
Lain lagi dengan Burcu yang telah tertidur, tiba-tiba tersentak dan langsung meraih ponsel yang terletak di atas tempat tidur tepat di sebelahnya. Melihat jam dan berpikir, apakah nonanya di rumah atau tidak?
Dia pun keluar kamar dan memeriksa kamar sang model terkenal. Mengetuk pintu yang telah terkunci.
"Non!" teriaknya dari luar menempelkan telinga ke dinding. "Nona sudah tidur, belum?" Burcu pun kembali mengetuk pintu dan bertanya lagi.
Yilzid yang berada di dalam kamar hanya diam saja. Dia sama sekali tidak mau menyahut sebab dia khawatir kalau Burcu akan menemukan yang akan membuatnya terkena masalah. Diam menatap terus pintu yang diketuk itu mungkin jauh lebih baik daripada harus menyahut dan membukanya, pikirnya. Memeluk bantal sambil menatap ke arah pintu kamar yang membuatnya cemas kalau pintu itu tiba -tiba terbuka sendiri.
"Non! Kalau Nona belum tidur? Sebaiknya, Nona makan dulu!" Dia terus mengganggu dari luar kamar.
"Dia selalu saja mengganggu. Suka menempel sama, seperti benalu," umpat Yilzid sebal.
Lama menunggu akhirnya, Burcu pun pergi sebab tidak ada balasan dari dalam kamar sama sekali. Dia pun kembali masuk ke kamar.
Ilker yang terlelap pulas pun tersentak dan refleks langsung melihat jam dinding yang berputar. Masih jam segitu, pikirnya. Mencari ponsel dan melirik selimut yang tadi ditaruhnya untuk menutupi tubuh sang istri kini terlihat malah menutupi tubuhnya. Dia pun seketika kembali melirik sosok wanita yang baik hati nan lembut itu sedang tertidur bersandar ke dinding dengan mukena yang menutupi tubuh.
Dia pun beranjak mengambil ponsel yang terletak di atas tolet sekilas terlihat kembali kaca yang membuat matanya risih. Memutar badan duduk di atas sofa kembali dengan memegang selimut yang menutupi tubuhnya tadi, melihat angka yang menunjukkan pukul sudah berganti. Dia pun panik melepaskan ponsel dari genggamannya dan menepis selimut dengan kasar.
Tergopoh-gopoh, dia masuk kamar ke dalam mandi lalu menghidupkan shower, menyirami tubuhnya yang di tutupi oleh kain tipis. Memakai shampo dan sabun lalu terburu-buru melangkah keluar membuka pintu kaca yang tempat shower berdiri. Mengambil handuk yang terlipat rapi di dalam keranjang tepat di bawah wastafel kamar mandi.
Berjalan keluar meninggalkan kamar mandi dengan terburu-buru membuka pintu. Sontak dia terkejut melihat sang istri sudah terbangun dan berdiri tegak lurus di depannya.
Menatap sang suami yang sedikit mencurigakan. "Mas! Sepagi ini kamu mau ke mana?" tanyanya terheran dengan kesadaran yang belum sempurna.
Ilker sama sekali tidak menjawabnya. Dia terlihat kebingungan harus mengatakan apa. Diam adalah hal tepat sebagai jawaban, pikirnya, melewati sang istri yang bertanya begitu saja, di ikuti oleh kedua matanya melirik ke arah koper.
Melihat suami yang tidak memberi jawaban dia pun menyeret kedua kaki masuk ke dalam kamar mandi dengan gurat wajah yang masih curiga dan penuh tanda tanya. Menghidupkan shower dengan pelan membasahi tubuhnya. Air yang mengalir serasa membawa tumpukan masalah pergi dengan rileks dia menikmati shower yang menyirami tubuhnya.
__ADS_1
Setelah air mengalir menenangkan pikirannya. Dia pun kembali teringat tentang suaminya yang tiba-tiba aneh tidak, seperti biasanya. Bergegas dengan cepat membuka pintu kamar mandi.
"Mas! Mas langsung pergi? Engga sholat dulu?" Dhyia kembali bertanya setelah memakai handuk kimono keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang menutupi hingga ke mata kaki dan juga penutup kepala.
"Kamu saja duluan! Aku nanti sholatnya di luar saja," jawabnya dengan enteng.
"Emang kamu mau ke mana sih, Mas?" tanya Dhyia, melihat suaminya memakai baju.
"Aku engga ke mana-mana," jawabnya langsung. Memutar badan masuk ke dalam kamar ganti membawa celana. "Oh, iya! Kamu ingin masuk?" tanya Ilker kembali keluar dan tiba-tiba berdiri di balik pintu.
"Iya, Mas," jawabnya.
"Kalau begitu masuklah! Aku akan menunggu di sini," ucapnya acuh dan tidak lagi melihat wanita yang masuk ke dalam kamar ganti itu.
Dhyia pun bergegas mengganti pakaian yang telah dia ambil dari tadi di dalam lemari. Mengayunkan sebelah kaki kanan keluar sambil melihat ke arah pria yang berdiri tegak membelakangi pintu.
"Terima kasih." Dia pun langsung masuk tanpa menoleh ke arah wanita yang bertanya itu. Memberi balasan dengan acuh dan masuk dengan terburu-buru
Dia begitu bersemangat, pikir Dhyia yang terus menyeret kakinya mengambil sajadah dan mukena. Dia pun kemudian melaksanakan kewajibannya menghadap Sang Khaliq.
Tidak lama kemudian Ilker pun keluar dari kamar ganti dengan hati yang senang. Memakai parfum yang aromanya tercium oleh sang istri yang sudah selesai bermunajat berjalan melewatinya, mengambil ponsel yang diletakkannya tadi di atas tolet. "Ternyata, kaca ini belum di perbaiki," katanya di dalam hati melihat kaca yang terpampang di hadapannya lagi sekilas menatap wajahnya yang tampan di balik kaca yang retak.
Jam pun terus berjalan dengan tergesa-gesa dia langsung mengambil koper yang dia taruh semalam di balik pintu. Melirik istri yang melipat mukena.
"Mas! Emang sepagi ini! Mas, mau ke mana?" tanya sang istri yang penasaran kembali mengulangi, saat dia melihat sosok pria yang lembut dan penyayang itu memegang knof pintu.
"Mau turun,'' jawabnya langsung membawa koper dan bergegas keluar untuk menghindari wanita yang terus menerus bertanya. "Dia belakangan ini selalu mengoceh!" gumamnya ngedumel, menuruni anak tangga.
__ADS_1
Memanggil pak Balin dari atas yang terlihat olehnya kalau pak Balin sedang berjalan di dapur. "Pak! Tolong keluar kan mobil sekarang!" pintanya dengan nada suara yang terdengar agak terburu-buru.
Dhyia pun berlari keluar, melihat sang suami sedang terburu-buru menuruni tangga.
"Mas, tidak makan dulu?" teriaknya bertanya dari belakang .
"Tidak!" jawabnya terus melangkah di ikuti oleh tangan sebelah kanan memegang memegang koper dan tangan sebelah kiri memegang ponsel. Sedikit pun dia tidak menoleh ke arah belakang.
"Iya, Tuan," jawab pak Balin. Berdiri menghampiri tuannya. Begitu sigapnya pak Balin terhadap tuannya sampai dia tidak rela terburu-buru meneguk air minumnya.
"Cepat! Keluarkan sekarang mobil! Saya buru-buru." Membuka ponsel. "Cepat ambil kunci mobil!" titahnya.
"Baik Tuan." Pak Balin pun berlari mengambil kunci mobil yang tergantung tepat di ruang tv.
"Mas! Kenapa kamu perginya membawa koper?" tanya Dhyia yang telah berdiri di dekat pria itu.
"Sudah kubilang! Aku ada urusan!" katanya dengan sibuk membalas pesan. Menyerahkan koper ke tangan pak Balin yang berpapasan melewatinya. Pak Balin pun langsung membawa koper itu tanpa berbicara sepatah kata pun dan Ilker pun mengikuti pak Balin dari belakang menuju garasi.
"Mas,Tap... ." Dia pun menghentikan ucapannya ketika melihat wajah lelaki itu yang tanpa diharapkan menoleh ke arahnya.
"Dhyia!" katanya dengan lembut, memutar badan kembali melangkah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...