
Pak Altan sudah lama berdiri di dapur melihat Benar menaiki anak tangga untuk menemui tuan muda. Tidak berapa lama kemudian pak Altan pun pergi keluar untuk memanggil nona muda yang sedang duduk di sofa yang sedang merilekskan diri di dalam sebuah gazebo yang berpenampilan menarik. Dia berjalan memberanikan diri menghampiri nona muda dan memanggilnya untuk makan siang bersama tuan muda. "Nona." Panggil pak Altan dari belakang, membungkukkan setengah badan di udara dan menyilang kedua tangan di depan paha.
Rana yang sedang bersantai duduk di sofa sambil menatap nanar pohon-pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Sontak ia terkejut dan mengangkat kepala, memiringkan tubuhnya menoleh ke belakang. "Ada apa, Pak?" tanyanya langsung terheran dengan nada suara yang lembut dan pelan.
"Saya disuruh Tuan, memanggil Nona untuk makan siang," ucap pak Altan.
"Apa makanannya sudah siap? Dan Kak Ilker. Apa dia sudah turun?" Rana bukannya menjawab 'iya', malah ia bertanya balik.
"Iya Non. Makanannya sudah siap. Soalnya Bi Benar sudah menghidangkannya semua di atas meja," jawab pak Altan dengan penuh hati-hati. Melihat sang nona yang masih cuek . "Kata Tuan, "Nona disuruh menunggu di meja makan," lanjut pak Altan menatap lurus ke arah wanita itu.
"Baiklah, Pak! Sebentar lagi saya akan datang," balas Rana memutar badan lurus. Duduk kembali dengan tegak.
"Baik Non! Kalau begitu Bapak permisi dulu," kata pak Altan, memutar badan membalik ke belakang dan meninggalkan nona mudanya sendiri.
Pak Altan pun kembali melanjutkan niatnya berkumpul bersama kedua temannya di pondok kecil yang nyaman dan menenteramkan.
Ilker terkejut setelah mendengar penyampaian dari benar dan merasa shock. Dia masih belum bisa menerima berita yang disampaikan oleh asisten rumah tangganya itu. Aku belum mengerti. Kenapa dia bisa pergi tanpa memberitahuku? Pikirnya menunduk dengan tatapan sendu. Menjatuhkan tiket pesawat yang di genggamannya ke lantai.
"Bi! Dia pergi dengan siapa?" Ilker kembali bertanya.
"Sendiri Tuan," jawab Benar dengan nada suara pelan bercampur takut. Berdiri dan melihat lurus ke depan setelah ia menatap sekilas pria itu.
Setelah pak Altan menghilang. Rana kembali mengatur duduknya dengan rapi. Mengambil ponsel yang terletak di atas meja tepat di hadapannya. "Selama aku di sini. Aku belum pernah tau tentang kampus," katanya di dalam hati. "Jadi, aku sekarang harus mencari tau informasi tentang itu. Sebelum pak Altan datang lagi ke sini memanggilku. Apa yang terjadi? Dan berita apa yang belum aku ketahui?" batinnya, menghidupkan layar ponsel.
Pitu pagar mewah rumah sang model papan atas itu pun sudah terlihat dari jauh. Perlahan pria yang mengantarkan mereka berdua pun melajukan sedikit kecepatannya.
Tin! Tin! Tin!
Pria itu membunyikan klakson dari luar terdengar sampai ke dalam. Para penjaga langsung berhamburan membuka pagar. Berdiri tegak lurus menunggu mobil sedan berwarna silver itu masuk.
Ronald si pengawal bertubuh kekar dan tinggi itu terlihat sedang berjaga-jaga ketika sang model itu melihatnya dari dalam mobil . "Aku harus bagaimana?" batin Yilzid cemas, menatap ke arah penjaga yang berdiri tegak di depan pintu utama. "Tidak biasanya penjagaan seperti ini," katanya di dalam hati sambil melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukkan jam 14 : 00 WIB sebagaimana, seperti biasa yang diketahuinya jika jam segitu para pengawal itu masih beristirahat dan tidak pernah sejarahnya di depan pitu utama. Ini pasti ulah sang ayah, yaitu Gohan Hakan yang melakukan hal yang mendebarkan jantung dengan menaruh penjaga, pikirnya berulang-ulang memutar hal-hal yang tidak ia inginkan terjadi.
"Yil, kita sudah sampai," kata Pevin, memiringkan sedikit tubuh ke samping sambil melihat lurus ke depan. Membuka pintu dan turun dari mobil.
"Iya," sambung Yilzid dari belakang dengan nada suara pelan. Mengambil tas dan membuka pintu mobil bercampur dengan debaran jantung yang kencang yang sengaja dilihat oleh pria itu dari kaca spion yang menggantung di atas kepala.
__ADS_1
Puk!
Puk!
Puk!
Mereka bertiga pun turun menutup pintu mobil masing-masing. Pria itu lalu berjalan kencang tegak lurus dengan angkuh, mendekati pengawal yang berjaga di depan pintu. "Apa ada Tuan mu?" tanyanya berpura seolah orang asing, kepada sang pria yang berjaga yang sebenarnya mengenal dirinya.
"Bos," kata pengawal itu yang tidak lain adalah Ronald, menatap dengan tatapan cerah, menundukkan kepala memberi hormat. "Ada, Bos. Mari silakan masuk!" Dia mengajaknya langsung ke dalam, tanpa melihat-lihat ke ujung halaman yang di lalui oleh kedua wanita tersebut yang tertutupi sedikit oleh ranting pohon yang berdaun lebat.
Pevin dan Yilzid yang berjalan agak jauh di belakang terkejut ketika melihat keramahan pria yang bertubuh kekar itu kepada lelaki yang mengantarkan mereka sampai ke kediamannya sendiri.
"Dia kenapa terlihat ramah kepada nya?" Yilzid bertanya heran mendekatkan bibirnya di telinga Pevin.
"Apa mungkin mereka saling mengenal?" Pevin pun bertanya balik ketika melihat sang body guard begitu rileks ketika menyambut ke datangan lelaki yang sudah mengantarkan mereka. "Yil, sebelumnya dia tidak menunjukkan gelagat apa pun kepada kita," lanjutnya, memiringkan kepala ke kiri menatap Yilzid.
"Maksud kamu?" Yilzid mengerutkan kening bertanya balik. "Dia sudah mengenal keluarga kami? Begitu?" Berjalan dengan pelan-pelan dan sanubari yang khawatir.
"Eemm!" Pevin mengangguk. "Ya, sepertinya kayak gitu. Dia mungkin sudah mengenal salah satu orang dari keluarga kamu," lanjut Pevin menatap pintu yang sudah tertutup.
"Sekarang kamu rencananya apa?" tanya Ogze, melayangkan sorot mata menatap Dhyia.
Dhyia diam sejenak melihat lantai. "Aku mau bermain di sini saja sebentar, Bi," jawabnya pelan.
"Apa? Emang suamimu sudah memberi izin untuk mu tinggal di sini dalam beberapa hari ini?" Ogze bertanya dan menghentikan tangannya mengambil sendok.
Dhyia terlihat membisu dan tidak berani menatap wajah wanita setengah tua itu. Memutar otak untuk memberi jawaban yang tepat. "Tidak mungkin aku mengatakan kepada Bibi kalau aku tidak ingin lagi tinggal di rumah itu," katanya di dalam hati, merapikan jilbab yang terbawa embusan angin yang masuk dari jendela dan pintu. "Lalu aku harus bilang apa?" lanjutnya bertanya lirih di dalam hati. "Apa aku harus jujur atau berbohong?" Menaikkan kepala menatap ke arah sang bibi yang sedang mengambil ikan sambal dengan gurat wajah bingung.
Ogze pun menatap ke arahnya. "Kenapa kau tidak menjawabnya?" tanya Ogze, menyuap nasi ke dalam mulut.
Dhyia mengatur napas dengan rileks. "Bi, aku hanya ingin mencari suasana baru sebentar saja sebelum suamiku datang menjemput 'ku dan sekaligus aku ingin memberi kejutan," ucapnya terdengar konyol bagi dirinya sendiri.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Ogze mendadak tersedak. "Kejutan? Kejutan apa?" tanyanya semakin terheran. "Kenapa kamu ingin mau memberinya kejutan? Dan mengatakannya dengan senang? Bibi tidak mengerti maksudmu, apa?" Si wanita setengah tua itu pun menaikkan kepala semakin tegak menatap keponakannya yang cenderung aneh.
__ADS_1
"Mmm... ." Dhyia diam sejenak berpikir sambil memutar kata. "Bi, aku pengen nunjukin sama suami aku kalau aku bisa memberikan surprise di hari ulang tahunnya nanti karena aku bukan gadis yang manja. Aku juga bisa menyiapkannya sendiri. Lagi pula aku 'kan punya keterampilan. Jadi, sayang Bi. Kalau ke terampilan 'ku tidak di lanjutkan," balasnya deg-degan takut kalau bibinya bisa melihat kebohongannya dari ekspresi wajahnya.
Ogze kembali diam. Dia memutar kepala melihat ke bawah, yaitu ke arah nasi yang ada di dalam piringnya dan melihat juga ke arah piring yang terletak di dekat teko. "Makanlah dulu!" Ogze dengan tatapan lembut dan suara yang lembut pula menawarkan kepada Dhyia.
"Iya, Bi," katanya mengambil piring dan menyendok nasi ke dalam piring. Dhyia terlihat begitu segan sehingga ia tidak berani mengambil piring sebelum di tawarkan.
"Jadi, kapan kamu akan memberinya suprise?" tanya Ogze kembali mengulanginya sambil memasukkan nasi ke dalam mulut.
"Kalau tidak ada halangan dalam seminggu ini, Bi," jawabnya pelan, menelan nasi yang dikunyah.
"Mmm!" balas sang bibi dengan mulut yang penuh dengan nasi. "Kalau begitu ngomong-ngomong uangmu ada?" Ogze kembali bertanya setelah menelan nasi.
"Ada, Bi" jawab Dhyia singkat, menatap bibinya yang menatap lurus ke depan tepatnya melihat ke dinding.
"Ada berapa uangmu?" tanya Ogze.
"Satu juta, Bi," Dhiya kembali menjawabnya.
"Pufff!" Nasi yang dikunyah pun sontak ingin keluar dari mulut Ogze. "Satu juta." Dia kembali mengulanginya seakan terheran. "Waaah! Itu lumayan banyak," batinnya. "Dhyia kalau begitu, kamu ngapain mesti mengeluarkan uang membuat suprise nya. Kamu bisa meminta Bibi untuk membuatkannya dan tinggal di sini saja dulu." Ogze langsung memberi tawaran yang menarik kepada keponakannya.
"Alhamdulillah," batinnya bersyukur. "Iya, Bi. Terima kasih banyak, Bi." Dhyia terlihat senang sehingga ia tidak henti-hentinya bersyukur kepada Sang Pemilik Rezeki. Dia tidak menyangka akhirnya bibinya mau menolongnya tinggal bersama dengan mereka.
"Tapi... Bibi pinjam uang mu dulu. Boleh, engga?" Ogze mengiba dengan hati yang sedih.
Dhyia seketika menahan nasinya yang ingin turun dari tenggorokan sedikit terasa nyeri sebab ia dengan kuat menahan agar tidak tersedak dan batuk. Diam menunduk, bertanya kepada dirinya sendiri yang sedang perang batin antara ingin memberi atau tidak. Berpikir sejenak menimbang-nimbang permintaan Ogze. Menaikkan kepala menatap wajah menyedihkan wanita setengah tua itu.
"Iya, Bi. Engga apa-apa," balasnya sedikit berat. Namun, ia harus memberinya sebab ia tidak punya pilihan lain. Di dalam hati kecilnya yang terpenting ia ada tempat tinggal untuk saat ini. Menunduk kembali menatap piring kosong di hadapannya dengan sendu.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1