
Dhyia tersenyum manis melihat suaminya yang begitu menyayangi kedua orang tuanya, apalagi mengenangnya hingga sampai saat ini. Hati yang perih dan terluka seakan dia lupakan.
"Nya! Bapak, permisi dulu," kata pak Altan berpamitan membawa piring.
"Eh, astaghfirullah. Saya sampai lupa, Pak," ucapnya segera menoleh ke belakang. Melirik kembali lampu yang indah itu. "Selama ini aku penasaran dengan lampu itu. Dan ingin tahu kenapa lampunya, seperti itu?" tanyanya di dalam hati menatap nanar karena tanda tanyanya selama ini telah terjawab.
Yilzid dan sang pengawal kesayangan yang yang dikirim oleh tuan Gohan Hakan. Masuk setelah memarkirkan mobil di dalam garasi. Melenggang dengan tas handbag yang tidak pernah dia lupakan saat bepergian membawanya.
Di belakang Yilzid tampak sang pengawal mengikuti langkahnya mulai dari pertama memasuki rumah sampai saat ini.
"Sampai di situ saja," kata Yilzid sedikit meninggi. Berdiri di tangga membelakangi sang pengawal baru memutar badan miring melihat kaki sang asisten yang ingin menaiki tangga.
Sontak pengawal pribadi tadi langsung berhenti, terkejut mendengar perintah Yilzid yang tidak enak terdengar di telinganya.
"Tidak perlu ikut ke atas. Di sebelah pojok sana ada kamar tamu, silakan istirahat di sana." Melirik sang pengawal yang menurunkan kakinya seketika. "Aku ingin sendiri." Yilzid segera kembali menaiki anak tangga dan meninggalkan wanita yang sudah mengikutinya sepanjang hari.
"Mari, Non!" ajak pengurus rumah Yilzid yang bernama Emin.
"Baik," jawabnya tegas, mengikuti pengurus rumah yang baru dia temui.
Rumah yang luasnya hampir sama mirip dengan rumah Ilker menjadi tempat tinggalnya sekarang. Sofa yang tertata rapi pun dan semua perlengkapan yang ada di dalam rumah hampir semua barang -barang bermerek. Burcu sangat terpana melihat kediaman yang baru pertama kali dia temui.
"Silakan! Ini kamarnya. Jika ada yang dibutuhkan bisa beri tahu pada kami," ucap Emin membuka pintu dan menghidupkan lampu. "Ini tidak pernah di tempati. Kalau ada tamu penting saja baru ini di bersihkan." Melihat sekeliling kamar dan membuka gorden.
Burcu sangat takjub dengan ruangan kamar tamu yang luas. Melihat isi kamar yang hampir sama mirip dengan hotel berbintang lima. "Belum pernah aku melihat kamar semewah ini," kata Burcu di dalam hati, mengikuti Emin berjalan. "Nah, kalau yang ini kamar mandinya." Masuk dan menarik tirai ruangan kamar ganti.
__ADS_1
"Ini tempat apa?" tanya Burcu melihat ruangan terpisah.
"Jika, Nyonya malas ganti pakaian di dalam. Nyonya bisa ganti pakaian di sini!" kata Burcu masuk ke dalam ruangan.
Seluruh ruangan yang diberikan khusus oleh Yilzid sangat memanjakan diri. Burcu sedikit penasaran tentang pria yang menyuruhnya untuk menjaga Yilzid. "Aku memang tau namanya, tapi Wajahnya, seperti apa, aku tidak tau," kata Burcu di dalam hati. Duduk sambil melihat ke atas langit-langit kamar.
"Bagaimana? Apa kamu sudah tau?" tanya Emin. Berdiri dan menatap Burcu.
"Sudah," jawab Burcu singkat menoleh ke arah Emin yang berdiri ingin menjelaskan kembali.
"Bisa saya tinggalkan sekarang. Saya ingin istirahat," kata Burcu yang sudah lelah mendengarkan ocehan Emin.
"Huh!" Yilzid melemparkan tubuhnya di atas kasur menghela napas panjang. Berbaring dengan posisi setengah tubuh di atas tempat tidur dan kedua kaki yang terjurai ke lantai. "Mas Ilker sudah berubah," gumamnya berputus asa. Mengambil ponsel yang dia lemparkan tadi di atas tempat tidur. Menekan tombol on dan menggeser layar ke atas melihat kontak telepon sang kekasih. "Semakin lama aku semakin merasa, seperti orang asing." Melihat layar ponsel.
"Non, apa Nona sudah makan?" tanya Emin dari balik pintu sambil mengetuk pelan.
Seperti biasa dari kecil Yilzid memang terlalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi, itu hanya sementara. Setelah kepergian sang ibu dia tidak lagi mendapatkan kasih dan tempat untuk bermanja. Hanya sosok seorang ayah lah yang menjadi pengganti kasih sayang sang ibu.
"Non, kalau Nona memakai baju itu. Nanti kulit, Non alergi." Emin membuka lemari dan mengambil baju rumahan.
"Bi, aku sudah besar. Jadi, gak usah khawatir," kata Yilzid. Duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang malas.
"Nanti, kalau sampai, Tuan tau, Non. Bibi yang kena marah," kata Emin meletakkan pakaian ganti di atas tempat tidur.
Kring ! Kring ! Kring !
__ADS_1
Suara ponsel tiba-tiba bergetar mengagetkan Yilzid. "Bi, ponselku di mana?" tanya Yilzid mencari sampai membolak balik badcover. "Oh, ini." Melihat layar ponsel yang sudah keburu mati. "Papa," gumamnya menatap ponsel gemetar. Seluruh tubuhnya langsung lemas. Memencet nomor sang papa yang sangat dirindukannya.
"Pa. Papa masih lama di sana?" tanya Yilzid dari telepon. Memutar badan sambil melambaikan tangan sebagai memberi isyarat menyuruh Emin keluar.
"Kenapa nanya, Papa? Kamu rindu, Papa?" tanya sang ayah yang sudah tidak pernah melihat putrinya lagi.
"Anak mana yang gak rindu sama orang tuanya." Duduk di tempat tidur sambil melihat kuku yang dia mainkan. "Pa, Papa masih lama 'kan di sana?" tanya Yilzid.
"Tidak. Papa ada rencana besok akan balik ke Indonesia," jawab sang lelaki yang ditakuti Yilzid dari balik telepon.
Spontan dia langsung berdiri. "Papa besok akan pulang?" tanyanya panik sambil berjalan ke sana ke mari dengan gusar mencari cara agar dia bisa menggagalkan niat sang lelaki yang sudah lama tidak pernah dia jumpai setelah kematian tuan Ajnur Barlian Carya. Selama itulah dia menghilang dari kehidupan anak perempuannya yang baru saja terpukul akan kepergian sang ibu.
Bagi Yilzid dia sangat beruntung kala itu. Dia memang bernasib baik bisa bertemu dengan Ilker Can Carya di dalam sebuah pekerjaan yang sama mereka jalankan. Itulah awal mula Yilzid berteman dengan Ilker dan sampai berlanjut selama lima tahun yang sudah menjadi sepasang kekasih.
"Papa engga bercanda, 'kan?" tanya Yilzid sedikit terkejut. Berdiri di depan jendela dengan gusar. Entah kenapa saat itu dia mencemaskan Ilker Can Carya yang menjadi sosok orang yang paling menyayanginya selama kepergian ibu dan ayahnya.
"Pap, emang Papa pekerjaannya di sana sudah selesai?" tanya Yilzid yang belum menginginkan kehadiran lelaki yang lebih berhak atas dirinya dari pada Ilker.
"Sudah sayang. Pekerjaan Papa sudah lama selesai," ucap Gohan Hakan dari balik telepon yang masih terhubung dengan putri kesayangannya.
Panik bercampur cemas Yilzid langsung menutup telepon begitu saja. Yang membuat tuan Gohan Hakan tampak ingin marah karena putrinya sudah lancang mematikan obrolan yang belum selesai.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...