
"Dari mata-mata kita yang sudah saya beri tugas." Berdiri di samping bos besar sambil menujukkan sebuah rekaman CCTV.
"Hahaha! Biarkan saja dia berjalan lebih dulu dari kita. Kita akan lihat sampai mana dia bisa memasang benteng pertahanannya," kata Gohan Hakan sambil memutar roda kursinya.
"Baik tuan. Semua sudah ada di dalam genggaman kita. Dia tidak akan bisa menyelamatkan semua aset-asetnya termasuk kursi yang dia duduki saat ini," sambung sang pengawal dengan sombongnya.
"Hahaha !" Gohan Hakan pun tertawa dengan kesombongan serta keangkuhannya. "Aku sudah tidak sabar itu terjadi," gumamnya di hadapan para pengawalnya.
"Bila semua berjalan dengan lancar, Tuan Gohan Hakan akan senang dan bahagia melihat kehancuran anak musuhnya yang ditudingnya dengan sengaja membunuh istrinya, agar dia bisa menduduki kekuasaan dari keluarga Carya yang sudah lama menolongnya bahkan rumor yang beredar mereka berdua adalah sahabat karib ketika bertemu di satu pekerjaan yang sama," bisik pengawal yang satunya, yaitu yang duduknya bertepatan jauh darinya.
Namun, semuanya berakhir tragis akibat rasa irinya dan membuat istrinya mati," sambung lawan bicaranya. Dia terjerat dengan keserakahan yang bersarang di hati Gohan Hakan melihat temannya yang bernama, Ajnur Barlian Carya yang sukses itu ketimbang dirinya. Di sinilah awal mula permusuhan mereka," terangnya sambil melirik sang, big Bos.
"Aku mau kita buat dia hidup dengan menderita. Bila perlu kita buat dia hidup melarat dan berangsur-angsur mati," ucap Gohan Hakan dengan geram menggigit kedua gerahamnya. Dendam yang membara sudah menghancurkan persahabatan mereka perlahan-lahan. Hal ini sudah lama menyelubungi dirinya yang setengah menua, menatap lurus dinding seakan dia sedang menatap Ajnur Barlian Carya.
"Bos, apa tidak sebaiknya kita beri dulu dia waktu untuk bersenang-senang, menikamti hidupnya yang akan musnah. Ha? Hahaha !" Tawa mereka memecah dan memenuhi ruangan sambil meminum minuman mereka.
"Hahaha ! Iya. Bos dia pasti akan mati kutu?! Pasti dia tidak akan bisa tinggal di rumah mewahnya lagi?! Hahaha!" Tawa sang pengawal yang duduk bersandar di sofa yang lain, meletakkan gelas yang duduk sejajar dengannya.
"Aku sudah tidak sabar. Ingin meremuknya sampai hancur," ungkap Gohan Hakan menatap dengan sinis lurus ke depan sambil memegang gelas di tangan sebelah kanan. "Lihat saja! Siapa pun yang akan melindungi dirinya akan aku lenyapkan?" katanya memegang gelas dengan kuat.
"Bos!" panggil sang pengawal sambil memegang gelas minuman. "Apa tidak sekarang saja kita lancarkan aksi kita."
__ADS_1
"Oh, tidak, tidak. Untuk saat ini biarkan dia dulu menikamti hidupnya. Biarkan dia dulu melihat siaran TV miliknya itu tidak dapat pemasukan. Hm, hm!" Menatap anak buahnya yang duduk sambil menemaninya minum. "Iklan tidak akan lagi memakai jasa siarannya untuk mempromosikan produk milik mereka." Meneguk minuman dengan senang.
"Ide Bos, memang cemerlang. Begitu dia tau. Iklan tidak ada lagi yang mau percaya dengan stasiun TV miliknya. Dan model-model cantik yang membuat mata terlelap tidak ada lagi yang mau masuk di dalam stasiun miliknya. Dia pasti akan stres, Bos, hahaha!" Menuangkan minuman ke dalam gelas.
"Papa. Papa serius kali? Lagi bicarakan apa?" tanya Yilzid memotong pembicaraan, tiba- tiba berdiri melihat ayahnya yang terdiam dan sedikit terkejut, di ikuti gelas minuman setengah mengayun di udara.
"Eh, tidak." Gohan Hakan langsung membenahi duduknya dan mengatur raut mukanya agar terlihat normal sambil meletakkan gelas di atas meja. "Papa, tidak bicara apa-apa," jawab sang ayah yang terlihat oleh kedua mata Yilzid sedang menutupi sesuatu.
"Papa benar, 'kan? Baik-baik saja?" tanya Yilzid panik. Mengambil Bolot minuman yang masih banyak isinya.
"Mau kamu buat ke mana?" tanya sang Papa resah.
"Mau Yilzid buang. Papa, itu udah terlalu banyak minum. Makanya Papa, dulu selalu dimarahi oleh Ibu. Karena kalau ini sudah terletak di situ, Papa, tidak pernah mau berhenti sebelum habis dua belas botol," terangnya melirik ke arah papanya dan ke arah anak buah sang ayah yang mulai merasa resah.
"Kamu memang selalu perhatian dengan, Papa. Itulah kenapa? Papa, pengen segera kembali karena Papa, rindu dengan omelanmu itu yang mirip sekali dengan Ibumu," kata Gohan Hakan, meletakkan gelas langsung di atas meja. Tersenyum melihat sang anak yang membersihkan semua atas meja bar yang sering mereka gunakan untuk minum.
"Pa, kalau bukan aku yang ngingetin, Papa. Lalau siapa lagi?" tanya Yilzid melihat lelaki yang duduk di sudut sofa tersenyum ke arahnya. "Semenjak kepergian Ibu. Papa, selalu berbuat semaunya. Bahkan Anak Papa, aja dulu Papa, sampai lupa," sindirnya teringat. Di ikuti oleh kedua tangan yang masih membenahi meja. "Iiis, jorok! Bau lagi!" singgungnya melihat kain lap yang penuh dengan air. "Pa, mulai sekarang Papa, tidak boleh lagi meminum, minuman ini. Aku sebagai Anaknya Papa, memberi peringatan keras." Mengacungkan telunjuk setengah di udara sebagai isyarat memberi peringatan.
Tuan Gohan Hakan pun langsung bergeser dan melepaskan tubuhnya dari sandaran sofa. Di ikuti oleh para pengawal yang sedikit takut. Bos kalau begitu kami pergi dulu, Bos. Kami masih ada urusan lain yang harus di selesaikan," pamitnya bangun dari duduk.
"Saya juga Bos. Kalau ada apa-apa.Segera kabari kami saja," ucap yang satunya memutar badan yang ingin membelakangi bos besar.
__ADS_1
"Hm!" Tuan Gohan Hakan pun mengangguk, di ikuti oleh tangan sebelah kanannya mengayun di udara sebagai isyarat mengizinkan mereka pergi.
"Baik Bos. Permisi, Non," ucap mereka melewati pintu menunduk memberi hormat kepada Yilzid yang acuh dan melanjutkan elapannya hingga bersih.
"Selamat datang, Tuan," sapa asisten rumah yang bertugas untuk mengawasi gerak gerik, Burcu. "Tuan, maafkan kami. Kami tidak mengetahui kedatangan, Tuan," katanya merasa bersalah sekaligus mewakili Burcu juga. "Tuan, ini dia, Burcu yang menjadi asisten pribadinya, Nona," terangnya berjalan selangkah ke kiri.
"Salam, Pak," kata Burcu mengatupkan kedua tangan sekaligus memberi hormat.
"Sudah berapa lama dia mengawal Anak saya?" tanya Gohan Hakan. Duduk sambil meluruskan kedua tangannya di atas sofa, melihat ke arah sang asisten rumah tangga.
"Saya baru bekerja, Pak. Baru hari ini," jawaban Burcu langsung memotong pembicaraannya, menunduk takut dan melihat ujung sepatu tuannya yang duduk dengan menaruh sebelah kaki kanannya di atas kaki sebelah kirinya, sekilas dia melirik ke arah Yilzid yang sudah menatapnya dengan kesal.
"Papa, kenapa tidak cari asisten lain saja lagi?" tanya Yilzid sebal.
"Bukannya kamu sudah kebanyakan asisten?" tanya sang ayah terheran mendengarnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...