Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Perbincangan di kafe dan kebiasaan Alen


__ADS_3

Sontak Asil menutup mulut setelah mendengar pertanyaan Ilker kepada Yuzer, menoleh ke arahnya dengan simpati. "Iya, Yuz. Kamu kenapa, sih? Semenjak datang, kamu sudah kayak gini? Apa masalah istrimu lagi?" Belum sempat Yuzer menjawab, Asil kembali bertanya.


Ilker pun bingung melihatnya. Tiba-tiba dia teringat dan langsung menarik napas setelah mendengar nama istri. Dia begitu resah dan gelisah.


"Hm, kalau masalah itu. Lalu kenapa kamu rela datang kemari?" sentil Ilker menyerang sahabatnya dengan perkataan yang keluar begitu saja sebab dia sudah lama tidak pernah bercanda dengan temannya itu.


"Itu karena aku ada terikat kontrak," jawab Yuzer memandang lurus ke arah temannya itu. Di balik hati sebenarnya dia bimbang akan keputusannya ini. Dia sendiri tidak tahu dia kerja untuk apa dan untuk siapa. Tapi yang jelas jika melihat harga yang di tawarkan membuatnya tidak lagi berpikir panjang. Bagi Yuzer yang terpenting adalah uang karena melihat dari keributan di rumah tangganya yang paling besar selama ini masalah yang menimpa mereka adalah uang.


Lain lagi dengan Ilker yang masih belum puas dengan pertemuannya bersama Yuzer. Singkat kata dia sangat mencemaskan tentang tindakan Yilzid yang sudah di luar kendali. Gelisah terus menerus dan berulang kali selama perbincangan tidak jarang dia menghela napas panjang dan melihat jam tangannya yang melingkar.


"Kamu mau pulang?" tanya Asil yang sedari tadi terus memperhatikannya. Dia sangat peka menebak temannya yang satu itu. Dari dulu Asil memang sering benar tatkala jika dia menebak sendiri temannya itu.


Ilker hanya diam bercampur malu sebab kedua sahabatnya itu belum ada cerita untuk pulang. Merubah posisi kursinya sedikit miring bersandar di dinding. Memainkan jemarinya ingin bersuara.


"Aku sudah gerah selepas pulang kerja aku belum sempat mandi." Bingung harus mengatakan apa tentang tangan sebelah kanannya kepada sang istri.


"Kalau boleh tau. Ngomong -ngomong tanganmu kenapa?" tanya Asil yang tidak melihat itu dari tadi akibat ditutup -tutupi oleh temannya itu.


"Hanya cidera kecil," jawabnya singkat.


Membuat Yuzer pun terheran penuh curiga di dalam sanubarinya berbisik kalau itu bukanlah hal yang biasa. Menatap raut muka temannya itu agar dia mendapat jawaban dari kecurigaannya. Namun, sayang semua itu tidak terjadi karena Ilker yang terlalu pandai berdalih baik raut muka maupun ucapan.


"Kalau sakitnya parah dan membuatmu harus istirahat, pulanglah!" ucap Yuzer. "Lagi pula kita, 'kan sudah bertemu."

__ADS_1


"Iya, Ker. Sebaiknya kamu pulang saja. Kasihan di rumahmu." Melihat Ilker yang belum mau mengatakan siapa istrinya.


Refleks tanpa berpikir dia lekas mendorong kursinya mundur ke belakang. Saling peluk sebagai seorang sahabat sejati. "Hati-hati!" Asil menepuk pundaknya dan di ikuti oleh Yuzer. "Kapan-kapan kita bertemu lagi!" Yuzer belum puas melepaskan kerinduannya kepada ketiga sahabatnya.


Mengambil cangkir dan meminum kopinya sampai habis, melegakan tenggorokannya yang serat terlalu banyak menelan ludah akibat rusaknya dua jiwa yang dia temui.


Dhyia dan Yilzid. Dhyia bukanlah wanita yang ingin dia sakiti sama sekali. Akan tetapi karena keegoisannya dan kebutaannya terhadap cinta terpaksa menyeretnya ke lembah kehancuran.


Remuk terasa di dadanya kini ketika melihat air mata wanita yang dinikahinya menetes. Namun, sayang beribu sayang dengan kuat seorang Ilker yang jaya itu sangat mampu menghilangkan rasa itu dan menutup hati nuraninya akibat cinta butanya terhadap seorang wanita yang sudah dia pacari selama lima tahun.


Salah benar tidak lagi dia pikirkan yang terpenting baginya hanya ada satu, yaitu dia tidak mungkin melepaskan hubungan yang sudah lama dia jalin dengan kekasihnya ketimbang hubungan yang sah dan suci serta dihalalkan untuk berbuat apa saja sesuai syariat Islam.


"Len, aku lihat-lihat di dalam sana ada kafe lah," kata Cecar, menyetir sambil melihat-lihat di seputaran jalan.


"Oke, aku akan mundur dulu lalu membelok masuk ke dalam," katanya, melihat ke belakang dari kaca spion.


"Hati-hati! Jangan sembrono. Soalnya aku masih mau hidup." Alen sangat jantungan kalau dia mengingat kejadian yang sama di saat ayahnya pergi mencari nafkah.


Alen yang dulu masih duduk di kelas tiga SMA harus kehilangan sosok seorang ayah yang menjadi panutannya menjadi anak yang kuat. Air mata seketika menetes dan langsung dihapusnya secepat mungkin, agar Cecar tidak melihatnya. Soalnya pada waktu kejadian kecelakaan yang menimpa orang tuanya, dia ada di lokasi kejadian. Cecar yang hampir sebaya bahkan lebih tua darinya delapan bulan sangat shock ketika mendengar suara benturan keras dan melihat sosok seorang pria paruh baya yang terhempas ke aspal dengan keras lalu terseret oleh sepeda motor miliknya sendiri.


"Alen, kau ngantuk?" tanya Cecar.


"Tidak! Putarkan saja mobilnya. Jangan lihat ke arahku! Lihat saja ke arah spion mobil dan kaca belakang. Masih ada orang atau gak." Merasa kesal karena Cecar selalu mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Iya," jawabnya singkat. "Dasar bawel dari dulu gak pernah berubah," katanya di dalam hati, melanjutkan perjalanan hingga ke tempat parkir, melirik Alen dengan tatapan suka yang tersembunyi di dalam kedua bola matanya dengan dalam dan sedikit terkejut ketika melihat sebuah mobil terparkir yang berinisial, seperti tanda plat polisi milik direktur utama stasiun TV CCA.


Gemetar dan panik sebab dia dan Alen belum juga menemukan sang model yang mirip dengan Ziya Yilzid. Sesekali dia melirik Alen yang rileks menikmati hidup dengan menutup kedua bola matanya sampai mobil berhenti di tempat parkiran.


"Mobil ini tidak boleh parkir di sini!" kata Cecar mencari tempat yang lain. "Nah, ini bagus. Kalau itu benar-benar pimpinannya si Alen, dia tidak akan melihatnya." Alen langsung membuka kedua matanya ingin melihat sekeliling badan mobil, agar mobil yang dibawanya tidak mengenai mobil yang lain.


"Alen, aku takut. Kalau pimpinan kesayanganmu di sini!" ucap Cecar dengan getir.


Alen sontak terkejut mengambil tas, melirik keluar melihat dari dalam kaca mobil. "Maksud kamu apaan, sih!" Berkaca di balik bedak padatnya kembali. "Kalau kita bertemu langsung kita tegur aja," sarannya sambil memakai lipstik dan melihat bibirnya di dalam cermin yang membuat Cecar selalu memujinya di dalam hati.


"Kamu gadis yang kuat, cantik dan baik," katanya mengagumi.


Setiap Alen ingin pergi atau singgah dia tidak pernah melupakan dandanannya terlebih dahulu. Dia adalah sosok wanita yang gemar berhias meski dalam tampilan sesederhana apapun. Bedak dan lipstik jangan pernah dijauhkan dari nya. Suaranya yang nyaring akan terdengar melengking ditelinga hingga membuat siapa saja terpaksa menutup kedua telinganya lalu mengalah, termasuk teman yang satunya ini yang menunggunya keluar dari dalam mobil. Dalam kesempatan Cecar sering mengalah dan bahkan membantu ekonomi keluarga Alen di saat ayahnya meninggal yang membuat ibunya terpuruk.


"Kamu mau dandanan sampai subuh?" tanya Cecar. Mencabut kunci dan melihat sahabatnya yang belum selesai dari tadi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2