan pak Altan semalam itu kembali mengusik pikirannya. Dia pun meninggalkan yang dipegangnya mengambil piring, gelas dan semua yang di butuhkan untuk makan. "Kemarilah, Nya! Duduk dulu! Jangan bantu, Bibi lagi, Nya! Bibi bisa sendiri."


Menoleh ke arah wanita muda itu yang menegakkan tubuhnya dan meletakkan kain lap di atas meja. "Iya, Bi." Dhyia langsung memutar badan melihat ke arah meja. Nasi putih dan telur dadar sambal pedas telah tersaji di atas meja.


"Oh, iya, Bi! Emang di kulkas engga ada ikan?" tanya Dhyia.


"Iya, Nya. Pak Balin belum datang mengantar belanjaan," jawab Benar. Menoleh ke arah nyonyanya.


" Bi, Ruangan kerja Mas Ilker belum di bersihkan,' ucap Dhyia. Menoleh ke arah asisten rumah tangganya itu juga yang terlihat lincah mengerjakan tugas rumah.


Sementara di dalam kamar hotel yang bernomor dua puluh empat tampak seorang wanita yang sedang berdandan dengan cantik. Ilker yang masih berada di dalam kamar mandi di kamar hotel yang bernomor dua puluh lima tampak tergesa-gesa. Dia sudah tidak sabaran, memakai handuk dan keluar secepatnya. Agar langsung bisa pergi ke pantai pagi ini.


"Sayang, sudah siap belum?" tanya Yilzid dari dalam pesan.


Ting! Ting! Ting!


Nada panggilan pesan pun masuk ke dalam ponsel milik Ilker. Pesan singkat yang sudah membuatnya terburu-buru selesai mandi berlari menghampiri tempat tidur mengambil ponsel.

__ADS_1


"Sudah Dudu." Dia langsung membalas pesan itu singkat. Bergegas mengambil pakaian dari dalam lemari yang terdapat di dalam kamar hotel.


Buru-buru dia pun mengambil baju dan celana lalu membawa kamera dan tripod untuk berpetualang menjelajahi indahnya pemandangan pantai yang menakjubkan pada pagi ini. Keluar menunggu pujaan hati yang telah dia kirim pesan dari tadi.


Benar pun terlihat sedikit gelisah saat dia melihat Dhyia bahkan makan nasi pun dia tidak begitu berselera. Wajahnya tiba-tiba terlihat pucat pasih dari jauh seakan dia kembali teringat tentang ucapan itu kembali.


Setelah dia mendengar suara muntah-muntah dari belakangnya. Benar yang memperhatikannya sedari tadi langsung membalik, menghampiri sang majikan yang tidak sehat.


"Nya! Minum dulu, Nya!" kata Benar memberikan segelas air. Sambil memijat-mijat tengkuk sang nyonya.


Wajah Dhyia pun terlihat sangat pucat. Benar langsung menuntun sang nyonya duduk di kursi meja makan.


Sementara Ilker dan Yilzid terlihat sedang menikmati ke indahan alam dari atas kapal. Angin yang berembus dingin membuat suasana kemesraan sedikit terjalin.


"Air lautnya jernih, ya!" Yilzid menatap air laut itu dengan kenikmatan yang melegakan batin.


Sedangkan Ilker sudah menyelam ke dasar laut. Pekerjaan menyelam itu adalah salah satu hobinya.


"Setiap ke pantai di pasti menyelam?!" gumam Yilzid yang sedang memotret dirinya sendiri di atas kapal menggunakan kamera ponselnya. Di ikuti kedua bola mata sesekali menoleh ke arah deburan air yang ber gemericik oleh lompatan tubuh Ilker yang tinggi besar itu.


Benar pun sangat panik melihat kondisi sang nyonya yang tiba-tiba panas dingin dan drop. "Nya! Kenapa bisa kayak gini, Nya?" tanya Benar, memeras handuk kecil. "Aturannya engga usah kerja, Nya! Biar saya aja." Sambil menempelkan handuk kecil itu ke kening wanita yang tersandar lemas di bangku sambil memijat kening.


"Sebentar, ya, Nya!" kata Benar berlari meninggalkan ruangan dapur lalu kemudian mengangkat gagang telepon diam-diam, melirik ke arah dapur sekilas.


Sambungan pun masuk ke ponsel tuannya. Namun, Sama sekali tidak ada terdengar sahutan dari balik telepon. Benar pun terus meneleponnya sampai panggilan itu di angkat.


Suara deringan itu terdengar oleh Yilzid sedang asyik menikmati embusan angin kencang yang berembus menyisiri seputaran pantai, melihat ke arah belakang, tepatnya ke arah ponsel.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2