
"Kalau bisa aku dandanan sampai cantik dan harus mirip, seperti Ziya Yilzid itu. Terkenal, punya nama dan di foto dengan gaya yang elegan dan terlihat modis serta trendy." Merapatkan kedua bibirnya dengan senang, menyatukan lipstik. "Dari dulu aku memang bercita-cita pengen, seperti itu. Tapi, karena ayahku yang tidak menyukai wanita yang terlalu terbuka makanya, aku tidak bisa mendapatkannya," katanya ketika dia melihat wajahnya di dalam cermin.
Cecar tidak menyangka kalau mimpi Alen bisa sejauh itu. Dia menarik napas untuk bangun dari mimpi temannya itu.
"Untung saja kamu tidak jadi, seperti itu." Menahan tawa sambil melihat sabuk pengaman yang selalu lupa di pakainya kalau naik mobil.
Merasa tidak senang dengan ledekan Cecar. Alen menggigit kedua gerahamnya dengan kuat. "Untung saja aku hari ini tidak terbawa emosi," katanya di dalam hati. "Kalau bukan gara-gara ini. Aku pasti sudah memarahinya dengan suaraku?!" Menyusun semua alat riasnya sambil memikirkan tentang ucapan Cecar tadi, kalau dia mengatakan sang pimpinan yang sudah kiler itu ada di sini.
"Kalau sampai kamu yang jadi, modelnya aku gak bakalan mau kerja di sini." Sangat senang sekali di dalam hatinya karena dia bisa meledeknya dengan puas.
Alen semakin menahan emosinya dan melatih dirinya untuk selalu sabar. "Karena aku masih membutuhkannya," sesalnya di dalam dada, meremas spons bedak yang tertinggal dengan kuat. "Tunggu saja pembalasanku. Kau tidak akan kukasih ampun." Mengingat-ingat apa yang tidak dia butuhkan lagi dari Cecar. "Sepertinya tidak ada," rintihnya sesal karena semua yang dia kerjakan baik sesudah maupun sebelum dia masih bergantung kepada sahabatnya itu.
"Terus bagaimana cara membalasnya?" tanyanya sambil menempelkan tangan di keningnya frustrasi melihat dirinya sendiri yang terlalu lemah. "Itulah mungkin kenapa tuhan menginginkan dia sebagai temanku. Oh, tidak!" Menyesal karena semua sudah diatur oleh pimpinan juga.
Cecar sedikit muak melihat Alen yang sudah membuang waktunya terlalu lama berada di dalam mobil yang panas akibat sinar matahari yang membias ke arah kaca.
"Aku turun duluan. Kalau kau masih mau berdandan. Berdandanlah sampai subuh," kata Cecar.
Memutar badan, mengeluarkan sebelah kaki kanannya lalu menutup mobil. Sudah lama dia duduk menemani Alen yang belum juga mau turun untuk makan.
Suara Alen nyaring membuat Cecar menghentikan langkahnya. "Kau mau pergi sendiri masuk ke dalam. Kau gak mau menungguku, ya!"
Memutar kepala tanpa diikuti oleh tubuhnya. "Gak usah turun. Teruskan saja dandananmu sampai kamu kenyang." Meninggalkannya dengan kesal.
Berjalan melewati jalan yang terhubung dengan pintu kafe dan melewati beberapa mobil yang terparkir begitu memampang di hadapannya. Seketika perasaannya tidak enak
sebab mobil yang terlihat olehnya itu tidak asing. Suara langkah kaki pun terdengar, seperti sedang mengejarnya dari belakang.
"Di dalam mobil terlalu panas," kata Alen mengikuti Cecar. "Makanya aku turun, padahal dandananku belum selesai." Melihat punggung kawannya yang tegak.
.
__ADS_1
.
.
Bersambung...
"Biasanya kamu 'kan kenyang dibuat oleh dandananmu," timpal cecar memantau sekeliling kafe dan orang-orang yang duduk di luar untuk memastikan segala penasarannya yang menggulungnya.
Berhenti di sebuah pintu ketika dia tidak sengaja mendengar suara tawa yang mirip dengan tuannya. "Sssttt!" katanya pada Alen yang saat ini ngedumel memarahinya dari belakang.
"Kau tau tidak kalau aku sendiri di dalam mobil. Para tukang parkir itu pasti akan terus mengetuk pintu. Dipikirnya aku ini seorang tahanan yang di kurung oleh si penculik dan tidak di kasih makan. Atau mungkin dia pikir aku tidak bisa membuka pintu," ocehnya sepanjang jalan mengikuti Cecar dengan memonyongkan bibirnya geram. Dia juga dari tadi berjalan terus." Melihat banyak meja dan kursi kosong yang dilalui begitu saja oleh cecar.
Dia pun menarik napas melongo melihat cecar yang bertingkah tidak sepantasnya. "Kalau sampai ada yang tahu kita pasti kena tegur dan kita akan di laporkan ke kantin polisi." Melihat Cecar yang tidak mau beranjak dari depan pintu. "Dia masih saja mengintip," celetuknya.
"Len, kau lihat siapa di dalam?" Cecar malah balik bertanya dengan entengnya.
Alen sangat sebal dan menghembuskan napas berulang kali sambil menahan malu. Berkali-kali menjentik lengan cecar. Namun, sekilas pun cecar tidak mau menoleh.
"Et, jangan dulu! Kamu tau siapa di dalam, pas di depan pintu ini." Menarik kuat tangan Alen mundur ke belakang sampai dia ingin tersungkur.
Menedelik sehingga membuat Alen cemas dan khawatir. "Emang ada siapa?" tanyanya. "Pacarmu?" lanjutnya.
"Bukan! Tapi pimpinanmu yang kiler itu di dini." Setelah menatap Alen cukup lama Cecar langsung menjawab.
"Apa? Dia ada di sini." Sontak Alen langsung terkejut dan panik, gugup dan linglung. "Car, terus kita mau ke mana? Dari sini tempat makan masih jauh." Menarik lengan cecar untuk berlari.
Mendengar suara langkah kaki mendekat. Alen pun langsung menelan ludah, gemetar dan bergeming. Menajamkan pendengarannya dan terheran melihat Cecar yang tiba-tiba mendelik.
"Kita pergi saja dari sini!" Setelah Alen melihat Cecar yang ambigu. "Car, ngapain sih lagi di sini. Pimpinan kesayanganmu pasti sudah mendekat?!" Merasa tidak tenang berdiri di depan pintu kafe yang tiba-tiba terbuka.
"Tapi kita sudah ke sini. Kalau pimpinan
__ADS_1
Mu itu bertemu dengan kita. Emang kenapa?" tanya Cecar.
Dia masih malas untuk pergi sebenarnya. Kalau pun dia harus bertemu dengan senang hati Cecar akan menegurnya dan kemungkinan akan duduk semeja dengannya.
Akan tetapi, berbeda halnya dengan Alen yang tidak mau sama sekali ingin berpapasan, apalagi bertemu. Sekeras apapun Cecar tidak pernah bisa menang ketika berhadapan dengan Alen.
"Kita gak usah masuk." Intip Alen menyebalkan sekali melihat atasannya yang selalu menghantui di mana-mana.
Mendengar ucapan itu Cecar melongo dan melemparkan pandangan tegak lurus ke arah anak- anak yang berkerumun di tengah jalan.
"Kita di situ saja!" Cesar menunjuk sebuah tempat yang cocok untuk mereka.
Spontan Alen mengikuti kaki Cecar yang berjalan menghampiri meja. "Kapan kita bilang, kalau kita mau ke sini?" gumam Alen mengingat sebab melihat tuan Ilker jadi, dia berpikir kalau sang tuannya datang semata-mata untuk mereka.
Cecar yang berjalan di depan dan menarik kursi. "Perasaan kamu. Ngapain pula pimpinanmu yang songong itu datang ke sini khusus untuk kita," celetuknya.
Mengambil buku menu yang di sodorkan pelan tersebut.
"Mau pesan apa, pak?" tanya seorang pelayan pria di tengah obrolan Alen padanya.
"Len, kamu mau pesan apa?" Cecar bertanya setelah membuka buku menu. Membolak balik halaman menu yang banyak tertulis jenis masakan dan minuman.
Alen masih tidak menyangka ke singgahan mereka di kafe membuat dia sesak napas terjebak akibat kejadian terlalu lama mencari tempat makan.
"Aku makan mie goreng aja, deh," jawabnya tanpa menoleh ke arah sahabatnya sedikit pun sekalian berjaga melihat pintu kafe.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...