Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Keberangkatan Rana dan di tempat parkiran


__ADS_3

Rana yang sudah melakukan check in ticket pesawat sambil menyerahkan koper yang di bawanya melalui troli sudah tidak sabar bergegas memasuki gate dua puluh lima lewat setempat jam penerbangan London yang ingin beranjak ke Indonesia .


"Saat ini cuaca sedang panas dan sedikit dingin," katanya, tertawa kecil sambil memegang ticket mencari nomor kursi setelah gerbang terbuka.


Kedua pasang sejoli itu pun tampak sudah beranjak dari tempat duduk mereka dan kini mereka terlihat berjalan memasuki mall terdekat dengan menggunakan mobil kantor yang telah dia kirim melalui kapal, yaitu di mana mobil yang dipakai pak Altan tadi untuk mengantarkannya. Berkeliling memutari seputaran lantai tiga yang banyak menjual berbagai jenis dan merk baju.


Yilzid tampak memilih-milih pakaian yang dia senangi yang di perhatikan oleh sang kekasih dari sebelahnya yang berdiri tegak dengan mantel kulit miliknya.


Di dalam kamar, Dhyia pun begitu terlihat lelah . Dia menghembuskan napas panjang demi menghilangkan rasa letih yang berkepanjangan belakangan ini. Menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur.


"Benar! Sepertinya, Nyonya sakit." Pak Altan langsung menghampiri Benar yang keluar dari kamar.


"Ah! Engga mungkin! Nyonya tadi bersama 'ku kok di kebun. Malah! Tadi, Nyonya senang lagi! Karena dia melihat bunga ke sukaan nya."


"Kamu jangan keras kepala! Kalau kamu engga percaya! Coba kamu check ke kamar, Nyonya sekarang! Biar jelas, Nyonya sakit atau engga!" desak pak Altan memaksa Benar.


Mendengar hal itu, Benar mengerutkan kening dengan sejumlah keraguan mengenai yang disampaikan oleh pak Altan. Melirik terus langkah pak Altan sampai keluar dengan rasa penasaran akan omongan pak Altan barusan.


Benar yang berniat mau makan terpaksa menghentikan keinginannya sebentar. Pergi ke arah yang di mana menghubungkan tangga yang berada di sebelah kiri langsung ke dapur. Berdiri menatap ke atas, tepat ke arah pintu kamar sang nyonya. Menggaruk-garuk kepala dengan sejumlah keraguan yang menyerang pikirannya. "Apa benar, toh! Nyonya sakit? Perasaan tadi, Nyonya baik-baik saja!" gumamnya sembari kembali ke dapur.


Cecar yang yang masih juga berkerja hingga larut malam bersama Alen terlihat begitu antusias merencanakan program baru mereka ini akan sukses di mata penonton dan dapat menaikkan kembali ranting yang sudah hancur.


"Car, aku mau! Kita buat sekreatif mungkin. Agar stasiun TV ini kembali bangkit dan bisa diminati para penonton lagi." Alen terus mengerjakan program-programnya bersama dengan Cecar hingga hampir larut malam.

__ADS_1


"Len, ini masih ide-ide pokoknya saja! Kita belum bisa memastikan ini untuk kita tayangkan! Sebelum kita kasih lihat dulu kepada Bos besar." Cecar menulis rangkuman yang penting yang bisa menarik perhatian bos mereka.


"Oke!" Alen pun mengangguk sambil menaikkan alisnya. Berdiri di belakang kursi melihat Cecar bekerja.


"Bagaimana sayang? Apa baju ini kamu suka?" tanya Yilzid keluar dari kamar pas.


"Bagus! Ini jauh lebih bagus kamu kenakan daripada yang tadi," ucap Ilker melihat penampilan sang pujaan hati yang tersenyum bahagia.


Pesawat yang dinaiki oleh Rana bertolak ke negaranya kini sudah terbang di atas awan yang cerah. Menikmati alunan musik yang dia pasang di kedua telinga sambil memejamkan mata seolah dia mengikuti alunan musik itu.


Pak Balin dan pak Edis yang menikamti makan malam di tempat mereka yang biasa nongkrong untuk bermain catur, terlihat begitu senang sehingga terdengar suara cekikikan dan canda tawa dari mereka yang menggema sampai ke udara sehingga membuat pak Altan menghampiri ke arah sumber suara.


"Sayang, aku harap kita besok bisa berlibur dengan romantis," ucap Yilzid memeluk lelaki yang berjalan bersamanya dengan hangat.


Malam pun semakin larut jam pun sudah berganti angka. Ilker buru-buru beranjak dari kamar ganti membawa sang model. Menghampiri kasir untuk membayar belanjaan. Tanpa dikenali sedikit pun oleh para pengunjung kalau yang berdiri di depan kasir itu adalah pemilik stasiun TV dan model papan atas yang sedang naik daun.


Menjaga diri dari incaran para media yang akan muncul secara tiba-tiba. Hal ini sudah tampak terlihat dari dia memilih hotel yang aman untuk mereka berdua dan sudah bekerjasama dengan managernya untuk merahasiakan identitas mereka juga menutup segala kemungkinan yang bisa mencemarkan nama baik mereka dari awak media.


Mereka berdua pun keluar melewati pintu exit lalu menuju tempat parkiran VVIP yang juga sudah di jaga ketat oleh para penjaga demi kenyamanan mereka berdua.


"Oh, ya! Besok kamu harus mencukur berewokan kamu itu! Terlalu berantakan! Dan juga tangan kamu! Aku begitu sedih melihatnya." Yilzid meletakkan belanjaannya di bangku belakang. Di ikuti oleh tangan sebelah kiri menutup pintu.


"Aku ingat! Nanti setelah sampai di kamar. Aku akan mencukurnya dengan rapi. Agar kamu besok tidak malu berjalan dengan ku." Dan untuk tangan ini! Kamu tidak perlu khawatir! Ini sudah agak baikan. Sebentar lagi, pasti akan sembuh!" Melirik ke arah wanita yang tersenyum bahagia. Di ikuti oleh kedua bola matanya kembali melirik tangan yang terluka, memasukkan kunci mobil.

__ADS_1


Dhyia yang telah membaringkan badannya. Perlahan memejamkan mata meluruskan tubuh yang mendadak meriang dan terasa letih. Melirik ke arah gelas dan teko yang diambilnya tadi dari bawah. Di ikuti lirikan kembali ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 24 : 20 WIB. Melihat langit-langit kamar teringat tentang lelaki yang sudah menjadi suaminya, sholat atau tidak?


Ada hasrat dia ingin menelepon pria itu. Namun, dia takut kalau pria itu tidak mengangkat teleponnya lagi. "Semoga dia dilindungi oleh- Nya," kata Dhyia di dalam hati. Memejamkan kedua mata.


Para lelaki yang bekerja di kediaman Carya masih terlihat cekikikan memainkan catur. Di ikuti oleh pak Altan yang sering kalah dan memijat kedua temannya saling bergantian sebagai hukuman untuk yang kalah. "Ahahaha!" kata mereka tergelak melihat pak Altan yang ingin menyerah.


Benar yang masih melihat langit-langit kamar. Tampak gelisah dan tidak bisa memejamkan mata, teringat terus dengan perkataan pak Altan mengenai nyonya mudanya tadi. Sampai dia pun malam ini makan dengan sedikit, piring serta gelas bekasnya hanya dikumpulkannya saja di westafel.


Menenangkan pikirannya di atas tempat tidur sambil memakai jilbab yang jarang dia lepaskan dari kepala saat mau tidur dengan alasan agar tidak mendengar suara nyamuk.


Mobil mewah kepunyaan kantor stasiun CCA itu pun telah keluar dari tempat parkiran memecah jalanan yang mulai sepi hanya ada beberapa yang melintas itu pun tidak ada terlihat satu pun sepeda motor.


Memasuki area perhotelan yang menuju langsung ke tempat parkiran yang sudah di buat khusus untuk mobil mewah miliknya.


"Malam ini penjaga pada ke mana?" tanya Yilzid menoleh keluar dari balik kaca mobil.


"Mungkin mereka ada kegiatan yang lain," jawab Ilker , membuka pintu mobil. Meninggalkan tempat parkiran membawa bag paper yang berisi pakaian.


Kini mereka berdua telah memasuki lift dan menuju ke lantai lima. Di dalam lift Ilker terlihat sedikit menutup wajah dengan topi yang dipakainya sedari tadi saat di mall. Memiringkan tubuhnya dari wartawan yang berada satu lift dengan mereka. Demikian juga dengan Yilzid dia sengaja membuka selempang nya yang dikalungkan di leher menutupi kepala sedikit melebar hingga sampai ke wajahnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2