
"Aku tidak akan melakukan pekerjaan ini!" Yilzid menolaknya dari dalam hati. "Aku memang membutuhkan banyak uang tapi kalau menghancurkan kehormatanku aku lebih baik menolaknya," lanjutnya, menatap ke arah pria yang masih memakai kaca mata, berbincang serius dengan Pevin sambil membuka-buka lembaran demi lembaran kertas putih yang begitu serius didengarkan oleh Pevin.
"Dia adalah model top. Dia tidak perlu lagi di ajari karena dia sudah sering bermain di layar kaca," ucap Pevin memberi jaminan.
Kring! Kring! Kring!
Ponsel pria di balik kaca mata hitam itu pun berdering menghentikan perbincangan mereka menoleh ke atas meja. Mengambil ponsel yang terletak yang persilakan oleh Pevin dengan sebuah senyuman tipis sebagai isyarat menyuruh lelaki itu mengangkat telepon. Dia pun seketika mengangguk sambil menaikkan telapak tangan yang memegang ponsel ke arah wanita yang berdiri . "Menjalin kerjasama dengan nya bukanlah hal yang mudah," batin Pevin mengingat tentang siapa lelaki yang lebih jauh usianya dari dirinya.
Menatap punggung pria yang berjalan menjauh dari nya. "Wanita mana pun pasti akan hancur jika tidak hati-hati bekerjasama dengan nya," gumamnya yang berdiri membaca dengan serius yang tertulis di dalam lembaran kertas putih sambil melirik langkah kaki pria yang mengayun dan menempelkan ponsel di telinga sebelah kanan. "Honor yang ditawarkan sangat fantastis." Dia membuka lembaran berikutnya, menatap ke angka yang tertulis.
Tidak sabaran menunggu terlalu lama. Yilzid kini mendekati sahabatnya. "Iklan yang kamu maksud itu, seperti apa,sih?" Dia langsung bertanya dari belakang. Sontak Pevin terkejut dan mengehentikan membuka lembaran berikutnya. Menaikkan pandangan lurus terheran setelah perempuan tadi menegurnya dari belakang.
Mengerutkan kening. "Mengapa mendadak kamu bertanya?" Memutar badan ke hadapan model yang akan membintangi sebuah iklan ternama bercampur perasaan khawatir.
"Jelas aku ingin bertanya. Di balik ini, sepertinya ada aroma yang sedikit mencurigakan," balasnya langsung menarik kertas dari tangan Pevin.
Sementara pria tersebut sedang serius membicarakan sesuatu dari balik telepon. "Aku tidak pernah membintangi iklan, seperti ini. Tampak aneh dan sedikit tertutup... ." Yilzid melayangkan tatapan tajam melihat kedua bola mata temannya. Melihat lembaran surat dari awal hingga akhir sampai lelaki itu pun menjauh lagi dari mereka.
__ADS_1
"Percayalah kawan! Ini tidak ada yang aneh. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Tempat tidur itu hanya formalitas saja untuk iklan yang akan kau bintangi!" ucap Pevin menghembuskan napas panjang sambil menempelkan tangan di kening. Pusing melihat sikap Yilzid yang mendadak berubah.
"Bayaran yang sangat tinggi," batin Yilzid terheran saat melihat jumlah angka tertulis. Dia pun menelusuri setiap yang dibacanya dengan jeli. Itu bukan hal yang baru pertama kali, selama dia menjadi seorang model, dia tidak pernah tutup mata dengan isi perjanjian. Dia pasti akan melihatnya dengan sedetail mungkin, agar tidak ada kejadian yang merugikan dirinya.
"Semua sudah siap!" kata pak Altan lega menghembuskan napas membuang kelelahan yang sudah menyita waktunya. Menyusun kertas lowongan kerja yang akan di sebarkannya besok dan meminggirkan kertas yang tidak terpakai untuk di buang ke tempat sampah. Menguap menahan kantuk sangking penasaran, dia pun beranjak meninggalkan tempat yang dia duduki saat ini melihat jam yang tergantung di dalam pos pak Edis. "Sudah jam segitu." Kedua bola matanya membelalak lebar.
Di ambang kebingungan akhirnya, Alen memutuskan sudah siap dengan tugas barunya. Menyamar sebagai mata-mata demi menyelamatkan perusahaan stasiun televisi milik keluarga Carya. Menyatukan nyali agar tidak goyah menghadapi situasi yang baru baginya esok hari. "Ini belum pernah sebelumnya. Baru ini pertama kalinya, aku melakukan hal-hal yang di luar nalarku," katanya di dalam batin melihat sang ibu keluar dari kamar.
"Jangan terlalu malam tidur! Besok kamu akan kesiangan," ucap Ilen menutup pintu dengan rapat.
"Bagaimana aku bisa tidur dengan cepat?" Melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 02 : 00 WIB dini hari. "Aku engga bisa menutup mata dengan nyenyak. Bayangan itu selalu menghantuiku," gumaman itu semakin lirih. "Belum lagi Cecar sudah tidak bersama 'ku lagi. Bagaimana aku bisa semangat? Jangan, 'kan semangat untuk menyambut esok hari, melihat tempat tidur ini saja sudah membuat 'ku malas untuk tidur." Membuka kembali jendela, menatap nanar udara kosong yang berembus angin malam.
Rana jam segini dia juga belum mau tidur. Selama di dalam kamar dia mendengus kesal melihat reaksi wanita yang tidak lama ini sudah menjadi bagian dari keluarganya. Membenahi bantal yang berada di bawah kepala dengan bagus. "Pa! Papa dulu pernah bilang, 'kan pada Kakak, "Kalau dia harus menyayangiku setelah Papa nanti pergi. "Tapi apa, Pa? Sekarang Kakak malah menyayangi perempuan itu ketimbang Adiknya sendiri. Ayah tau? Setelah Kakak memarahinya tadi..., habis... ! Setelah itu Kakak kembali kasihan dan pergi keluar menebus obatnya," katanya kembali mengadu, teringat di saat tadi dia melihat sang kakak buru-buru keluar dari kamar memegang resep obat yang tidak sengaja terlihat oleh nya sewaktu dia mau turun mengambil minum.
Segala keluh kesah yang menganak di dalam dada pun dia keluarkan, mengadukannya kepada sang ayah yang tersenyum di dalam sebuah foto yang terlihat bersama dengan dirinya yang selalu di bawanya ke mana pun dia pergi. Mendekap lembaran foto dengan sedih.
Suasana di luar rumah pun sudah sunyi. Malam yang datang kembali bertamu, seperti biasa menaruh harapan yang besar esok pagi pada setiap insan yang ingin memulai sesuatu yang baru dan lebih baik dari setelahnya.
__ADS_1
Dhyia tertatih-tatih bangun demi menutupi tubuh suaminya dari dinginnya AC dan angin malam yang masuk melalui celah jendela kaca yang belum tertutup rapat. Perasaan sedih masih membekas di benaknya. Namun, dia tetap harus tegar. Berdiri kuat dengan sepenuh hati.
Gohan Hakan belum juga beristirahat di tengah malam. Dia terus melacak hingga jam sudah menunjukkan pukul 03 : 00 WIB dini hari. Namun, berita sang putri belum juga ada yang mengetahuinya. Dia semakin gelisah mengingat sang putri yang tak jua ada kabar.
Berulang kali dia memantau kontak nomor anak kesayangannya yang belum juga menunjukkan pernah aktif. Yilzid yang bersikeras ingin membatalkan kontrak berusaha di cegah oleh Pevin.
"Kamu sudah tidak waras, ya." Pevin menarik lengan Yilzid. Melihat temannya yang terus ngotot ingin memutuskan kontrak. "Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Semuanya aman dan ini baik-baik saja." Pevin dengan kasar merebut kertas dari tangan Yilzid yang hampir ingin dirobek. "Ini adalah masa depan kamu Yilzid. Aku engga mungkin menjerumuskan kamu ke dalam jurang." Mendelik menatap Yilzid yang belum percaya sama sekali.
Memutar badan mendengus melihat kebodohan sang model. "Kamu itu tau engga? Ini hanya sebuah iklan yang hanya beberapa menit saja. Lalu setelahnya kelar! Oke!" Pevin meredakan emosi sang wanita cantik agar luluh.
Di tengah gemuruh temannya berteriak memarahinya. Dia tiba-tiba tersentak dengan sang ayah. Sudah sejak lama dia belum pernah melihat ponselnya dan mengaktifkannya, pikirnya di sela-sela omelan Pevin.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...