
Sepanjang di cafe, Ilker dan Yilzid diam dengan keadaan masing -masing. Ilker yang terbelenggu antara keinginannya dan pernikahan membuat dia ingin segera berlama-lama di luar sedangkan Yilzid menikmati makanan dan minuman kesehariannya yaitu, red velvet.
Sementara di rumah, Dhiya menikmati makanan yang ala kadarnya. Makanan yang sengaja di masak oleh Benar. Duduk seorang diri di meja rias sambil menatap wajahnya di cermin. Sedih sudah pasti yang dia rasakan. Menatap nampan yang berisi nasi, air putih, dan hanya seekor ikan goreng itu sudah membuatnya merasa bersyukur.
Di tempat lain, di sebuah cafe. Sebuah pesan masuk ke ponsel Ilker mengenai perusahaan yang dipegangnya. Di mana perusahaan itu adalah stasiun TV milik keluarga Carya yang didirikan oleh ayahnya yang bernama Ajnur Balian Carya yang sangat sukses. Pesan yang mengatakan kalau mereka meminta izin untuk menggandeng Ziya Yilzid sebagai model di stasiun TV yang dipegangnya.
"Apa?" teriak Ilker terkejut di dalam hati. Menatap Yilzid yang sedang menikmati makanannya.
Sedih bercampur aduk dan sekaligus merasa tidak tega melihat wajah Yilzid yang baik-baik saja. Dia tidak bisa membayangkan Yilzid ketika mendengar penolakan darinya. Kesedihan langsung tertoreh di wajahnya ketika menatap kekasih yang paling di cintainya selama lima tahun.
"Sayang, kamu tau tidak? Selama aku di luar negeri aku sangat merindukanmu,"ungkap Yilzid memotong daging, menarik simpati Ilker dan sekaligus berharap supaya Ilker tidak mengingat wanita yang dinikahinya.
Dengan spontan Ilker langsung membaguskan duduknya, seperti tidak terjadi sesuatu. "Yang ingin pergi ke sana 'kan kamu sendiri," sambung Ilker yang lagi bingung tentang pilihannya mengenai permintaan karyawannya.
"Bukannya itu kemauanmu juga?" tanya Yilzid yang gelisah melihat perubahan sikap Ilker mendadak aneh. Meletakkan pisau. "Kamu menikahi wanita itu dan tidak menemuiku sama sekali," sesal Yilzid, menyeruput minuman kesukaannya.
Sontak Ilker diam dan merasa bersalah. Sebenarnya pernikahan itu bukanlah kemauannya. Ilker sudah berusaha sekeras mungkin untuk menolak permintaan ibu Afsheen. Namun, apa boleh buat kekuasaan ibu ternyata lebih besar darinya.
"Kau menikah, bahkan tidak mengundangku," lanjut Yilzid mengingat kejadian yang sudah membuatnya hancur.
"Kalau kau 'ku undang. Apa kau datang?" tanya Ilker yang ingin mendengar jawaban dari Yilzid.
Gelas yang dipegang Yilzid pun ingin terjatuh. Tersentak mendengar pertanyaan Ilker. Bingung harus menjawab apa. Menurut Yilzid apa yang dilakukan oleh Ilker itu adalah benar.
Bertemu tatap saling merasa bersalah.
"Kau tidak akan datang seandainya undangan itu sampai," lanjut Ilker memberi alasannya. "Lagi pula waktu itu kau 'kan ada pemotretan. Mana mungkin aku mengganggumu," sambungnya menenangkan hati Yilzid yang sudah mulai tidak karuan.
__ADS_1
Yilzid mengangguk diam dan merasa bersalah karena telah mengatakan itu dan membuat kekasihnya cemas. "Sayang, maaf 'kan aku. Semua ini kulakukan karena aku takut kehilanganmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu," kata Yilzid memeluk Ilker.
"Tenanglah." Ilker langsung melepaskan pelukan itu yang membuat Yilzid semakin heran. "Kalau aku mau melakukan itu. Mungkin aku tidak ada di sini bersamamu," ucapnya menenangkan kecemasan Yilzid.
Di kediaman Carya tampak seorang wanita duduk di depan tolet. Dhiya Kharya duduk termenung menatap wajahnya di cermin dan terlihat lusuh akibat pertengkaran yang masih berlanjut. Nasi yang dibawa oleh Benar pun belum dia sentuh sama sekali.
Tok ! Tok ! Tok!
Terdengar suara ketukan dari luar. Dhiya yang melamun di depan cermin tersentak dan berjalan membuka pintu.
"Nyonya, Pak Altan ingin pulang lagi," kata Benar menyampaikan pesan.
"Emang urusan Pak Altan, belum selesai?" tanya Dhiya penasaran.
"Anu, Nyonya. Pak Altan katanya, "ingin menemui saudara yang baru datang dari luar kota," lanjut Benar yang takut salah bicara.
"Tidak, Bi. Pergilah! Saya cuma khawatir aja dengan Pak Altan tadi," jawab Dhiya mengurungkan niat.
"Saya permisi dulu, Nyonya," pamit Benar memutar badan menuruni anak tangga yang panjang dan setengah lebar. "Anak tangga ini selalu membuatku sebal," gerutu Benar di dalam hati, menuruni sambil ngos-ngosan.
Benar telah sampai di dapur mendekati pak Altan yang duduk di meja makan milik mereka. "Aku sudah bilang sama, Nyonya, katanya, "kau boleh pulang. Tapi jangan lama-lama!" tegur Benar sebal karena gara-gara pak Altan dia harus menaiki tangga yang panjang itu.
"Terima kasih," balas pak Altan senang. Akhirnya, dia bisa pulang sebentar menemui kerabatnya yang baru tiba dari luar kota.
"Tapi ingat jangan lama-lama! Kalau mereka sudah pulang. Kamu harus balik ke mari. Soalnya kasihan Nyonya. Pasti tuan muda marah karena memberimu izin?!" sesal Benar melihat pak Altan dan tuan mudanya kalau pulang tidak melihat pak Altan akan marah-marah.
"Iya, aku tau. Makanya, aku ingin berangkat sekarang," kata pak Altan langsung bergegas meninggalkan Benar. Sungguh senang hati pak Altan menyambut kerabatnya yang baik dan selalu menolong mereka datang dari luar kota dan mau singgah di rumahnya yang sangat sederhana.
__ADS_1
Benar yang telah menolong pak Altan meminta izin, memonyongkan bibir cemberut sebal, memandangi jalan yang kosong yang dilalui pak Altan tadi.
"Benar," tegur Dhiya yang mengagetkannya dari belakang.
"Iya, Nyonya," jawab Benar terkejut, memutar badan. Suara Dhiya untung saja tidak membuat benar menjatuhkan piring yang dipegangnya ke dalam westafel. Berdiri pucat menahan lemas.
"Tuan muda belum pulang?" tanya Dhiya yang masih merasa bersalah karena pilihannya.
"Belum, Nyonya," jawab Benar menunduk malu. Menetralkan diri.
"Dari tadi, Tuan belum ada menelpon kamu?" tanya Dhiya yang melihat ponselnya tidak pernah di hubungi oleh suaminya.
"Tidak, Nyonya," jawab Benar yang selalu melihat tuan mudanya bermuka masam.
Dhyia pun berdiri diam setelah mendengar apa yang dikatakan Benar sama dengan yang dipikirkannya. Mengurus Ilker bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Dhiya. Dia harus menghadapi tantangan kemarahan Ilker.
"Bi, kembalilah bekerja," kata Dhiya memberi perintah. Memutar badan meninggalkan Benar. Semenjak pertengkaran tadi pagi hati Dhiya tidak tenang. Bukan untuk kali ini saja. Selama ini setiap kali terjadi keributan Dhiya selalu mencemaskan Ilker.
Yilzid kembali lagi bahagia dan merasa wanita yang paling beruntung karena terus dipertahankan oleh Ilker. Ini menjadi senjata bagi Yilzid untuk terus menggoda Ilker agar meninggalkan Dhiya. "Dan setelah wanita itu pergi. Maka aku yang akan menjadi Nyonya Carya," kata Yilzid senang di dalam hati. Melirik Ilker yang terlilit masalah akibat pilihannya yang belum ada jawaban.
"Sayang, kita mau sampai kapan seperti ini? Jalan bersama tanpa ada kejelasan?" tanya Yilzid mengisi kekosongan dan sengaja ingin mendengar jawaban Ilker.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...