Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Mendadak menerima perhatian


__ADS_3

Ilker pun telah memakan makanan itu hingga habis. Makanan yang dibawakan oleh sang istri tadi ke hadapannya. Kali ini, entah kenapa? Dia tidak ingin membuat wanita itu terlihat bersedih dan kecewa dengan tergopoh-gopoh dia pun menyuapkan ke dalam mulutnya lalu meminum obat yang terletak di atas meja. Mengambil air minum dan meneguknya hingga habis.


Sembari di ikuti oleh kedua bola mata melihat ponsel yang sama sekali tidak berbunyi. Sesal bercampur kesal teringat masalah yang terjadi dengan perusahaannya.


Dia pun kemudian melanjutkan membuka ponsel dan kembali melihat kontak sang kekasih yang tidak memberi kabar sama sekali.


"Iya," sahut Yilzid dengan suara dingin dari balik pesan yang masuk ke ponselnya dengan caption maaf.


"Besok kita akan pergi berlibur! Bagaimana sayang? Kamu mau?" tanya Ilker dari dalam pesan.


"Oke!" jawabnya singkat yang membuat pria itu menghentikan balasannya untuk wanitanya itu.


Meletakkan kembali ponsel di atas meja lalu masuk ke dalam kamar mandi, menenangkan pikiran dengan shower yang mengalir membasahi seluruh tubuh. Membuang semua penat yang menganak di dalam kepala.


Kini di dapur, Dhyia masih duduk di kursi meja makan dengan menu hidangan yang di siapkan oleh Benar dan tidak ketinggalan juga dengan pak Altan yang sibuk mencari obat untuk sang nyonya.


"Jangan terlalu dipikirin, Nya! Yang namanya manusia! Pasti punya masalah?! Masalah yang berbeda-beda," katanya melirik sang nyonya. "Kalau masalah datang, memang begitu selalu beruntun. Ia gak pernah mau datang satu-satu," keluh Altan sambil membuka kotak P3K yang tergantung di sebelah counter table.


"Saya tidak apa-apa! Ini sudah sering terjadi kok, Bi," katanya. Melihat Bi Benar yang sibuk menyiapkan makanan untuk dirinya.


Benar dan pak Altan pun saling bertemu pandang seolah keduanya saling mengatakan kalau nyonya Dhyia tidak boleh sakit dan tidak boleh sampai ketahuan oleh tuan. Mereka pun berpaling dari pandangan mereka masing-masing sambil menelan ludah cemas.


"Biasa seperti, apa?" tanya Benar yang meletakkan piring yang sudah berisi makanan tepat di depan Dhyia di atas meja. "Kalau kondisi Nyonya, seperti ini. Ini namanya bukan biasa. Mana ada orang yang lagi pusing itu biasa-biasa aja," celetuk Benar sedikit bawel.


"Nya! Kalau ada masalah! Jangan terlalu di pikirin! Saya gak pernah tuh! Terlalu memikirkannya sebab kalau terlalu dipikirkan akan berdampak buruk bagi kesehatan kita," lanjut pak Altan menyerahkan obat yang dia temukan.


Dhyia pun terdiam sambil menyuapkan makanan sedikit demi sedikit ke dalam mulut. Mendengarkan celotehan mereka yang tiada henti dan mungkin akan baru berhenti ketika makan ini habis, pikirnya melihat mereka berdua yang seolah saling tuding mengenai kondisinya saat ini.


"Bi, makanannya sudah habis," katanya dengan senang, bersyukur di dalam hati karena dia masih di berikan Sang Khaliq rezeki.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Nya! Bibi jadi, senang."


"Nah! Gitu dong Nya. " 'Kan enak dilihat," kata pak Altan mengelus dada. "Selamat!" katanya di dalam hati dari kemungkinan serangan yang datang dengan tiba-tiba dari lelaki yang mereka panggil dengan sebutan 'Tuan Muda'. Benar pun mengelus dada juga, seperti yang dilakukan oleh pak Altan.


Dhyia langsung tersenyum puas karena telah berhasil membuat kedua asistennya bahagia.


"Alhamdulillah, Bi," hari ini makanannya habis semua," katanya lega.


" Kalau kayak gini, 'kan! Bibi jadi, senang," ucapnya, melirik pak Altan. "Iya, 'kan, Pak! Kalau kayak gini, 'kan jadi, senang tiap hari masak." Menatap sang majikan.


Dhyia spontan tersenyum malu-malu. "Bibi bisa aja!" katanya. Menunduk karena sang bibi terus saja menggodanya sedangkan pak Altan hanya cengar cengir melihatnya. Beranjak keluar sambil membawa makanan pak Balin dan Edis yang malas untuk masuk ke dalam buat makan.


Malam pun larut hampir hening sudah. Namun, gelak tawa mereka masih mengisi kekosongan mereka.


"Bi, kalau Bibi panjang rambut! Pasti bibi terlihat lebih muda?!" ledek Dhyia yang dulu sering bercanda di sela-sela senggang.


"Nyonya, bisa aja!" sentil Benar tersipu malu kepada wanita yang sedari dulu dia anggap, seperti anaknya sendiri hingga detik ini, rasa sayangnya tidak pernah berubah.


Tubuhnya yang sakit langsung fit . Wajahnya yang pucat dan lesu itu langsung sumringah. Dia pun kemudian bangun dan berjalan menghampiri lemari. Di saat tangannya membuka lemari dan langsung melihat pakaian yang tersusun dan telah berubah bentuk.


"Altan! Altan! Altan!" panggilnya berteriak sampai tiga kali. Mencari kembali bajunya. "Altan!" teriaknya emosi sebab dia sudah menunggu lama. Namun, orang yang dia panggil belum juga menemuinya.


"Mas Ilker," katanya, menoleh ke arah ruang tamu. Bergegas lari melepaskan gelasnya langsung.


"Nya! Yang di panggil, pak Altan." Benar langsung berteriak dengan terpaksa. Merasa tidak enak hati mengatakan itu kepada Dhyia.


Sontak Dhyia menghentikan langkahnya. Dia kembali sadar sebesar apa pun dia memantaskan diri tidak akan pernah di anggap sama sekali.


"Baik, Bi!" katanya langsung mengurungkan niatnya sambil melirik ke atas tepat ke pintu kamar.

__ADS_1


"Nya! Tunggu di sini saja!" pinta Benar melihat Dhyia merasa sedih.


Benar pun langsung pergi mencari pak Altan, tidak berapa lama Dhyia menunggu dia pun nongol bersama pak Altan. Pak Altan kembali meringis di dalam hati melihat tangga yang ingin dia naiki. Melangkah kencang menaiki tangga yang dilihatin oleh Dhyia dan Benar .


Kasihan pak Altan, pikir Dhyia menatap terus sampai menghilang ke balik pintu.


"Pasti, Mas Ilker memarahinya lagi?!" katanya dengan kedua sorot mata menatap pintu yang tertutup.


"Kamu itu tuli atau gak, sih? Ha?" Bertanya kepada pak Altan yang gugup. "Apa kamu lupa? Saya menyuruh kamu, apa?" Menatap pak Altan dengan pintu lemari terbuka dan pakaian yang telah berantakan.


Sepatah kata pun tidak terdengar dari pak Altan. Dia hanya diam meremas jemarinya di dalam hati. Melihat jenjang kaki tuan mudanya yang panjang.


"Baru satu minggu! Kamu sudah lupa!" katanya menganga seolah dia tidak percaya, apa yang dilihatnya belakangan ini.


"Maaf, Tuan."


"Benar ! Benar ! Benar," teriaknya menggema di dalam ruangan.


Benar pun berlari meninggalkan tempat tadi yang di mana, dia berdiri melihat pak Altan. Menaiki tangga yang besar. "Bisa-bisa! Aku kena encok," katanya mengeluh menaiki tangga dengan langkah jenjang kaki yang sedikit panjang.


'Iya, Tuan! Ada apa?" tanyanya cemas, menelan ludah. Meremas kedua jemari yang di silangkannya ke depan. Melirik pak Altan yang berkali-kali menghembuskan napas.


" Siapa yang menyusun pakaian ini?" tanyanya, menunjuk ke dalam lemari.


"Aku Mas," jawab Dhyia langsung nongol di tengah-tengah para asisten rumah tangga dengan niat ingin meringankan beban pak Altan dan Benar . "Aku lihat pakaian kamu berantakan, Mas! Jadi, aku rapikan," balasnya lembut. Yang membuat hati pria itu tiba-tiba menoleh ke arahnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2