
Sontak Dhyia pun terkejut saat dia melihat plastik bekas yang berserakan di atas meja kerja lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Plastik ini, pikirnya. Mengambil dan melihatnya dengan teliti. Plastik yang tidak lain adalah plastik bekas peralatan yang masih baru.
Di tengah jalan Ilker menyuruh pak Altan mengambil jalur lain yang tidak terjerat kemacetan dan terbebas dari hambatan polisi. Mobil pun terus melaju dengan kencang melewati jalan tol yang aman serta selamat sampai ke bandara.
"Tuan, kita sudah sampai!" kata pak Altan, mematikan mesin mobil dan mengeluarkan koper dari bagasi.
Bergegas dengan cepat Ilker pun turun dan membawa koper yang di pegang oleh tangan kanannya memasuki pintu bandara yang banyak di lalui para penumpang ada yang duduk menunggu, ada yang membawa troli dan ada juga yang bersiliweran membawa koper dan tas. Masing-masing dari mereka terlihat sangat antusias ingin segera menaiki pesawat setelah melakukan boarding pass dia pun masuk ke dalam pesawat dan duduk di bangku sesuai nomor yang tertera di tiketnya.
Ziya Yilzid pun kini tampak telah pergi dari kediamannya dengan aman. Menunggu sang kekasih di bandara yang telah mereka berdua sepakati.
Berdandan secantik mungkin demi sang pujaan hati yang akan menjemputnya. Sungguh senang hatinya sehingga dia tidak bisa mengungkap perasaannya. Menatap wajahnya yang cantik itu di dalam cermin. Tubuhnya yang seksi dan berkulit putih itu semakin menambah kecantikannya Rambutnya yang panjang kini tergerai bak seorang putri.
Dari jauh pak Altan terlihat meninggalkan bandara. Dia pun kembali mengantarkan mobil ke tempat yang telah di perintahkan oleh Ilker. Menemui kembali si pria yang menjemputnya tadi ke rumah Carya.
"Silakan masuk, Pak!" kata pria itu sambil mengayunkan tangan.
Pak Altan pun masuk ke dalam mobil yang di tumpanginya, duduk lalu memakai sabuk pengaman.
"Kalau sama saya harus pakai itu ya, Pak!" ucap lelaki itu dengan lembut seolah mengayun kata-katanya.
"Car, kamu merasa aneh, gak?" Alen menekuk wajahnya di atas meja dengan sebelah tangannya, seperti sedang memikirkan terus anak lelaki tadi.
"Engga! Palingan dia itu! Cuma mau membersihkan ruangan rapat," ucap Cecar melaksanakan sesuatu sesuai yang diinginkan oleh bos mereka.
"Padahal yang membersihkan itu, 'kan! Bukan dia," sambung Alen.
"Ya! Mana dia tau! Dia, 'kan di sini masih baru. Jadi, dia hanya mengerjakan sesuai dengan posisinya. Itu saja menurutku." Menatap Alen yang sering memonyongkan bibirnya, apabila Cecar tidak sepaham dengannya yang membuat si Cecar semakin geram melihat temannya yang tomboy dan bisa menggemaskan itu.
__ADS_1
Pesawat yang di tumpangi pria tadi pun sekarang telah bertolak ke tempat tujuannya. Dengan hati yang gembira dia terus menatap awan dari balik jendela pesawat . Dia tidak pernah membayangkan akan, seperti ini lagi dengan kekasih hatinya. Berlibur berdua setelah sekian lama mereka tidak pernah terlihat berjalan bersama menghabiskan waktu.
Di dalam kamar tepatnya masih di ruangan kerja pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dia terus memeriksa setiap meja, kolong meja bahkan setiap sudut lantai. Dia begitu penasaran karena banyak melihat sesuatu yang aneh. Banyak plastik yang berserakan, pikirnya, seperti bekas penutup barang-barang yang tidak dia ketahui sama sekali.
Semakin lama rasa kecurigaan timbul di dalam hatinya kalau suaminya tadi bukanlah pergi hanya sekedar berlibur saja. Hal-hal yang tidak diinginkan kembali merasuki pikirannya yang membuatnya semakin gelisah.
Di tengah jalan pak Altan yang ingin kembali ke rumah, mendapatkan sebuah pesan dari pria yang tadi diantar olehnya ke bandara.
"Tolong kirimkan semua peralatan foto yang ke tinggalan di dalam lemari di ruangan kerja. Kemas yang rapi, agar tidak rusak!" kata Ilker dari dalam ponsel mengirim pesan kepada pak Altan.
"Baik, Tuan." Pak Altan langsung membalas pesan itu.
"Nya! Nyonya, bisa ke bawah, gak? Temani Bibi," ucap Benar dari balik perekam.
Sontak Dhyia kini menghentikan pencariannya lalu menghampiri alat perekam suara digital yang terpasang di dekat meja kerja suaminya.
"Engga, Nya! Bibi cuma kasihan sama Nyonya aja. Soalnya, Nyonya sendiri di kamar. Itu saja!" Benar langsung menjelaskan setelah melihat wanita tadi begitu cemas.
"Masya Allah, Bi. Dikirain Bibi lagi repot." Dhyia langsung tersenyum lepas. "Bi, seharian Pak Altan engga kelihatan?" tanya Dhyia yang tadi melihat pak Altan di jemput dengan mobil.
"Iya, Nya! Tadi, Pak Altan katanya, "Mau membeli sarapan." Benar pun langsung teringat. "Bibi lupa memberitahunya kepada Nyonya."
"Kok tumben, Bi! Pak Altan pengen makan di luar?" Dhyia kembali bertanya setelah mendengar penyampaian asisten rumah tangganya itu kepada dirinya. "Oh, iya, Bi! Pak Balin, apa sudah pulang juga?" tanya Dhyia lagi ingin tahu.
"Bibi kurang tau, Nya," jawab Benar. "Emangnya, Pak Balin ke mana, Nya?" Benar malah bertanya balik kepada sang majikan yang lemah lembut itu.
"Saya juga kurang tahu, Bi." Teringat yang tadi pagi. "Bi, sudah masuk Dzuhur. Sebaiknya kita sholat dulu." Dhyia mengalihkan pembicaraan setelah dia mendengar suara adzan dari jauh.
__ADS_1
"Iya, Nya. Bibi sebentar lagi! Lagi nanggung," kata Benar yang sedang menyusun rak piring yang sudah tidak dipakai lagi.
"Bi, tidak baik menunda. Jika kita sudah mendengar suara panggilan. Kita harus segera menunaikannya," ucap Dhyia dengan lembut dan berhati-hati.
"Iya, Nya!" jawab Benar malu.
"Kalau begitu tunggu apalagi, Bi!" Bi Benar paling tidak bisa menolak ajakan wanita itu dengan berat dia pun bangkit dari duduknya.
Mendadak ketika menaiki anak tangga, Dhyia pun teringat sama pria yang sudah menjadi suaminya kini di saat dia ingin melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu, tiba-tiba dia teringat. "Mas Ilker, sangat jarang sholat," gumamnya. Memutar badan dan mengambil ponsel yang sering dia taruh di dalam laci.
Terlihat dari luar, pak Altan sudah sampai di kediaman Carya yang diantar oleh orang yang menjemputnya tadi. Keluar dari dalam mobil tanpa ada satu pun yang melihatnya termasuk pak Balin dan Edis. Berjalan mengendap-endap, seperti maling sambil berjaga dari sorot mata Benar yang tajam. Melihat ke arah pondok kecil yang sunyi sepi. Dia pun langsung tenang wajahnya yang mengetat tadi kini tampak rileks melangkah di halaman kediaman Carya yang luas.
Pintu laci pun terbuka, ponsel itu langsung terlihat serta cincin pernikahan yang tersimpan di dalam kotak kecil merah juga terlihat olehnya. Perlahan dia mengambil ponsel dan membuka tombol on, mencari kontak nomor sang suami.
"Assalamualaikum," sapanya kembali melalui sebuah chat. Pesan pun terkirim. Namun, pria itu sama sekali tidak membalasnya, padahal dia sedang online.
Dhyia kembali bersedih sebab chatingannya tidak di balas. Selama tinggal bersama pria itu selalu acuh kepada nya bahkan tidak pernah merasa kalau chat dari wanita yang telah tinggal bersama dengan nya itu sangat penting.
Dia pun mencoba ikhlas menerimanya, tersenyum sabar dan kembali menyimpan ponsel. Menutup laci lalu menaikkan pandangan menatap dirinya di dalam cermin yang retak. Bangun dari duduknya, mengambil wudhu untuk membuang semua duka yang tertoreh.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1