
Kurir yang sudah menerima amplop cokelat dari pengirim yang tidak dia ketahui telah tiba di depan pagar mewah kediaman Carya.
"Ada, apa?" tanya Balin. Membuka sedikit pagar.
"Maaf, saya mau mengantar sebuah amplop yang berisi berkas penting, Pak," jawab kurir dengan lembut menutupi setengah wajahnya dengan helm.
"Taruh di sini saja!" sahut salah satu teman Balin dari belakang.
"Tidak bisa, Pak. Ini harus di sampaikan langsung kepada pemilik rumah," balasnya memberi keterangan, melihat rumah yang megah sebagai isyarat kalau dia harus bertemu langsung dengan penerima amplop.
Balin dan temannya pun saling bertemu pandang dengan raut muka meminta pendapat satu sama lain. "Ya, silakan!" kata Balin dengan sorot mata sedikit curiga, mendorong pagar hingga terbuka lebar.
Si pengantar paket pun langsung menembus pagar dan masuk ke halaman rumah kemudian memarkir sepeda motornya di bawah pohon yang ada terlihat bangku-bangku kecil dari kayu yang belum selesai.
"Braugh ! Sepeda motor pun menabrak bangku kecil kayu yang masih goyang. "Oalah- lah. Sudah capek-capek, malah kena langgar," sesal Balin kecewa, melihatnya dari pagar, berdiri.
Tok! Tok! Tok!
"Iya, sebentar!" teriak Benar berlari membuka pintu dengan tergopoh -gopoh. Meletakkan sapu di sudut lemari hias.
"Permisi, Bu. Apa ini benar kediamannya Ilker Can Carya?" tanya sang kurir dengan tas yang dia sandang.
"Iya, betul. Ada apa, ya?" tanya Benar panik.
"Ini Bu. Saya mau mengantarkan ini," kata sang kurir. Mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Ini ada kiriman buat, pak Ilker," lanjutnya mengambil pena.
"Kiriman? Kiriman dari mana?" tanya Benar di dalam hati. Mengambil amplop dari tangan sang kurir.
__ADS_1
"Saya tidak tahu namanya. Tapi alamat itu di tujukan ke sini," jawab kurir itu dengan alasan yang benar, melihat amplop yang bertuliskan inisial, 'NN'. "Bu, tolong bisa tanda tangani di sini," perintahnya, menyerahkan pena dan bukti penyerahan paket.
"Baik, Mas," ucap Benar. Menerima bingkisan yang berwarna coklat itu. "Ini dari mana, ya?" tanyanya penuh heran di dalam hati, mencari tahu seputaran amplop yang bertuliskan sebuah inisial, 'NN' itu.
"Permisi, Bu," ucap sang kurir. Memutar badan pergi dan menghilang. Sementara, Benar yang masih dihantui rasa penasaran tidak menghiraukan arah kurir yang ada di hadapannya itu pergi dan bahkan dia tidak menyahut pamitannya. Masuk ke dalam rumah dengan pikiran kosong.
"Ini untuk siapa, ya?" tanya Benar yang sudah menempelkan tangannya di ujung amplop, melihat sebuah nama yang bertulis, 'Kediaman Carya ' dan segera ingin membukanya. "Ah, tidak sopan. Ini 'kan untuk, Tuan." Melihat kamar di atas dari lantai bawah yang masih tertutup. "Sebaiknya aku antar saja dulu. Di atas, 'kan ada, Nyonya," kata Benar menaiki anak tangga dengan kedua kaki tergopoh-gopoh.
Tok ! Tok ! Tok!
"Masuk !" sahut Dhyia yang sedang menyisir rambutnya.
"Permisi, Nya. Ini ada paket untuk, Tuan," kata Benar, menyerahkan amplop cokelat. Berdiri di depan pintu.
"Silakan masuk, Bi. Pintunya gak dikunci," perintah wanita yang selalu menjadi pelipur lara baginya.
Sontak wanita yang cantik dan lemah lembut itu pun mengambil amplop dengan tangan sedikit gemetar. "Paket, Bi? Dari siapa?" tanya Dhyia, melihat amplop yang terbungkus warna cokelat.
"Saya tidak tau, Nya. Katanya untuk, Tuan," jawab Benar apa adanya.
"Baiklah, Bi. Terima kasih," kata Dhyia, memutar badan dengan sisiran yang belum rapi dan deg-degan. Menatap amplop dengan firasat tidak enak. Memutar duduknya menatap cermin lurus ke depan dan kembali menyisir rambutnya sambil menatap wajahnya yang penuh tanda tanya. "Dari siapa, ya?" tanyanya di dalam hati, melirik amplop cokelat yang terletak.
Ilker yang terburu akibat terbawa arus jebakan Yilzid telah sampai di kediaman sang kekasih hati.
"Yilzid!" teriaknya keras dari halaman, tepat di atas jendela Yilzid.
"Ilker," katanya terkejut panik. Bangun dari rebahannya. Bergegas merapikan diri dan mengambil lipstik untuk mewarnai bibirnya, agar terlihat segar di hadapan sang pujaan hati. Menaburi bedak padat di kedua pipinya dengan hati yang senang karena sang pujaan hati telah datang dan menyisir rambut yang sedikit berantakan setelah sekian lama rebahan. Berlari menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Non, mau ke mana?" tanya Burcu heran melihat Nonanya. Burcu yang sudah selesai bertemu dengan sang bos besarnya, berjalan mengikuti orang yang harus dikawalnya.
"Saya, ke dapur dulu," kata Burcu. Melirik nonanya yang sama sekali mengacuhkannya dengan sekilas.
Yilzid terus berjalan dan tidak menghiraukan perkataan Burcu sama sekali. Menghampiri pintu utama yang sering dilalui orang-orang yang terhormat. Menyambut pujaan hatinya dengan pakaian sedikit terbuka dan daya tarik yang tidak jarang membuat Ilker tergila-gila.
"Kamu barusan sampai?" tanya Yilzid berpura. Melingkarkan kedua tangannya, berdiri di hadapan sang kekasih
"Jangan banyak tanya," jawab Ilker, melepaskan tangan Yilzid. Berdiri tepat di bawah kamar sang kekasih hatinya.
"Jangan gitu dong!" ucap Yilzid, melipat kedua tangannya di atas dada.
"Heh!" kata Ilker menyeringai, menaikkan bibirnya sebelah kiri. "Jangan pura-pura tidak tau, Dudu. Dan jangan mengalihkan pembicaraan," sentak Ilker . "Apa yang kau lakukan itu salah. Kau sudah membuat malapetaka untuk kita berdua," ungkapnya, memijat kepalanya dengan kuat. "Kenapa kau ceroboh mengirimkan itu melalui kurir ke rumahku?" tanya Ilker menatap wajah sang kekasih dengan sorot mata kecewa. "Aku pasti akan menyelesaikannya sendiri?! Tapi tidak melewati itu, Dudu!" sesalnya sebab kekasihnya sudah bertindak di belakangnya sendiri. "Apa jadinya, kalau sampai kurir itu tau tentang rumahku dan istriku, bagaimana?" tanyanya dengan penyesalan. "Semua pasti akan hancur?! Semua orang akan tau tentang kita berdua." Memutar badan membelakangi pujaan hatinya. "Kau tau, Dudu? Apa akibatnya ? Kita akan gagal menikah. Media, wartawan akan mengikuti kita kemana pun kita pergi," keluhnya membayangkan paket itu, kalau sampai dibaca kurir. Membelakangi Yilzid dengan tangan sebelah kanannya memegang pinggang.
Yilzid sontak terkejut melihat tangan sang kekasih yang dibalut oleh kain. "Sayang, ini, kamu terluka?" tanya Yilzid, mengambil tangan Ilker yang berkacak pinggang. "Kamu terluka?" Menatap lurus ke arah pria yang paling dia cintai dengan panik.
"Ini tidak apa-apa dibandingkan kebodohanmu!" pekik Ilker, melepaskan tangannya dari genggaman wanita yang paling di cintainya dengan kasar. "Jangan mengalihkan semuanya. Aku hanya ingin tau, apa alasanmu membuat surat itu tanpa sepengetahuanku dan mengantarkannya ke rumahku melalui kurir! Apa maksudnya Yilzid? Jawab!" pekiknya di halaman, tepatnya tidak jauh dari parkiran mobil khusus yang dibuat oleh Yilzid untuk kekasih hatinya.
"Aku tidak mau kau terlalu lama dengan wanita itu! Aku mau kita segera menikah," kata Yilzid dengan penuh penekanan. "Karena aku cemburu. Sekarang kamu sudah mengakuinya sebagai istrimu," lanjutnya dengan kesal.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1