Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Terciduk oleh tingkah sendiri


__ADS_3

Pak Altan langsung senyum-senyum malu membungkuk sambil menjepit kedua tangannya di paha. "Membunuh nyamuk maksudnya, Nya," jawabnya dengan pelan, menjatuhkan pandangan melihat ke arah Balin yang masih duduk di atas lantai dan memalingkan pandangannya ke arah yang lain.


"Tapi, kenapa seseram itu? Kamu ngomongnya, Pak?" tanya Benar semakin tercengang, menutupi dirinya di balik punggung sang nyonya yang lemah lembut.


"Iya, Pak. Ngomongnya agak sedikit seram di dengar," timpal dari pemilik kediaman Carya. "Kalau mau bicara, Pak. Bicara yang baik-baik," sarannya, berdiri melihat Balin yang tidak bisa menatap wajah sang majikan.


"Maaf, Nya. Ini semua salah saya. Saya yang mulai duluan," sambung Balin memotong pembicaraan, menyeret sedikit tubuhnya mundur ke belakang.


"Pak, lain kali, kalau bicara. Bicaralah yang baik-baik dan hati-hati, ya!" pinta Dhyia sekali lagi memberi nasihat. Dhyia menggeleng melihat kedua pekerjanya yang mendadak berulah dan menggelitik emosi. "Sekarang kembalilah, Pak! Selesaikan pekerjaannya, kalau belum siap. Dan istirahatlah, kalau pekerjaan Pak Altan dan Pak Balin sudah selesai," katanya tersenyum. "Bi, saya naik ke kamar dulu, ya," pamitnya memutar badan.


"Iya, Nya," balas Benar, melirik sampah sisa makanan yang sudah mulai membau, memiringkan badan dan berjalan mengambil kunci untuk membuka pintu serta mengikuti langkah nyonyanya yang menaiki anak tangga dengan kedua bola matanya.


Jeglek !


Tangan yang tadi memegang knof pintu sekarang sudah terlepas dan pintu pun terbuka dengan lebar. Berjalan perlahan menyeret kedua kaki yang lemah melihat sang suami yang tiba-tiba tidak ada di dalam kamar. "Mas Ilker, ke mana?" tanya Dhyia, menatap nanar sekeliling. Berjalan mengikuti lantai kamar yang menghubungkan dengan ruangan kerja sang suami. "Apa mungkin? Mas Ilker, berada di sini," menempelkan sebelah telinga kanannya dengan rapat ke pintu ruangan kerja. "Gak ada apa-apa," gumamnya dengan penuh tanda tanya. "Tapi... ." Mengayunkan sebelah tangan kanannya ingin menokok pintu yang tidak jadi, dia lakukan.


Jeglek !

__ADS_1


Ilker langsung terkejut dan berhenti . Pintu yang telah terbuka pun kini dia tarik dengan tangan sebelah kanan perlahan dengan sedikit lama berdiri membelakangi pintu dan mereka berdua pun bertemu pandang, menutupi tangan sebelah kanannya, agar Dhiya tidak melihat tangannya yang cidera akibat dia benturkan ke cermin.


Tiba-tiba setengah langkah kaki Dhyia yang ingin berputar pun terhenti dan seketika membalik ke belakang sedikit terkejut . "Mas, kamu di situ," katanya pelan dengan perasaan senang. Bertemu tatap dengan sang suami yang setelah sekian lama. "Baru saja aku ingin mencarimu, Mas. Setelah itu aku tidak tau tentang dirimu lagi." Meremas kedua jemarinya dan berdiri menatap suaminya yang dingin yang berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun bahkan menoleh pun tidak sudi sambil menutupi tangannya dari lirikkan sang istri.


Berdiri menghampiri sofa dan membelakanginya. "Cemaskan saja dirimu sendiri," sahut Ilker dengan ketus dan gurat wajah dingin. Melepaskan dasinya. "Kau tau, 'kan sebentar lagi... ." Ilker langsung diam. Mengelap lukanya yang sudah mulai mengering dengan dasi.


"Aku tau Mas," sambung Dhyia memotong pembicaraan lelaki yang berdiri di depannya. "Mas, tidak perlu mengingat, 'kan aku. Aku sudah siap-siap kok, Mas. Semua sudah aku rapikan," lanjutnya, berdiri dengan pakaian tertutup yang sangat sederhana.


Ilker begitu panas mendengarnya seolah dia sangat membenci ucapan itu. Baju kemeja yang dia kenakan tadi untuk bekerja belum juga dilepasnya. Dasi yang biasa terikat di leher kini sudah dia tahan di lukanya dengan kuat. "Terserahlah! Aku akan memikirkan hidupku sendiri," sambungnya dengan enteng. Menatap dasi yang menempel di lukanya. "Lagi pula, siapa yang akan peduli tentang itu!" pergi meninggalkan sofa, keluar dan membanting pintu kamar.


Menuruni anak tangga dengan terburu-buru dan memegang ponsel di tangan sebelah kanan dengan kuat. Seakan dia tidak ingin kalau Dhyia pergi dari rumah yang sudah lama menaunginya dan memberinya kasih sayang. "Ma, maafkan aku," katanya, berdiri melihat lampu hias yang tergantung. "Kalau, Mama mau membenciku, silakan! Tapi jangan pernah Mama bilang, kalau aku bukan anakmu, Ma," ucapnya sesal dan marah, tapi entah pada siapa. Itulah yang dirasakan Ilker setelah dia tahu kalau sang istri akan pergi.


Ponsel yang dipegangnya pun tiba-tiba menyala. Dia begitu shock melihat nama yang memanggil ternyata wanita yang paling berharga di dalam hidupnya.


Dia pun mengangkat. "Suratnya sudah selesai," kata Yilzid dengan nada suara senang dari balik ponsel. Sontak Ilker langsung terkejut. "Surat itu akan datang ke rumahmu, sayang dalam waktu tujuh jam lagi," terangnya yang membuat Ilker terhempas dan tidak bisa membuka mulut. "Semua sudah beres. Tidak ada lagi yang perlu kamu cemaskan," lanjutnya. Ponsel masih saja terlihat menempel di telinga Ilker. "Sayang, aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan mu. Dan kita akan bahagia selamanya. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita berdua untuk selalu bersama. Jadi, kamu sekarang sudah sepenuhnya menjadi milikku." Sambungan pun terputus.


Sekujur tubuh Ilker bagaikan tersengat listrik. Diam membeku dan mendengarkan semuanya sampai selesai hingga akhirnya, merubah haluannya seketika. Mendengar jaringan telpon yang terputus di telinganya.

__ADS_1


Ziya Yilzid pun tersenyum sebab dia telah merasa menang. Setelah melihat ayahnya menghilang. Dia pun langsung buru-buru naik ke atas kamar dengan kesal karena Burcu dia tidak lagi bisa sebebas dulu.


"Non, ada yang bisa saya bantu!" tawar Burcu yang masih berdiri bersama asisten yang memaksanya menemui tuan Gohan Hakan.


Kaki sebelah kanan Yilzid yang menaiki anak tangga seketika terhenti. Memutar badan melirik, ke arah Burcu. "Tidak perlu ! Kau dan Papa. Kalian berdua itu sama," sindirnya pedas. Melanjutkan langkahnya kembali hingga sampai di atas kamarnya.


Tersenyum di dalam hati dengan jahat. "Surat itu akan sampai hingga tujuh jam lagi. Ha! Akhirnya, aku lega. Sekarang Ilker telah menjadi milikku. Aduuh, so sweet. Ternyata, semuanya itu tidak bohong. Kalau apa yang aku impikan akan segera terwujud." Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan melemparkan ponselnya. Duduk sambil menatap langit-langit kamar. "Aku akan terbebas dari, Papa," katanya di dalam hati sangat bersyukur. Mengambil ponsel yang tadi dia lemparkan, tepat terletak di dekatnya.


Spontan Ilker langsung membuka pintu dan bergegas mengeluarkan mobilnya yang lecet dengan luka di tangan yang masih terbalut dasi. "Ya. Ampun aku sampai lupa membagusi ini." Melihat belakang mobil mewahnya yang lecet atas kejadian yang menimpanya di diskotik pada waktu yang lalu. Sudah dua minggu kejadian itu. Aku belum juga teringat bahkan aku lupa." Menggeleng dan menutup pintu mobil, duduk bersandar sambil memasukkan kunci. Meletakkan tangannya di atas kopling di sebelah kiri. Mengambil ponsel dan membuka layarnya menelpon Yilzid.


Kring ! Kring ! Kring !


"Sad. Sial! Kenapa dia tidak mengangkat telponnya?" umpatnya membuang ponsel di bangku mobil tepat di sebelahnya. Terus menginjak gas dan mobil pun melaju dengan kencang melewati lampu merah yang macet.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2