
Di ruangan dapur kedua asisten rumah tangganya terlihat sedang berbincang kecil. Gelak tawa yang sering terdengar dengan candaan garing ini malah hilang bagaikan ditelan bumi.
"Pak Altan, kenapa kamu melamun?" tanya Benar berpura. Padahal sebenarnya dia tahu apa yang di pikirkan oleh temannya itu.
"Aku takut kalau, Pak Ilker memecat kita. Nanti Anak, istriku makan apa? Malah rumah masih ngontrak lagi?" sesalnya membalik ke belakang tepat ke arah bi Benar.
Selain pak Altan, Benar juga sedang kalut bercampur resah membayangkan ke depannya. Diam menyeret sapu dengan wajahnya yang murung.
Selepas sholat dan memberi salam ke kanan dan ke kiri. Dia tidak lagi berdo'a, dia malah buru-buru bangun dan menyempatkan melirik suaminya sekilas yang masih terlelap, terheran dan bingung melihat sang suami yang tidak, seperti biasanya.
Memegang mukena dan buru-buru bergegas menyusun mukena dan sajadah yang telah dilipat olehnya dan kembali ke arah tempat tidur dengan cemas melihat sang suami.
"Mas, kamu gak biasanya mau tidur sesore ini." Melirik jam yang sudah menunjukkan jam 16 : 40 WIB dengan khawatir yang tiba-tiba dia rasakan.
Menatap dalam wajah suaminya yang sudah tidak sadarkan diri. Pria itu kalau saja dia tahu wanita itu menatapnya, seperti itu. Dia pasti akan marah besar atau kemungkinan dia akan menyuruh perempuan itu tidur di kamar yang lain.
"Apa Mas Ilker sakit?" Dia bertanya di dalam hati sambil berpikir mencari yang tidak dia ketahui.
Kedua bola matanya terus memperhatikan tubuh sang suami yang tertutup oleh selimut dan membukanya dengan terpaksa. Pria itu sungguh mahir. Dia sangat pandai menutupi tangannya dari sang istri. Sudah dalam kondisi sakit pun, dia masih menyembunyikannya.
"Aku kenal kamu, Mas. Dan aku sangat tahu tentang dirimu, meski kau tidak pernah mengetahuinya. Menarik lengannya yang membuatnya curiga dengan pelan dan juga terkejut ketika kulit mereka bersentuhan. Melebarkan kedua bola matanya lalu memegang kening sang suami.
"Astaghfirullah, Mas. Badan kamu panas sekali," katanya panik langsung mengambil alat pengukur suhu tubuh.
Dia pun menjepitkan termometer itu di ketiak sang suami. Membuka kancing bajunya sedikit. Khawatir dan takut sudah pasti mengganggunya sebab jika pria itu tahu kelakuan sang istri yang telah berani menyentuhnya dia pasti akan marah besar.
Gugup bercampur hati-hati dia mengambil alat pengukur suhu tubuh itu dengan pelan dan melekatkan pandangannya melihat ke arah sang suami dengan raut muka berjaga.
Melihat hasilnya dengan diam-diam dari penjagaan sang suami. Shock melihat panasnya cukup tinggi.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mas. Panas kamu tinggi sekali," gumamnya panik melihat angka yang tertera. Memberanikan diri menyentuh kening suaminya. "Mas, aku akan telpon, Dokter." Memencet alat perekam suara. "Bi, bisa tolong telpon, Dokter. Mas Ilker sakit, panasnya tinggi sekali, Bi." Melirik sang suami dengan tatapan khawatir bercampur sedih.
Benar yang tadi gundah ling lung mendengar tiba-tiba ada suara yang memanggil. Diam dan melongo.
"Bi! Bibi dengar, tidak!" teriaknya semakin kencang dari balik perekam.
"Oh, iya, Nya." Sontak dia langsung melompat menghampiri perekam itu. "Iya, Nya. Ada apa?" tanyanya, menelan ludah.
"Mas Ilker sakit, Bi. Tubuhnya panas sekali. Tolong panggilkan, Dokter sekarang, Bi."
"Iya, Nya, Iya!"
"Sekalian Bi. Tolong bawakan saya air buat mengompres, Mas Ilker. Soalnya aku takut, Bi, nanti Mas Ilker kenapa-kenapa," katanya dengan nada suara lirih, melirik sang suami.
"Baik, Nya. Baik akan Bibi antarkan." Memutuskan sambungan alat perekam suara.
"Mas, kenapa kamu diam saja. Kalau kamu sakit." Menghampiri sang suami dan berdiri di samping tempat tidur. "Kalau aku tau kamu tagi sedang sakit. Aku gak akan membalas ucapanmu, Mas." Berjongkok sambil menempelkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur melihat wajah suaminya yang tidak berdaya. "Kalau saja aku tau kamu sakit, Mas. Aku akan diam saja apapun yang kamu katakan."
"Nya, ini airnya," kata Benar masuk setelah mengetuk pintu memegang mangkuk.
Spontan Dhyia melepaskan genggaman tangan itu seketika. "Mari, Bi." Dia langsung mengambilnya dengan panik.
Membasahi handuk kecil lalu menempelkannya di kening sang suami. Sungguh mencengangkan bagi sang istri kali ini dia, seperti di beri angin segar oleh Sang Khaliq untuk mengurus sang suami selama pernikahan yang dia jalani.
Senang bercampur haru terlihat di wajahnya yang tulus saat menatap suaminya. Rasa syukur terus dia panjatkan sebagai ucapan terima kasih atas semua kesempatan ini.
"Bi, apa Dokternya bisa datang?" tanya Dhyia, melirik ke arah Benar yang terlihat panik juga.
"Alah! Iya, Nya. Saya hampir lupa." Menempelkan tangannya. "Sebentar, Nya. Saya panggil, pak Altan dulu." Berlari keluar.
__ADS_1
Seketika tangan Dhyia pun berhenti di atas handuk yang menempel di kening sang suami. Terpelongo melihat Benar yang sering lupa.
Menggeleng dan menarik napas dalam menahan tawa gelinya di dalam hati yang ingin keluar dan kembali penasaran melihat tangan suaminya yang menggelitiknya sampai penasaran.
Deg!
Glek!
Dia langsung melongo melebarkan kedua bola matanya melihat tangan yang menempel di atas tangannya. Seakan tidak percaya melihat yang telah dilihatnya. Tangan yang selama ini menolong hidupnya kini telah terluka, pikirnya menatap tangan dengan lirih dan mencium luka itu.
"Maafkan aku, Mas. Gara-gara aku sekarang hidupmu jadi, seperti ini," katanya, sambil meneteskan air mata. Menempelkan tangan sang suami di pipinya. Merasa bersalah kembali atas kejadian yang menimpa.
"Pak! Pak!" Benar, berlari mengelilingi sekitar ruangan dengan letih. "Huh!" Mendengus hampir berputus asa tidak melihat yang dicarinya sama sekali. Menatap lirih seluruh ruangan yang terlihat olehnya. "Rumah kok segede ini!" Berputus asa.
Pak Altan yang sedang di cari oleh Benar ternyata lagi asyik bersama kedua rekannya yang tidak lain adalah para penjaga gerbang.
Mereka bertiga lagi asyik bermain catur.
"Kenapa Bapak harus bersedih?" Balin melirik Pak Altan yang murung sambil memainkan catur ke sayangannya.
"Tuan gak akan setega itu. Kalau memang Tuan, orangnya setega itu, mungkin dari dulu kita sudah di depak dari sini," kata Balin, melirik lawan mainnya. Menahan tawa geli sebab dia tidak tahu kalau Balin sudah tiga kali putaran bermain.
"Itu sewaktu Nyonya masih hidup. Kalau itu aku juga tahu," sambung pak Altan, melirik ke arah lawan mainnya Balin yang terlalu sering lalai dalam tugasnya. "Kalau itu, sih tidak perlu di cemaskan." Teringat lelaki yang bermain catur itu sering keluar nongkrong minum kopi di warung.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...