
Pesawat ZSRL penerbangan dari London pun akhirnya, tiba di bandara internasional Indonesia. Rana Carya sungguh bahagia akhirnya, dia bisa melihat tanah kelahirannya. Bergegas dia langsung turun mengambil koper-koper bawaannya ke baggage reclaim.
Bandara yang terlihat sesak saat ini yang di padati oleh penumpang yang terlihat berjalan ke sana kemari, hilir- mudik pun menyesakkan sedikit napas yang ingin mengambil koper bawaannya. Belum lagi dari jauh orang-orang yang berjalan dengan troli bawaan mereka pun terlihat menutupi pandangannya dari dinding kaca yang ingin melihat sang kakak telah datang menjemputnya atau belum.
"Kakak pasti lupa lagi?!" gumamnya. "Dia 'kan dari dulu memang begitu, pelupa! Huh!" Dia pun menempelkan tangannya di kening, di ikuti gelengan kepala sambil lanjut berjalan menuju pintu exit.
Rana pun lanjut keluar menunggu taksi jemputannya yang telah di pesannya melalui online sambil berjalan tadi. Tubuhnya yang setengah tinggi dari sang kakak dengan pakaian modis ala anak modern kota besar London tampak menutupi tubuhnya. Akan tetapi, meski demikian dia masih menjaga penampilannya sedikit dengan pakaian yang sopan dan juga mengenakan penutup kepala yang suka dia model dengan style yang modis. Melewati orang-orang dan pramugari serta pramugara yang lulu-lalang terlihat sibuk melayani penumpang.
Dan juga dia melewati para cleaning service yang membersihkan sepanjang area penerbangan yang terlihat kotor dan juga para mobil-mobil kecil yang berjalan melintasi lokasi jalan dalam bandara untuk mengantarkan para penumpang menuju ke pintu gate yang terlihat jauh jika di lalui dengan berjalan kaki.
Rana pun melalui mereka yang bolak-balik membawa penumpang dan kembali tanpa penumpang juga. Melirik ke arah mereka yang sangat bahagia bersama dengan keluarganya. Ada yang sendiri dan ada juga yang bersama dengan kakaknya.
Andai aku, seperti mereka, pikirnya saat melihat ke arah anak yang berjalan bersama keluarganya. Di depan pitu tepatnya di luar bandara Rana berdiri dengan sepatu boots yang bermerek dari Canada yang berwarna kulit, merubah penampilannya menjadi senada dengan pakaiannya yang bergaya style modern meski memakai hijab. Mengambil ponsel dari dalam tas lalu menelepon sang kakak yang belum juga meneleponnya menanyakan kabar.
Ilker langsung mengangkat telepon yang berdering setelah diberitahu oleh Yilzid dan melihat yang meneleponnya adalah panggilan dari rumah. Sementara Rana terlihat gelisah sebab panggilannya tidak diangkat oleh sang kakak di tambah lagi dia melihat kalau sang kakak sedang berada di dalam panggilan yang lain.
Dia pun beranjak naik dari laut dan menghentikan menyelamnya setelah mendengar teriakkan Yilzid tadi yang sedikit cemas sebab dia mengetahui kalau yang menelepon itu adalah nomor rumah.
"Tuan, Nyonya sakit," kata Benar panik dari balik telepon.
"Apa? Dhyia sakit?" Ilker bertanya balik panik. Begitu dia mengangkat teleponnya dia langsung mendengar kabar kalau istrinya sedang sakit.
"Iya, Tuan! Nyonya sakit. Tadi, Nyonya muntah-muntah," lanjut Benar.
__ADS_1
"Oh!" Dia pun menghembuskan napas panjang, shock mendengar kabar buruk. "Bagaimana mungkin dia bisa sakit?" Ilker bertanya balik kebingungan kepada dirinya sendiri. Cemas dan mematikan langsung telepon dan bergegas pulang.
"Sayang! Kita mau ke mana?" tanya Yilzid mengejar kekasihnya yang terlihat buru-buru meninggalkan kapal.
"Ada urusan mendadak! Dan kita harus balik sekarang!" ucap Ilker.
"Apa?" tanya Yilzid terheran mengejar lelaki yang berjalan dengan tergesa-gesa dari belakang. Jenjang kakinya yang panjang membuat wanita itu lelah mengejarnya.
"Ilker! Kita itu baru sampai dan belum ada sehari! Ini malah kamu mengajak balik! Maksud kamu itu apa, sih? Ha?' Yilzid terus mengikutinya dari belakang mengejar pria itu memasuki parkiran. "Buru-buru mau pulang! Kamu sadar engga! Kalau kamu itu sudah merusak liburan kita. Kalau hanya masalah pekerjaan! Kamu, ' kan bisa suruh Alen! Atau Cecar. Oh, iya! Juga ada Derya, 'kan? Di sana! Lalu kena... ." Yilzid pun terdiam menutup mulutnya.
"Kamu itu bisa diam, engga? Ini jauh lebih penting dari pekerjaan." Ilker mengeluarkan mobil dari tempat parkiran VVIP setelah memberi bayaran.
"Pak, kembaliannya." Lelaki itu memberikan uang ke arah kaca mobil pria yang masih terbuka.
"Perempuan itu, 'kan?" tanya Yilzid dengan menajamkan tatapannya ke arah Ilker.
Sontak Ilker langsung terdiam. Dia pun membisu seribu bahasa. Entah apa yang ada di dalam perasaannya sehingga dia begitu panik dan khawatir saat mendengar wanita yang telah dinikahinya itu sakit.
Yilzid langsung membuang mukanya dan mendengus kesal. Melipat kedua tangan di atas dada, sebal dengan sikap sang kekasih yang begitu mencemaskan wanita itu.
"Aku tau! Kamu sudah mulai mencintai wanita itu," katanya langsung sambil menatap lurus jalan. Di ikuti oleh Ilker yang melirik ke arahnya.
Seketika dia mulai bingung dengan dirinya. Mobil yang sunyi tanpa alunan musik pun membuatnya semakin bergelut dengan gejolak hati dan pikiran. Mendengar ocehan sang kekasih dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong bercampur lamunan.
__ADS_1
"Hei! Kamu bisa nyetir, engga! Teriak seorang yang berwajah ketat dari luar mobil sambil meninju kaca mobil pelan.
Sontak Ilker langsung terkejut dan Yilzid pun menghela napas lega karena masih di beri oleh Sang Maha Kuasa keselamatan. Setelah kejadian itu dia pun kembali mengomel-ngomel sebab ternyata diam-diam pria yang dicintainya masih peduli dengan wanita itu, pikirnya.
"Sekarang kamu sudah benar-benar berubah! Kamu sudah tidak memikirkan aku lagi! Bahkan acara liburan yang kamu janjikan pun kamu rusak seketika," ucap Yilzid. "Aku sudah mau meluluhkan hatiku kembali!" Menoleh ke arah pria yang bersikap acuh saat ini. "Tapi kamu malah merusaknya lagi!" katanya memutar kembali pandangan melihat ke arah kiri.
Saat ini di dalam mobil Ilker hanya diam saja. Sepatah kata pun tidak terucap dari bibirnya. Mendengar kabar kalau wanita yang telah dinikahinya dengan rasa iba sedang tidak baik-baik saja membuatnya berkecamuk di dalam pikiran. Melajukan mobil dengan kencang tanpa menghiraukan wanita yang dicintainya.
Di luar bandara taksi pesanan Rana pun telah tiba dan dia pun memberikan koper-koper bawaannya tadi memakai troli dia berikan kepada sang sopir untuk di masukkan ke dalam bagasi.
"Pak, tolong! Koper yang itu agak hati-hati, ya!" Menunjuk koper yang di dalamnya terdapat busur panah peninggalan sang ayah.
"Baik, Non," katanya melihat ke arah wanita yang logat bicaranya agak aneh, seperti logat-logat orang luar, pikirnya. Menutup pintu bagasi.
Sopir taksi itu pun membuka pintu, di ikuti oleh Rana juga yang mengambil bangku tepat di belakang sang sopir. Mendudukkan tubuhnya tepat di tengah menghadap ke arah kaca mobil yang bisa menatap jalan yang mereka lalui.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1