Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kerinduan sang adik dan kemarahan Yilzid


__ADS_3

"Tidak! Itu tidak mungkin, Dudu! Itu sudah berlalu dan sudah lama hilang," sahutnya langsung dan masih tetap dilirik oleh lelaki yang melajukan mobil.


"Hilang? Hilang kemana? Asal kamu tau? Yang hilang itu masih bisa di temukan, baik cepat atau pun lama!" Yilzid langsung memberi bantahan terhadap perkataan Ilker barusan. Sopir taksi itu kembali mendengar perdebatan mereka dari depan berkali -kali yang membuatnya melirik ke arah mereka melalui kaca spion yang tergantung tepat di atas kepala.


Ilker kembali diam. Masalahnya sebab dia paling tidak suka ribut dengan seorang wanita. Menatap lurus ke depan menyandarkan tubuh di bangku sambil mengenang masa-masa pahitnya dulu di saat dia memberikan keputusan itu kepada wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya.


Berat memang! Sudah pasti itu yang di rasakan oleh pria itu saat ini. Dihantam oleh dua wanita sekaligus yang masing-masing ditaruhnya rasa yang berbeda terhadap kedua wanita itu di dalam lubuk hatinya.


"Heh! Ziya Yilzid pun langsung memiringkan sebelah bibirnya sinis. "Kenapa? Kamu engga bisa jawab?" Ziya Yilzid melirik lelaki yang duduk tepat di sebelahnya dengan tajam lalu dia kemudian memutar kepala melirik ke arah sopir. Sontak sang sopir pun refleks memutar kedua bola matanya berpura-pura melihat lurus ke arah jalan yang sedang dilalui.


Ilker masih lagi terlihat diam. Menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Entah apa yang dia pikirkan sehingga membuatnya sedikit risih di saat wanita itu ingin menciumnya. Namun, tanpa disadarinya dia telah sedikit berubah. Oleh sebab itu, dia merasa bersalah jika dia melakukan hal yang tadi.


Ting!


Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel miliknya, sontak membuatnya terbangun dari lamunan. Dia pun mengambil ponsel yang dia simpan di dalam jaket kulit kesayangannya.


"Pak! Saya sudah mengirimnya ke alamat yang Bapak katan kepada saya," ucap Pak Altan dari dalam chat.


"Terima kasih, Pak!" Ilker langsung membalasnya dan mengirimkan pesan kepada pak Altan.


"Coba lihat! Tangan kamu! Selama bersama 'ku, kamu belum pernah terluka. Apalagi separah itu!" katanya menyeringai menertawai kebodohan sang kekasih yang masih mau mempertahankan pernikahannya.


Yilzid pun langsung menatap ke arah ponsel dengan serius bercampur penasaran. Kedua bola matanya begitu tajam menatap wajah lelaki yang sudah lama sekali tidak pernah membalas chat secepat itu.


Ilker terus diam mendengarkan ocehan yang bertubi-tubi menyalahkannya dari perempuan yang duduk di sampingnya, napasnya terus kembang kempis keluar menahan rasa yang menghimpit dirinya.

__ADS_1


"Setiap kita sama. Kita pasti bertengkar?! Tidak seperti dulu. Kita tidak pernah bertengkar, apalagi hampir setiap kita berjumpa, huh!" Mendengus kesal memiringkan tubuhnya menjauh.


Gonjang-ganjing di dalam rumah tangganya pun terdengar hingga ke telinga adik perempuannya yang bernama, Rana Carya. Rana Carya yang berada di London pun segera ingin pulang, ingin mengecek kondisi sang kakak yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Duduk seorang diri di tengah pemandangan yang dia nikmati sambil mengingat masa lalu pilihan sang ibu yang sebenarnya sangat bertentangan sedikit dengan kemauannya.


Belum lagi dia mendengar berita bahwa sang kekasih kakaknya itu telah mengirimkan surat perpisahan yang berisi, kalau Ilker yang tidak lain adalah kakaknya sendiri menolak pernikahan yang telah terjadi dan menginginkan berpisah.


Dia pun berinisiatif menelpon sang kakak sebelum dia terbang ke Indonesia. Namun, sang kakak belakangan tidak mengangkat teleponnya. Dia pun kembali mencoba mengambil ponsel dan menelepon kakaknya lagi.


Kring! Kring! Kring!


Panggilan masuk pun terdengar keras menggetarkan ponsel yang terletak di dalam sakunya. Sontak Ilker terperanjat begitu juga dengan Yilzid yang tiba-tiba melirik ke arah pria yang duduk di sebelahnya yang langsung mengambil ponsel dan melihat siapa yang memanggil .


"Rana," kata Ilker. Spontan Yilzid lega setelah mendengar nama yang diucapkan oleh sang kekasih.


Namun, Ilker tampak diam. Dia mengatur napasnya takut akan masalah yang menimpanya sampai ke telinga sang adik. Perlahan dengan berat karena desakan dari wanita yang duduk di sebelahnya dia pun mengangkat telepon itu.


"Apa kabar, Rana?" Ilker sangat bingung ingin memulai topik pembicaraan dari mana.


"Alhamdulillah. Kabar aku baik, Kak." Dia langsung menjawab. " Kakak bagaimana?" Rana bertanya balik. "Aku sudah lama tidak mendengar kabar, Kakak. Aku sering berharap kalau, Kakak meneleponku," lanjutnya bersedih.


"Rana! Saat ini, Kakak lagi sibuk. Pekerjaan Kakak banyak yang tertunda," lanjutnya, menutupi keresahan.


"Kakak, please! Ayolah! Lupakan dulu tentang pekerjaan! Pikirkan dulu! Nasib adik Kakak yang tinggi di negeri orang! Kakak selalu lupa dengan 'ku sekarang. Kakak juga tidak pernah mengerti keadaan 'ku lagi," lanjutnya. "Semenjak Ibu dan Ayah sudah tiada! Kakak semakin jarang mempedulikan 'ku. Bahkan menanyakan kabarku saja, belum tentu sebulan sekali," ucapnya ngambek.


Ilker langsung sedih dan diam bercampur resah sementara Rana tampak termenung di tengah pemandangan yang dia nikmati setelah habis berlatih memanah.

__ADS_1


Yilzid yang berada di dekat pria itu mendengar obrolan mereka. Dia merasa bersimpati dengan keadaan Ilker dan adiknya. Dia sudah tidak ambil pusing lagi tentang perkataan pria itu tadi kepada nya. Melirik ke arah lelaki yang sedang melepas rindu bersama dengan adiknya. Menarik napas, lalu melihat ke arah luar yang terlihat banyak orang yang sedang duduk menikmati minuman di pinggir jalan dan melihat banyak tumbuhan-tumbuhan kecil yang mereka lewati seakan melupakan semua keluh kesah yang menganak di dalam hatinya dari balik kaca mobil.


"Kak, aku ada rencana ingin balik ke Indonesia," ucap Rana tampak murung dari balik telepon.


"Apa?" Ilker terkejut. "Apa di sana kurang menyenangkan bagimu?"


"No! Because, I wish to meet you. Sudah lama aku tidak melihat Kakak. Semenjak Ibu pergi dan semenjak Kakak menikah. Aku belum pernah pulang sama sekali."


Ilker hanya diam saja. Kedua bola matanya terus melihat keluar mobil sekalian menajamkan pendengaran mendengar omongan adiknya. Sudah sampai di hotel, pikirnya. Bergegas keluar dan membuka pintu sambil memegang ponsel yang menempel di telinga.


"Kak, aku pengen ziarah ke makam Ibu dan Ayah. Aku sudah lama tidak melihatnya," ucapnya menaruh kesedihan kepada jarak mereka berdua yang begitu jauh. Memutari lokasi pemandangan yang indah sambil mengambil anak panah yang terletak .


"Rana! Apa sebaiknya tidak kamu undur dulu keberangkatanmu?"tanya Ilker. "Karena kalau kamu datang. Kakak tidak bisa menjemputmu!" lanjutnya, menatap ke arah kekasih hati yang bertemu tatap dengan nya. "Kakak, lagi ada urusan di luar kota." Melihat ke sekeliling luar hotel yang mereka masuki.


Menatap kembali ke arah Yilzid yang mengikuti langkahnya memasuki kamar hotel serta mengikuti para pelayan hotel yang membawa koper mereka.


"Rana! Tunggu sebentar! Kakak lagi ada urusan yang sangat penting!" ucapnya mematikan ponsel begitu saja. Berdiri mengambil kunci kamar hotel yang di ikuti oleh Yilzid di sampingnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2