Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Makan siang Part 4


__ADS_3

Tidak berapa lama Ilker pun turun setelah ia mengambil ponselnya dengan setumpuk masalah yang berada di dalam kepala. Sementara Rana terlihat sudah cemberut kesal melihat sang kakak yang tak jua kunjung tiba. Menahan perut yang sudah lapar dan tenggorokan yang kering. Kedua bibirnya pun hampir pecah-pecah akibat dari tadi belum pernah minum.


Ilker kemudian turun dan sudah melangkah sampai ke dapur. Berjalan pelan-pelan seolah-olah ia mengendap -endap, seperti maling yang sedang mengintip seseorang dari jauh, memiringkan kepala menatap ke arah kursi.


Di kursi, Rana tampak mengerang kesal menunggu pria itu dengan waktu yang cukup lama. "Berkali-kali, Kakak seperti ini, huh!" gumamnya sebal melihat jam yang berputar di dinding.


Ilker langsung memberi kejutan. Memanggil sang adik melalui telepon.


Kring ! Kring ! Kring !


Sontak Rana terkejut tiba-tiba mendengar suara ponselnya berbunyi. "Kakak," gumamnya pelan dengan gurat wajah normal melihat nama yang memanggil. Dia pun menahan dirinya untuk bangkit dari duduknya sebab kedua tangan sudah menutup kedua bola matanya. Dia pun bersikeras untuk melawan tangan yang menutup kedua matanya dengan kuat. Meletakkan ponsel yang di genggamnya di atas meja. Sedikit pun ia tidak mendengar suara ponsel yang memanggilnya itu berada entah di sebelah mana sebab Ilker meletakkan ponsel itu di meja bar yang berhadapan dengan meja makan.


Sontak Rana pun melepaskan jemari itu dengan kuat. "Iiih! Ini siapa sih?" teriaknya sebal teringat ulah konyol yang belum pernah sama sekali terjadi. "Ini sebenarnya siapa, sih? Hei! Jangan main-main dengan aku, ya!" ucapnya dengan kasar menarik jemari itu dengan sekuat-kuatnya.


Push!


Akhirnya, kedua jemari itu terlepas dari kedua bola matanya.


"Hahaha!" Sontak Ilker langsung tertawa lebar seakan ia sedang melakukan aksi yang lucu.


"Kakak! Uuuh! Aku pikir entah siapa," sungutnya menormalkan pandangannya yang buram.


"Hahaha! Baru seperti itu kamu tidak bisa mengenalinya," ucap Ilker acuh. Menarik kursi dan duduk di depan meja makan. "Kakak pikir kamu lihai. Bisa menebak seseorang dari jemarinya," sambungnya membuka piring yang telungkup. Padahal itu hal yang paling mudah." Memasang celemek lalu meneguk air mineral yang sudah terisi di dalam gelas.


"Aaagh! Kakak ada-ada saja. Dari mana kita bisa mengenali seseorang dari jemarinya. Itu sangat sulit . Lagi pula itu bukan keahlianku. Aku cuma bisa menebak titik anak panah dari jarak yang jauh," ujar Rana menaruh nasi ke piring sang kakak sambil memberi daging sapi lada hitam ke arah kakak lelakinya.


"Sesekali kau itu harus cerdik mengenali seseorang dari jemarinya," ucap Ilker, menatap Rana sekilas lalu menunduk mengambil sendok makan yang tersusun rapi di sebelah kanan kemudian mengambil pisau yang terletak di sebelah kiri.


"Hm! Itu hanya berlaku bagi orang-orang yang tidak ada kerjaan. Dan aku paling tidak menyukai hal-hal yang konyol seperti itu," tandas Rana dengan acuh. Menaikkan kedua bahu sekaligus menaruh nasi ke dalam piringnya sama seperti sang Kakak yang tidak terlalu suka nasi panas atau nasi dingin.


"Tapi 'kan terkadang kita harus mencoba sesuatu yang baru. Yang menguji adrenalin dan nyali. Bukan begitu?" tanya Ilker kepada Rana. Memotong daging sapi lada hitam kesukaannya .

__ADS_1


"Hm!" Rana mendehem, mengerutkan kedua bibir yang di ikuti kedua bola mata melebar. "Mungkin menurut sebagian orang begitu," sambungnya . "Tapi aku tidak!" tandasnya tegas. "Aku sudah terlalu banyak mencoba Kak," sindirnya mendadak yang membuat Ilker tersedak. Dia pun meletakkan sendok dan meneguk air minum dengan kasar. Diam menatap wajah adiknya yang mendadak murung.


"Hampir setiap hari aku mencoba tapi hampir semuanya juga gagal. Sedikit pun tidak ada yang berhasil selain mencoba sabar dan ikhlas," ucapnya menatap sendok makan yang mengayun setengah di udara dan hampir mendarat di mulutnya.


Ilker kemudian menyatukan alisnya seakan bertanya-tanya, menatap dalam wajah sang adik dan sekaligus meresapi setiap kata-kata wanita itu dengan dalam. Menundukkan kembali kepalanya melihat nasi dan sapi lada hitam yang tinggal sedikit. Suapan demi suapan terus ia masukkan ke dalam mulut bersama pikirannya yang masih tetap melayang kepada sang istri di tengah ocehan adiknya yang tiada henti. Menyindir sang kakak supaya berbuat baik kepada dirinya, seperti dulu.


"Bahkan aku tidak menunjukkan wajah pun, dia tidak peka sama sekali," ucap Rana sedih dengan penuh penekanan. "Bagaimana mungkin aku belajar untuk mengenali jemari? Sementara mengenali wajah saja ia tidak bisa." Rana kembali menyindir dengan muka yang di tekuk. Menatap sang kakak yang tiba-tiba bergeming. Dia pun melongo terheran sambil mengunyah nasi yang tadi mendarat di bibirnya. "Apalagi yang harus aku perbuat selain menebak titik pusat anak panah," lanjutnya, menelan nasi. Menatap kakaknya, sepertinya sedang melamun.


"Kak, makanannya tidak enak?" tanya Rana ketika melihat wajah Ilker berubah. Menatap lelaki itu meletakkan sendok makan dan seakan menatap dengan pandangan kosong.


"Oh, tidak!" Ilker langsung bangun dari lamunan. "Makanannya enak. Hari ini Kakak lagi diet," jawabnya berdalih menutup sendok dan melepaskan celemek.


"Ooh!" Rana pun bergumam pelan menatap pria itu dengan anggukan pelan. "Apa Kakak baik-baik saja?" Rana kembali bertanya ingin tahu.


"Hm!" jawab Ilker mendehem dengan nada suara tidak bersemangat. Mengelap tangan mendorong kursi ke belakang. Bangun dan berdiri memutar badan.


"Kak!" Panggil Rana seketika.


"Kak, tadi ada kabar dari kampus. Katanya, "Di kampus ada acara karnaval. Jadi, kemungkinan aku akan balik ke sana," kata Rana menatap wajah sang kakak yang menatapnya dengan datar.


"Lalu?" tanya Ilker.


"Tapi sebelum itu Kak. Aku mau minta pendapat dari Kakak sebab aku belum ada niat ingin balik ke sana ," jawab Rana menempelkan sendok sedikit lama di dalam mulut.


"Kalau mengenai hal yang penting. Kenapa harus minta persetujuan dari Kakak?" Ilker bukannya memberi pendapat sesuai keinginan adiknya malah ia bertanya balik menyerang wanita itu ketika ia melihat raut muka sang adik tampak bingung.


Rana seketika menganga heran, menatap sang kakak tanpa berkedip ia tidak menyangka sama sekali kalau dari keluh kesahnya mengenai hal itu mendapat tanggapan miring dari lelaki yang selama ini menjadi panutannya.


Meletakkan sendok ke dalam piring dengan kasar. "Kakak tau engga? Uang kuliah aku belum di bayar." Menggeser kursi lalu berdiri, menatap wajah sang kakak dengan pias. "Selama enam bulan. Kakak engga pernah lagi menanyakan masalah kuliahku," pekiknya.


"Belajarlah memutuskan pilihan mu sendiri. Jangan terlalu bergantung dengan keputusan orang lain," kata Ilker tegas, menatap sang adik seakan penuh dengan tegas.

__ADS_1


Rana seketika diam seakan ia mendapat lemparan yang kurang menyenangkan atas ucapan yang di lontarkan oleh lelaki itu.


Menggigit gerahamnya dengan kuat sambil mencengkram sendok sekuat mungkin menahan diri agar tidak terbawa emosi. Melihat ke sembarang arah sambil menahan emosi di dalam diri.


Ilker malah pergi seketika meninggalkan sang adik yang bergulat dengan emosi. Berjalan ke arah ruangan boxing nya sekalian menelepon Alen untuk menanyakan kabar mengenai misi barunya.


Kring! Kring! Kring!


Sambungan panggilan pun terhubung secepat mungkin di ikuti tangan kirinya menempelkan ponsel di telinga sebelah kiri dan di ikuti tangan sebelah kanan memegang knof pintu lalu di ikuti kaki sebelah kanannya melangkah masuk lebih dulu ke dalam setelah pintu terbuka.


Alen yang sudah menyamar sebagai guru privat bahasa asing pun mulai hari ini akan melancarkan aksinya masuk ingin menjadi seorang mata-mata ke dalam rumah mafia yang telah tercium oleh nya. Mengangkat telepon seluler yang berdering.


"Tuan," katanya, mengambil ponsel dan menatap ke arah layar yang menyala. Menggeser slide yang berwarna hijau ke arah kanan.


📱"Halo Pak! Selamat sore, Pak," ucap Alen dari balik telepon dengan nada suara berjaga, pelan dan berhati-hati. Menelan ludah takut akan amukan orang yang berada di balik telepon.


📱"Ada perkembangan apa?" tanya Ilker ingin tahu. Berdiri menatap boxing dengan emosi yang memuncak sampai ke ubun-ubun.


📱"Sejauh ini berita yang baru saya dapatkan, kalau Gohan Hakan itu adalah seorang mafia yang paling di takuti, Pak," jawab Alen.


📱"Seberapa banyak yang kamu ketahui mengenai itu?" tanya Ilker semakin menyelidiki.


📱"Dia adalah mafia dalam persenjataan, Pak. Menurut informasi yang baru saya dapatkan, dia juga sekarang telah menimbun penyeludupan solar," jawab Alen. Menatap wajahnya yang terlihat culun setelah ia merubah dirinya menjadi seorang guru yang berpenampilan agak udik. Sekilas ia tersenyum geli melihat auranya yang beda dari biasanya di dalam cermin.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2