Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kesenangan Gohan Hakan


__ADS_3

Kini Dhyia pun mulai tegar dan harus sanggup untuk menata dirinya ke depan yang hidup sebatang kara dan tanpa tempat tinggal. Berdiri dan siap untuk berpisah dengan suami itu bukanlah impiannya. Namun, itu harus dilakukannya demi kebahagiaan tiga jiwa yang saling mencintai.


Berjalan gontai menahan luka yang dalam. "Sekuat apa pun ikatan ini mengikatku. Aku tatap harus melepaskannya juga," gumamnya menepis angan yang kelabu.


Sebutir kristal bening pun jatuh menyentuh lantai menahan air mata yang ingin kembali menetes. "Hidupku tidaklah berhenti sampai di sini sehingga aku harus menangis, jatuh dan terpuruk." Itulah kata-kata Dhyia Kharya. Bangkit adalah jalan yang terbaik untuk hidup seorang Dhyia Kharya, apalagi hidup sendiri tidaklah mudah baginya. Berdiri tegak lurus menaikkan kedua tatapannya melihat ke atas yang tidak lain adalah kamar mereka.


"Besok, hari terakhir aku berada di rumah ini." Berdiri memutar badan melihat sebuah lampu hias yang tergantung sekilas dia teringat akan majikannya dulu yang pernah menyayanginya bahkan menganggapnya, seperti anaknya sendiri.


"Tante, maafkan aku. Aku sudah gagal untuk meyakinkan anakmu, Tan. Tidak ada lagi yang tersisa. Semua sudah kandas. Dan aku besok akan pergi . Sebentar lagi aku tidak akan melihatmu lagi." Menangis tersedu-sedu ingin mengadu, tapi entah pada siapa. Hancur sudah perasaan Dhyia, harapan yang selama ini selalu digenggamnya kini harus rela menjadi abu.


Sementara Ilker yang berada di dalam kamar duduk termenung di ruang kerjanya yang terlihat sedikit perubahan. Dia terus menatapi perubahan itu yang dia tahu kalau semua itu adalah ulah istri yang sangat sulit untuk dilepaskannya. Seakan membawanya ke dalam jurang kehancuran.


"Tidak mudah bagiku untuk memilih kamu dan dia." Tiba-tiba, kata-kata itu terbersit di hatinya. Sontak dia langsung terkejut mendengar kata-kata itu berbisik. Selama di dalam ruangan dia termenung memikirkan kata-kata hatinya yang tersirat begitu saja.


Tangan yang terluka akibat benturan kaca yang cukup keras dia tatapi seakan menantang dirinya sendiri lalu ditekuknya dan menyandarkan sikunya di atas meja kemudian mengepal jemarinya dengan kuat.


Sementara tuan Gohan Hakan telah sampai di depan pintu rumah yang tempat keluar masuknya para tamu-tamu terhormat.


"Salam Tuan," sapa sang pelayan yang membuka pintu dan menyambut kedatangannya dengan hormat.


Yilzid yang berduka dengan cintanya harus menegakkan dirinya sendiri di hadapan sang ayah yang sudah tiba. Dia sangat menanti kedatangan ayahnya. Akan tetapi, dia juga depresi pabila ayahnya akan menghalangi dan mengatur langkahnya, seperti yang terjadi waktu itu.


"Di mana putriku?" tanya Gohan Hakan pada salah seorang pelayan. Berdiri dengan hati yang bahagia karena dia akan bertemu kembali dengan sang putri kesayangan.


"Aku di sini, Ayah," jawab Yilzid yang sudah menuruni setengah anak tangga dan tersenyum menyambut ayah yang selama ini terkadang dia rindukan. "Bagaimana perjalanan, Papa di sana?" tanya Yilzid menyembunyikan keperihannya di dalam hati.

__ADS_1


"Oh-ho, jelas perjalanan, Papa sangat menyenangkan," kata Gohan Hakan memeluk putrinya di tengah kesibukan para pengawal dan pelayan rumah yang sedang membenahi isi rumah sebagus mungkin. "Papa, di sana banyak bertemu dengan orang-orang kelas atas." Menyerahkan jas yang dibukanya kepada pengawal yang mengawalnya dari belakang.


"Pasti menyenangkan?!" Tatap Yilzid menyerahkan gelas dan menuangkan jus jeruk.


"Hahaha! Di sana memang membuat, Papa sangat bahagia. Di sana banyak wanita-wanita cantik," bisik sang ayah di telinga Yilzid.


"Iih! Papa, dari dulu tidak pernah berubah," sentil Yilzid meletakkan jus di atas meja.


"Hahaha! Sayang, Papa sudah berubah." Menggoda putrinya yang cemberut. "Iya 'kan?" Melirik ke arah sang pengawal yang berdiri tegak lurus menjaga sang bos besar. Diam dan tidak menyangkal apapun yang dikatakan oleh Gohan Hakan.


"Mau sampai kapan? Papa, seperti itu? Emang Papa, tidak cinta sama, Mama?" tanya Yilzid geram melihat tingkah sang ayah.


"Ibu kamu itu selalu ada di hati Papa sampai kapan pun bahkan sampai, Papa mati." Melihat anaknya yang melipat kedua tangan di dada sedikit kesal.


"Kamu tau tidak. Mamamu sudah meninggalkan, Papa. Dia dulu yang berjanji tidak akan pergi dari, Papa. Tapi apa, Mamamu berbohong." Menatap lurus dengan raut muka memendam rasa sakit hati yang bercampur dengan dendam, mengingat istrinya tiada karena ulah dari Ajnur Barlian Carya. Kenapa Papa marah?" tanya Yilzid menatap sang papa dengan tajam dan bercampur ingin tahu.


Gohan Hakan hanya diam saja sedikit pun dia tidak menjawab pertanyaan dari anak semata wayangnya. "Perpisahan," kata tuan Gohan Hakan tiba-tiba bersuara.


Deg!


Sontak Yilzid sang putri kecilnya itu menghentikan tangannya yang membersihkan luka. Kasa steril pun tidak bergerak untuk sama sekali. "Perpisahan? Perpisahan apa, Pa?" tanyanya penasaran, menatap lelaki yang sudah mengurusnya semenjak kepergian sang ibu.


"Perpisahan akan tetap berjalan sampai maut memisahkan," gumam Gohan Hakan menatap dengan sorot mata yang penuh kebencian dan dendam.


Yilzid semakin panik dan bingung. Dia berulang kali menatap lelaki itu yang mendadak aneh setelah sampai ke rumah dan juga menatap sang pengawal yang menutup mulut dengan rapat, demi menjaga rahasia tuannya yang sangat penting.

__ADS_1


"Pa?" tanya Yilzid kembali memalingkan wajah dari sang pengawal dengan kecurigaan yang mulai terlintas dipikirannya.


"Kamu jangan khawatir. Itu tidak akan terjadi. Papa, masih tetap mencintai Mamamu meski dia sudah pergi jauh," ungkap Gohan Hakan mengalihkan kecurigaan putrinya.


"Huuu!" Akhirnya, Yilzid mulai lega. Ternyata, Papa, cuma bercanda," katanya di dalam hati yang sudah mencemaskan sang kekasih. Membalut luka sang ayah dengan dan mengikatnya dengan kekuatan sedang orang yang terkena luka.


"Bos, ada kabar berita. Ternyata, sasaran kita sudah mengetahui tentang kita," bisik sang pengawal yang bertugas untuk mencari informasi.


Sontak dia terkejut mendengar kabar yang datang dari belakang. Gohan Hakan langsung berubah pias bercampur senyum dan melepaskan tangannya dari sang putri.


"Papa. Papa mau ke mana?" tanya Yilzid panik . Berdiri melihat ayah tercintanya berjalan dengan kencang memasuki ruangan khusus.


"Papa, akan kembali," jawab Gohan Hakan dengan terburu-buru tanpa menoleh ke arah anaknya.


"Aneh. Papa tiba-tiba kenapa, ya?" Mengingat sikap sang ayah semenjak memasuki rumah. "Sebenarnya siapa yang sudah membuat Papa, seperti itu?" gumamnya bertanya kepada dirinya yang dia sendiri tidak tahu apa-apa. Menatap langkah sang yang kencang. "Sepertinya ada yang tidak aku ketahui." Terus melihat ayahnya menutup pintu.


"Siapa yang sudah memberi tahunya?" tanya Gohan Hakan menarik kursi. Duduk sambil memangku tangan di atas dagu. Tersenyum senang.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2