Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Keributan di tempat parkir


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba bertanya itu sayang?" tanya Ilker terkejut mendengarnya. "Bukankah aku sudah pernah bilang, kalau suatu saat nanti, aku pasti akan bersamamu?!" terang Ilker yang belum membuat Yilzid percaya.


"Sayang, bukannya aku tidak percaya sama kamu. Tapi mau sampai kapan? Sementara istrimu masih tinggal bersamamu di rumah itu. Siapa yang akan percaya?" tanya Yilzid dengan kesal.


"Kamu tenang dulu. Aku akan memikirkannya," jawab Ilker bingung. Menghela napas dalam sambil menenangkan pikiran. "Aku tau ini semua salahku. Tapi tolong, kasih aku waktu untuk memikirkannya," harap Ilker meminta sedikit waktu. Mengingat itu adalah permintaan ibunya sebelum wafat.


"Alah. Lagi-lagi kamu pasti tidak bisa melakukannya?! Dari dulu kamu selalu bilang sabar, sabar dan sabar," sesalnya. "Aku udah bosan sayang sabar terlalu lama. Engga ada kepastian yang jelas!" ucap Yilzid dengan menurunkan nada suaranya perlahan, mengeluh di dekat Ilker.


Ilker, laki-laki yang berparas tampan dan penyayang itu sangat tidak bisa melihat kesedihan di wajah Yilzid yang selama ini selalu membuatnya bahagia.


"Sayang, percayalah! Aku akan menuruti kemauanmu," ucap Ilker dengan lembut sambil membelai rambut sang kekasih. "Sekarang kita pulang dulu, ya!" ajak Ilker yang sudah pusing menghadapi hidupnya. Mengelus kepala Yilzid dengan penuh kasih sayang. Menyesali perbuatannya yang telah berani menyakitinya. "Kamu tau. Kamu itu sangat berarti bagiku." Tatapnya dengan penuh penekanan. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Karena cuma kamu yang paling aku cintai," lanjutnya memeluk Yilzid, menyandarkan dagu di kepala sang kekasih sambil menatap lurus penuh kebencian mengingat Dhiya yang sudah berani merebutnya dari Yilzid.


"Tapi sayang..., kamu serius 'kan?" tanya Yilzid yang menyandarkan kepalanya di pelukan Ilker.


"Eem," jawab Ilker mendehem dengan ringan langsung melepaskan pelukan Yilzid.


Ilker memang terlihat aneh. Tiba-tiba tanpa ada angin dan hujan dia merasa risih dipeluk lama-lama oleh Yilzid. Yilzid semakin kesal. Sedari tadi dia sudah memendam kekesalan. Belum lagi pernikahan yang membuatnya frustrasi sekarang malah sikap dingin Ilker yang membuatnya semakin meraung.


"Sayang, apa kita langsung pulang?" tanya Yilzid mengejar Ilker yang berjalan cepat menghampiri kasir. Mengeluarkan uang dan membayar pesanan yang mereka pesan.


Betapa tidak pria yang selama ini menjadi kekasihnya perlahan telah menjauh dari hidupnya. Berdiri menatap Ilker dari belakang dengan tajam.

__ADS_1


"Sayang," panggil Yilzid menarik lengan Ilker kasar dan saling bertemu tatap. Yilzid yang sudah marah menatap Ilker yang terlihat tenang. "Sayang, apa kamu tidak mendengar panggilanku?" tanya Yilzid kesal.


Di tempat parkir, terjadi keributan sepasang kekasih yang membuat semua orang yang melintas melihat ke arah mereka.


"Sayang, pelankan suaramu!" tegur Ilker malu. "Di sini banyak orang. Bagaimana nanti kalau ada yang mengenalku dan melihatku bertengkar dengan seorang wanita?" tanya Ilker panik terkejut melihat perubahan Yilzid. Selama bersamanya Yilzid adalah wanita yang baik yang selalu berkata lemah lembut. Tapi kali ini semua berubah dan membuat Ilker tidak percaya.


"Kamu suruh aku memelankan suara?" kata Yilzid marah bertanya pada Ilker yang sudah membuatnya hancur. "Kamu menikah dengannya, kamu suruh aku diam. Kamu tinggal serumah dan sekamar dengannya, kamu suruh aku diam" kata Yilzid memekik telinga Ilker seolah merasa di bodohi. "Sayang, sebenarnya mau mu itu apa, ha?" tanyanya menatap tajam Ilker yang cuma bisa diam menyesali semuanya.


"Itu masalah pribadi." Ilker menarik napas. Memijat kening. "Jadi, jangan di ributkan di depan umum. Nanti kita bicarakan, ya!" kata Ilker dengan lembut membelai wajah kekasihnya dan menarik lengan Yilzid masuk ke dalam mobil.


"Lepas!" teriak Yilzid menahan emosi. Sontak Ilker terkejut melihat perubahan Yilzid akibat perbuatannya. "Selama kamu menikah. Aku gak pernah lagi bisa menghubungimu, seperti dulu. Bahkan menanyakan kabarku saja kamu sudah jarang, sayang." Menangis meluapkan semua yang di pendamnya. "Kamu tau, seperti apa hidupku setelah mendengar pernikahanmu? Kamu gak tau!" sesal Yilzid menangis di pelukan Ilker berputus asa.


"Huhuhu!" Isak tangis Yilzid pun pecah di pelukan Ilker. "Aku tau aku bukan wanita, seperti yang diinginkan Ibumu. Tapi kita saling mencintai." Yilzid semakin tidak kuasa menahan tangisnya di halaman parkiran mobil.


Hancur sekali rasa Ilker melihat wanita yang paling dicintainya menangis. Dia tidak menyangka kalau dialah penyebab air mata itu keluar. Perasaan hancur sekarang telah bersemayam di hati mereka bertiga, terkhusus untuk Dhiya Kharya juga. Wanita yang tidak tahu apa-apa yang menjadi pelampiasan keegoisan ibu Afsheen.


Jangankan Yilzid. Dhiya yang tanpa menyadarinya telah menjadi korban memendam semuanya sendiri. Ingin berbagi kesedihan tapi dia tidak tahu entah pada siapa. Siang dan malam Dhiya hanya menelan semuanya tanpa berkeluh kesah. Hanya sajadah lah yang menjadi tempatnya untuk mengadu yang setia mendengarkan dengan suka rela dan menampung semua air mata yang menetes.


"Diamlah! Biarkan aku berpikir dengan tenang," bujuk Ilker yang sangat menyayanginya.


"Sayang, tapi pernikahan kalian sudah mau hampir dua tahun. Bagaimana kamu akan melepaskannya? Dari dulu saja, dia sangat pandai mengambil simpati Ibumu," sesal Yilzid yang kalah saing dari Dhiya. Menatap Ilker yang bersedih.

__ADS_1


"Kita bicarakan nanti," kata Ilker menarik lengan Yilzid masuk ke dalam mobil. Sungguh memalukan semua orang melihat ke arah mereka berdua. Mau tidak mau dengan hati yang berkecamuk Yilzid terpaksa mengikuti Ilker.


Duduk menyandarkan tubuhnya yang hampir


ingin terjatuh, menghela napas menenangkan diri dari masalah yang terus bertambah. Melirik sang kekasih dengan menyesal bercampur sedih. Memasukkan kunci mobil lalu menghidupkan dan melaju membelah jalanan sunyi.


Di dalam mobil yang di kendarainya, Ilker pun menggenggam erat tangan Yilzid yang secara langsung bisa menenangkan hatinya. " Dudu, kau adalah perempuan yang paling aku sayangi sampai saat ini. Jadi, aku harap kamu berhentilah menangis!" pintanya langsung terbayang wajah Dhiya yang menangis sedih karena dirinya.


Ilker merasa tidak nyaman tiba-tiba. Melepaskan tangan kekasihnya secara halus. Bercampur aduk itulah yang dirasakan olehnya sekarang setelah lama menjalani hubungan yang rumit.


Melaju memecah jalanan yang sering dia lalui ketika singgah di cafe red black. Menghembuskan napas kasar ke udara sambil menatap nanar lurus. "Dari dulu sampai sekarang hatiku masih milikmu tidak ada yang bisa merebutnya, terutama Dhiya," Ucapnya untuk yang pertama kali setelah menikah. Melirik ke samping, di ikuti oleh kedua tangan memegang stir. Sungguh terharu. "Ternyata, kamu tidur," kata Ilker tersenyum hangat pada Yilzid. Mengelus kepala wanita yang sudah lama bersamanya.


Bergegas Ilker pun melajukan mobilnya dengan kencang dan berhati-hati, menjaga agar sang kekasih tidak terbangun dengan lihai Ilker menyelip dari pengendara yang mencoba untuk saling menyerobot.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2