Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Perhatian yang tidak di anggap


__ADS_3

Dhyia terdiam dan merasa kasihan melihat tatapan Benar yang berharap belas kasihan darinya. Memberikan gelas dengan berat hati kepada nya.


"Benar! Mana Pak Altan!" teriaknya kembali dengan keras dari dalam ruangan kerjanya, terdengar dari balik perekam suara. "Lima menit lagi tidak datang. Kamu saya pecat!" memutuskan sambungan suara.


Deg!


Glek !


Benar menelan ludah, membelalak dan kedua kakinya begitu gemetar. Seluruh anggota tubuhnya lemas.


Sang istri yang mendengarnya pun langsung istighfar mengelus dada. Mendengar suaminya yang lantang mengatakan itu. Lidahnya pun keluh setelah melihat Benar sontak bersedih.


"Bi, biar saya saja," kata Dhyia mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum.


"Nya, jangan! Nanti Tuan, marah. Bibi akan mencari, Pak Altan sebentar." Berlari keluar dari pintu samping.


"Benar! Air minumnya mana? Kenapa belum datang?" Panggilnya kembali dari balik alat perekam itu dengan suara kesal.


Dhyia tidak sabaran dan langsung buru-buru mengambil gelas dan melanggar perintah Benar. Menyeret kedua kakinya dengan kencang menaiki anak tangga yang lebar di ikuti tangan sebelah kirinya memegang gelas. Berhenti di depan pintu dan membukanya dengan tangan kanan lalu membuka pintu ruangan kerja suaminya.


"Mas, ini minumnya," katanya meletakkan gelas dengan tangan sebelah kanannya di atas meja tepat di sebelah kanan sang suami.


Dia langsung pias setelah melihat gelas. Luapan amarahnya begitu bergejolak melihat wanita yang tidak di sukainya mengantar minum.

__ADS_1


Menghela napas menetralkan emosinya sambil menaruh tangan sebelah kanannya di atas paha tepatnya di bawah meja. "Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ilker dengan nada suara dan gurat wajah yang dingin.


Menaikkan sebelah kakinya di atas kaki kirinya yang tertutupi oleh meja dan menatap nanar dengan kedua bola mata yang tajam serta pakaian yang belum di ganti ketika sang istri melirik ke arah tubuh suaminya.


"Engga ada, Mas," jawabnya dengan nada suara enteng yang membuat Ilker semakin kesal.


"Dengar gak? Siapa yang disuruh ngantarkan minum, ha?" bentaknya dengan sorot mata yang tajam. "Apa alat perekam di kamarmu sudah berubah?" tanyanya menaikkan alis yang bertemu tatap dengan sang istri.


Dhyia terdiam lalu menunduk dan menarik napas. "Tidak, Mas," jawabnya pelan, menggeleng melihat ujung kakinya yang tertutupi oleh pakaian syar'i yang dia kenakan.


"Lalu!" tanya sang suami kembali yang tidak membiarkan istrinya selamat dari cengkramannya dan masih menatapnya dengan tajam.


Sejenak dia diam berpikir ingin mengatakan sesuatu yang akan membuat suaminya sedikit mereda. "Mas, Pak Altan tidak kelihatan. Mungkin dia lagi sibuk," balasnya dengan berhati -hati.


"Tapi Bi Benar lagi sibuk juga, Mas. Dan dia juga tidak tau di mana, Pak Altan berada. Rumah ini, 'kan terlalu besar. Jadi, kemungkinan akan sulit Bi Benar menemukan Pak Altan."


Ilker langsung menutup kedua matanya, agar tidak terbawa emosi. Menggigit kedua gerahamnya dengan kuat melihat wanita yang berdiri di hadapannya belakangan ini sudah mulai banyak bicara.


"Tau apa kamu tentang rumah ini?" Dia langsung bertanya setelah istrinya diam. Menatap sang istri yang berdiri menunduk di samping mejanya dengan tajam. "Hm?" Mendehem sebab istrinya tidak menjawabnya sama sekali. "Kau tau? Mana mungkin aku lupa seluk beluk rumahku sendiri." Menatap sang istri dengan serius karena telah berani meremehkannya.


Dhyia semakin gusar. Entah kenapa dia bisa senekat itu berbicara kepada suaminya. Menelan ludah keprihatinan terhadap dirinya sendiri.


"Semakin hari kau semakin pintar," sindirnya kepada wanita yang dinikahinya karena terpaksa. "Kau terlalu banyak belajar yang bukan-bukan. Terlalu banyak mencari tau yang seharusnya itu bukanlah urusanmu!" lanjutnya beralasan sebab dia tidak menyukai wanita yang dinikahinya sama, seperti wanita lain yang di luar sana yang tidak baik. Berpura-pura mengambil buku dan menyalakan laptop, agar sang istri tidak mencurigainya. Melirik istrinya yang masih mematung. "Bukankah kau istriku?" tanyanya dengan lantang menatap sang istri sebagai isyarat kalau dia ingin mendengarkan jawaban dari mulut wanita itu sendiri sebab selama ini dia selalu merasa kalau dia adalah istri dari pria yang duduk kursi tepat di sampingnya.

__ADS_1


Pertanyaan itu seketika membuat hatinya perih ketika dia sebagai seorang wanita yang telah dinikahi belum juga mendapatkan identitas dari ikatan suci yang menjeratnya selama hampir dua tahun.


Ilker selaku manusia hatinya juga teriris ketika melihat wanita yang dinikahinya sudah mulai membuka mulut dan berani menjawab serta melanggar aturan di dalam rumah yang sudah di buatnya. "Kau kunikahi bukan untuk membantah perintahku, apalagi melanggar semua aturan di rumah ini," sesalnya sendiri kepada sang istri.


"Mas, memang menikahiku, tapi itu hanya karena, Tante. Agar aku ada tempat tinggal dan bisa tinggal di rumah ini. Dan aku menerimanya juga hanya karena, Tante. Bukan karena yang lain, Mas," katanya dengan lirih, menatap suaminya yang bangun dari kursi dan menyusun mejanya yang berantakan.


Butiran kristal pun jatuh menyentuh lantai. Mendidih rasanya hatinya, seperti air panas yang ingin meluap.


Menatap suami yang masih membencinya. "Mas, aku tidak pernah bermaksud ingin membantahmu sedikit pun. Aku hanya ingin melayani dan mengantar minum, itu saja, Mas," katanya menjelaskan ke salah pahaman.


"Aku tidak perlu simpatimu. Dan aku masih bisa melayani diriku sendiri. Jadi, kau gak perlu repot-repot untuk itu," sahutnya menunduk menyusun buku dengan sebelah tangan kirinya. "Oh, iya satu lagi, mulai saat ini jangan sok perhatian padaku. Karena aku gak akan pernah membutuhkannya, apalagi darimu." Menyusun kembali berkas yang berserakan di atas meja dengan rapi, termasuk lembaran kertas putih itu.


Dia semakin terhenyak. Belenggu hatinya semakin parah. Tangan yang tadi dia silangkan di depannya kini di remasnya dengan kuat, menahan hempasan batin yang bergejolak. Gemetar melihat suaminya yang menyusun lembaran putih yang terlirik olehnya dengan terburu-buru.


"Lagi pula aku masih bisa sendiri," katanya dengan sombong, melirik sang istri dengan rasa takut kalau dia melihat lembaran itu.


Memutar badan dengan angkuh dan membelakangi sang istri demi menjaga tangannya, agar tidak terlihat olehnya. "Aku lebih tau tentang diriku sendiri di bandingkan orang lain," lanjutnya, memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya dengan perlahan, agar tidak terkena pinggiran saku celana.


Perempuan itu semakin terhenyak mendengarnya dan merasa dirinya paling sedih terikat oleh tali pernikahan yang tidak pernah memberinya kebahagiaan sama sekali.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2