
Ilker semakin terdiam membisu tanpa memberi isyarat apa pun kepada Benar untuk tetap bertahan di situ atau turun ke bawah. Hatinya semakin risau dan gelisah melihat tuan mudanya membisu dan tidak tahu lagi ia sekarang harus berbuat apa sebab lelaki itu terlihat sangat kacau. "Tuan marah dong!" kata Benar memohon di dalam hati agar ia diusir dan bisa turun ke bawah.
Menatap punggung lelaki yang sudah membelakanginya dengan penuh harap kalau pria itu mendengar isi hatinya.
"Benar, cari semua mengenai Dhyia sekarang!" pinta Ilker, menatap lurus ke atas meja. "Secepatnya kamu harus mendapatkan berita mengenainya," lanjutnya.
Benar langsung sumringah menarik bibir bahagia kalau akhirnya do'anya terkabul dan si tuan muda mendengar apa yang diinginkannya di dalam hati. "Waaah! Ternyata kontak batin itu ada juga," katanya tersenyum bahagia di dalam hati. Menarik napas sambil menetralkan ketegangannya. Bergeser menggerakkan telapak kaki dan juga jemari kakinya hingga akhirnya, agak sedikit rileks.
"Kerahkan apa yang bisa kamu kerahkan. Buat apa yang bisa kamu perbuat!" titah Ilker melanjutkan langkahnya mengambil kertas yang ia lihat di atas meja tadi.
Dia seakan terlihat memaksa supaya bisa secepatnya bertemu dengan Dhyia, pikir Benar, mendengarkan dengan jelas. Baru kali ini ia ingin mencari tahu tentang Dhyia Kharya yang tidak pernah sebelumnya ia lakukan selama ini. Benar terus berpendapat sendiri mengenai tuannya itu.
"Tuan, maaf!" kata Benar. "apa yang harus saya selidiki dari Nyonya?" tanyanya bingung.
"Selidiki saja apa yang kamu ketahui," ucapnya dengan seenaknya menyuruh Benar berpikir keras. Menatap lekat potong kertas di genggamannya yang berisi sebuah tulisan. "Kamu tahu 'kan? Jika kamu tidak bisa menemukannya kamu akan terima akibatnya!" Memutar kepala ke samping seolah ia sedang melirik Benar yang masih berdiri di belakangnya. Di ikuti tangan kanan memegang kertas tersebut.
Ucapan itu langsung membuat bola mata Benar semakin lebar dan mendelik. Jemari tangannya seketika lemas kembali dan tubuhnya juga semakin lemas ingin terjerembab ke lantai. "Mencari Nyonya, Tuan?" Benar yang sudah shock sedari tadi kini mengulanginya bertanya balik dengan lesu seakan ia salah pendengaran. Menatap kembali lelaki yang bertubuh kekar dan berkulit sawo matang itu. "Kena masalah lagi, deh!" umpatnya kesal di dalam hati. Pasrah dan berserah diri.
"Sementara Nyonya hanya punya satu keluarga... ," katanya di dalam hati, berpikir menunduk melihat lantai. "... selain kerabatnya. Dia juga memiliki keluarga besar di panti asuhan," lanjutnya mengingat kembali ke belakang. Benar sekarang mulai mencari tahu yang sebenarnya. "... kalau seandainya Nyonya ada tempat tinggal selain di rumah kerabatnya, yaitu panti asuhan. Ya, panti asuhan," batinnya dengan kuat. Menaikkan kepala. "Baik Tuan! Saya akan berusaha mencari keberadaan Nyonya," katanya dengan rasa takut dan penuh hati-hati.
"Hm!" balas Ilker mendehem dengan isyarat menyuruh Benar pergi.
"Permisi, Tuan," sahut Benar langsung dari belakang sebab ia sudah mengetahui maksud dari deheman itu.
Di luar rumah tepatnya di lapangan pemanah di dalam sebuah gazebo yang berada di dekat kolam ikan yang cantik-cantik yang tidak lain adalah ikan koi yang beraneka ragam dan warna, seorang wanita masih tampak sibuk dengan ponselnya membalas semua pesan masuk dan terkadang menelepon dengan serius.Dia belum juga beranjak memenuhi panggilan kakak lelakinya yang di sampaikan melalui pak Altan.
Di dalam sebuah kamar yang luas, Ilker sontak terkejut dan kedua bola matanya kini menatap lembaran memo yang ia baca. "Dia sudah pasti menemukan itu?!" ucapnya penuh sesal, menatap ke lantai ke arah remukan tiket pesawat.
Perlahan di tengah-tengah kesibukannya, Rana tiba-tiba teringat tentang pesan pak Altan tadi kepada dirinya. "Oh, no! Tidak! Aku sudah melupakannya," katanya panik setelah ia teringat akan sang kakak yang sudah menunggu di meja makan. Tergesa-gesa menyusun dan menyimpan busur panah dan anak panah itu juga. Berjalan kencang meninggalkan makanan yang belum di sentuhnya dan minuman yang sudah di habiskan oleh sang kakak di atas meja.
"Aku harus cepat-cepat sampai dan meminta maaf kepada kakak sebelum dia memarahiku dan memotong semua uang bulananku," gumamnya dengan langkah kaki yang panjang melewati ruas jalan memasuki pintu dapur yang terbuat dari kaca yang berada di sebelah taman-taman bunga dan air terjun buatan yang terbuat dari batu alam. "Kakak mana, sih?" tanyanya pelan setelah ia masuk. Ternyata ruangan dapur sangat sepi. Berdiri melihat ke arah meja makan yang masih kosong.
"Kakak di mana lagi? Kenapa belum turun?" batin Rana menaikkan kepala melihat ke atas.
" Apa dia ketiduran? Itu sudah pasti ?! Dia memang selalu seperti itu. Sering ketiduran. Itu akibat dia terlalu memikirkan pacarnya," gerutunya menarik kursi sebal. Melirik ke arah pintu. Berteriak memanggil pak Altan yang tiba-tiba melewati pintu. "Pak!" Panggil Rana dengan keras ketika ia melihat lelaki separuh baya itu. Sontak pak Altan menghentikan langkahnya dan memutar badan menoleh ke arah majikan mudanya."Tolong naik ke atas. Temui Kakak! Bilang padanya, kalau aku sudah lama menunggu dan sudah lapar," kata Rana, menaikkan kepala tegak sambil meletakkan kedua sikunya tegak di atas meja dengan gurat wajah resah.
__ADS_1
"Baik Non," katanya, memutar badan mengurungkan niatnya ingin mengambil gunting bunga yang di simpan di dalam gudang tepat bersebelahan dengan dapur. Asisten yang masih sabar menghadapi majikannya yang satu ini segera naik kembali ke atas. Ngomel-ngomel di dalam hati ketika ia melihat tangga yang menjulang tinggi ke atas. "Kenapa yang kubenci selalu saja kulewati?" Menaikkan kaki kanannya dengan berat dan melihat anak tangga.
Tok! Tok! Tok!
Pak Altan kembali mengetuk pintu kamar yang masih terbuka. Berdiri dengan pakaian kaos putih dan celana tanggung berbahan katun biasa yang berwarna abu-abu rokok.
Ilker sontak terkejut dan memutar badannya dan langsung di ikuti tangan sebelah kanan meletakkan kembali memo di atas meja. Diam memutar badan melirik ke arah tukang kebun dengan posisi tubuh miring sedikit membungkuk, menatap pak Altan.
"Tuan! Nona Rana sudah menunggu di bawah," kata pak Altan dengan pelan.
"Suruh dia menunggu sebentar," sambung Ilker dengan acuh, membalikkan badan membelakangi pak Altan, melihat kembali ke atas meja.
"Baik, Tuan," balas pak Altan langsung meninggalkan pria itu sendiri.
Ilker yang masih terheran dengan kepergian sang istri ke rumah kerabatnya yang sama sekali tidak memberitahunya semakin menambah masalah menjadi runyam. Menghembuskan napas dan langsung keluar menemui sang adik perempuannya di meja makan.
Sementara Dhyia menimbang-nimbang permintaan sang bibi yang tidak masuk akal. Dia pun menatap nanar ke depan membolak-balik pikirannya yang masih bimbang.
"Uang sebanyak itu untuk apa kamu menyimpannya lama-lama di dalam dompet," ucap Ogze. Memutar kepala ke samping kanan, menatap ke arah keponakan yang melongo. Diam memutar kembali kepala. "Lagian 'kan ulang tahun suamimu masih lama, iya 'kan?" tanyanya dengan penuh penekanan melihat ke arah tv yang off.
"I-iya Bi," jawab Dhyia sedikit lama dan terbata.
Dhyia menarik kedua bibirnya dengan berat. "Tidak apa-apa, Bi. Yang penting nanti Bibi bayar," katanya dengan polos.
"Terima kasih, Dhyia. Kamu memang Anak yang baik," balasnya langsung memuji.
Dhyia pun hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu. Deg-degan bercampur khawatir sebenarnya ada di dalam hatinya.
"Emang Bibi butuhnya kapan? Dan butuh berapa?" Dhyia kembali bertanya setelah keduanya saling diam.
"Ooh! Hehehe! Iya, Bibi butuhnya sekarang," jawab Ogze langsung tertawa kecil.
"Baik, Bi. Aku akan mengambilnya sebentar." Dhyia pun bangun dan mengambil dompet di dalam tas. "Ini, Bi," katanya menyerahkan uang.
Ogze jelas sangat senang. Dia langsung mengambil uang yang mengayun di udara itu. "Terima kasih, ya," ucapnya tersenyum licik, membuang tatapan dari sang keponakan seketika. Menghitung uang dengan gurat wajah sedikit acuh. "Tapi rasanya Bibi tidak adil kalau meminjam semua uang mu," kata Ogze sedikit merasa kasihan. "Ini uangmu. Bibi cuma minjam Rp 400.000 saja," katanya berlagak sok baik. Menyerahkan sisanya kepada Dhyia.
__ADS_1
Dhyia pun langsung mengambil uang tersebut tersenyum bahagia sebab Ogze tidak jadi, meminjam semuanya. "Alhamdulillah," ucapnya di dalam hati bersyukur. "Terima kasih, Bi," katanya dengan penuh haru. Memasukkan uang kembali ke dalam dompet kain yang berwarna hijau.
"Mmm! Oh, iya! Kamu tidur di kamar sini saja," lanjut Ogze mendadak bangun dari duduknya menunjuk ke arah dinding sebelah kanan yang bersebelahan dengan dinding tempat mereka duduk. "Ayo! Lekas ke mari!" Dengan nada suara lemah lembut ia pun mengayunkan tangan ke udara sebagai isyarat mengajak Dhyia untuk mengikutinya.
"Baik, Bi." Dhyia pun beranjak dari duduknya dan mengikuti Ogze dari belakang.
"Nah! Ini kamarnya," katanya dengan berbangga hati, menunjukkan kamar yang seperti gudang dan banyak tikus dan juga gelap karena lampu kamar tersebut belum di hidupkan.
Dhyia pun tercengang melihatnya dari belakang sang bibi. Memutar kedua bola mata dengan lincah melihat seisi ruangan yang sangat berantakan dan pengap. "Ruangan ini?" katanya seolah bertanya kepada dirinya sendiri sambil menatap terheran mulai dari langit-langit kamar, lantai dan dinding yang sudah agak lapuk.
"Ini lah kamarmu! Di sini lah kamu tidur. Mulai hari ini ka... ." Ogze pun menutup mulutnya langsung setelah Dhyia memotong pembicaraannya.
"Iya, Bi. Engga apa-apa. Biar aku bersihkan sekarang," katanya langsung memutar badan keluar mengambil sapu dan kain pel.
Dhyia pun mulai membersihkan kamar sebelum ia menyusun piring dan gelas bekas sang Bibi.
"Kalau begitu Bibi pergi dulu. Bibi masih ada urusan," katanya sambil memasukkan uang ke dalam saku baju dasternya.
"Emang, Bibi mau pergi ke mana?" tanya Dhyia, meletakkan ember dan kain pel. Di ikuti tangan sebelah kiri memegang sapu. Berdiri menatap ke arah wajah wanita setengah tua itu.
"Oh, itu! Bibi mau bayar tagihan bank. Bibi kemaren ada ngambil uang KUR di bank," tuturnya berterus terang. "Jadi, hari ini Bibi mau membayarnya," ucapnya.
Dhyia yang menghidupkan lampu kamar. "Lo, emang jam segini bank masih buka, Bi?" Dia langsung bertanya terheran.
Ogze yang sedang mengambil jilbabnya." 'Kan ada ketuanya. Jadi, kami menyetorkannya melalui ketua. Biar nanti ketuanya yang membayarkannya ke bank," ungkapnya mengambil kunci.
"Mmm!" Dhyia pun mengangguk pelan seolah ia mengerti. Menyusun tumpukan plastik yang berisi pakaian serta memukul-mukul kardus bekas yang berisi pakaian dengan tiang sapu untuk mengusir tikus kalau ada.
"Kalau begitu Bibi pergi dulu, ya!" pamit Ogze membuka pintu dengan lebar kemudian mengeluarkan sepeda motor.
"Iya, Bi. Hati-hati, Bi!" ucap Dhyia berteriak dari dalam kamar. Menyapu ruangan kamar dan menyusun buku-buku yang berserakan di lantai. Membersihkan sarang laba-laba yang banyak terlihat di atas langit-langit kamar dan di setiap sudut dinding kamar dan jendela.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...