Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Mencari model


__ADS_3

"Jadi, kalau Papa, tau. Kenapa Papa, mengirim dia ke sini?" gerutu Yilzid kesal di dalam hati. Melirik sang pengawal pribadinya dengan tajam. "Pa, sebaiknya kita adakan seleksi saja kalau begitu," sarannya.


"Seleksi? Seleksi untuk apa?" Menatap putrinya dengan lekat bercampur ingin tahu.


"Penyisihan, Pa," jawabnya lugas. "Papa, 'kan, sudah bilang, kalau aku sudah kebanyakan asisten. Jadi, sebaiknya kita buat seleksi. Asisten mana yang paling bagus kerjanya dia yang akan bertahan di sini." Menantang Burcu dengan tatapan yang mematikan.


"Hahaha!" Tuan Gohan Hakan langsung langsung tertawa ringan. "Tapi menurut Papa, para asisten yang ada di rumah ini semuanya berpengalaman." Menatap ke arah Burcu yang bertubuh tinggi itu dan bertemu pandang dengan sorot mata yang sudah di ketahui oleh Burcu, kalau dia adalah seorang pengawal yang cerdik. "Ini sudah jam... . Papa, ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi. Jadi, Papa, harap anak Papa ini tidak rewel lagi." Bangun dari duduknya lalu menyeret kedua kaki dan kemudian berhenti sebentar menghampiri putri kecilnya. "Papa, sangat menyayangimu." Mencium kening anak semata wayangnya.


"Pa!" panggil Yilzid dengan nada suara yang kesal bercampur sedih melihat punggung sang ayah yang sama sekali tidak menghiraukannya.


"Papa, memang jahat. Tanpa kusadari dia sudah membuatku terjebak dan tidak bisa lagi dengan bebas bertemu dengan Ilker," katanya di dalam hati menatap sang ayah yang terus berjalan hingga menghilang.


"Alen, beri saja mereka nomor antrian, agar mereka berbaris dengan rapi," usul Cecar melihat orang-orang yang sudah datang baik itu laki-laki maupun perempuan yang memadati lokasi.


"Mereka ada-ada saja. Masa datang ke mari dengan pakaian, seperti itu," keluh Cecar, melihat seorang wanita datang dengan pakaian tidur.


"Tolong bantu aku. Kamu yang buat nomor antriannya," pinta Dhyia mengeluh sebab sudah tidak sanggup lagi menahan desakan orang-orang. "Dan aku yang akan memberikannya kepada mereka sebagian." Menatap para audience. "Mereka kasihan di jemur di bawah terik matahari." Mengambil. Nomor urutan yang di buat oleh cecar. "Ini sudah panas. Jadi, kita harus membagi dua gelombang," usul Alen berbisik di telinga Cecar sambil melihat nomor yang dia bagikan.


"Ini semua pasti karena iming-imingmu yang terlalu bagus. Bakalan menjadikan mereka, seperti Ziya Yilzid. Huh!" Cecar mendengus membuang napas kasar ke udara, menggeleng meninggalkan Alen, mengambil potongan kertas yang tidak jauh dari tempat Alen dan meletakkan tumpukan beberapa yang penting. "Bagaimana keadaan di kantor sekarang ini, ya?" tanya Cecar menulis nomor antrian kembali. Melihat peserta yang cukup semangat. "Belum lagi mereka yang terlalu antusias. Panas-panas, seperti ini mereka mau berdiri di sini!" ucap Cecar terheran dengan penuh tanda tanya, melihat Alen yang semangat untuk menyeleksi para peserta yang ingin di jadikan model sesuai impian mereka dengan nilai terbaik.


"Palingan mereka bingung," sambung Alen sekilas melamun teringat berita yang menggemparkan.


"Bingung? Bingung kenapa?" tanya Cecar yang mengambil spidol warna hitam lalu menulis potongan kertas yang masih tersisa. "Potongan kertas tidak sedikit terbang ke tengah pasar terbawa angin," ucap Cecar, melihat badan jalan.


"Cecar, lihat itu kertasnya udah sampai ke sana!" Melihat kertas dan menjerit mengayunkan sebelah tangan kanannya. "Aduh Cecar, kalau semua kertas-kertas itu terbang. Kita mau pakai apa lagi?" keluhnya melihat ke arah para audiens yang antusias.

__ADS_1


"Mbak, saya dong, Mbak," desaknya menerobos langsung mendekati meja juri.


"Mbak, yang sabar, ya! Kita mohon Mbak-mbak, sekalian jangan berebut!" harap Alen mengayunkan kedua tangannya, agar mereka tenang dan Cecar pun tidak ikutan panik.


"Alen, mulai saja sekarang," pinta Cecar.


"Kenapa?" tanya Alen. Menaikkan bahunya dari jauh


Cecar memberikan isyarat dengan mengayunkan kedua tangannya ke udara sebagai isyarat, agar Alen tidak bertele-tele dan mengerti, kalau dirinya butuh istirahat.


"Ada masalah?" tanya Alen melihat Cecar.


"Mulai saja," jawab cecar acuh, melihat Alen meninggalkan para peserta berjalan menuju ke arahnya.


"Ya, elah Car, Car. Aku itu heran lah lihat kamu. Biasanya kamu itu tahan gak makan satu harian." Menatap Cecar sebal sambil menyerahkan nomor antrian berikutnya.


"Itu karena aku puasa," sentil Cecar langsung.


"Hahaha!" Alen pun tertawa sembari dirinya yang telah lelah dalam beberapa bulan untuk menyelesaikan pencarian model untuk acara yang dia tangani beserta dengan teamnya.


"Kalau kau tidak mau selesai. Biar aku yang akan menyelesaikannya," pinta Cecar menutup spidol serta menyimpan sisa-sisa potongan kertas. "Mengambil mikrofon sambil menyuarakan pemberitahuan dengan keras, sedikit menggema di udara. "Bagi para peserta. Harap tenang sebentar, untuk hari ini pencarian akan di tunda sebentar. Berhubung ini sudah jam makan siang. Atas kerja samanya saya ucapkan terima kasih!"


"Iya, kita harus bagaimana?" keluh peserta dengan resah. Meninggalkan tempat audisi.


Alen yang membagikan nomor kembali segera memutar kepala melirik ke arah Cecar yang sedang merapikan nomor untuk beberapa peserta lagi. "Car, kau lelah ,ya?" Menatap teman kerjanya dengan penuh tanda tanya dan terheran. Namun, Cecar hanya diam saja. "Cecar sudah!" teriak Alen keras bercampur sebal di telinga sahabatnya itu. Memukul bahu sahabatnya itu dengan gayanya yang setengah manja.

__ADS_1


"Tu, 'kan mereka sudah pergi," kata Cecar dengan senang, meletakkan mikrofon, lalu menyusun semuanya ke dalam kardus.


"Jangan ada yang tertinggal, ya!" kata Alen melirik Cecar yang menyusun semuanya dengan berhati-hati.


"Hari ini aku lelah. Misi belum juga kelar. Sudah dua bulan. Belum lagi masalah berita yang menggemparkan itu," ucap Alen melirik Cecar yang berdiri di belakangnya, bersiap-siap juga menaikkan barang -barang ke dalam mobil.


"Aku juga heran. Orang itu punya masalah apa dengan, Tuan mudamu. Kali aja dia ada buat masalah di luar," singgung Cecar. Memeriksa barang yang sudah tersusun dengan rapi.


"Cecar, ini jangan begini! Nanti itu tidak muat," tegur Alen, melirik tenda yang masih terpasang.


"Oh, iya. Akibat lapar, aku jadi kurang aqua," celetuk Cecar melawak dengan kebiasaannya yang tidak pernah dia lupakan. "Tunggu sebentar, ya!" Menghampiri tenda dan membukanya.


"Apa kau bisa? Boleh kok meminta bantuan," seru Alen yang berdiri dan ingin membuka pintu mobil.


"Sudah, aku bisa kok. Aku gak butuh bantuanmu!" tolak Cecar dengan sombong.


"Huuu! Kali aja kamu kayak gini tiap hari, 'kan enak. Aku gak lelah menghadapi atasanmu yang kiler itu. Nyebelin tau gak, kalau dekat-dekat dengannya. Ada aja yang dibahas yang inilah, yang itulah, yang gak boleh ada yang tau lah," gerutu Alen, menarik pintu mobil. Sebal.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2