
"Nya, sebaiknya kita tunggu sebentar lagi. Nanti kalau belum juga datang, baru kita suruh paka altan menghubunginya kembali," saran Benar.
Wanita itu terus memandangi wajah suaminya yang terpejam itu. Kalau dia lama terbaring pasti wanita itu akan datang kemari. Dhyia kembali mengambil alat pengukur suhu tubuh dan menjepitkannya di ketiak sang suami dengan pelan, agar dia tahu suhu panasnya kini.
"Nya, jangan cemas. Sebentar lagi Dokternya pasti akan datang?!" kata Benar yang merasakan kekhawatiran sang nyonya.
"Iya, Bi." Melayangkan senyuman tipis ke arah Benar. Mengelus tangan suaminya dengan pelan yang masih terbalut dengan dasi.
Duduk di samping sang suami. Dhyia sangat antusias ingin tahu secepatnya tangan suaminya itu terluka kena apa.
Dari belakang sang nyonya, Benar terus memandangi kedua orang itu yang saling mencintai namun, tidak mau mengakui di antara salah satunya. Tersimpul manis dengan diam-diam melihat tuan mudanya yang menggenggam tangan sang istri dengan erat.
Sungguh memilukan pikirnya. Menahan rasa yang sudah tersirat dengan segala keegoisan. Malu akan kelemahan dirinya jika dia mengakui cintanya kepada sang istri.
"Nya, istirahatlah dulu! Bersihkan diri, Nyonya. Biar saya yang akan menunggui, Tuan muda di sini, Nya."
" Tidak, Bi. Saya akan tetap menjaga, Tuan muda sampai panasnya sedikit menurun." Menatap sang suami yang sudah tidak mau melihatnya lagi. "Bibi istirahat saja. Ini, 'kan sudah larut sore, Bi." Teringat jam yang baru dilihatnya.
Pada sore ini, pak Altan terlihat mondar mandir berjalan ke sana ke mari dan sesekali melirik telepon yang sudah terputus, menunggu sang dokter yang tak kunjung memberikan kabar.
Bagi pak Altan, Tuan mudanya adalah perioritas utama sebab jika dia sakit dia akan bertingkah, seperti anak kecil yang manja. Maka dari itu secepat mungkin dia harus bisa menemukan cara lain untuk menyembuhkan tuan mudanya jika dokter itu tidak jadi datang.
Melihat ke arah jam yang tergantung di depan pintu. " Baik, Nya. Kalau, Nyonya butuh sesuatu, Bibi ada di bawah, Nya." Benar pun pamit dari hadapan majikannya, melirik sesekali ke belakang sambil memegang knof pintu.
Menutupnya dan kemudian menuruni anak tangga sambil mencium bau yang tidak sedap. Sehabis berkeliling di kediaman Carya untuk mencari pak Altan. Dia belum sempat mengganti bajunya baik pula dengan mencuci mukanya.
__ADS_1
"Pantesan," gumamnya, mencium aroma itu dari tubuhnya. Buru-buru dengan cepat menuruni anak tangga dan membuka jilbabnya merapikan rambut. Mengayunkan kaki menuruni anak tangga dengan kedua bola mata melihat tangga yang di laluinya.
Suara kaki pun terdengar selain suara kakinya yang melangkah dengan cepat, mendekati sumber suara.
"Macam engga ada kerjaan saja. Mondar mandir! Mondar mandir!" sungut Benar yang penasaran.
"Kayak mana aku, gak kayak gini. Dokternya belum datang-datang juga," kata pak Altan, menatap Benar sedih dengan kedua sorot mata itu.
Benar pun menghela napas berat melihat raut muka pak Altan yang hampir berputus asa. "Jangan putus asa! Dia, 'kan sudah lama jadi, Dokter keluarga ini. Jadi, mana mungkin dia tidak datang." Gelisah karena bau yang tidak sedap semakin menyeruak dan risih melihat baju pak Altan yang selalu cuci kering.
"Tapi, sudah jam segini." Melihat jam dinding yang tergantung tepat di atas meja telepon. "Lima belas menit lagi adzan Maghrib."
"Kalau begitu setelah aku selesai mandi. Aku yang akan menunggunya. Kamu pergi saja sholat," kata Benar mengalah.
Wajahnya pun langsung sumringah tidak tertahankan, mengingat permainan catur yang sempat tertunda. Berharap dia akan mengelabui Benar, berpura ingin melanjutkan pekerjaan yang lain demi mengelak dari belenggu tuan mudanya.
"Kalau dia sadar aku pasti tidak bisa ke mana-mana?!" katanya di dalam hati dengan senang dan bahagia menjalankan rencana.
Di lain sisi Cecar dan Alen sangat deg-degan dan terlihat kalang kabut setelah mendengar ucapan yang dicetuskan langsung oleh sang pimpinan kepadanya.
"Car, aku bingung besok aku kayak mana?" Memundurkan sandaran kursinya. "Kalau sempat dia membuktikannya aku dan Ibuku makan dari mana lagi?" Bertanya dengan getir, menatap nanar dari kaca mobil.
Cecar yang membawa mobil memecah kesunyian hanya diam saja dan mendengarkan semua keluh kesah Alen.
"Ibuku dan rumah kami semua membutuhkan uang. Uang tabunganku tidak banyak. Mana mungkin aku dan ibuku bisa bertahan hidup." Melihat orang yang duduk di pinggiran jalan. "Hidup di tengah jalan?" gumamnya takut ketika melihat anak-anak yang makan di pinggir jalan. Melirik Cecar yang belum memberi tanggapan.
__ADS_1
Alen menatap wajah ibunya yang terlintas seketika. Seluruh kebutuhan mereka semua, Alen lah yang menanggungnya. Kalau berharap dari gaji sang ibu itu tidak akan cukup.
"Itu gak bakalan. Mana mungkin dia memecatmu. Itu hanya gertakannya saja. Dia, 'kan memang selalu, seperti itu selama ini. Suka menggertak dan dikit! Dikit! Memberi ancaman," kata Cecar.
"Iya, tapi wajahnya tadi marah dan serius!" katanya, melirik Cecar. "Kau sih! Terlalu sibuk dengan game barumu. Sampai wajah bosmu itu aja kau gak ngelihat," lanjut Alen sebal, semakin menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Aku gak mau melihatnya. Bisa-bisa aku nanti jadi, kena juga," ucapnya, melirik Alen menahan tawa.
Sontak wanita yang duduk di sampingnya itu langsung berubah pias dan mengerikan serta mengurungkan niatnya untuk bersandar dengan santai.
"Oh, aku baru tahu . Ternyata, kau bukanlah teman yang setia. Kau rupanya sudah memikirkan itu, hmmm!" Mengangguk-angguk geram. Jadi, rupanya aku berteman dengan orang yang salah selama ini." Alen merasa cukup tahu, bahwa temannya itu ternyata tidak mau merasakan kepahitan temannya sendiri. Menggigit kedua gerahamnya sambil merapatkan kedua bibirnya dengan ketat.
Cecar anaknya sedikit licik tidak pernah mau berdiri di belakang temannya bila temannya itu tersandung masalah oleh sebab itu dia paling suka berteman dengan Alen sebab Alen anaknya cukup bisa di manipulasi dan di manfaatkan.
Alen masih tetap diam dan melirik Cecar dengan sinis bercampur sedikit kebencian. Mengatur posisi duduknya dan memutar kepala lalu memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri menatap ke luar jendela mobil.
"Len, kamu ngambek, ya?" goda Cecar bertanya balik setelah melihat temannya membuang muka darinya. Perasaan tidak enak dari sikapnya barusan membuatnya tersadar dan merasa bersalah. "Aku tidak sejahat itu, kok," ucapnya dengan getir, menatap lurus kendaraan yang melintasi jalan. "Sedikit memang aku kayak gitu. Tapi, itu tidak, seperti yang kamu pikirkan. Memang benar aku gak suka menolong teman, apalagi terjerat masalah. Bukannya aku tidak setia kawan. Tapi aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi," katanya, menyetir mobil memecah jalanan yang ramai dan di padati oleh para pengendara.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1