Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kedatangan Gohan Hakan


__ADS_3

Sebuah pesawat terbang milik luar negeri yang berjenis MPV 3976 itu pun telah mendarat di sebuah bandara ternama milik Indonesia. Tuan Gohan Hakan tersenyum manis ketika mendengar seruan dari sang awak pesawat yang mengatakan kalau pesawat yang dia naiki telah mendarat di tanah airnya. Senyum sumringahnya pun begitu merekah ketika melihat pintu pesawat terbuka.


"Pramugari itu sudah bersiap-siap. Kalian awasi semua keadaan diluar. Perhatikan siapa mata-mata atau tidak," kata Goah Hakan melirik dengan penuh curiga kepada sang pramugari. "Jika ada yang memungkinkan ingin berbuat nekat. Tembak saja dia dan tapi jangan Adi yang curiga, apalagi kalau sampai mengetahui." Merapikan jas, melihat sekian ke arah pramugari dan pengawal pribadinya.


"Bos, bos tenang saja si Bernat sudah mengantisipasi semuanya, bos. Jadi, tidak ada satu orang pun tau, kalau kita adalah mafia. Begitu juga dengan data-data bos di internet semua sudah diputus." Berjaga sambil melirik ke arah orang-orang yang lewat dan juga memperhatikan mereka mencurigakan atau tidak.


Dia sangat senang dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya yang tinggal sendiri selama ini di Indonesia. Putri yang sudah terpisah darinya.


"Semuanya harus sesuai dengan rencana kita," kata tuan Gohan Hakan. Berdiri dan merapikan setelan jas yang dia pakai, melangkah dengan kencang dan tegak lurus. Menatap lurus ke depan dengan angkuh. Kesombongannya yang selama ini mendalam semakin membuatnya, seperti orang yang paling kuat. Terlihat dari antusiasnya dia ingin menghancurkan kembali stasiun TV CCA yang dipegang oleh Ilker Can Carya.


"Sudah lama kita tidak pernah ke sini. Kemungkinan besar sudah banyak perubahan. Kalau kita tidak berhati-hati, kita pasti tenggelam." Gohan Hakan berjalan dengan kaca mata hitamnya sambil berjaga dari incaran orang-orang yang mengenalnya.


"Beres, Bos," sahut sang pengawal dari belakang. "Kami sudah mengatur rencana." Melihat pramugari cantik mengambil koper dari bagasi.


"Teruntuk pengawasan tentang perluasan jaringan kita. Semua pengawal akan mengutamakan keselamatan Anda Bos. Semuanya aman dan terkendali," lanjutnya dengan percaya diri. Berjalan dengan sigap menjaga bos besarnya dari belakang.


"Silakan Tuan," sambut pramugari yang berpenampilan menarik, langsing, tinggi dan cantik itu dengan seragam yang membalut tubuhnya dengan nuansa yang tidak ketinggalan zaman yaitu, konsep Cheongsam dan berjaga di pintu.


"Bos, hati-hati!" Melindungi bos dari para penumpang yang berdempetan ingin segeralah keluar.


"Hm!" Tuan Gohan Hakan hanya mendehem. Menyeret kedua kakinya dengan kencang dan sigap.

__ADS_1


Tuan Gohan Hakan lelaki berparas sinis dan seram serta bengis kini sudah memasuki mobil dengan langkahnya yang lebar. Duduk dengan angkuh menunggu para pengawal setianya memasukkan barang -barang berharga.


"Jangan sampai ada yang tercecer. Nanti akan ada orang yang mudah menemukan kita," kata Gohan Hakan. Menutup kaca mobil dengan tatapan di baik kaca mata hitamnya.


"Tidak akan Bos. Mereka akan menjaganya dengan berhati-hati. Bernat juga sudah saya kasih tau. Apa-apa saja tugasnya." Duduk tepat di belakang sang bos. Di ikuti oleh Gohan Hakan yang menatapnya dari kaca spion.


Di tempat lain yang tidak lain adalah di stasiun TV milik Ilker Can Carya yang mendominasi siaran-siaran terbaik di dunia hiburan sangat membuat para lembaga penyiaran sangat menggandrunginya.


Begitu juga dengan anak muda, remaja, dan anak-anak sehingga menimbulkan hasrat hati Gohan Hakan ingin menguasainya, agar dia menjadi semakin kaya dan terkenal bahkan dia akan menjadi sosok orang yang paling disegani di dunia mafia. Inilah hasrat yang terpendam dari dulu sehingga dia nekat melakukan sabotase terhadap sahabatnya sendiri yaitu, Ajnur Barlian Carya yang mati secara mengenaskan di tangan Gohan Hakan.


"Sepanjang jalan yang kita lewati banyak mata-mata. Tidak ada untuk kita berleha-leha. Cepat jalankan mobilnya!" Batak Gohan Hakan.


Hingga sampai saat ini berita itu belum terkuak. Namun, itu bisa saja menipu mereka lagi.


"Bagi yang mengenal hubungan dekat kami dengan Tuan Ajnur Barlian Carya mereka sangat mengetahui kalau kematiannya itu bukanlah kematian yang wajar." Memainkan ponselnya di udara, menatap lurus ke depan.


Itulah yang tercium oleh Ilker Can Carya sehingga dia bertekad ingin membangkitkan stasiun TV yang sudah lama vakum sekaligus menyelidiki berita mengenai kematian sang ayah yang sebenarnya.


"Kalau menurut berita selama ini yang terdengar. Terjadi kesimpang siuran yang membuat putra pertamanya menghabiskan waktunya di luar negeri bersama orang-orang club malam. Hahaha!" Tuan Gohan Hakan dengan senang melihat kehancuran keluarga Carya.


"Hahaha! Bos, benar," sambungnya tertawa dengan terbahak sambil bertemu tatap dengan sang bos. Begitu juga dengan pengawal yang duduk di belakang, bertemu tatap satu sama lain dengan senang.

__ADS_1


Mobil mewah pun telah memecah jalanan padat dan banyak orang-orang yang bersiliweran di tengah jalan. Ada yang menjual koran bekas, ada yang bernyanyi sebagai pengamen, dan ada yang bekerja sebagai peminta-minta dan banyak sekali yang dia temui ketika ingin menyeberang memasuki kediaman sang kekasih yang tidak lain, anak dari Gohan Hakan.


"Sayang, aku sudah sampai." Pesan masuk ke dalam ponsel sang kekasih yang sangat menyesali kepulangan sang ayah.


Ting !


Sontak Yilzid terkejut dan langsung menoleh ke arah ponsel. "Pesan masuk !" Mengambil ponsel dan membuka layar. "Ha, Ilker." Tersenyum tidak percaya dan merasa berbunga-bunga kalau kekasih yang dirindukannya telah sampai.


Berlari menuruni anak tangga. "Sayang." Membuka pintu dan memeluknya dengan erat. "Aku kangen," katanya dengan manja.


"Apa kita di sini saja." Ilker menatap mata sang kekasih dengan dalam, berpura ingin masuk.


"Aku sangat senang kamu hari ini menepati janji," ucap Ziya Yilzid menempel di pelukan kekasih idamannya. "Aku sangat sedih menunggu kedatanganmu." Berhenti di tengah ruang tv.


Ilker yang sebenarnya masih menyimpan rasa terhadap wanita yang berdiri di hadapannya. "Aku gak akan membiarkanmu menunggu terlalu lama." Mengelus kedua pipi wanita yang masih dicintainya sambil bereaksi melihat sekeliling rumah dengan diam-diam dan juga dia tidak lupa berjaga dari wanita yang sudah menjadi pengawal Yilzid.


"Kamu kenapa?" tanya Ilker melihat wajah sang kekasih yang murung dan masih membelai wanita yang paling dicintainya.


"Papa, akan kembali," kata Yilzid memutar badan. "Barusan tadi Papa nelpon kalau dia sudah berangkat," lanjutnya meremas jemari.


"Lalu, apa yang kamu takut, 'kan?" tanya Ilker. Berdiri di belakang pujaan hatinya ingin tahu.

__ADS_1


"Kalau Papa di sini. Kita pasti sulit bertemu?!" katanya dengan sedih menatap sekilas wajah Ilker dan melihat jemari yang masih diremasnya. "Sayang bagaimana kalau kita menikah saja?" Yilzid memohon dengan penuh harap menatap sang pujaan hati dengan sedih.


Bersambung...


__ADS_2