Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Mengompres sang istri


__ADS_3

📱"Pak tolong datang ke rumah! Soalnya anggota rumah ini membutuhkan, Bapak," ucap pak Altan yang lagi panik.


Dari belakang Benar langsung menggeleng mendengar ucapan pak Altan yang sedikit ngaco dari balik telepon. "Bilang ada yang sakit!" tegur Benar berdiri di belakang lelaki yang sedang berbicara di telepon sambil mencubit pinggangnya.


📱"E-e-e! I-itu Pak! Ada yang sakit." Pak Altan kembali mengulangi pembicaraannya kepada sang dokter.


📱"Iya, sebentar saya akan segera datang," ucap dokter itu.


Di atas tepatnya di dalam kamar, Ilker tampak gugup dan cemas terlihat seolah dia, seperti menyayangi istrinya sampai-sampai dia menjatuhkan tubuhnya duduk di sebelah wanita yang terbaring di atas tempat tidur itu sambil memijat-mijat keningnya.


"Dhyia! Tenang lah! Sebentar lagi, Dokternya akan segera datang," tutur Ilker melihat kondisi fisik wanita yang telah menjadi istrinya. "Tunggu sebentar, ya!" Dia pun turun dari tempat tidur berlari memencet perekam suara. "Pak Altan! Suruh Bi Benar mengambil handuk buat mengompres, Nyonya!" teriaknya panik dari dalam kamar di dalam perekam suara.


Pak Altan yang mendengarnya langsung.


📱"Iya, Dok! Akan kami tunggu!" Terburu-buru mematikan telepon setelah mendengar tuannya kembali berteriak memanggil. "Kalau dia sudah pulang, aku pasti kayak gini?!" umpatnya berlari kocar-kacir mencari Benar yang menghilang entah ke mana.


"Bi! Bi Benar!" teriak pak Altan menggedor-gedor pintu kamar Benar.


"Iya, Altan!" teriak Benar membuka pintu . Sontak Benar langsung mengerjitkan kedua mata ketika tangan pak Altan yang mengetuk pintu hendak mengenai wajahnya. "Ada apa? Kamu teriak-teriak bangunin saya tidur! Kayak orang kebakaran jenggot. Kamu engga tau? Ini jam berapa?" Bi Benar kesal karena jam istirahatnya diganggu.


"Aku lebih tau, ini jam berapa? Tapi tuanmu itu yang engga tau!" Pak Altan langsung membalasnya.


"Emang kenapa?" Benar langsung mendekat.

__ADS_1


"Kamu di suruh, Tuan ke atas membawa handuk kecil buat mengompres, Nyonya," lanjutnya melihat temannya yang ngeselin juga. "Cepat! Sebelum dia keburu turun dan memarahi mu," lanjutnya berjalan meninggalkan pintu kamar.


Tergesa-gesa dia pun menutup pintunya berlari mengambil yang disampaikan oleh pak Altan tadi. Mengisi baskom kecil dengan air hangat dan membawanya naik ke atas kamar bersama dengan handuk.


Di atas tempat tidur Ilker sangat cemas melihat keadaan sang istri yang terlihat sangat drop. Dia semakin merasa aneh ketika melihat wajah wanita yang terbaring lemah itu. Rasanya ada sedikit kejanggalan, pikirnya mencari-cari terus jawaban yang tidak diketahuinya di dalam hati. Dia terus menatap wajah lesu pucat pasih wanita yang sedang mengalami kondisi tubuh yang kurang sehat. Pikirannya tidak pernah berhenti berpikir ingin tahu di saat menatap wajah wanita yang terbaring lemah itu dengan lekat.


Dhyia kini semakin pucat dan suhu tubuhnya terasa panas. Dia terus memegang erat tangan lelaki itu tanpa disadarinya. Kedua bola mata yang tertutup rapat itu menatap terus ke atas langit-langit kamar. "Kenapa Benar lama sekali!" Melihat ke arah pintu kamar dan melepaskan genggamannya dan beranjak mengambil alat pengukur suhu tubuh.


"Dhyia... .' Dia langsung terdiam saat dia ingin memasangkan alat pengukur suhu tubuh. Pikirnya, bagaimana mungkin dia memakaikan alat ini? Sambil melihat pakaian istrinya yang tertutup rapat itu. "Tidak mungkin, pikirnya. Di saat dia berniat ingin memasang alat itu. Bingung harus berbuat apa setelah dia melihat tubuh wanita yang tertutupi oleh pakaiannya itu. Dia pun kembali meletakkan alat pengukur di sampingnya.


"Permisi, Tuan!" Benar membuka pintu dan membawa baskom beserta handuk kecil juga.


Tiba-tiba Ilker menoleh. "Masuklah!"katanya langsung menggeser tubuhnya melihat ke arah Benar yang berjalan menghampirinya bersama yang dimintanya tadi.


"Ini Tuan!" katanya, menaruh baskom di atas meja kecil di sudut tempat tidur. Melirik tuannya sekilas dari ekor mata yang menggenggam erat tangan wanita yang selama ini sudah menjadi nyonya muda di dalam kediaman Carya. Sungguh terpana Benar ketika melihat itu. "Sebenarnya, Tuan mencintai, Nyonya," batinnya, melihat raut muka tuannya yang resah. "Saya permisi dulu Tuan!"Pamit Benar meninggalkan mereka.


"Oh-ho!" Dia pun lega setelah menemukannya. "Aku pikir entah di mana," katanya di saat melihat tiket itu masih ada. Dia pun kembali memasukkannya ke dalam saku celananya.


Tok ! Tok ! Tok !


Suara ketukan pintu pun terdengar agak samar-samar oleh Benar kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ting nong!

__ADS_1


Suara pencetan bel pun terdengar berbunyi yang kembali mengganggu konsentrasinya untuk bekerja. Di dalam kamar lelaki itu tampak gelisah menunggu sang dokter tidak kunjung tiba. Mondar-mandir dan sesekali duduk di sofanya menjaga wanita yang sedang sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menutup kedua bola matanya dan memakai selimut tebal.


"Eh! Pak dokter," sambut Benar dari depan pintu. "Mari masuk, Dok!" Membuka pintu dengan lebar dan membawa dokter separuh baya itu naik ke lantai atas. "Maaf, Tuan! Dokternya sudah datang," kata Benar membuka pintu.


Ilker langsung berlari menghampiri dokter itu. "Dok, coba lihat istri saya, Dok," katanya mengiba.


"Sebentar akan saya periksa," balas dokter itu langsung. Menghampiri wanita yang terbaring melemah itu sambil membuka kedua bola matanya buat diperiksa. Dokter itu pun menahan beberapa detik napasnya setelah mendengar denyut jantungnya.


"Ada kemungkinan istrimu ini kelelahan," ucap dokter itu memeriksa ulang kondisi Dhyia lagi. "Aku rasa dia juga telat makan," lanjutnya di samping pria yang berdiri dengan cemas.


"Dok, padahal istri saya itu engga pernah saya kasih bekerja. Apalagi sampai telat makan." Ilker langsung mengucapkan yang sebenarnya.


"Tapi itulah yang terjadi. Istri kamu sekarang butuh istirahat dan beri dia minum obat! Nanti setelah dia membuka matanya jaga dia agar tidak melakukan aktivitas yang membuatnya lelah." Dokter itu pun meninggalkan resep yang harus di tebus kepada Ilker .


"Apa kondisinya sangat memperihatinkan, Dok?" Ilker bertanya balik sambil mengambil resep obat dari tangan lelaki itu.


"Kamu tidak perlu khawatir! Ini hanya kelelahan saja." Mereka berdua pun menuruni anak tangga. "Jika dia istirahat dengan benar. Dia pasti akan sembuh?!" ucap dokter itu duduk mengikuti perintah dari Ilker menyuruhnya duduk dengan lambaian tangan. "Apa di rumah ini tidak ada para pekerja?" tanya lelaki paruh baya itu sambil menyeruput secangkir teh hangat yang dihidangkan oleh Benar dan tidak sengaja juga Benar mendengar pertanyaan dokter itu dari belakang.


Sontak dia langsung menoleh cemas, di ikuti oleh kedua tangan mencengkram talam dengan kuat.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2