Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kembali ke kamar belakang


__ADS_3

"Mulai malam ini. Aku akan tidur di sini." Menatap langit-langit kamar, berkata pada dirinya sendiri. Membuka lemari mengambil sajadah dan mukena untuk menunaikan kewajibannya. Mengambil wudhu di kamar mandi luar yang berdekatan dengan westafel.


Mencuci kedua tangannya dengan air yang mengalir. Lalu berkumur-kumur, membersihkan hidung dan membasuh muka juga kedua kakinya selanjutnya, dia berwudhu.


Setelah selesai dia kembali ke kamarnya yang baru. Melaksanakan sholat wajib tanpa mengisi perutnya yang kosong. Berdzikir lalu bermunajat kepada Sang Pencipta.


Ilker dan Dhyia pun tidur di tempat yang terpisah. Dhyia yang tidur di kamar belakang lagi khusyuk dalam ibadahnya sedangkan Ilker yang tidur di dalam kamarnya, tertidur dengan posisi tubuh yang miring tanpa makan dan minum obat.


Dhyia masih saja termenung di tengah malamnya setelah tersentak dari tidurnya. Dia menangisi pilihan hidup yang ditakdirkan oleh Sang Khaliq. Mengambil wudhu dan menunaikan sholat tengah malam yang selama ini dia kerjakan.


"Kemarin aku tidak mengerjakannya . Aku ketiduran dan ketika aku terbangun. Ternyata, sudah subuh," katanya di dalam hati teringat pertengkarannya dengan Ilker gara-gara dia berani keluar rumah. Dia pun membuka pintu kamar mandi yang terletak di luar. Mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tengah malam di atas sajadah dan mukena yang sering dia bawa dulu ke mana-mana ketika belum bertemu dengan keluarga Carya.


Di tempat lain, seorang Ilker Can Carya merasa gelisah karena perutnya yang kosong dan tangannya yang nyeri. Bolak-balik bergeser menyamankan dirinya agar yang menggangunya segera hilang.


Kerap kali dia melihat ke arah pintu dan sofa seolah dia mencari Dhyia. Dia pun merasa bersedih karena telah menyuruhnya pergi. Duduk menyeret tubuhnya sedikit terbata-bata bersandar di head board memandangi perekam suara yang berada di sebelah tempat tidur sebab jika tidak ada rasa malu dan ego dia pasti sudah memanggilnya untuk menjaganya malam ini. Namun, itu sebatas tersimpan di kepalanya saja sedikit pun dia tidak mau menggerakkan bibirnya untuk memanggil.


Di sisi lain, seorang wanita yang merasa terhempas oleh ombak. Duduk bersimpuh di atas sajadah dengan kedua tangan menengadah ke atas mengadukan nasibnya kepada Sang Khaliq.


••• Ya, Allah! Engkau yang paling tahu di dalam hatiku. Maka aku berserah diri atas takdir yang Engkau berikan padaku. Ajari aku untuk ikhlas menjalaninya. Ajari aku mengerti jika itu membuatku sakit hati . Ajari aku menerima jika itu membuatku berbalut luka. Hanya ridha -Mu lah yang kuharapkan dalam setiap ketetapan -Mu. Buatlah aku percaya, bahwa rencana -Mu lebih baik, lebih indah dan bisa membuatku bahagia. •••


      ° Aamiin ya Rabbal 'alamiin... °


Air matanya pun terjatuh membasahi kedua mukenanya. Tangisan itu pun memecah kesunyian malam yang sepi. Menunduk lemah di hadapan Sang Khaliq setiap malam itu menjadi rutinitasnya, agar dia lebih bisa ikhlas dan tabah dalam setiap ujian.


Tangan lembut itu pun memegang tasbih dan berzikir di tengah malam hingga rasa sakit itu mereda sampai menjelang subuh air mata tiada henti-hentinya tercurah.

__ADS_1


Bagi hati yang tertutup dan di butakan oleh cinta yang berbalut keegoisan menjadikan semuanya gelap. Rasa simpati pun hilang seketika kasih sayang antara sesama manusia pun tidak lagi di pandang. Semua sirna terbakar oleh api kebencian.


Muka sedih bercampur bersalah itu pun berusaha berangsur -angsur menghilang. Tidak ada lagi yang harus di sesali, pikirnya semua telah menjadi abu.


Tubuh lemah yang tidak berdaya pun dia jatuhkan kembali menutup matanya yang berbalut duka lirih atas perbuatannya kepada wanita yang sebenarnya dia kasihi.


∆∆∆


Pada pagi hari, seperti biasa setelah Dhyia menunaikan kewajibannya dia langsung berbenah diri dan tidak pernah tidur lagi.


Membuka kedua matanya dan linglung terheran sebentar melihat langit-langit kamarnya.


Sementara Ilker masih terlelap dengan perut yang kosong. Dia sama sekali tidak terganggu dengan rasa laparnya dan nyeri tangan yang mulai terasa sakit.


Suara telepon pun mulai, berbunyi berisik di dalam ruangan kerja. Bunyi itu sama sekali tidak membangunkannya disebabkan semalam dia tidak bisa tidur hingga pagi buta yang mulai bersinar malah membuatnya semakin pulas. Berasa kalau dia sedang baik-baik saja.


Dhyia pun sudah bersiap dengan dirinya yang dulu. Bekerja dan menyiapkan semuanya dengan senang hati membantu Benar. Memakai pakaian yang sering dia pakai dulu. Pakai yang dibawanya ketika memasuki kediaman Carya.


Pakaian yang sederhana dan sangat bersahaja. Pakaian itu terlihat polos dan biasa-biasa saja. Seolah menggambar orang yang memakainya. Tidak bicara dia pun mengenakannya dengan rapi. Tersenyum untuk dirinya sendiri di dalam cermin genggam yang kecil yang tergantung di balik pintu kamarnya.


"Mulai pagi ini. Bi Benar engga akan bekerja sendiri lagi," katanya dengan sedikit rasa bahagia yang tertahan bercampur bayangan tentang semalam. Membuka pintu yang langsung menembus dapur. Berjalan menghampiri westafel menatap lirih talam yang terletak.


"Nya!" panggil benar dan sontak tangannya pun terhenti yang mau mengambil piring yang ada di dalam talam.


Memutar badan tersenyum melihat Benar. "Iya Bi." Menyahutnya langsung dengan raut muka mencoba ceria.

__ADS_1


"Nyonya sudah bangun?" tanyanya terheran, Menato sang wanita itu dengan lekat seakan dia mencium aroma yang tidak baik. "Nyonya, ngapain ke dapur?" Melihat pakaian majikannya yang jarang dia kenakan selama ini. Memutar badan dengan ragu-ragu saat bertemu dengan sang majikan.


"Tidak apa-apa, Bi," jawab Dhyia. "Lagian, Bi saya malas di kamar terus. Sesekali pengen Bi lihat dapur," Berusaha melupakan yang telah terjadi. Mengambil piring dengan perlahan sambil terlintas yang semalam.


Bi Benar pun menarik napas dalam. "Nya, 'kan nyonya sudah berbeda dengan Bibi. Sekarang Nyonya adalah majikan Bibi." Menghembuskan napas panjang. " Tidak enak dilihat Nya."


Dhyia pun tersenyum dengan terpaksa menutupi kejadian dari Bi Benar. "Engga apa-apa, Bi. Lagian 'kan kalau dibantu pekerjaan Bibi jadi, ringan." Tersenyum menutupi sembilu.


"Memang benar, Nya. Tapi, 'kan tidak layak untuk seorang, seperti nyonya." Memulai tugas dari permulaan, yaitu menyapu seluruh ruangan. Hati Benar sebenarnya tidak munafik kalau pagi ini dia mengharapkan bantuan agar pekerjaan cepat selesai karena saat ini harus membersihkan semua kediaman Carya yang sang luas.


Namun, karena dari sisi lain dia Dhyia sudah mendapatkan perbedaan yang jauh. "Bibi jadi, tidak enak, Nya.


"Tidak usah dipikirin, Bi. Yang terpenting kita sama-sama tidak merasa terbebani," jawabnya dengan ketulusan yang jujur. Menaruh piring dan gelas serta talam ke tempatnya.


Benar dan Dhyia pun pagi ini bergotong royong membersihkan ruangan sedangkan di dalam kamar Ilker mulai gelisah bergerak ke sana kemari merintih kecil di dalam hati karena cidera di tangan dan panasnya kembali agak naik. Membuka matanya perlahan melihat langit-langit kamar dan ke arah sofa yang tepat terletak di bawah jendela.


"Dhyia!" Teringat wanita semalam yang dia marahi. Melihat ke arah tubuhnya dan telapak tangannya. Kembali mengendus kesal melihat dirinya yang lemah saat ini.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2