Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Di dalam mobil dan di atas sajadah


__ADS_3

Waktu Dzuhur telah tiba kini saatnya dia membentang sajadah menunaikan kewajibannya dengan khusuk.


Bertolak ke bandara, Ilker sudah sampai di bandara yang telah mereka sepakati berdua Dia turun dari pesawat, melewati para penumpang yang sedang sibuk hilir-mudik masuk ke tempat pengambilan barang, yaitu di baggage reclaim dengan tergesa-gesa. Setelah itu dia berjalan menuju pintu keluar.


Di mana terlihat kekasihnya sudah lama menunggu dan langsung berlari memeluk Ilker. "Sayang," katanya dengan hati yang bahagia. "Akhirnya, kamu sampai juga." Menaikkan pandangan menatap wajah lelaki itu. "Aku pikir kamu bohong," ucapnya yang sudah lama merindukan pujaan hati.


"Hari ini, aku engga akan mengecewakan kamu, hm!" kata Ilker melirik wanita yang sangat dicintainya itu dengan hangat sambil mengayunkan sebelah tangan kirinya memeluk wanita itu. Berdiri menunggu mobil yang sudah di booking olehnya.


Ziya Yilzid pun tersenyum bahagia di pelukan pria yang sudah lama tidak bisa bertemu dengan nya lagi. Mobil itu pun tiba-tiba berhenti di hadapan mereka.


Dhyia yang masih duduk sendiri di atas sajadah, berdo'a kepada Sang Maha Pencipta agar hati suaminya di lembutkan supaya mau bersikap baik terhadapnya sebab belakangan ini semakin banyak kejanggalan yang terjadi.


Lain halnya dengan pak Altan yang semakin lama terlihat semakin aneh. Minum dan makan dengan terburu-buru tidak, seperti biasanya yang diperhatikan oleh Benar dari jauh.


Ilker dan Yilzid pun terlihat duduk berdua di dalam mobil. Yilzid yang terus menempel dan menyadarkan kepalanya di bahu sang kekasih semakin merasa nyaman dan sesekali Ilker melirik kekasihnya itu dengan bahagia.


Dhyia masih terus saja berdo'a menceritakan isi hatinya kepada Sang Maha Pencipta yang masih senang memberinya ujian. Dia pun meneteskan air mata ketika di saat berdo'a tiba-tiba dia teringat tentang lelaki yang masih bertahta di dalam hatinya.


Mobil itu melaju kencang menuju tempat penginapan yang telah di pesan oleh Ilker sebelum keberangkatan. Baju yang di pakainya tadi ketika berada di kantor memimpin rapat telah terlihat berubah. Sebelum keberangkatan Ilker menyempatkan dulu berganti baju sewaktu pak Altan mengambil koper.


Benar yang terus memperhatikan pak Altan dari jauh sangat penasaran. Dari jauh dia terus menatap lelaki yang terlihat gelisah. Di meja makan pak Altan kelihatan sangat tidak nyaman. Dia terus bergerak ke sana kemari dengan pikiran tidak menentu sebab tuannya tadi menyuruhnya kalau barang itu agar secepatnya di kirim. Mendengar kalau nyonya mudanya kini masih berada di lantai atas semakin membuatnya bingung.


"Pak! Kamu dari mana saja?" tanya Benar seolah berpura-pura tidak melihat kegelisahan pak Altan. Menatap kedua bola mata pak Altan dengan curiga . "Katanya, "Kamu mau belik sarapan? Mana?" Benar menajamkan pandangannya seolah menantang ucapan pak Altan tadi.


Pak Altan langsung terlihat sedikit gugup, menggaruk-garuk lehernya kebingungan. "I-itu, Mmm... ." Kembali terdiam.

__ADS_1


"Itu! Itu! Itu, apa?" Benar sedikit kesal dibuatnya. "Kamu itu! Kalau keluar, lihat-lihat waktu. Tu! Coba lihat! Bunga kamu, belum di siram," ucap Benar sebal. "Bagaimana nanti? Kalau sampai Nyonya tau! Kamu, 'kan tau? Itu bunga gantung ke sukaan, Nyonya Besar dulu!" sentak Benar.


"Bi! Bibi kenapa? Kok, marah-marah?" Dhyia tiba-tiba nongol di belakang.


"Eh! Nyonya!" Benar terkejut dan langsung membalik ke belakang. "Engga ada apa-apa, Nya!" Menunduk melihat lantai.


"Nya, saya permisi dulu!" Pak Altan langsung memotong pembicaraan buru-buru pergi tanpa izin dari nyonya muda. Bergegas langsung naik ke atas. Masuk ke dalam kamar majikan dan mengambil perlengkapan yang di suruh oleh tuan muda.


Dia pun dengan cepat bekerja seorang diri seolah tampak, seperti maling. Membuka lemari lalu mengambil semua yang terlihat olehnya dan memasukkannya ke dalam koper yang telah dipersiapkannya.


"Semua sudah beres," katanya, memeriksa ulang kembali barang yang dia susun. Beranjak membawa tas keluar sambil mengintip istri tuan muda itu. Melangkah keluar dengan mengendap -endap sambil melirik dan melihat sekeliling. Di ikuti koper yang di tariknya dengan sebelah tangan kanannya.


"Bi, tidak baik marah-marah! Pasti Bibi belum sholat, 'kan?!" Dhyia langsung membuat Benar menunduk malu dan tidak bisa menaikkan kepala dengan tegak.


Di atas tangga pak Altan tampak sedang menuruni anak tangga dengan tergopoh-gopoh sambil memegang koper dengan hati-hati dan pelan-pelan agar barang-barang itu tidak rusak dan tidak terdengar oleh istri tuannya. Menuruni tangga yang berada di sebelah kanan yang menghubungkan langsung ke pintu utama.


"Untung aja! Aku sudah makan! Kalau tidak! Mana mungkin aku sanggup!" gumam pak Altan pelan yang tergopoh-gopoh memegang koper dan menyempatkan diri menoleh ke belakang melihat tangga yang telah dilaluinya dengan mulus hari ini.


Menyeret kedua kaki keluar dan memanggil taksi yang tiba-tiba melintas di depan pintu gerbang.


Pak Altan dan Edis pun terlihat datang dari arah belakang tepatnya di mana letak kolam berenang milik keluarga besar Carya. Sekujur tubuh mereka terlihat basah-basahan.


"Nah! Itu, Nya mereka," kata Benar, menunjuk ke arah pak Balin. "Tadi, 'kan, Nyonya kecarian dengan Pak Balin." Menoleh ke arah wanita yang baik dan lemah lembut itu.


Dhyia pun tersenyum lepas setelah melihatnya. Dia sebenarnya ingin bertanya mengenai suaminya dan ingin mencari tahu tentang suaminya. Namun, entah kenapa mendadak dia tidak ingin mengingatnya. Keinginan itu pun di urungkannya seketika setelah dia melihat pak Balin. Alasannya menurutnya, dia tidak ingin merusak suasana hati yang sudah bahagia selepas berdo'a tadi.

__ADS_1


"Kenapa, Nyonya tersenyum?" tanya Benar terheran.


"Lucu aja, Bi. Pak Balin dan Pak Edis bertengkar, seperti anak kecil," ucap Dhyia mengalihkan topik pembicaraan. Benar begitu terharu melihatnya. Dia sama sekali terlihat sudah mulai tidak memikirkan tentang, Tuan lagi," katanya di dalam hati, seolah dia mengikuti kebahagiaan wanita cantik itu.


Di dalam mobil, sepanjang perjalanan Ziya Yilzid terus menggoda pria tadi dengan rayuan yang sering dia pakai untuk menarik perhatian pria itu.


"Dudu, sebaiknya kita tidak melakukan itu!" ucap Ilker. Memalingkan wajahnya dari Yilzid yang akan menciumnya.


Sontak Yilzid langsung terkejut. Sorot matanya pun melebar seketika kesal melihat penolakan dari pria yang sangat mencintainya.


"Kamu gak mencintai aku lagi, ya?" tanya Yilzid marah besar. "Berarti dugaan aku benar. Kamu sudah mulai menyukai perempuan itu! Iya, 'kan?" tanya Yilzid sebal, melayangkan tuduhan miring itu terhadap pria yang masih mencintainya.


"Bukan Dudu! Bukan! Kamu salah paham. Aku hanya ingin, kita bersikap sopan di sini!" Ilker melirik sopir itu sambil membujuk pujaan hati. " Sama sekali aku cuma ingin menjaga sikap. Itu saja!"


"Kamu pasti bohong?! Dari dulu kamu, 'kan selalu, seperti itu! Selalu banyak alasan!" Yilzid melipat kedua tangannya menatap lurus ke depan dengan muka sedikit masam yang dilirik oleh sopir itu dari kaca spion.


"Kamu selalu bilang kayak gitu! Entah nanti atau pun lusa! Kamu bilang yang serupa lagi dengan yang dulu! Dulu!" lanjutnya, teringat kala itu pria itu sering mengucapkan kata ini selalu membuatnya terlena dan percaya. Namun, akhirnya, semua ambigu pria yang amat mencintainya ini ternyata sangat menaruh rasa simpati yang besar dan iba terhadap perempuan yang telah mengasuh ibunya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2