Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Menahan rasa yang menganak di dalam hati


__ADS_3

"Dan bilang juga sama, Benar. Kalau menyusun ruangan kerja harus rapi. Gak boleh sembarangan letak," titah Ilker yang kesulitan mencari barang-barangnya.


"Iya, Tuan," jawab Altan lega mengurut dada melihat tuannya pergi meninggalkannya. "Huuu!" Menghembuskan napas panjang. "Syukurlah. Aku pikir aku akan seharian di tindak di sini." Memutar badan melihat jenjang kaki tuannya yang melangkah lebar.


"Emang enak. Baru tau, 'kan di marahi. Lain kalai kalau mau libur pikir-pikir dulu," ledek Benar, sok tahu. Senang karena tanpa sengaja dendamnya terbalaskan.


"Jangan senang dulu! Tuan muda memberiku perintah untuk menegurmu." Altan langsung melangkah keluar meninggalkan Benar.


"Alah. Kamu itu palingan bohong. Kau, 'kan selalu kayak gitu,cih," balas Benar yang sudah lama satu kerjaan dengan pak Altan.


"Hahaha! Bohong apanya? Mana mungkin aku bohong bawa-bawa Tuan muda. Kalau Tuan mudanya, seperti dulu gak apa-apa," sahut Altan enteng berdiri di pintu, berbalik ke belakang.


Benar berputar dan melanjutkan tugas membersihkan ruang tamu yang luas seorang diri. Ruang tamu itu memang, Benar yang membersihkannya. Tapi bukan setiap hari karena ruang tamu yang besar itu tidak pernah di duduki oleh siapa pun kecuali tamu-tamu terhormat.


Ilker yang telah beranjak dari dapur, menaiki anak tangga yang melelahkan jika ingin dilalui berulang kali. Menatap ke bawah melihat anak tangga yang sedang diinjaknya sambil memikirkan pesan karyawan yang masuk ke dalam ponsel dan sampai saat ini belum dibalas. "Aku tidak bisa membuatnya bekerja di stasiun TV itu," kata Ilker terus menaiki anak tangga. Menaikkan kepala melihat lurus ke depan tepat ke arah pintu kamar yang berbunyi.


Dia sedikit terkejut melihat Dhyia yang keluar dengan baju yang menarik perhatiannya. Pakaian tertutup yang elegan berwarna hijau emerald menutupi tubuhnya yang berkulit putih. Gugup dan gemetar yang dia rasakan ketika kakinya melangkah. "Entah kenapa aku merasakan yang aneh?" tanya Ilker yang heran dan menatap Dhyia dengan dalam tanpa dia sadari.


"Mas," kata Dhyia pelan dengan senyum manis. Jelas ini sangat membuat Ilker gugup. Seketika jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya gemetar dan jemarinya seakan tidak bisa dia gerakkan. Diam, seperti patung itulah yang bisa di sebutkan untuk nya.


"Mas, kamu belum pergi?" tanya Dhyia terkejut melihat sang suami berdiri di belakang, di ikuti tangan sebelah kanannya menutup pintu.


Menahan tubuh yang tiba-tiba tidak fit dan selama ini terasa lemas serta kunang-kunang. "Mas, kamu mau aku siapin?" tanya Dhyia menawarkan diri sekaligus menuruni anak tangga. Bergegas ingin menghampiri Ilker dan ingin mendengar jawaban dari sang suami.


Namun, sayang Ilker hanya menatapnya dingin dan berusaha dengan kuat menahan perasaan yang dirasakannya.


"Mas, biarkan aku kali ini menyiapkan pakaianmu," pinta Dhyia mengiba. Melihat wajah suaminya dengan tegar.


"Aku bisa sendiri," balas Ilker langsung melihat lurus ke depan dengan cuek.

__ADS_1


Hati Dhyia kembali menangis dan merasa, seperti dirajam. Berhenti di tengah anak tangga yang masih jauh ke bawah. "Aku selalu berharap yang tidak akan bisa kumiliki," rintihnya di dalam hati menangis. Di belakang Ilker yang terus menaiki anak tangga.


"Ma... ." Sontak Dhyia mengurungkan niatnya sebab kondisi tubuhnya semakin tidak bersahabat. "Kenapa semuanya berputar?" tanya Dhyia bingung sambil menjatuhkan tubuhnya duduk di anak tangga. Seolah dia melupakan penyakit yang dia idap sewaktu dia kecil ketika mengalami kecelakaan dengan sang ibu. Kecelakaan bus beberapa puluh tahun yang lalu yang membuat ibunya tiada. Kecelakaan tragis itu sudah membuat hidupnya berubah jauh dari impiannya.


Sang ibu pergi dan dia terpaksa harus tinggal di panti asuhan yang membesarkannya dan membawa dia sampai ke rumah Carya.


Semenjak itulah dia terkena penyakit yang namanya Vertigo akibat benturan keras yang mengenai kepala. "Tapi itu sudah lama tidak pernah kambuh lagi?" tanya Dhiya diam yang terus mencari penyebabnya.


"Nya, kenapa duduk di situ?" tanya Benar yang selalu merasa kasihan terhadap wanita yang menjadi majikannya sekarang. Berdiri sambil memegang piring dan kain lap.


"Bi, saya tidak apa-apa," jawab Dhyia dari atas tersenyum.


"Nya, kalau Nyonya sakit. Biar Altan aja yang menolong Nyonya untuk turun ke bawah," ucap Benar serius. Memutar badan menghilang.


Ilker yang sudah sampai di dalam kamar perlahan menyeret kaki dan ingin berkaca tanpa sengaja dia melihat nampan yang berisi makanan terletak di atas tolet. Begitu teriris sebenarnya perasaannya melihat nampan yang berisi hanya dengan seekor ikan goreng.


"Kenapa ini masih di sini?" tanya Ilker kesal di dalam hati melawan perasannya. Menepis nampan pelan ke pinggir.


Memutar badan mengambil handuk dengan kasar. Masuk ke dalam kamar mandi yang mewah milik pengusaha ternama dan sukses. Membuka baju dan celana yang dipakainya. Baju dan celana pun dia gantung di balik pintu. Lalu kemudian dia menghidupkan air untuk menenangkan pikirannya yang kacau.


"Nya, jangan turun dulu. Sebentar lagi, Pak Altan datang," kata Benar menemui Dhyia kembali yang masih duduk di atas tangga.


"Bi, tidak usah. Saya engga apa-apa, kok," sahut Dhyia keras dengan niat ingin menghentikan langkah Benar.


Lain halnya dengan Ilker yang sedang berada di dalam kamar mandi. Dia masih saja menyirami tubuhnya dengan shower yang mengalir dingin. Memijat kepalanya dengan shampo sekaligus menenangkan pikirannya yang banyak beban menumpuk.


"Bi, tidak usah! Sebentar lagi saya akan baik-baik saja," ucap Dhyia dengan nada suara datar.


"Nya, tangganya tinggi. Kalau Nyonya kenapa-kenapa, bagaimana?" tanya Benar mengingat tuan mudanya.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, Bi," jawab Dhyia yang terlanjur mengidap Vertigo.


Kamar mandi yang masih terdengar suara air. Kini sudah berhenti. Ilker yang harus cepat sampai ke kantor dalam urusan masalah model yang akan membintangi acara siaran TV miliknya bergegas mengambil handuk yang selalu di taruh Dhyia setiap pagi di balik pintu kamar mandi.


Keluar dan membuka lemari yang semakin berubah. "Apa-apaan ini!" katanya dongkol di dalam hati. "Baru saja Benar di kasih tau. Ini salah lagi!" umpatnya kesal. Membolak balik baju dengan kasar dan menariknya.


"Sial," bentaknya di dalam hati. Beranjak meninggalkan lemari dan melemparkan handuk dengan kasar sampai terjatuh ke lantai. "Bergegas memakai celana, baju serta jas yang membuat dia semakin terlihat tampan. Memutar badan ke belakang berdiri di depan cermin dan memakai dasi sambil menoleh sekilas ke nampan yang berisi makanan dan segelas air minum.


"Bi, tidak perlu khawatir," kata Benar kembali membuka suara.


"Tidak, apa-apa, Nya," sahut Benar menaikkan kepala dan mengilap meja serta mengingat nasi yang dia temukan tadi malam di atas meja.


"Apa, Nyonya tadi malam tidak makan?" tanya Benar menyelidiki. Menghentikan tangan di atas meja.


Dhyia sekan terjebak, dia diam menunduk. Sementara Ilker sudah siap dengan penampilannya dan mengambil kunci mobil.


"Tidak," jawab Dhyia berat, mengangguk.


"Ya, ampun, Nya," sahut Benar terkejut. "Kenapa Nyonya tidak makan?" tanya Benar. Tanpa melihat tuan mudanya keluar dari kamar.


"Saya ketiduran, Bi," jawab Dhyia jujur bercampur memendam yang lain. Duduk sambil menetralkan masalah yang menumpuk di kepala. Ilker yang berdiri tanpa sengaja mendengarnya.


"Mungkin gara-gara itu, Nyonya pusing. Apa nasi yang saya bawa semalam juga gak di makan?" tanya Benar lagi menurunkan nada suara rendah.


Dhyia menggeleng pelan. "Saya semalam puasa," balas Dhyia yang membuat Ilker terkejut menuruni anak tangga.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2