
Glek!
Ilker pun menelan ludah dengan kasar. Sekujur tubuhnya tiba-tiba gemetar. Wajah lembut wanita yang dinikahinya yang penuh dengan kasih sayang itu pun tiba-tiba menari-nari di hadapannya. "Cih, sial !" umpatnya di dalam hati.
"Kamu tau sayang. Hatiku hancur melihatmu, apalagi dia tinggal dalam satu rumah bersamamu. Aku sangat sedih ketika kau tidak lagi mau kupegang. Kau tau betapa perih hatiku, di saat kau mengucapkan 'istri' pada wanita itu tepat di hadapanku. Kau sudah jauh berubah. Kau tidak lagi pernah mau berlama-lama dengan ku. Kau selalu ingin aku, cepat -cepat pulang, iya 'kan?" tanya Yilzid, dengan sorot mata penuh keyakinan seolah dia menantang kekasihnya.
Deg!
Ilker semakin terdiam membeku, seperti es. Mulutnya tiba-tiba terkunci mendengar perkataan dari wanitanya yang seolah tersirat membenarkan itu. Kedua bola matanya tidak lagi bisa menatap lurus sorot mata Yilzid yang sudah terlalu frustrasi.
"Ternyata, hari ini apa yang kulakukan adalah salah," katanya bersedih, memutar badan membelakangi kekasihnya. "Aku sudah membuat diriku sendiri malu, huhuhu!" rintihnya menangis tersedu. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Ilker pun berjalan. "Ssttt!" bujuknya langsung memeluk wanita yang sangat dicintainya. "Engga ada yang perlu disesali." Mencium kening Yilzid yang paling dia sayangi dari samping sebelah kiri.
"Dengar, ya kamu jangan menangis lagi." Mendekap kekasihnya di dalam pelukannya. "Tidak ada yang lebih berharga bagiku selain melihatmu bahagia. Dudu, kau sudah banyak memberiku semangat. Tanpamu aku tidak mungkin bisa hidup sampai saat ini." Teringat kematian sang ibu.
"Kamu itu pasti bohong?! Entah kenapa aku tidak percaya lagi ucapanmu," kata Yilzid, memutar badan melihat wajah sang kekasihnya. "Dulu wajahmu selalu ada kebenaran. Tapi sekarang aku tidak melihat itu lagi," sesalnya. Sekarang lelaki yang ada di hadapanku bagaikan orang asing. Semua yang dikatakannya adalah omong kosong. Tidak ada satu pun yang bisa dijadikan sandaran untuk diriku." Menepis tangan Ilker yang ingin memeluknya. Meneteskan air mata kekecewaan. "Entah apa yang ada di pikiranmu sekarang, sayang sampai-sampai kau tega ingin menjauh dariku dan meninggalkanku." Menunduk melihat halaman yang terbuat dari semen bercampur batu alam.
"Sayang dengar... ." Ilker depresi melihat Yilzid yang sudah berubah.
__ADS_1
"Cukup!" teriaknya menepis tangan Ilker dengan kasar. "Aku tidak mau dengar apa pun lagi. Aku tidak mau!" pekiknya keras, memutar badan berlari meninggalkan kekasihnya.
"Dudu!" panggil Ilker dengan suara keras. "Aaaagh!" teriaknya kecewa memegang kepalanya kuat dengan kedua tangan memukul udara. Melihat Yilzid sudah pergi meninggalkannya.
"Non, Nona kenapa?" tanya asisten rumah tangga yang sedang mengelap kaca, memutar kepala melihat majikannya yang frustrasi. "Non, tidak ada yang menyakiti Nona, 'kan?" teriaknya bertanya, di ikuti kain lap menempel di kaca dan berhenti mengelap kaca. "Kenapa dengan Nona?" tanyanya terheran ketika melihat nonanya berlari. Memiringkan badan melihat ke belakang dengan tangan sebelah kanan masih menempel di kaca. " Heran, tapi tidak ada siapa-siapa?" Mengerutkan kening dan bercampur curiga. "Aku harus menyelidikinya." Menatap nanar lurus ke depan sambil mengelap kaca kembali dan melupakannya sejenak.
Jeglek !
Duaar!
Yilzid membuka kamar dan menutupnya dengan keras. "Kamu jahat sekarang! Huhuhu!" Menangis tersedu menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar dan perlahan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Duduk menekuk kedua lututnya. Menangis sambil mengepal kedua tangan dengan kuat dan meletakkannya di atas kedua lutut. Menatap lurus ke depan dengan kedua bola mata berkaca-kaca. "Aku pikir kamu bakalan senang. Tapi ternyata, kamu sangat membencinya. Bahkan kamu datang menemuiku tidak sedikit pun dengan wajah bahagia." Meremas rambutnya kuat dengan kedua tangannya. Air mata pun jatuh tak terbendung membasahi kedua pipi.
Kring ! Kring ! Kring !
Sontak Ilker terkejut setelah kakinya mendekati pintu mobil yang sudah dia pegang. Berhenti dan mengambil ponsel dari dalam saku dengan tangan sebelah kiri, melihat layar ponsel yang menyala. "Asil," katanya menggeser layar ke atas.
📱"Hei, kawan lama sudah tidak nongkrong. Kita di sini rindu samamu. Kau tau tidak! Yuzel. Dia datang dari luar negeri dan ingin bertemu dengan mu, sekarang," kata Asil dari balik telepon.
📱 Ilker menghela napas. "Belakangan ini aku lagi sibuk," dalihnya, melanjutkan membuka pintu mobil. "Belakangan ini aku terlalu sibuk sampai-sampai aku jarang memainkan ponsel." Duduk sambil meluruskan kursi dengan nyaman. "Bahkan untuk keluar rumah pun aku tidak ada waktu," terangnya, memasukkan kunci mobil sambil menjalankan stir dengan sebelah tangan kanan, melihat lurus jalan yang dia lalui untuk keluar dari rumah Yilzid. Menerobos pagar yang sudah terbuka lebar.
__ADS_1
📱"Cie, cie yang udah menikah," ledek Yuzel ketika menyambungkan Video Call kepada sahabatnya itu. "Aku saja yang udah menikah masih ada waktu untuk keluar rumah sesekali." balasnya ketika bertemu pandang dengan Ilker dari Video Call.
📱Ponsel yang sudah diletakkan oleh Ilker di atas tongsis yang terduduk di atas mobil. Tersenyum tipis bercampur resah. "Semua 'kan tidak ada yang sama," sambungnya. "Mungkin kamu bisa. Tapi, aku belum." Membelah jalanan macet yang sering dilaluinya setiap kali ada masalah.
"Sekali-kali lah, kawan keluar. Masa aku sudah jauh-jauh datang kamu tidak mau ketemu. 'Kan tidak adil. Coba, kalau Asil yang datang, kamu pasti langsung datang. Sampai rasa laparmu pun langsung hilang," sindir Yuzel kecewa. Duduk berdua di cafe red and black, milik sahabat karibnya itu, yaitu Asil. Menatap dirinya yang kusut dari balik video call.
" Ker, Yuzer benar. Dia baru pertama kali datang ke sini setelah kita berpisah dari perguruan tinggi. Masa kamu tidak mau menemuinya," sambung Asil kecewa, melihat sahabatnya itu.
Ilker diam saja sambil mengemas masalah yang menimpnya bertubi-tubi. Bingung harus memilih teman atau club. "Baiklah! Aku akan datang. Tapi ingat! Aku tidak bisa lama-lama," ucapnya memberi peringatan kepada kedua sahabat dari balik video call.
"Lamanya palingan sampai malam. Sekitar jam 02 : 00 atau mungkin jam 03 : 00 WIB," sambung Yuzer meledek. "Hahaha! Seperti di saat kita baru mengenal tempat itu dulu," sentil Yuzer kembali dengan candaan garing ketika teringat masa lalu mereka dulu ketika kuliah di luar negeri yang suka mampir ke club malam.
Uhuk ! Uhuk! Uhuk ! Ilker tiba-tiba tersedak di dalam mobil. "Ngaco kamu," katanya membalas sentilan temannya itu. "Baiklah! Aku akan datang." Mematikan ponsel.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...