
Sesak di dadanya pun semakin menghenyak atas sikap semena-mena sang suami terhadapnya. Hatinya yang lembut kembali mengajaknya untuk bersabar dan merasakan ketidakberdayaan lelaki itu saat ini.
Mengatur napas dan mengelus dada. Dia kembali mengambil nasi dengan tangannya dan mendaratkannya kembali ke arah lelaki yang sangat disayanginya.
"Mas, lihatlah nasi ini! Ia tidak bersalah. Ia hanya ingin menolong kita, agar kita tidak lemah." Ilker kembali mendelik, seolah kata-kata itu menyindirnya.
Melihat suaminya yang bersikeras mengeraskan hatinya menjadikan dia berputus asa. Segalanya sudah dia coba untuk bertahan. Namun, tidak ada bayangan sedikit pun.
"Kau sudah puas bicara?" Marah-marah bertanya kepada istri setelah beberapa saat hening. "Sekarang! Tinggal giliranku!" Menutup mulut sang istri dengan tatapannya. "Aku sudah mendengarkan semua ocehanmu! Sekarang! Kau harus mendengarkan! Apa yang kukatakan?" Mengigit gerahamnya dengan geram. Memalingkan mukanya langsung. "Pergi dari sini!" katanya mengarahkan wajah ke tembok. "Aku tidak mau melihat mukamu di sini!"
Deg!
Sontak jantungnya langsung lemas. Refleks nasi pun terjatuh di atas piring. Napasnya kini kembang kempis tak berdaya mendengar pengusiran secara langsung dari mulut sang suami. Segenap rasa hilang seketika dan hancur berantakan oleh sekejap mata, menahan air mata sembilu yang menetes.
"Baik, Mas,' katanya spontan, menegarkan dirinya sendiri. "Aku akan pergi, seperti yang kamu inginkan. Tapi sebelum aku pergi. Aku ingin meminta satu hal dari kamu, Mas. Biarkan aku melayanimu sebentar saja. Aku hanya ingin berbakti kepada suamiku sendiri. setelah lama kita menikah. Kita tidak pernah bersama, Mas. Selama ini juga, kita selalu mengurus diri masing-masing. Untuk itu aku ingin meminta izin darimu, Mas. Izinkan aku! Sebentar saja membuat diriku untuk bahagia merasakan menjadi seorang istri."
Ilker seketika terdiam, mengerutkan kening seakan tidak percaya dengan yang barusan didengar olehnya. Dia pun tersenyum miring menganggap itu kekonyolan, menertawainya sambil menggeleng.
"Omong kosong!" Membuang muka dari wanita yang memohon kepada nya. "Ngomong-ngomong! Siapa yang tertarik dengan mu?" Menyeringai sambil mengayunkan tangan sebelah kiri menyuruh Dhyia keluar.
"Baik, Mas! Kalau itu mau kamu! Aku akan pergi. Aku tidak akan menunjukkan wajahku lagi di hadapanmu. Mulai malam ini! Aku akan mengikuti semua perintahmu dan aku berjanji. Aku akan pergi dari sini!" memutar badan membersihkan lantai yang terkena kotoran nasi.
"Hentikan itu! Kau lupa! Apa yang kusuruh!" Beranjak dari heardboard. Melihat istrinya yang terus mengutip nasi yang berserakan di lantai. "Dhyia!" teriaknya kencang dengan bola mata berapi-api.
Sontak dia pun menghentikan tangannya menggantung di udara setelah mendengar namanya dipanggil sang suami dari belakang. Rona mukanya langsung pucat pasih dan keringat dingin.
__ADS_1
Sebagaimana yang dia ketahui kalau seorang Ilker Can Carya tidak suka jika larangannya sekali pun tidak diindahkan. Dia akan kesal dan marah yang dalam bentuk kemarahannya. Dia menyebut nama orang itu. Itulah sebabnya kenapa Dhyia pucat pasih disaat lelaki itu menyebut namanya.
"Altan! Altan! Altan!" Panggilnya dengan keras sampai tiga kali dari dalam perekam suara digital yang terpasang di dinding kamarnya.
Dhyia semakin panik dan cemas melihat suaminya yang berteriak, seperti membutuhkan pertolongan.
"Mas, jangan teriak-teriak! Istighfar, Mas," kata Dhyia panik bangun dari jongkoknya. "Ini sudah malam. Engga enak di dengar oleh para asisten rumah tangga kita." Membujuk suaminya dengan lemah lembut.
Punggungnya yang lebar, menutupi alat perekam itu berdiri tegak membelakangi sang istri sambil menahan nyeri dan pandangannya yang masih berkunang-kunang.
Pak Altan yang ingin tidur pun kembali terganggu dan ngomel-ngomel sendiri setelah terkejut mendengar suara panggilan yang sedikit samar -samar di dengarnya.
"Mau apa lagi, sih! Tuan muda?" Meringis bertanya sendiri menyeret kedua kaki dengan berat.
"Mas, tenanglah! Jangan bicara kencang-kencang. Mas, 'kan masih sakit! Sekarang duduklah dulu, Mas! Ayo!" bujuknya, melepaskan tangan yang mengayun di udara ingin menyentuh bahu sang suami saat tiba-tiba dia melihat lirikkan ke arah tangannya.
Tok ! Tok ! Tok !
Langsung mengetuk pintu gemetar bercampur sebal. Memutar- mutar kedua bola mata ke kanan dan ke kiri bahkan juga ke belakang tepat ke arah ujung tangga tepatnya lantai bawah, melihat Benar, bangun atau tidak. Frustrasi menatap pintu kamar yang diketuknya kembali.
"Masuk!" teriak Ilker dari dalam yang terdengar oleh pak Altan dari luar . Sang istri pun cemas melihat sikap suaminya setelah siuman.
"Iya Tuan, ada apa?" tanya Pak Altan membuka pintu yang dilihatin oleh Dhyia.
Ilker pun memutar badan refleks terkejut melihat istrinya masih berada di belakangnya. Menatap pak Altan dengan tatapannya yang tajam. "Apa perekam di dapur rusak?" Melayangkan pertanyaan konyol. Setelah dari tadi dia berteriak-teriak dan menunggu lama.
__ADS_1
Pak Altan gemetar dan langsung ingin menghilang kalau bisa. "Dengar Tuan," jawabnya ngelantur panik. Melihat lantai dan menaikkan kepala penasaran melihat tuannya yang diam saja setelah itu.
Tanpa banyak bicara, Ilker. "Bersihkan itu!" Melirik wanita yang dinikahinya dengan rasa kasihan. "Sekalian juga! Angkat semua itu turun ke bawah!" Membuang muka dari sang istri.
"Iya. Tuan," jawab pak Altan, mengambil tissue yang terpajang di dinding tepat di sebelah pintu. Mengumpulkan makanan dengan tissue hingga bersih lalu membawa semua makanan yang tidak tersentuh keluar setelah semuanya kelar.
"Oh, ya jangan lupa! Besok, suruh Benar membersihkan ini!" katanya dengan tegas, melihat pak Altan yang memiringkan tubuh tepat ke arahnya.
"Iya Tuan," jawabnya, memutar badan kembali menuruni anak tangga sambil membawa talam yang berisi makanan.
Dhyia pun melangkah mundur agar tidak bersenggolan dengan pria yang masih sama, seperti yang dulu. Sedikit hatinya tersentuh dan merasa kagum melihat seorang Ilker, ternyata masih punya sisi baiknya yang dulu.
"Terima kasih, Mas," ucapnya. " Ternyata, kamu masih kasihan sama aku," lanjutnya melihat punggung suaminya yang sudah terbaring miring di atas tempat tidur membelakanginya yang sama sekali tidak menjawab ucapannya.
Berjalan keluar dengan pelan-pelan seolah berjaga dari tidur lelaki itu. Berdiri di luar pintu melihat obat yang terletak di atas meja kecil tepat di samping tempat tidur.
Menuruni anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya yang dulu. Di mana kamar yang menjadi tempat tidurnya sewaktu pertama kali dia masuk ke kediaman Carya. Kamar yang terletak di dapur yang bersebelahan dengan kamar Benar. Dia pun menghidupkan lampu dan melihat seluruh sudut dengan bahagia.
"Tuan muda, semakin hari semakin tidak menyenangkan," gumam pak Altan, meletakkan talam di atas meja. "Sehat sama sakit! Sama aja! Selalu membuat aku repot. Boro-boro mau main catur. Minum aja tidak sempat. Teringat kejadian tadi. Melihat gelas yang di bawanya bersama talam. "Enakan Benar! malam engga pernah di ganggu." Melihat pintu kamar yang terlewati olehnya. Belum juga Balin dan juga Edis! Selalu aman dan bisa main catur." Melihat udara luar dari lobang udara. "Engga seperti, aku. Selalu apes." Menghembuskan napas kasar. Masuk kembali ke dalam kamar.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...