Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Di ruang rapat


__ADS_3

Pak Altan langsung menyeret kakinya menjauh dari Benar yang tiba-tiba tadi berdiri di belakangnya memegang sapu lidi. Menatap nanar lurus dengan napas yang tidak beraturan.


" Aneh! Tumbenan ke pingin makanan luar?" gumam Benar terheran. "Kalau ada yang nyuruh! Ehhh! Dia malah gak mau!" umpatnya dengan gumaman kecil, menyandarkan sapu lidi di dinding dan meninggalkan pak Altan sejenak dari pikirannya. Masuk ke dalam rumah mengambil pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.


Dhyia pun langsung menurunkan tangannya spontan, beranjak dari kursi lalu berpura tersenyum saat dia melihat bi Benar masuk. "Nya, Apa tuan muda udah pergi?" tanya Benar saat melihat nyonya muda mengambil gelas.


"Sudah, Bi" jawab Dhyia tersenyum pilu, berpura-pura mengambil gelas.


"Semalaman, Bibi ke pikiran sama, Nyonya," ucap Benar. "Sakitnya udah sembuh atau belum?" lanjutnya membelakangi wanita itu dengan perasaan yang ceria pada pagi ini. Bernyanyi-nyanyi dengan gumaman kecil yang terdengar sampai ke telinga wanita yang berdiri di belakangnya.


"Bibi, hari ini terlihat begitu bahagia," kata Dhyia di dalam hati, memalingkan pandangannya menoleh ke arah luar, seakan hati bi Benar yang tergambar bahagia itu sama, seperti udara luar. Udara begitu cerah, pikirnya. "Pantesan." Melihat kembali bi Benar yang sedang mengelap meja dengan raut muka yang tidak, seperti biasanya.


"Hari ini Bibi sangat senang, Nya," ungkapnya sumringah.


"Senang kenapa, Bi?" tanya Dhyia yang berpura-pura bahagia di hadapan Benar.


" Sebentar lagi, anak Bibi akan menikah," jawabnya lugas. "Sudah lama! Bibi Berharap anak Bibi yang ini segera menikah," katanya penuh harap dari dalam lubuk hati.


" Alhamdulillah, sekarang harapan Bibi terkabul," balas Dhyia. "Semoga langgeng ya, Bi. Dan semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah," ucapnya, meletakkan gelas. Bi Benar seketika itu merasa tersentuh dan tersenyum sambil memutar badannya ke arah sang nyonya muda.


"Bibi, juga berharap begitu, Nya." Melanjutkan elapannya.


Dhyia pun tersenyum manis bercampur pilu di belakang asisten rumah tangga itu. Seketika Dia kembali membalik ke belakang melihat Dhyia.


"Tapi, Bibi terkadang takut, Nya. Kalau anak Bibi sama hidupnya, seperti yang lain... ." Benar pun diam menunduk pilu. "...tidak bahagia."


"Bi, kebahagiaan itu hanya Allah yang tau. Kita sebagai manusia tidak boleh berpikiran seperti itu. Yakinlah, Bi! Selama kita berdo'a dan yakin. Allah pasti akan memberikan kita kebahagiaan?!" ucap Dhyia menatap lurus ke depan membayangkan dirinya.


"Nyonya betul! Tapi terkadang pikiran itu datang menghantui Bibi! Yang membuat Bibi takut kalau nanti anak Bibi tidak bahagia ," ucapnya, merasa sedih melihat nyonya mudanya yang belum juga merasakan kebahagiaan semenjak menikah.

__ADS_1


"Bi, Bibi engga boleh berpikiran seperti itu! Baik dan buruknya hanya Allah yang tau. Kita sebagai hambanya hanya menjalankannya saja dengan ikhlas dan sabar. Bibi tau engga? Buah dari kesabaran itu sangat manis pada akhirnya," lanjutnya tersenyum penuh harap kalau suatu saat itu akan menghampirinya.


Dhyia kembali bergeming di antara mimpi dan kenyataan. Melihat lurus ke depan arah jalan yang berliku-liku. Kenyataan yang dia jalani saat ini amat banyak menimpa perasaannya sehingga mencurahkan air mata. Diam dan tersenyum di balik duka yang dilirik sekilas oleh Benar.


Pak Altan yang tadinya di luar sedang sibuk sendiri tanpa sengaja terlihat oleh Dhyia yang ingin beranjak dari dapur.


"Pak Altan," gumamnya mendekati pintu dapur yang tepat berada di sebelah samping kiri. Berdiri mengintip pak Altan yang seolah mencurigakan. Menaiki mobil yang terlihat menjemputnya yang tidak di kenali oleh Dhiya.


Di ruangan rapat, Ilker yang sudah duduk tampak panik setelah melihat hasil laporan dari seluruh laporan yang sudah di edit oleh stafnya.


Dia begitu shock dan terkejut melihat beberapa acara yang akan di tayangkan tiba-tiba tidak jadi, begitu saja. Bahkan acara yang lain pun mendadak mengundurkan jadwalnya. Begitu juga dengan tayangan film mendapat penilaian yang begitu buruk sehingga ranting televisi miliknya menurun derastis.


Ini semakin membuatnya frustrasi dan melebur menjadi puing-puing yang berserakan.


"Oh, my God! Aku tidak bisa membayangkannya," gumamnya getir yang terdengar jelas oleh Cecar dan Alen.


Alen dan Cecar pun langsung bersitatap. Perlahan mereka menghindari tatapan itu demi menjaga si bos dari segala perkiraan yang tidak baik terhadap mereka. Panik bercampur perasaan cemas serta prihatin kini mereka rasakan, melihat apa yang menimpa sang atasan. Sontak mereka berdua pun sama-sama menunduk begitu juga dengan staf yang lain. Mereka sangat miris melihatnya.


 Stasiun TV milik mereka sangat buruk semenjak model terkenal Ziya Yilzid di gandeng oleh stasiun TV baru yang muncul di dunia pertelivisian baru-baru ini.


"Kita terpaksa harus membuat acara yang belum pernah ada," bisik Alen memiringkan sedikit tubuhnya ke arah Cecar.


"Kau ini ngawur," sentil Cecar langsung yang membuat Alen semakin down.


"Alen, Cecar! Apa ini hasil yang sudah valid?" tanya Ilker dengan sedikit keraguan.


"Iya, Pak! Itu sudah valid. Tadi si Derya bilang, itu adalah laporan yang sesungguhnya!" sambung Cecar.


"Saya mau kalian lebih bekerja keras lagi membuat hiburan yang paling banyak di minati penonton. Temukan ide yang kreatif dari yang pernah pernah kalian tuangkan!" Menatap ke arah Alen dan Cecar serta ke staf yang lain juga.

__ADS_1


"Pak! Izin, saya ingin memberi tanggapan. Kita bisa menemukan ide kreatif tapi mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama sebab kita sudah mendapat ranting yang sangat buruk!" ucap salah seorang staf.


"Ide kreatif itu ada, Pak! Cuma yang jadi masalahnya. Kita tidak menemukan bintang- bintang yang lagi tenar," lanjut yang lain.


"Iya, Pak! Mereka semua pada minder karena ranting kita yang sudah terlalu jelek," kata Derya.


Ilker terus mendengarkan keluh kesah dari semua staf-stafnya. Menatap nanar keluar dangan genggaman tangan kosong.


"Itu sangat sulit. Di sini! Kalau kita ingin ranting TV kita semakin naik. Jalan satu-satunya kita harus membujuk Yilzid sebab dia adalah model papan atas yang lebih banyak pengikut." Cesar langsung menegakkan duduknya memberi usul, melirik ke arah Ilker yang hanya diam saja seakan dia sedang memikirkan usul itu tidaklah mungkin.


"Pak! Sekarang pun kita tidak pernah lagi kita mendapatkan tawaran produk yang brand," ucap salah seorang staf. "Ini karena ranting kita turun dan penonton yang menonton siaran kita sudah berkurang." Melihat ke arah Ilker yang memangku dagunya dengan kedua tangan.


Dia terlihat sedikit pucat seakan dia tidak bernyali ingin bersaing di industri hiburan. Berkali-kali jemarinya yang terluka itu membuka lembaran demi lembaran.


"Maka dari itu! Saya mau, kalian bekerja lebih ekstra lagi! Jangan kebanyakan santai!" katanya yang sudah hampir berputus asa. "Alen dan Cecar serta Derya! Saya harap kalian membuat ide-ide baru yang berkualitas! Agar ranting tv ini naik kembali, seperti sebelum-sebelumnya."


"Baik, Pak," jawab mereka bertiga dengan berat.


Ilker yang duduk memimpin rapat sudah mulai gelisah sebab orang suruhannya belum juga memberi kabar . Berkali-kali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang dilirik tajam secara diam-diam oleh Alen dan Cecar yang duduk bersebalahan dengannya, yaitu duduk di sebelah kanan. Mereka tidak henti-hentinya menatap tangan atasan sebelah kanan yang membuat mereka terkejut dan menganga.


Ilker semakin kusut menghadapi situasi di tengah perindustrian ini. Hal ini tidak membuatnya goyah malah ini semakin menjadikannya manusia yang harus berdiri kokoh dan pantang menyerah meski tungkai kaki sudah ingin terjerembab.


"Pak! Saya disuruh untuk meninggalkan Anda di sini," kata orang suruhan Ilker Can Carya kepada pak Altan yang polos. Melihat sebuah basement yang luas dan kosong. "Saya akan pergi sebentar untuk memberi tahukan kalau Anda sudah saya bawa ke sini," ucap orang itu meninggalkan tempat itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2