Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Penemuan tiket pesawat di atas tolet


__ADS_3

Ilker pun melewati seluruh ruangan rumah yang begitu terasa hening. Berjalan pelan-pelan menatap setiap yang terlihat di dalam rumah. Memegang tas di tangan sebelah kanan, menaiki anak tangga yang berada di jalur sebelah kiri.


"Huh!" Menghembuskan napas lelah di sela-sela kakinya ketika menaiki tangga yang hampir mau ke kamar.


Kreeek!


Membuka pintu kamar dengan tangan sebelah kiri sebab tangan sebelah kanan masih memegang tas. Berdiri sebentar seolah dia sedang kontak batin dengan wanita yang selama ini tidak pernah dianggapnya sebagai seorang istri yang utuh.


Menatap ke arah tempat tidur yang kosong dan rapi. Seperti tidak di sentuh, pikirnya terheran dan bertanya-tanya berjalan duduk di sofa dengan sepatu kerja yang masih terpasang jelas di kedua kakinya.


"Huh!" Dia kembali menghembuskan napas setelah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Menggerakkan leher dengan pelan untuk meringankan beban yang menumpuk. "Aku tidak tau lagi harus memulai semaunya dari mana?" batinnya berkeluh kesah menatap ke langit-langit kamar. "Segalanya bagaikan mimpi buruk! Hadir dan pergi tanpa izin dengan seenaknya." Mengingat stasiun televisi miliknya yang sedang bermasalah. Menekuk tangan di atas paha sambil menunduk memijat kening.


Mobil Yuzer pun berjalan memecah jalanan yang banyak di lalui pengendara pada saat ini. "Sial! Apa dia tidak punya mata apa?" pekik Yuzer kesal ketika sebuah kendaraan sepeda motor ingin menyenggol mobil mewah miliknya. "Orang-orang ini berlomba-lomba ingin punya sepeda motor, tapi tidak bisa menggunakan jalan dengan baik!" Dia kembali ngedumel seorang diri sambil memegang stir melihat lurus ke depan dan sesekali melihat ke belakang dari kaca spion yang di lirik oleh Pevin.


"Orang ini memang aneh! Marah-marah engga jelas!" kata Yilzid di dalam hati. Memangku tas di kedua paha di ikuti sorot mata terkejut melihat seorang pria yang duduk di depan tepat di sebelah Pevin.


Pevin kini membeku, seperti patung. Mengigit kedua bibir takut dengan pelan bercampur cemas. Menghembuskan napas pelan dengan diam-diam tampak dia seolah berjaga dari pandangan pria itu yang sudah bermuka pias.


"Hmm!" Yilzid yang duduk di bangku belakang menghela napas menaikkan alis dan kedua bola mata. Jenuh dan bosan melihat reaksi yang baginya hanya sekedar basa-basi sebagai bentuk mencari perhatian.


Ilker menyandarkan tubuhnya ke sofa, meletakkan tas yang dipegangnya tadi di sandaran sofa juga. Ponsel yang tadi disimpannya di dalam saku celana kini diambilnya. Melihat ponsel teringat tentang kekasih hati yang hingga detik ini belum ada kabar sama sekali. Menghidupkan layar ponsel lalu mencari kontak nomor wanita yang membuatnya tiba-tiba rindu. Melihat di dalam watshap bukti online yang terakhir. Sontak kedua bola matanya melebar melihat tanda itu tidak pernah aktif semenjak dari kepulangan mereka berlibur.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Pak Altan berdiri di depan pintu, menyilang kedua tangan di depan paha.


Sontak Ilker menghentikan telepon yang ingin ditaruhnya di telinga sebelah kanan, menoleh ke arah sumber suara. Memutar badan melihat ke pintu.


"Tuan, makanan untuk makan siang sudah siap," kata pak Altan dengan nada suara yang seperti biasa takut bercampur was-was berjaga dari amukan yang keluar dengan seenaknya di saat berhadapan dengan lelaki yang berdiri jauh di hadapannya.


"Sampaikan pada Rana juga kalau makan siang sudah siap!" pinta pria yang sedang mengkhawatirkan pujaan hati. " Bilang pada Rana saya akan segera turun," lanjut Ilker, menatap raut muka pak Altan yang datar itu sambil menurunkan tangan yang memegang ponsel. "Suruh dia untuk menunggu saya."


"Baik, Tuan," jawab pak Altan meninggalkan lelaki yang masih melayangkan sorot mata ke arahnya.


Sebelum dia mengikuti perintah pak Altan untuk turun ke bawah. Dia beranjak terlebih dahulu menyeret kedua kaki menghampiri cermin yang tiba-tiba terlintas di pikirannya setelah pak Altan tadi menyuruhnya untuk maka siang. Melangkah dengan tegak di ikuti tangan kanan masih memegang ponsel. Berjalan dengan gurat wajah penasaran.


Deg!


Dia sontak terkejut ketika jemarinya menyentuh sesuatu di atas tolet. Kedua bola matanya seketika membulat dan kedua alisnya pun menyatu juga mengerut ketika lembaran kertas itu terpampang jelas di atas tolet.


Menaikkan tangan yang tadi tegak lurus ke bawah dan meletakkan ponsel langsung di atas tolet kemudian mengambil lembaran kertas itu dan terkejut.


"Pak Altan!" Dia pun langsung berjalan terburu-buru bercampur panik mendekati perekam suara. "Pak Altan! Tolong segera naik ke ruangan saya lagi!" serunya dengan nada suara panik.

__ADS_1


Sontak pak Altan yang ingin menuruni anak tangga tiga anak lagi pun terkejut dan berhenti di ikuti kaki sebelah kanan mengayun di udara. "Tuan, mau apalagi, sih!" gerutunya menggaruk-garuk kepala dengan gurat wajah suntuk. Memutar badan melangkahkan kedua kaki kembali naik.


Ilker di dalam kamar sedang cemas seorang diri. Kertas putih panjang yang bertuliskan namanya dan nama wanita itu pun masih di dalam genggamannya dan sesekali di liriknya ke bawah dengan perasaan tidak enak. Mondar-mandir ke sana ke mari, seperti orang hilang akal.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pak Altan kembali, menatap pria yang gelisah dan suntuk.


"Tolong suruh Nyonya menemui saya!" pinta Ilker dengan tegas kepada pak Altan yang sudah tergopoh-gopoh menaiki tangga yang paling dibencinya.


"Baik, Tuan," balasnya langsung memutar badan meninggalkan pria yang sedang gelisah memegang selembar surat yang tadi terlihat oleh pak Altan tanpa sengaja ketika dia ingin menuruni anak tangga. "Nyonya engga ada kelihatan seharian ini," katanya di dalam hati melihat kaki dengan hati-hati yang menuruni anak tangga dengan gurat wajah penuh tanda tanya. Memutar kedua sorot mata melihat sekeliling memerhatikan Benar di setiap sudut yang dilihatnya.


Lain lagi dengan pria yang menemukan selembar tiket tadi. Dia berjalan tak menentu seolah ingin mencari juga dan membantu untuk menemukan perempuan yang sudah lama dikenalnya. Berpikir lalu berjalan pelan seakan, seperti orang yang linglung menghampiri tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya.


Rana sendiri yang masih senang menikmati udara bebas. Seharian di lapangan hijau dia duduk menyandarkan tubuh di sofa untuk meregangkan otot-otot yang lelah akibat berlatih seharian penuh.


"Benar!" teriak pak Altan langsung berlari meninggalkan tangga yang sudah tidak asing lagi baginya. "Kamu kenapa baru terlihat?" tanyanya membungkukkan badan ngos-ngosan, meletakkan kedua tangan di kedua tungkai lutut sambil menatap lurus ke kaki kursi.


"Aku tadi lagi membersihkan bangku-bangku itu. Kamu tau sendiri 'kan, Pak! kalau Nona sudah di sini. Dia pasti risih melihat kursi-kursi itu?! Makanya sebelum Nona menegur, ya dengan sendirinya aku merapikannya."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2