Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Memutuskan pergi


__ADS_3

Inikan... ." Ilker terdiam mengingat-ingat. "Aku tidak asing dengan wajah ini... sepertinya aku pernah melihatnya." Menyandarkan tubuhnya merapat ke sandaran kursi di ikuti dengan pandangan lurus sambil berpikir. "Yilzid." Mendadak dia terucap nama sang kekasih. Menatap nanar dengan gurat wajah berpikir, apakah itu benar atau tidak. Sontak dia langsung terperanjat melepaskan sandarannya. Menghembuskan napas depresi ketika rumah sang kekasih hati terlintas setelah lama dia memikirkannya.


Deg!


"Tidak! Ini tidak mungkin... !" katanya, menolak kebenaran yang terlintas. Jantungnya terhenti seketika dan terhempas, tertunduk lesu. Tidak sanggup menerima kenyataan kalau ternyata orang yang menghalangi kesuksesannya tidak lain adalah orang tua dari wanita yang sangat di cintainya. Shock bercampur histeris ketika dia mengetahuinya.


📱Mengambil ponsel lalu menyuruh Alen segera datang menemuinya di ruangan. "Alen, temui saya sekarang juga!" katanya dengan nada suara kurang menyenangkan.


Alen juga menjadi tidak enak sekaligus takut. Menutup ponsel tanpa menjawab perintah dari si bos. Berangkat meninggalkan lokasi menunda selidikan berikutnya. Menaiki sepeda motor keluar dari kantor media. Selain berprofesi sebagai crew dia juga pernah menjadi seorang wartawan sehingga dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun, melainkan dia harus lebih berhati-hati dari setiap orang yang dia temui di mana pun.


Menyamar menjadi seorang mata-mata masuk ke dalam dunia mafia bukanlah hal yang mudah, ini justru sangat menguji nyali, juga mengasah kemampuan untuk berpikir, mencari informasi dan melindungi diri dari serangan yang tiba-tiba muncul dari arah yang tidak di ketahui itu sangat membahayakan bagi seorang perempuan.


"Penyelidikan 'ku harus terhenti sekarang, huh!" katanya mendengus sambil memakai helm. Memasukkan kunci motor dan membawanya keluar dari tempat parkiran.


Benar yang lagi sibuk menyeret kursi dan meja untuk membersihkan kolong, mendadak berhenti ketika melihat bayangan menghampirinya, membalik ke belakang.


"Bi, hari ini saya ingin pulang ke rumah kerabat saya," ucap Dhyia, melihat ke ujung kaki.


Benar begitu terkejut. "Apa, Nya? Pulang kampung?" Menghentikan sapuannya. "Kenapa tiba-tiba mendadak, Nya?" tanya asisten dengan gurat wajah terheran. Memegang sapu.

__ADS_1


"Kebetulan hari ini di sana ada acara syukuran. Jadi, mereka ingin saya ada di sana. Mereka juga memberitahunya sedikit mendadak." Dhyia langsung membalasnya, menatap gurat wajah asisten tersebut. "Lagi pula, Bi... semenjak saya bekerja di sini, saya belum pernah pulang ke sana sampai hari ini." Dengan lemah lembut dia memberi pengertian kepada sang asisten agar tidak mencurigai sesuatu dari nya.


"Tapi, Nya! Tuan tidak ada. Dan Nyonya juga belum sarapan," ucap Benar kebingungan.


"Engga perlu, Bi. Saya lagi puasa," lanjut Dhyia. Berdiri menyembunyikan yang telah terjadi di hadapan asisten yang seolah ingin mengkulik informasi yang tidak dia ketahui. "Oh, iya, Bi. Pakaian Mas Ilker sudah saya taruh di dalam mesin cuci," tuturnya menarik senyuman menutupi kesedihan.


Berjalan meninggalkan asisten perempuan itu. Di balik kaca lemari hias, Dhyia sekilas menoleh melihat wajahnya yang berbalut kepiluan. Melangkah terus, menaiki anak tangga dengan air mata yang menganak di pelupuk mata. "Tidak kusangka akan terjadi seperti ini. Sudah cukup lama aku memendamnya sendiri di dalam hati. Namun, akhirnya, inilah jalan yang harus aku pilih. Pergi dan meninggalkan semua. Mungkin terasa sulit jika dalam kondisi hati yang membaik. Namun, lebih mudah jika semua terjadi seperti ini," batinnya menangis.


Jalan berliku yang membentang luas di hadapannya seolah menyebarang dengan satu kayu dipaksa untuk menyeimbangkan badan agar tidak terjun bebas ke dalam jurang.


Dia pun mengambil sebuah buku yang agak memudar dan mulai usang. "Buku ini akan menjadi temanku. Di setiap jalan yang melintang di depan. Ia tidak akan meninggalkanku. Ia akan ada selalu untuk 'ku, menolongku dan menjadi penyejuk jiwa. Mengambil buku desainer dan mushaf Al-Qur'an yang selama ini sudah menenteramkan hati yang bersedih.


Di lantai tiga Cecar dan Derya sangat sibuk menyusun naskah demi program acara yang akan membangkitkan kembali pamor stasiun tv yang sekarang sudah mulai ikut juga merosot hampir sama dengan stasiun tv IC2. Bukan cuma Cecar dan Derya saja.


Sekelompok orang juga ikut andil, turun tangan dalam menangani proyek tersebut. Seluruh crew yang terlibat begitu antusias membantu penanganan acara yang akan segera di tayangkan.


Semua sudah tersusun rapi di dalam kamar. Tas yang dulu dibawa oleh nya pertama kali datang ke rumah Carya sudah teronggok di atas tempat tidur. Seluruh pakaian miliknya dari dalam lemari sudah ditaruhnya di atas tempat tidur juga. Mengambil beberapa baju pribadi miliknya dan meninggalkan baju yang berasal dari pemberian keluarga Carya termasuk juga cincin pernikahan. Dia sama sekali tidak mau mengambilnya. Dia hanya mengambil ponsel yang dia simpan didalam laci tepat di dekat cincin mewah pemberian Ilker dulu di saat pernikahan.


Sesaat dia menatap ke arah cincin dengan lekat seakan cincin tersebut telah memberinya sebuah kenangan. Entah itu kenangan manis atau kenangan pahit. Wanita itu menutup kembali laci dengan rapat. Beranjak mengambil pena yang terletak di meja sudut tepat di sebelah hear board sambil menyobek selembar kertas kecil dari dalam diary miliknya. Dia pun kembali menulis sebuah memo.

__ADS_1


Mas, Aku tau aku bukan lah siapa-siapa. Aku hanya seorang gadis yang malang yang mendapatkan sedikit kebahagiaan dari belas kasihan. Tidak mudah bagi 'ku untuk menerima semua perubahan sikap yang menyakitkan.


...****************...


"Kalau sampai Nyonya pergi dan tidak permisi sama Tuan. Apa yang akan kami katakan nanti kepada Tuan? Belum lagi kalau Tuan bertanya, "Kenapa Dhyia bisa pergi?" Mempraktikkan gaya sang tuan muda yang lembut tapi sok kasar di ikuti gurat wajah pias. "Ya, Tuhan! Aku harus jawab apa?" tanyanya berputus asa. "Tidak mudah mengahadapi Tuan muda. Dia pasti akan marah besar dan kami lah yang akan menjadi sasarannya?!" rintihan terus saja menyerang batinnya dan mengacaukan pikirannya semakin kusut.


Berlari keluar mencari nona Rana, mungkin dia akan mendapatkan solusi jika membicarakannya dengan majikannya yang satu itu. "Tadi, sepertinya Nona," Bertanya sendiri dengan keraguan seakan dia tadi mencium bau parfum. Mengingat-ingat siapa yang turun. Berdiri di depan pintu tepat mengarah ke lapangan hijau tempat pemanah berlatih dan bermain. "Tidak ada. Aku tidak menemukan siapa pun," gumamnya melihat-lihat lapangan mencari seseorang yang ingin dia temui.


"Sudah seharusnya aku menyadari kalau mimpi hanya lah mimpi... dan mimpi tidak akan pernah menjadi kenyataan," katanya pahit di dalam hati. Membawa tas yang sudah berisi pakaian lama. Membawa ponsel kepunyaannya yang sangat sederhana dan ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan ponsel keseluruhan anak zaman sekarang.


Membuka pintu kamar dan menoleh kembali ke belakang melihat seluruh sudut ruangan kamar yang selama ini menjadi tempat huniannya di malam hari, sekilas juga dia melihat ke arah sofa yang berwarna gold sebelum dia meninggalkannya.


Menutup pintu kamar dengan tangan kanan sedangkan tangan sebelah kiri memegang tas. Melangkahkan kaki kepiluan menuruni tangga yang bertepatan tangga bagian sebelah kanan yang terhubung langsung dengan ruang tamu yang megah. Berdiri tegak lurus dengan tangan sebelah kiri memegang tas. "Tante, mungkin Tante bisa tersenyum di sana. Setelah kemauan Tante terpenuhi. Mungkin Tante di sana sudah merasa lega karena sudah menyerahkan putra Tante dengan penuh cinta dan kasih sayang kepada 'ku. Tapi tidak dengan aku Tan," ungkapnya dengan kedua bola mata berkaca-kaca. Selama ini Tante menaruh harapan besar kepada 'ku dan juga sudah menyayangiku dengan demikian aku merasa tidak enak hati kepada Tante sebab aku sekarang sedikit merasa berputus asa menjalani semua, tanpa ada sedikit pun sikap saling menghargai di antara kami. Aku sudah berusaha sebisa mungkin mencoba bertahan. Namun, aku minta maaf Tante... kalau hari ini aku menyerah," ucap Dhyia menatap sebuah lampu yang berbentuk sepasang kekasih seorang pria dan wanita. "Maafkan aku Tante," ucapnya lirih menatap lampu yang mewah yang di dalamnya berbentuk seorang wanita.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2